NovelToon NovelToon
Sandi Hati Sang Alpha

Sandi Hati Sang Alpha

Status: tamat
Genre:Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Satu kontrak, dua keluarga, dan ribuan rahasia. Bagi Bhanu Vandana, Selena Arunika adalah aset yang ia beli. Bagi Selena, Bhanu adalah tirani yang harus ia taklukkan. Di aula yang beraroma cendana, mereka tidak memulai sebuah pernikahan, melainkan sebuah peperangan. Saat fajar bertemu dengan matahari yang beku, siapa yang akan bertahan ketika topeng-topeng kekuasaan mulai retak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prolog : Simfoni cendana dan matahari yang beku

Hai semuanya, assalamu'alaikum teman-teman...

Aku nulis novel baru lagi nih semoga suka dengan jalan cerita nya...

Happy reading...

Alka bhanu vandana

Alka dahayu indurasmi

Alka...... (Secret)

Selena arunika

Renggana putra

Alya cendana dewi

Malam di kediaman besar keluarga Vandana tidak pernah benar-benar tentang perayaan; ia adalah tentang unjuk kekuatan. Arsitektur kolonial yang angkuh itu berdiri kokoh di puncak bukit, dibungkus oleh kabut tipis yang membawa aroma tanah basah dan melati hutan. Di dalam aula utama, lampu gantung kristal membiaskan cahaya yang memantul di atas lantai marmer hitam, menciptakan ilusi ribuan mata yang mengawasi setiap gerak-gerik para tamu. Udara di sana berat oleh wangi kayu cendana yang mahal, aroma khas yang menandakan bahwa otoritas Vandana tidak bisa diganggu gugat.

Di balkon lantai dua, tersembunyi oleh bayangan pilar-pilar besar, Alka Bhanu Vandana berdiri seperti seorang raja yang enggan turun takhta. Jas hitamnya yang dijahit sempurna membungkus tubuh tegapnya, namun ekspresi wajahnya adalah definisi dari sebuah musim dingin yang abadi. Ia menyesap whiskey tanpa es, membiarkan cairan hangat itu membakar tenggorokannya, namun tidak sedikit pun mampu mencairkan tatapan matanya yang tajam dan tak tersentuh. Bagi Bhanu, dunia di bawah sana hanyalah sekadar teater sandiwara, dan malam ini, ia adalah pemeran utama dalam sebuah lakon yang ia benci.

Di sampingnya, sang kembaran, Alka Dahayu Indurasmi, berdiri dengan keanggunan yang menghanyutkan. Jika Bhanu adalah matahari yang membakar, maka Dahayu adalah rembulan yang menyembunyikan sisi gelap di balik cahaya lembutnya. Ia mengenakan gaun sutra berwarna perak yang jatuh mengikuti lekuk tubuhnya seperti air terjun cahaya.

"Berhenti menatap mereka seolah kamu ingin menghanguskan seisi ruangan ini, Bhanu," bisik Dahayu, suaranya halus namun mengandung ketajaman yang hanya dimiliki oleh seorang Vandana. "Dia sudah sampai di gerbang utama. Selena Arunika. Kakek bilang, dia adalah satu-satunya kepingan yang bisa melengkapi kerajaan kita."

Bhanu tidak bergeming. Rahangnya mengeras. "Kakek terjebak dalam romantisme janji masa lalu yang sudah kedaluwarsa, Dahayu. Perjodohan ini bukan tentang melengkapi kerajaan; ini tentang transaksi. Aku membeli stabilitas Arunika, dan mereka menjual putri mereka padaku. Tidak lebih."

"Mungkin," Dahayu tersenyum misterius, matanya menangkap siluet sebuah mobil hitam yang berhenti di depan lobi. "Tapi jangan remehkan Arunika. Kadang fajar datang bukan untuk menerangi, melainkan untuk mengungkap noda-noda yang selama ini kita sembunyikan di dalam gelap."

