persahabatan sederhana dari anak SMA ,yang mulai menumbuhkan benih cinta tapi ego masa muda mereka lebih tinggi dari pada rasa cintanya.ada hal yang ingin di sampaikan tapi tak mungkin Untuk di utarakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Tentang Garis Batas dan Cara Menghitung Jarak yang Baru
Sabtu pagi di SMA adalah waktu di mana sekolah terasa sedikit lebih manusiawi. Tidak ada seragam putih abu-abu yang kaku, melainkan seragam Pramuka yang warnanya senada dengan tanah. Saya selalu suka warna cokelat. Warna itu jujur, tidak berusaha mencolok seperti warna merah motor Arkan, tapi juga tidak membosankan. Cokelat adalah warna Bumi yang sebenarnya.
Saya memarkir Si Kumbang dengan tenang. Hari ini saya memutuskan untuk tidak mencari keberadaan Kayla di gerbang. Saya tidak menoleh ke kiri atau ke kanan. Saya hanya berjalan lurus menuju kelas, melewati koridor yang masih tercium bau pembersih lantai yang tajam. Saya merasa ada sesuatu yang berbeda di dalam dada saya. Rasanya lebih ringan, seperti baru saja mengeluarkan batu kerikil yang selama ini terselip di dalam sepatu.
Di kelas, saya tidak langsung duduk. Saya pergi ke meja guru untuk menaruh buku tugas analisis novel yang sudah saya selesaikan sendirian semalam. Ya, sendirian. Saya tidak mau menunggu Kayla lagi. Saya tidak mau menjadi orang yang harus memohon-mohon waktu di antara jadwal rapat madingnya yang padat.
Bumi! Kok sudah dikumpulin? Kan kita belum bahas bagian kesimpulannya sama-sama?
Suara itu muncul dari arah pintu. Kayla berdiri di sana, masih memakai tas ranselnya. Dia tampak terkejut melihat buku tugas itu sudah berada di tumpukan paling atas di meja Bu Ratna.
Saya sudah selesaikan semalam, Kay. Kesimpulannya saya buat berdasarkan diskusi kita kemarin pagi. Rasanya sudah cukup mewakili, jawab saya santai sambil berjalan kembali ke bangku saya.
Tapi kan harusnya kita baca bareng-bareng dulu. Mana tahu ada yang mau aku tambahin? Kayla mengikuti saya, dia berdiri di samping meja saya dengan raut wajah yang bingung.
Tidak apa-apa. Kalau nanti Bu Ratna bilang ada yang kurang, ya tinggal kita revisi. Tapi saya rasa itu sudah lengkap, kata saya tanpa menatap matanya. Saya lebih memilih sibuk merapikan isi tas saya yang sebenarnya sudah rapi.
Kayla terdiam. Dia tidak langsung pergi. Dia duduk di kursi di sebelah saya, kursi milik Togar yang orangnya sedang sibuk jualan stiker Pramuka di depan kantin.
Bumi, kamu kenapa sih? Sejak kemarin kamu aneh. SMS tidak dibalas, diajak bicara jawabnya pendek-pendek. Aku ada salah ya? tanya Kayla pelan. Suaranya terdengar tulus, dan itu adalah bagian tersulit dari rencana saya untuk menjaga jarak.
Saya tidak kenapa-napa, Kay. Saya cuma lagi sadar kalau kita sudah besar. Kamu punya kesibukan, saya juga punya kesibukan. Kita tidak bisa terus-menerus nempel kayak perangko. Nanti orang-orang bosan lihatnya, kata saya sambil tersenyum tipis. Senyum yang saya pelajari dari cara Dara menatap dunia; dingin tapi sopan.
Tapi kita kan sahabat, Mi. Dari dulu juga kita nempel terus, kenapa sekarang jadi masalah? Kayla mulai tampak agak kesal.
Justru karena kita sahabat, saya tidak mau menghambat kamu. Kamu lagi semangat-semangatnya di mading, dan itu bagus. Arkan juga kelihatannya sangat membantu kamu di sana. Jadi, saya pikir saya harus kasih kamu ruang lebih luas. Biar kamu tidak merasa terbebani kalau harus bagi waktu sama saya.
Kalimat itu keluar begitu lancar dari mulut saya, seperti air yang mengalir di parit setelah hujan. Kayla menatap saya lama, seolah sedang mencari celah di wajah saya untuk menemukan kebohongan. Tapi saya sudah belajar menutup rapat-rapat semua lubang di hati saya.
Gitu ya? Jadi sekarang kamu mau main 'ruang-ruangan'? Oke, kalau itu mau kamu, jawab Kayla. Dia berdiri dengan kasar, menghentakkan kakinya, lalu berjalan menuju bangkunya sendiri di barisan depan.
Saya melihat punggungnya yang menjauh. Ada rasa perih yang sempat mampir, tapi saya segera mengusirnya dengan mengingat bayangan tangannya dan tangan Arkan di atas mouse semalam. Saya harus kuat. Menjadi Bumi itu harus punya permukaan yang keras agar tidak mudah hancur oleh cuaca yang berubah-ubah.
Jam pelajaran pertama dimulai. Materi hari ini adalah tentang sandi dan koordinat dalam Pramuka. Saya duduk diam, mendengarkan penjelasan Kak pembina. Di barisan depan, saya melihat Kayla sedang sibuk mencatat, tapi sesekali dia menoleh ke belakang, bukan ke arah saya, tapi ke arah Arkan yang duduk tiga bangku di sebelah kanan saya.
