Shafiya tidak pernah membayangkan hidupnya akan diputuskan oleh orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya.
Satu kejadian membawanya masuk ke lingkaran keluarga Adinata--sebuah dunia di mana keputusan tidak dibuat berdasarkan benar atau salah,
melainkan berdasarkan kepentingan.
Ia hamil. Tanpa suami.
Dan itu cukup untuk menjadikannya bagian dari permainan.
Sagara Deva Adinata tidak mencari cinta. Apalagi ikatan. Ia hanya butuh pewaris
agar posisinya tetap tak tergoyahkan.
Dan Shafiya… adalah variabel yang terlalu berharga untuk dilepaskan.
Di balik kesepakatan yang terlihat seperti solusi,
tersimpan kendali, tekanan, dan rahasia yang tidak pernah benar-benar dijelaskan.
Karena di dunia mereka,
yang dipertaruhkan bukan hanya perasaan--melainkan batas antara dosa… dan pahala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Aroma Yang Menenangkan Sagara.
Malam sudah turun ketika mobil Sagara memasuki halaman Adinata Residence 3.
Lampu-lampu taman menyala lembut di sepanjang jalan masuk. Rumah besar itu tampak setenang biasanya.
Pintu utama terbuka sebelum Sagara benar-benar mencapai anak tangga. Ratri sudah berdiri di sana.
“Tuan.”
Sagara mengangguk singkat. Langkahnya tetap lurus memasuki rumah.
Ratri mengikuti dua langkah di belakangnya.
“Ada sesuatu yang perlu saya laporkan.”
Sagara tidak berhenti. Ia hanya melepas jasnya dan menyerahkannya pada Ratri.
“Katakan.”
“Tuan Ravendra datang siang tadi.”
Langkah Sagara berhenti.
Hanya satu detik.
Lalu ia kembali berjalan, seolah kalimat itu bukan sesuatu yang mengejutkan.
“Untuk apa?” tanyanya datar.
“Mencari Anda.”
Sagara tak bertanya lagi, langkahnya menuju ke ruang kerjanya. Asisten membukakan pintu, lelaki itu masuk lalu duduk di sofa. Tatapannya terarah pada Ratri yang berdiri beberapa langkah di depannya.
“Dia bertemu dengan Nona Shafiya.”
Ratri melanjutkan laporannya.
Sunyi jatuh di ruangan itu.
Ratri sudah cukup lama bekerja dengan Sagara untuk tahu--keheningan seperti ini bukan keheningan biasa.
“Berapa lama?”
“Tidak sampai dua puluh menit.”
“Apa yang mereka bicarakan?”
“Tidak ada percakapan yang terdengar mengancam.” Ratri menjawab hati-hati.
“Namun… Tuan Ravendra beberapa kali menyinggung kehamilan Nona.”
Rahang Sagara tidak mengeras. Tatapannya juga tidak berubah.
Namun satu hal tampak jelas--pikirannya sedang bekerja.
“Dia juga menyebut, Tuan menjaga sesuatu yang sebenarnya bukan miliknya."
Sagara bersandar sedikit ke kursi. Tidak terkejut. Hanya tatapannya sedikit lebih gelap.
“Dan Elara?"
“Nona menjawab dengan sangat tenang.”
Ratri berhenti sejenak sebelum menambahkan.
“Nona menyebut dirinya sebagai istri Anda. Dan memanggil Tuan Ravendra… Paman.”
Keheningan yang lebih panjang jatuh setelah kalimat itu.
Lalu sesuatu yang sangat tipis muncul di wajah Sagara.
Bukan senyum.
Lebih seperti… pengakuan.
“Dia mengantar tuan Ravendra sampai pintu depan.” Ratri melanjutkan laporannya.
Sagara berdiri.
Langkahnya menuju jendela besar di ujung ruangan.
Beberapa detik ia hanya menatap taman yang gelap di luar sana.
Lalu ia berkata pelan.
“Mulai besok, tidak ada seorang pun dari keluarga Adinata yang masuk ke rumah ini tanpa izin saya.”
Nada suaranya tetap datar.
Namun keputusan itu jelas.
“Termasuk Ravendra.”
Ratri mengangguk.
“Baik, Tuan.”
Sagara masih menatap ke luar jendela.
“Dan satu hal lagi.”
“Ya, Tuan?”
“Jika Ravendra datang lagi…”
Ia berhenti sebentar.
“Jangan biarkan dia berbicara dengan Elara tanpa saya.”
"Baik." Ratri mengangguk.
"Makan malam akan segera disiapkan, Tuan."
"Tidak perlu," kata Sagara cepat. "Saya akan keluar lagi setelah ini."
Lelaki itu berbalik, mengambil beberapa berkas di atas meja. "Kamu pastikan saja, Shafiya makan malam di waktu yang tepat."
"Baik." Ratri menunduk beberapa jenak, dan kemudian berlalu.
..
...
Pagi ini jadwal sarapan lebih lambat sekian waktu. Sagara baru keluar dari ruang pribadinya setelah beberapa saat berlalu. Begitu memasuki ruang makan, dua suara percakapan sudah lebih dulu memenuhi ruangan.