Di bawah sana, pintu aula terbuka lebar. Selena Arunika melangkah masuk, dan seketika itu juga, kebisingan di dalam ruangan seolah diredam oleh kehadirannya. Ia tidak tampak seperti domba yang dibawa ke penjagalan. Ia mengenakan gaun berwarna peach lembut dengan garis leher yang tinggi, memancarkan aura kesucian sekaligus keberanian yang menantang. Di sampingnya, Alya Cendana Dewi mendampingi dengan raut wajah yang lebih tenang, meski jemarinya yang menggenggam lengan Selena menunjukkan sedikit kegelisahan. Alya tahu, masuk ke rumah ini berarti menyerahkan sebagian dari jiwamu pada bayang-bayang.

"Tegakkan kepalamu, Selena," bisik Alya pelan, hampir tak terdengar di antara denting gelas. "Keluarga Vandana bisa mencium ketakutan dari jarak satu mil. Jangan biarkan mereka melihat satu pun celah di matamu."

Selena menarik napas panjang, aroma cendana di ruangan itu terasa begitu mencekik. Ia mendongak, dan secara tidak sengaja, matanya bertabrakan dengan sepasang mata elang yang mengawasinya dari balkon lantai dua. Bhanu. Pria itu tidak tersenyum, tidak pula mengangguk. Ia hanya menatapnya dengan dingin, seolah sedang menilai apakah "barang" yang baru sampai ini layak untuk dihargai tinggi.

Tiba-tiba, langkah kaki yang santai terdengar mendekati Selena dan Alya dari arah kerumunan. Renggana Putra muncul dengan segelas minuman di tangan dan senyum yang sulit diartikan. Renggana selalu menjadi anomali di lingkaran ini—ia tahu terlalu banyak, namun bicara terlalu sedikit.

"Selamat datang di sarang singa, Nona Arunika," ucap Renggana, suaranya rendah dan penuh pesona yang berbahaya. "Saya menyarankan Anda untuk berhati-hati dengan suhu di sini. Di dekat Bhanu, Anda bisa mati beku atau terbakar habis tanpa sempat meminta pertolongan."

Selena menatap Renggana, lalu kembali menatap ke atas, ke arah Bhanu yang kini mulai melangkah menuruni tangga besar dengan gerakan predator yang lambat namun pasti.

"Terima kasih atas sarannya, Tuan Renggana," jawab Selena tegas, matanya tidak beralih dari Bhanu yang semakin dekat. "Tapi fajar tidak pernah takut pada matahari. Ia hanya datang untuk menggantikannya."

Ketika Bhanu akhirnya berdiri tepat di hadapan Selena, jarak di antara mereka terasa dipenuhi oleh arus listrik yang tegang. Kerumunan tamu seolah lenyap, menyisakan dua orang yang terikat oleh kontrak dan darah.

"Nona Arunika," Bhanu memulai, suaranya berat dan bergema di sanubari Selena. "Saya harap perjalanan Anda cukup nyaman, karena mulai malam ini, kenyamanan adalah hal terakhir yang akan Anda temukan di rumah ini."

Selena tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung bara api. "Saya tidak datang ke sini untuk mencari kenyamanan, Tuan Vandana. Saya datang untuk melihat sendiri, seberapa besar nyali seorang matahari yang katanya bisa membakar semesta, namun nyatanya harus membeli seorang istri untuk merasa utuh."

Di sudut ruangan, Dahayu dan Renggana saling bertukar pandang. Mereka tahu, ini bukan sekadar perjodohan. Ini adalah awal dari sebuah perang dingin yang akan menghancurkan fondasi kedua keluarga, atau justru melahirkan sesuatu yang jauh lebih kuat dari sekadar janji di atas kertas.

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Yulianti
bagus bgt kita diajak untuk berimajinasi,ttp aja ketulusan hati mengalahkan segalanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!