Di tengah kekacauan lima klan bela diri yang saling berebut pengaruh dan rahasia kuno, lahirlah sebuah organisasi bernama bayangan kegelapan. Mereka adalah sekelompok pembunuh bayaran yang dilatih untuk menjadi mesin kematian tanpa emosi, sering kali ditugaskan untuk menghabisi para petinggi klan yang dianggap mengganggu keseimbangan atau menyimpan kekuatan terlarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 - KODE DARAH DAN RUANG NADI BUMI
Penatua Agung Wu terbatuk, memuntahkan cairan hitam yang langsung membeku di udara saat menyentuh jubah Kaelan. Tubuhnya yang ringkih bergetar, namun matanya yang buta tampak menembus dinding marmer Istana Rembulan Abadi yang menjulang di depan mereka.
"Dengarkan aku, Kaelan..." bisik Wu, suaranya nyaris hilang ditelan deru angin di puncak menara. "Jangan menyerbu melalui gerbang utama. Aula Perjamuan hanyalah panggung sandiwara. Inti dari semua kejahatan ini ada di 'Ruang Nadi Bumi', tepat di bawah singgasana Aliansi."
Kaelan menyesuaikan posisinya, merasakan hawa dingin dari Inti Bulan Sejati masih bergejolak di dadanya. "Apa yang ada di sana, Penatua?"
"Ibumu tidak mati saat mereka membawamu," Wu mencengkeram bahu Kaelan dengan sisa tenaganya. "Dia adalah 'Wadah Murni' terakhir dari klan pengasingan. Aliansi menggunakan detak jantungnya untuk menstabilkan energi Gerbang Rembulan. Jika kau ingin menghentikan mereka, kau tidak boleh membunuh penjaganya saja... kau harus memutuskan koneksi energi antara jantungnya dan gerbang itu."
Wu menjelaskan instruksi rahasianya: ada sebuah lorong tersembunyi yang disebut 'Jalur Embun Pagi'. Jalur itu hanya bisa dibuka oleh seseorang yang memiliki frekuensi Qi es yang sama dengan sistem pertahanan istana.
"Kau harus menyuntikkan Qi-mu ke delapan pilar kristal di taman belakang istana dalam urutan bintang biduk," lanjut Wu. "Itu akan membalikkan aliran energi dan membuka pintu masuk ke Ruang Nadi Bumi tanpa memicu alarm."
Tiba-tiba, Domain Kesunyian Kaelan menangkap getaran besar dari udara. Lima kapal terbang mekanis Aliansi, yang dilengkapi dengan meriam energi panas, mulai mengepung menara tempat mereka berada. Cahaya senter raksasa menyapu sosok Kaelan yang berambut putih.
"Tinggalkan aku di sini, Nak," ucap Wu sambil tersenyum pahit. "Aku sudah cukup melihat kegelapan. Jadilah cahaya yang membekukan mereka."
"Tidak," jawab Kaelan singkat.
Kaelan melepaskan Benang Perajut Jiwa, namun kali ini ia tidak menggunakannya untuk menyerang. Ia melilitkan benang-benang itu ke tubuh Wu dan mengikatnya dengan aman ke punggungnya sendiri.
Teknik Langkah Bayang Rembulan: Kilatan Salju Abadi.
Dalam sekejap, Kaelan melompat dari menara tepat saat meriam energi panas menghancurkan tempat mereka berdiri. Di udara, ia bergerak seperti komet perak, menghindari tembakan-tembakan laser yang membelah awan.
Ia mendarat dengan senyap di Taman Belakang Istana, sebuah labirin bunga kristal yang berpendar biru. Sesuai instruksi Wu, Kaelan mulai menari di antara pilar-pilar kristal tersebut.
Setiap kali tangannya menyentuh pilar, lapisan es hitam menjalar dan mengubah warna cahaya kristal dari biru menjadi putih susu. Satu, dua, tiga... Kaelan bergerak dengan presisi seorang pembunuh dan keanggunan seorang penari.
Saat pilar kedelapan membeku, seluruh taman bergetar. Tanah di tengah taman terbelah, menyingkapkan sebuah tangga spiral yang terbuat dari tulang naga purba yang telah membatu. Bau harum bunga yang mematikan dan hawa dingin yang murni menguar dari bawah.
"Itu jalannya," bisik Wu lemah.
Kaelan menatap tangga gelap itu. Di bawah sana, ia tidak hanya akan berhadapan dengan tentara Aliansi, tapi juga dengan kebenaran tentang darahnya sendiri.
"Tetaplah hidup, Penatua," ucap Kaelan sambil melangkah turun ke dalam kegelapan. "Aku ingin kau melihat saat aku menghancurkan singgasana mereka."
Di atas, pasukan Aliansi masih membombardir menara yang kosong, tidak menyadari bahwa Sang Bayang Rembulan kini sudah berada tepat di bawah kaki mereka, merayap menuju jantung kekuasaan.