Agam duduk dengan santai di salah satu kursi, setengah bersandar sambil memutar gelas kopi di tangannya. Di seberangnya, dokter Raka tampak jauh lebih rapi--meski jelas tidak sedang berada dalam jadwal praktik.
“Kau terlambat.” Agam menyapanya lebih dulu.
Sagara hanya menatap sekilas sebelum menarik kursi di ujung meja.
“Kalian terlalu pagi.”
“Justru kau yang terlalu lama tidur,” balas Agam ringan.
Raka tersenyum kecil. “Kami tidak mengganggu, kan? Kebetulan lewat. Dan Ratri bilang sarapan sudah siap.”
“Jadi kami menumpang,” Agam menyelesaikan kalimat itu tanpa rasa bersalah.
Sagara tidak menjawab. Alasan dua orang sahabatnya yang--sebenarnya tidak masuk akal--itu tak ingin ia bantah. Adinata Residence tidak bisa diakses secara umum, apalagi residence 3. Tak ada istilah kebetulan lewat. Yang benar adalah memang sengaja datang.
Sagara hanya duduk, lalu meraih segelas air di depannya. Gerakannya sedikit lebih lambat dari biasanya.
Semalam ia hampir tidak tidur. Tidak bisa.
Bukan pertama kali, tapi tetap saja mengganggu. Terutama dengan jadwal yang menunggunya di Adinata Holding hari ini.
Ia baru saja meneguk air ketika sensasi tidak nyaman itu muncul lagi.
Perutnya terasa seperti ditarik dari dalam.
Sagara berhenti. Hanya sebentar.
Namun cukup untuk membuat alis Raka sedikit terangkat.
“Kau baik-baik saja?” tanya dokter itu tenang.
Sagara meletakkan gelasnya.
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
Agam menatapnya lebih lama dari biasanya. “Kalau itu jawabanmu, biasanya justru ada yang salah.”
Sagara tidak menanggapi.
Pandangan matanya hanya jatuh pada hidangan sarapan yang baru saja disiapkan di meja.
Dan rasa itu datang lagi, aroma makanan justru membuat perutnya semakin tidak nyaman.
Ia menarik napas pelan, lalu menyandarkan punggungnya sebentar.
Agam memperhatikan itu dengan alis terangkat.
“Ini baru pemandangan langka,” katanya akhirnya.
Sagara tidak menoleh.
“Apa?”
“Kau.” Agam menunjuk meja dengan dagunya. “Duduk di depan makanan… tapi tidak menyentuhnya.”
Raka ikut melirik. Memang tidak biasa.
Sagara adalah orang yang selalu disiplin dengan rutinitasnya, termasuk makan.
“Gangguan lambung?” tanya Raka datar, nada suaranya lebih seperti observasi daripada pertanyaan.
“Tidak.”
Jawaban Sagara terlalu cepat.
Agam tertawa pendek.
“Kalau begitu ini lebih aneh lagi.” Ia menyandarkan siku di meja. “Kau kelihatan seperti orang yang baru mencium bau sesuatu yang tidak seharusnya ada di meja makan.”
Sagara menatapnya sekarang.
Tatapan yang cukup untuk membuat orang lain berhenti bicara.
Namun Agam tidak termasuk orang yang mudah berhenti.
“Kurang tidur?” lanjutnya santai.
Sagara tidak menjawab.
Diamnya justru menjadi jawaban yang cukup jelas.
Raka mengamati sebentar. Langsung paham. Ia lalu bertanya ringan, "Gangguan itu datang lagi ya? Obatnya masih ada?"
Sagara meraih gelas minumnya, meneguknya sedikit
"Aku tidak ingin terus bergantung pada obat-obatan, Raka."
"Baik." Raka mengangguk. "Jika kau punya solusi yang lain."
"Ada." Sagara menjawab cepat. Lalu dengan cepat pula ia diam. Bahkan pertanyaan Raka hanya dibiarkan menggantung tanpa jawaban.
Dalam benak Sagara muncul satu nama.
Shafiya.
"Sesuai permintaanmu kemarin." Raka membuka pembicaraan dengan topik lain. "Mulai besok, dokter spesialis perempuan yang akan datang untuk memeriksa nona Shafiya."
Sagara mengangguk.
"Aku ajukan tiga nama," lanjut Raka. "Mereka sangar kompeten dan profesional di bidangnya."
"Pilihkan saja," putus Sagara cepat.
"Baik." Raka mengangguk.
"Seharusnya nona Shafiya dipanggil untuk sarapan bersama." Tiba-tiba Agam mengusulkan. "Dia nyonya rumah ini sekarang," tambahnya.
Belum ada yang bereaksi dengan ucapannya itu. Sagara juga diam.
Sampai kemudian. "Betul juga," kata Raka.
"Rumah ini terlalu sepi."
Ia menoleh ke arah Ratri yang berdiri tak jauh dari pintu.
“Tolong panggil Nona Shafiya.”
Ratri tidak langsung bergerak.
