NovelToon NovelToon
BLIND HEIRESS: Akting Buta Sang Istri Konglomerat

BLIND HEIRESS: Akting Buta Sang Istri Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Di depanmu aku tetap buta, tapi di belakangmu aku sedang menggali kuburanmu!"
Gwen, sang pewaris kaya, terbangun dari kebutaannya. Namun, hal pertama yang ia lihat justru suaminya sedang bercumbu dengan sahabatnya sendiri—tepat di samping ranjangnya!
Bukannya melabrak, Gwen memilih tetap berakting buta. Ia menyusun rencana balas dendam yang rapi di bawah hidung mereka.
Keadaan makin panas saat ia menyewa Elang, bodyguard dingin yang menyimpan dendam pada keluarga Gwen. Diam-diam, Elang tahu Gwen hanya berpura-pura.
"Nona, aktingmu hebat. Tapi di depanku, matamu tidak bisa berbohong," bisik Elang.
Bisakah Gwen menghancurkan para pengkhianat itu sebelum rahasianya dibongkar oleh sang bodyguard misterius?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: PERNIKAHAN BERDARAH

​Tiga bulan setelah tenggelamnya The Leviathan, Jakarta seolah kembali tenang. Namun bagi Gwen Adiguna, ketenangan hanyalah selimut tipis yang menutupi bara api. Hari ini adalah hari yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaannya—hari pernikahannya dengan Elang.

​Mansion Adiguna dihias dengan ribuan mawar putih. Karpet merah membentang dari gerbang hingga ke altar yang didirikan di tepi kolam renang mewah. Para elit Jakarta hadir, semua ingin menyaksikan penyatuan sang ratu bisnis dengan pengawal misteriusnya yang kini telah diangkat menjadi Direktur Keamanan Adiguna Group.

​Gwen berdiri di depan cermin besar, mengenakan gaun pengantin couture berwarna putih tulang dengan ekor sepanjang tiga meter. Ia tampak sempurna, namun tangannya yang memegang buket bunga lili terasa dingin.

​"Nona, Tuan Elang sudah siap di altar," Hendra masuk dengan setelan jas rapi, namun wajahnya tampak tegang.

​"Hendra, apakah semua sudah aman?" tanya Gwen, matanya menatap pantulan dirinya sendiri.

​"Tim keamanan sudah menyisir radius dua kilometer. Tidak ada tanda-tanda The Hive atau pengikut Maximilian. Tapi..." Hendra menggantung kalimatnya. "Saya merasa ada yang aneh dengan sinyal satelit kita pagi ini. Ada gangguan frekuensi pendek yang terus muncul setiap sepuluh menit."

​Gwen menarik napas panjang. "Hari ini harus sempurna, Hendra. Demi Elang."

​Musik orkestra mulai mengalun merdu. Pintu aula terbuka, dan Gwen melangkah masuk dengan anggun, didampingi oleh ayahnya, Arthur, yang kini sudah bisa berdiri menggunakan bantuan exoskeleton medis terbaru.

​Di ujung altar, Elang berdiri gagah dengan tuksedo hitam. Tatapannya pada Gwen begitu intens, penuh dengan pemujaan dan janji setia. Bagi Elang, hari ini adalah pembuktian bahwa seorang pria dari selokan bisa memiliki bintang yang paling terang.

​Pendeta mulai membacakan sumpah. Suasana begitu khidmat, hingga beberapa tamu undangan menitikkan air mata.

​"Elang, apakah kau bersedia menerima Gwen Adiguna sebagai istrimu, dalam suka maupun duka, hingga maut memisahkan?"

​Elang menatap mata Gwen, senyum tipis terukir di bibirnya. "Saya bersedia."

​"Dan kau, Gwen Adiguna—"

​Belum sempat pendeta menyelesaikan kalimatnya, suara ledakan kecil terdengar dari arah gerbang depan, diikuti oleh suara rentetan tembakan yang memecah keheningan.

​RATATATATAT!

​Para tamu undangan menjerit histeris. Kekacauan pecah dalam sekejap. Elang dengan insting kilatnya langsung menerjang Gwen, menjatuhkannya ke lantai altar saat peluru sniper menghantam vas bunga raksasa tepat di tempat Gwen berdiri tadi.

​"Gwen! Tiaraap!" teriak Elang.

​"Hendra! Laporan!" Gwen berteriak melalui earpiece yang ia sembunyikan di balik sanggul rambutnya.

​"Nona! Kita dikepung! Mereka bukan orang-orang Maximilian... mereka menggunakan lambang baru! Seekor lebah perak dengan mahkota!" suara Hendra terputus oleh suara ledakan lain.

​Di tengah kepulan asap gas air mata yang tiba-tiba memenuhi area pernikahan, muncul sosok wanita yang sangat dikenali Gwen. Bukan Sarah, melainkan Siska—mantan selingkuhan Reno yang dulu dikira sudah mendekam di penjara.

​Siska berdiri di atas balkon lantai dua mansion dengan senapan mesin di tangannya. Wajahnya tidak lagi cantik; separuh wajahnya hancur dengan bekas luka bakar yang mengerikan, hasil dari ledakan gudang di masa lalu.

​"Selamat ulang tahun... eh, maksudku selamat menempuh hidup baru, Gwen!" Siska tertawa gila, suaranya melengking di antara suara tembakan. "Kau pikir kau bisa hidup bahagia setelah menghancurkan hidupku dan Reno?!"