Arkan tampak memberikan sebuah kertas kecil kepada Kayla. Kayla membacanya, lalu tersenyum dan mengangguk. Mereka seperti punya dunia kecil di dalam kelas ini, sebuah dunia yang koordinatnya tidak bisa saya temukan meski saya punya kompas paling canggih sekalipun.
Saat jam istirahat, saya tidak pergi ke kantin. Saya memilih pergi ke perpustakaan lagi. Saya merasa perpustakaan adalah benteng pertahanan terbaik saya saat ini. Baunya yang khas, perpaduan antara kertas lama dan debu, selalu bisa menenangkan pikiran saya.
Di sana, saya bertemu Dara lagi. Dia sedang duduk di meja yang paling pojok, di antara rak buku Sejarah dan Hukum.
Garis batasnya sudah dibuat? tanya Dara tanpa mendongak dari bukunya.
Sudah. Tapi rasanya seperti membuat garis di atas air, Dara. Mudah terhapus kalau ada gelombang kecil saja, jawab saya sambil duduk di depannya.
Garis di atas air itu tidak berguna. Buatlah garis di atas batu. Mungkin butuh waktu lama untuk mengukirnya, tapi dia akan bertahan selamanya, kata Dara. Dia menutup bukunya, lalu menatap saya. Bagaimana rasanya menjadi orang yang 'waras' hari ini?
Rasanya aneh. Seperti ada yang hilang, tapi di saat yang sama saya merasa lebih punya kendali atas diri saya sendiri, jawab saya jujur.
Itu namanya pendewasaan, Bumi. Dewasa itu bukan tentang berapa umurmu, tapi tentang bagaimana kamu berhenti menuntut orang lain untuk selalu ada sesuai keinginanmu.
Kami terdiam sebentar. Di perpustakaan ini, diam tidak pernah terasa canggung. Diam di sini adalah bentuk komunikasi yang paling jujur.
Dara, kenapa kamu selalu ada di perpustakaan? Kamu tidak punya teman? tanya saya spontan.
Saya punya banyak teman. Mereka ada di rak-rak ini. Mereka tidak pernah berisik, mereka memberikan ilmu tanpa minta dibalas, dan yang paling penting, mereka tidak pernah meninggalkan saya demi orang yang baru dikenal dua bulan, jawab Dara dengan nada yang sangat datar tapi menusuk.
Saya tersenyum. Kamu benar. Buku-buku ini jauh lebih setia.
Tiba-tiba, pintu perpustakaan terbuka. Kayla masuk dengan terburu-buru. Dia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan sampai matanya tertuju pada saya dan Dara. Dia berjalan mendekat dengan langkah yang tegas.
Bumi, kita harus bicara, kata Kayla. Dia tidak melihat ke arah Dara sama sekali.
Saya sedang bicara dengan Dara, Kay. Nanti saja ya, kata saya mencoba tetap tenang.
Ini penting. Tentang mading. Ada bagian tulisan kamu yang mau diedit sama Arkan, dan aku butuh persetujuan kamu sekarang, suara Kayla terdengar sedikit memaksa.
Kenapa harus Arkan yang edit? Itu kan rubrik 'Suara Hati' yang saya buat atas permintaan kamu? tanya saya.
Katanya bahasanya terlalu kasar, Bumi. Dia mau buat jadi lebih puitis dan universal, biar semua orang bisa ngerasa relate.
Saya tertawa pendek. Kasar? Kejujuran memang sering terdengar kasar bagi orang-orang yang terlalu lama hidup dalam kepalsuan, Kay. Bilang sama Arkan, kalau dia tidak suka, hapus saja sekalian. Saya tidak keberatan.
Bumi! Kenapa kamu jadi keras kepala begini sih? Kayla tampak sangat kesal sekarang. Tangannya mengepal di samping tubuhnya.
Saya tidak keras kepala. Saya cuma sedang menjaga apa yang tersisa dari diri saya. Silakan kamu layout mading itu sesuka hati kalian berdua. Saya sudah tidak peduli, kata saya sambil membuka buku di depan saya, menandakan bahwa percakapan ini sudah selesai.
Kayla berdiri membeku. Dia menatap saya dengan tatapan yang belum pernah saya lihat sebelumnya—tatapan kecewa yang bercampur dengan kemarahan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, dia berbalik dan lari keluar dari perpustakaan.
Saya menarik nafas panjang. Rasanya sesak, tapi saya bangga pada diri saya sendiri. Saya sudah berhasil menjaga garis batas itu.
Bagus. Itu baru namanya garis di atas batu, kata Dara singkat. Dia menyodorkan sebuah permen jeruk ke arah saya. Makan ini. Biar rasa pahit di mulutmu hilang.
Saya mengambil permen itu. Terima kasih, Dara.
Malam harinya, di rumah, saya duduk di teras sambil melihat bintang-bintang. Saya teringat kata-kata Dara tentang Bintang Ganda. Mungkin saya dan Kayla memang bukan bintang ganda yang harus saling mengorbit. Mungkin kami adalah dua komet yang kebetulan berpapasan di ruang angkasa, sempat bersinar bersama sebentar, lalu harus kembali ke jalur masing-masing menuju kegelapan yang tak berujung.
Nama saya Bumi. Dan hari ini, saya belajar bahwa melepaskan itu tidak selalu berarti kalah. Terkadang, melepaskan adalah cara terbaik untuk memenangkan kembali diri kita yang sempat hilang. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi saya tahu, saya tidak akan lagi membiarkan diri saya menjadi bayangan di bawah kaki orang lain.
Gerimis mulai turun lagi di Bandung. Saya masuk ke dalam rumah, menutup pintu, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir, saya tidur dengan sangat nyenyak tanpa memimpikan apapun tentang Kayla.