Sinopsis Novel – Kelas Penyihir IX B
Rifky adalah seorang anak manusia biasa yang tiba-tiba terjebak di dunia sihir dan masuk ke sebuah sekolah misterius bernama Sekolah Sihir IX B. Di sana ia bertemu dengan Wida, seorang penyihir baik hati yang kemudian menjadi sahabatnya. Bersama Zahira, Oliv, Deni, Rais, Gofirr, dan teman-teman lainnya, Rifky mulai menjalani kehidupan baru penuh keajaiban, latihan sihir, dan petualangan yang tak terduga.
Namun kehidupan di sekolah itu tidak selalu aman. Tiga murid berbahaya, Mila, Diva, dan Eva, diam-diam merencanakan sesuatu yang gelap. Ketika Rifky tanpa sengaja menyentuh sebuah kristal sihir kuno, kekuatan misterius bangkit di dalam dirinya. Kekuatan itu membuat banyak orang terkejut, bahkan kepala sekolah sihir, Nenek Misel.
Kini Rifky harus belajar mengendalikan kekuatan yang tidak ia mengerti, sambil menghadapi ujian sihir, rahasia masa lalu, dan ancaman dari musuh yang ingin merebut kekuatannya. Petualangan, persahabatan, dan misteri besar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifky Hemuto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10-Kotak Sihir Terlarang
Udara di lorong rahasia perpustakaan terasa semakin dingin.
Cahaya tongkat sihir Wida, Zahira, dan Oliv menerangi ruangan kecil yang dipenuhi simbol-simbol kuno. Di tengah ruangan itu berdiri sebuah **kotak sihir tua** berwarna hitam keperakan. Permukaannya dipenuhi ukiran aneh yang tampak bergerak perlahan seperti hidup.
Di depan kotak itu berdiri dua kelompok.
Kelompok **Rifky dan teman-temannya**.
Dan kelompok **Mila, Diva, dan Eva**.
Suasana menjadi sangat tegang.
Mila tersenyum tipis.
“Akhirnya kami menemukan benda itu,” katanya.
Rifky menatap kotak tersebut dengan rasa penasaran bercampur takut.
“Apa sebenarnya kotak itu?” tanya Rifky.
Eva tertawa kecil.
“Kalian bahkan tidak tahu apa yang kalian temukan?”
Diva melangkah maju.
“Di dalam kotak itu terdapat **Fragmen Magis Kuno**.”
“Fragmen?” tanya Deni bingung.
“Pecahan kekuatan sihir yang sangat tua,” jawab Mila. “Kekuatan yang bahkan sudah ada sebelum sekolah ini dibangun.”
Semua murid IX B terdiam.
Gofirr menelan ludah.
“Kalau itu benar… benda itu sangat berbahaya.”
“Benar sekali,” kata Mila sambil tersenyum lebar.
“Dan karena itulah kami datang untuk mengambilnya.”
---
## Pertengkaran Dimulai
Wida langsung mengangkat tongkat sihirnya.
“Jangan mendekat!”
Zahira dan Oliv juga bersiap.
Deni berdiri di depan Rifky.
“Kami tidak akan membiarkan kalian mengambilnya.”
Mila hanya tertawa.
“Kalian pikir bisa menghentikan kami?”
Eva memutar tongkat sihirnya.
“Lucu sekali.”
Diva menatap mereka dengan dingin.
“Kalian hanya penyihir pemula.”
Candra tiba-tiba berkata dengan santai:
“Eh… kalau kita voting aja gimana? Yang dapat kotaknya siapa yang menang suit.”
Semua orang menatapnya.
“INI SERIUS!” teriak Zahira.
Candra mengangkat tangan.
“Ya sudah, saya cuma mencoba mencairkan suasana.”
Namun tiba-tiba—
Mila mengangkat tongkatnya.
“Kalau begitu… kita mulai saja.”
“**Ignis Vortex!**”
Bola api besar langsung meluncur ke arah mereka.
“AWAS!” teriak Wida.
“**Aqua Shield!**”
Perisai air muncul di depan mereka.
Bola api menghantam perisai itu dan meledak menjadi percikan cahaya.
Pertarungan pun dimulai.
---
## Pertarungan Pertama
Lorong perpustakaan berubah menjadi medan pertarungan sihir.
Eva meluncurkan serangan petir.
“**Voltaris!**”
Petir menyambar rak buku hingga buku-buku beterbangan.
Zahira membalas.
“**Terra Bind!**”
Tanah dari lantai berubah menjadi tangan-tangan batu yang mencoba menangkap Eva.
Namun Eva melompat dengan cepat.
Diva mengayunkan tongkatnya.