​"Siska! Di mana Reno?!" Gwen berteriak dari balik perlindungan meja altar.

​"Reno sudah mati! Dia hanyalah sampah yang tidak berguna! Tapi aku... aku telah menemukan 'Tuhan' baru yang jauh lebih kuat dari Maximilian!" Siska mengarahkan senjatanya ke arah Elang. "Dan sekarang, aku akan mengambil apa yang paling kau cintai, seperti kau mengambil Reno dariku!"

​Siska menarik pelatuknya. Elang mendorong Gwen ke samping dan mencoba menembak balik, namun sebuah peluru penenang (tranquilizer) berkecepatan tinggi menghantam leher Elang dari arah yang tak terduga—dari arah pagar tanaman.

​"Elang!" Gwen menjerit saat melihat Elang terhuyung, matanya mulai memutih.

​Elang mencoba melawan efek obat bius berdosis tinggi itu, namun tubuhnya mengkhianatinya. Ia jatuh berlutut. Di saat yang sama, empat pria bertopeng perak terjun dari helikopter yang tiba-tiba muncul di atas kolam renang. Mereka menyergap Elang, menyuntikkan sesuatu yang lebih kuat ke lengannya.

​"Lepaskan dia!" Gwen menarik pistol kecil yang ia simpan di balik pahanya—kebiasaan barunya—dan menembak salah satu penculik.

​DOR!

​Satu penculik tumbang, namun tiga lainnya berhasil menyeret Elang masuk ke dalam jaring helikopter yang sedang melayang rendah.

​"Gwen... la... ri..." bisik Elang sebelum ia benar-benar pingsan.

​Helikopter itu terbang menjauh dengan sangat cepat. Siska memberikan ciuman jauh ke arah Gwen sebelum ia melompat ke arah tali helikopter dan ikut menghilang di balik awan mendung Jakarta.

​Gwen berdiri di tengah reruntuhan pernikahannya. Gaun pengantinnya yang putih kini ternoda oleh debu dan darah pengawal setianya. Ayahnya, Arthur, pingsan karena syok, dan Hendra terluka parah di lengannya.

​Ia menatap langit yang kosong. Rasa benci yang dulu ia kira sudah hilang, kini bangkit kembali dengan kekuatan sepuluh kali lipat.

​"Nona... mereka membawa Tuan Elang ke arah pelabuhan utara," Hendra merangkak mendekat, menyerahkan sebuah tablet yang menunjukkan pelacakan residu chip di tubuh Elang. "Tapi sinyalnya mendadak berubah. Mereka masuk ke area yang tidak terpetakan."

​Gwen menghapus air mata dengan kasar. Ia merobek bagian bawah gaun pengantinnya yang panjang agar lebih mudah bergerak, menampakkan bot kulit hitam di baliknya.

​"Hendra, hubungi semua jaringan Adiguna. Aktifkan protokol Black Widow," suara Gwen bergetar karena amarah yang dingin. "Katakan pada mereka, siapa pun yang menculik suamiku... aku akan membakar dunia mereka sampai menjadi abu."

​Di tangannya, Gwen meremas sepotong kain yang jatuh dari salah satu penculik. Kain itu memiliki lambang lebah perak dengan mahkota—lambang dari organisasi The Silver Hive, faksi pemberontak yang jauh lebih radikal dari Maximilian.

​Tiba-tiba, ponsel Gwen berdering. Sebuah video masuk.

​Di layar, tampak Elang terikat di sebuah kursi di ruangan gelap. Dan di belakangnya, berdiri seorang pria muda dengan setelan jas rapi yang wajahnya sangat mirip dengan Elang.

​"Halo, Kakak ipar," pria itu tersenyum manis. "Maaf merusak pesta pernikahanmu. Tapi kakakku, Elang, memiliki sesuatu yang menjadi hak milikku. Namaku Garuda, dan aku datang untuk mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milik keluarga kami, bukan milik Adiguna."

​Gwen tertegun. Elang tidak pernah bilang dia punya adik.

​"Jika kau ingin melihat suamimu hidup, datanglah ke Pulau Hantu sendirian. Bawa chip Nemesis yang asli. Jangan coba-coba membawa pasukan, atau aku akan mengirimkan potongan jantung Elang sebagai kado bulan madumu."

​Video berakhir. Gwen mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya.

​Permainan baru saja dimulai. Dan kali ini, lawan Gwen bukan hanya organisasi gelap, tapi masa lalu Elang yang selama ini dirahasiakan darinya.

1
Anonymous
Semakin seru dan misterius
Anonymous
Semakin komplek dan misterius
Anonymous
Paman ?Memang harta lebih agung dan sangat berharga apalagi hanya sekedar ponak'an
Anonymous
Reno "I B L I S "
Anonymous
Reno kurang bersyukur dengan kehadiran Gwen dalam hidupnya seorang istri yang csntik punya harkat martabat dan derajat
masih saja dikhianati atau mungkin sejak awal tujuan Reno memang bukan membentuk keluarga yang bahagia
Anonymous
Mulai membaca dan larut di dalamnya
Anonymous
Tegar dan percaya diri Gwen tidak mudah terbawa perasaan
Anonymous
Masih misterius semua
Anonymous
Sip.....aku suka karakter Gwenn👍
Leebit
siap!! makasih ya udah berkunjung ke karyaku😊
vania larasati
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!