Tatapannya secara refleks beralih pada Sagara.
Biasanya semua keputusan di rumah ini tetap menunggu satu orang.
Namun Sagara tidak mengatakan apa pun.
Ia hanya duduk diam dengan wajah yang sama datarnya.
Beberapa detik berlalu.
“Panggil saja,” katanya akhirnya.
Ratri mengangguk lalu pergi.
Agam tidak menyadari apa pun.
Namun di dalam kepala Sagara, satu pikiran sedang bekerja dengan sangat tenang.
Ia tidak percaya pada kebetulan.
Dua malam lalu, rasa mual yang mengganggunya hilang saat ia berdiri sangat dekat dengan Shafiya.
Pagi ini rasa tidak nyaman itu kembali muncul. Jika memang ada hubungan di antara keduanya…
maka jawabannya akan muncul dalam beberapa menit lagi.
Tidak lama kemudian langkah pelan terdengar dari koridor.
Shafiya muncul di ambang pintu ruang makan. Winda mengikuti satu langkah di belakangnya.
Perempuan itu berhenti sejenak, seperti memastikan kehadirannya tidak mengganggu.
Agam yang pertama menyadarinya.
“Ah, akhirnya.” Ia segera berdiri setengah dari kursinya dengan sikap santai. “Silakan masuk.”
Shafiya mengangguk sopan.
Agam sudah menarik kursi.
“Duduk di sini saja.”
Ia menunjuk kursi yang tidak jauh dari tempat Sagara duduk.
“Kalau tidak salah, ini posisi yang paling benar," katanya.
Shafiya menatapnya sejenak.
“Benar bagaimana?”
Agam menyeringai kecil.
“Tuan rumah dan nyonya rumah seharusnya berdampingan.”
Raka langsung menimpali, setengah tertawa. “Secara etika keluarga, itu memang susunan meja yang paling logis.”
Shafiya tidak menjawab.
Namun ia tetap duduk di kursi yang ditunjukkan Agam.
Jaraknya tidak sampai satu lengan dari Sagara.
Dan saat itulah Sagara menyadarinya.
Aroma itu.
Lembut. Bersih. Manis. Hampir tidak terasa--kecuali jika seseorang benar-benar memperhatikannya.
Sagara tetap menatap meja di depannya.
Tidak ada yang berubah pada wajahnya.
Namun di dalam tubuhnya, sesuatu perlahan bergeser.
Ketegangan di perutnya yang sejak pagi terasa menekan… mulai mereda.
Pelan.
Hampir seperti ditarik keluar oleh sesuatu yang tidak terlihat.
Sagara tidak bergerak.
Ia hanya duduk diam.
Mengamati. Menunggu.
Dan dalam beberapa detik berikutnya, rasa tidak nyaman itu benar-benar hilang.
Beberapa detik berlalu tanpa ada yang benar-benar memperhatikan Sagara.
Agam masih sibuk dengan sarapannya. Raka menanyakan beberapa hal ringan pada Shafiya tentang kondisi kesehatannya.
Sagara tetap duduk dengan sikap yang sama. Namun kini tangannya bergerak.
Ia meraih sendok di depannya.
Agam yang kebetulan mengangkat kepala langsung berhenti mengunyah.
“Oh.”
Satu suku kata itu keluar begitu saja.
Raka menoleh.
“Apa?”
Agam menunjuk ke arah Sagara dengan dagunya.
“Keajaiban kecil baru saja terjadi.”
Sagara tidak menanggapi.
Ia sudah mengambil sedikit makanan dari piringnya.
Agam menyandarkan punggungnya sambil tertawa kecil.
“Tadi kau duduk seperti orang yang siap menolak semua makanan di meja ini.”
Ia menunjuk piring Sagara lagi.
“Sekarang tiba-tiba makan?”
Raka ikut memperhatikan sebentar.
“Menarik,” katanya tenang.
Shafiya yang sedari tadi lebih banyak diam akhirnya ikut melirik.
“Apakah makanan di sini tidak cocok?” tanyanya pelan.
Pertanyaan itu sebenarnya sederhana.
Namun untuk sesaat, Sagara menatapnya.
Hanya sebentar.
Cukup untuk kembali menangkap aroma lembut itu.
Tidak ada jejak rasa tidak nyaman yang tersisa di tubuhnya sekarang.
Sagara kembali mengalihkan pandangannya ke piring.
“Tidak ada masalah.”
Ia mulai makan dengan tenang.
Agam tertawa pelan.
“Kalau begitu ini benar-benar aneh.”
Ia menunjuk Sagara lagi.
“Baru kali ini aku melihat orang sembuh hanya karena duduk lebih lama di meja makan.”
Raka mengangkat alis tipis.
“Bisa jadi karena suasana yang berubah.”
Agam langsung menyeringai.
“Ya, suasana memang berubah.”
Ia melirik Shafiya dengan sengaja.
“Sekarang meja ini punya nyonya rumah.”
Shafiya tidak menanggapi candaan itu.
Begitupun Sagara. Mereka sama-sama menuntaskan sarapan tanpa diselingi bicara.