“**Shadow Chain!**”
Rantai bayangan melesat menuju Oliv.
Oliv hampir terkena.
“**Lumina Burst!**”
Cahaya terang keluar dari tongkat Oliv dan menghancurkan rantai bayangan itu.
Sementara itu Deni mencoba menyerang.
“**Flare Spark!**”
Percikan api kecil meluncur ke arah Mila.
Namun Mila hanya menepisnya dengan mudah.
“Lemah sekali.”
Ia mengangkat tongkatnya lagi.
“**Dark Pulse!**”
Gelombang energi gelap menghantam Deni.
“AAAH!”
Deni terpental dan jatuh ke lantai.
“DENI!” teriak Rifky.
---
## Kekuatan Aneh Rais
Melihat temannya terluka, Rais mengepalkan tangannya.
Wajahnya berubah marah.
“Aku sudah cukup melihat ini.”
Tubuh Rais mulai berubah.
Otot-ototnya membesar.
Tubuhnya menjadi dua kali lipat lebih besar.
“RAIS MODE!”
Tubuhnya sekarang seperti raksasa.
Candra bertepuk tangan.
“WOOO! Hulk lokal!”
Rais berlari ke arah Diva.
“AAAAAA!”
Ia menghantam lantai dengan keras.
*BOOOOM!*
Lantai retak.
Diva terlempar ke dinding.
“Gila…” gumam Gofirr kagum.
Namun Mila tetap tenang.
“Kekuatan fisik tidak ada artinya.”
Ia mengangkat tongkatnya.
“**Gravity Bind!**”
Tubuh Rais tiba-tiba terasa sangat berat.
Ia jatuh berlutut.
“Ugh!”
---
## Rifky dan Kotak Misterius
Di tengah kekacauan itu, Rifky berdiri terpaku menatap kotak sihir.
Entah kenapa…
Ia merasa kotak itu **memanggilnya**.
Suara aneh terdengar di kepalanya.
“Buka…”
“Ambil…”
“Gunakan…”
Rifky memegang kepalanya.
“Apa… ini…”
Ia berjalan mendekati kotak itu.
Wida melihatnya.
“Rifky! Jangan!”
Namun sudah terlambat.
Rifky menyentuh kotak itu.
Tiba-tiba—
Kotak itu **bersinar terang**.
Simbol-simbol di permukaannya menyala.
Semua orang berhenti bertarung.
Mila terkejut.
“Mustahil…”
Kotak itu perlahan **terbuka sendiri**.
Cahaya biru keluar dari dalamnya.
Energi sihir memenuhi ruangan.
Semua orang terdorong mundur.
Di dalam kotak itu terdapat **kristal sihir berwarna biru gelap**.
Kristal itu melayang keluar.
Lalu—
Kristal itu bergerak menuju Rifky.
“Tidak!” teriak Mila.
Namun kristal itu menyatu dengan tangan Rifky.
*Cahaya besar meledak.*
---
## Kekuatan Baru
Ketika cahaya menghilang…
Rifky berdiri di tengah ruangan.
Matanya bersinar biru.
Tangannya memancarkan energi sihir.
Semua orang terdiam.
Bahkan Mila tampak terkejut.
“Tidak mungkin…”
“Manusia tidak bisa menggunakan fragmen itu.”
Rifky sendiri terlihat bingung.
“Apa yang terjadi…?”
Energi sihir berputar di sekelilingnya.
Wida mendekat perlahan.
“Rifky… kamu tidak apa-apa?”
Namun tiba-tiba—
Kristal itu bersinar lagi.
Sebuah gelombang energi keluar dari tubuh Rifky.
*BOOOOOOM!*
Semua orang terpental ke belakang.
Rak buku runtuh.
Debu memenuhi ruangan.
Ketika debu mulai hilang…
Mila tersenyum dingin.
“Menarik sekali.”
Ia menatap Rifky dengan mata tajam.
“Sepertinya manusia ini… lebih berbahaya dari yang kita kira.”
Ia berbalik pergi bersama Diva dan Eva.
“Tapi jangan khawatir.”
Mila menoleh sekali lagi.
“Kami akan kembali.”
“Dan saat itu…”
Ia menunjuk Rifky.
“Kekuatan itu akan menjadi milik kami.”
Mereka menghilang ke dalam bayangan lorong.
Ruangan kembali sunyi.
Semua murid IX B menatap Rifky dengan campuran kagum dan takut.
Wida berbisik pelan.
“Rifky… apa sebenarnya kamu?”
Rifky menatap tangannya yang masih bersinar.
Ia juga tidak tahu jawabannya.
Namun satu hal yang pasti—
Petualangan mereka "baru saja dimulai".
---