Hati Davin hancur ketika mengetahui cintanya pada Renata juniornya, bertepuk sebelah tangan dan ternyata hanya dimanfaatkan untuk kepentingan karir.
Dia lalu memilih pergi menjadi relawan medis di daerah bencana, dan bertemu Melodi, gadis yatim piatu nan tangguh merawat adiknya yang lumpuh
Ketulusan dan ketegaran Melodi mampu membuat Davin terpikat. Namun, perbedaan status di antara mereka terlalu besar membuat Melodi ragu.
Mampukah Davin meyakinkan Melodi bahwa cinta sejati tak mengenal batas? Atau justru perbedaan akan memisahkan mereka selamanya?
Yuk, ikuti kisahnya hanya di sini;
"Melodi Cinta Untuk Davin" karya Moms TZ, bukan yang lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Bantuan
Senyum bahagia masih menghiasi wajah Dahlia, ketika dirinya sampai di Puskesmas Pembantu. Ia berpikir telah merasa menang, karena berhasil menyingkirkan sosok yang dianggapnya sebagai rival, yaitu Melodi.
"Haaahh...senangnya. Siapa suruh pengin bersaing sama aku! Merebut perhatian Dokter Davin," gumamnya, tanpa berpikir bahwa perbuatannya ini justru bisa mendekatkan Davin dengan Melodi.
"Saatnya mendekati dokter tampan itu, tanpa hambatan." Dahlia mematut wajahnya pada spion, menambah riasan wajah dan memulas bibirnya lebih tebal sehingga membuat penampilannya lebih cetar membahana.
Dengan rasa percaya diri yang tinggi, ia melangkahkan kakinya memasuki gedung Puskesmas. Namun, langkahnya terhenti kala netranya menatap meja kerja Davin yang tampak kosong.
Ia mengernyit heran. "Tumben Dokter Davin belum kelihatan batang hidungnya?"
Dahlia menengok ke keluar mengedarkan pandangannya, tetapi tak ditemukannya sosok yang dikaguminya.
"Ah, si*al. Aku sudah dandan paripurna begini, dia-nya malah nggak nongol lagi," desisnya kesal. Ia pun kemudian melanjutkan langkah menuju meja kerjanya.
.
Melodi akhirnya memutuskan kembali ke tendanya. Tak mungkin ia melanjutkan ke rumah Murni dalam keadaan basah kuyup dan badan yang remuk redam. Perlahan dengan langkah tertatih ia menuntun sepedanya.
Begitu sampai di tenda, Alvian tampak kaget melihat kedatangan Melodi dalam keadaan mengenaskan. "Kak Mel, apa yang terjadi? Kenapa pakaiannya basah semua?" tanyanya dengan ekspresi bingung.
"Kakak jatuh di parit dekat sawah bengkok Pak Bayan, Dik," jawab Melodi lirih.
"Astaghfirullah al'adzim... Pasti sakit ya, Kak?" tanyanya khawatir.
"Nggak kok, cuma nyeri dikit, nanti juga sembuh," jawab Melodi menenangkan.
"Lain kali, Kakak lebih berhati-hati, ya," ujar Alvian, menatap Melodi dengan iba.
"Tentu, kamu jangan khawatir, ya," jawab Melodi sambil tersenyum lemah.
Kemudian ia mengambil pakaian bersih dari dalam tas. Ia berniat membersihkan diri. Namun, begitu keluar dari tenda, ia justru bertemu dengan Davin yang sangat terkejut melihatnya.
Baru saja pemuda itu akan bertanya, Melodi buru-buru pergi dengan cepat, berusaha menghindari Davin. Ia merasa malu bertemu dengan dokter tampan itu dalam keadaan dirinya berantakan.
Davin mengernyit. "Ada apa dengannya?"
Pandangannya tertuju pada sepeda yang tergeletak di samping tenda. "Astaghfirullah, ini sepedanya kenapa begini?"
Davin pun bertanya pada Alvian. "Vian..." panggilnya.
"Iya, Pak Dokter." Alvian menoleh ke arah suara.
"Vian tahu nggak, apa yang terjadi dengan Kak Mel?" tanya Davin, suaranya agak sedikit kencang karena dirinya berada di luar tenda.
"Kak Mel baru saja terjatuh di parit di dekat sawah Pak Bayan, Pak Dokter," jawab Alvian jujur.
"Jatuh...?" gumam Davin, lantas kembali ke sepeda Melodi.
Ia mengamati sepeda itu lalu menghela napas kasar. "Sepertinya garpunya patah."
"Apa jatuhnya lumayan parah, sampai bisa patah begini?" tanyanya pada diri sendiri.
Tin
Tin
Tin
Mobil box berhenti tepat di depan tenda Davin. Beberapa warga tampak penasaran. Kemudian turun seorang pria kira-kira berusia tiga puluhan menghampiri Davin.
"Selamat pagi, Pak. Dengan Pak Davin?" tanyanya sopan.
"Benar, saya sendiri," jawab Davin. "Apa itu barang pesanan saya?"
"Benar, Pak. Kami diperintahkan mengantarkan barang itu langsung pada Anda," jawab pria itu, sambil menyerahkan nota bahwa barang telah diterima. "Tolong, Anda tanda tangani."
Davin membubuhkan tandatangannya. Setelah itu meminta mereka menurunkan kursi roda kiriman saudaranya.
Kesepuluh unit kursi roda telah diturunkan. Mobil box itu pun pergi.
"Wah, Dok. Ini bantuan dari siapa?" tanya seorang rekan relawan.
"Ada beberapa dermawan yang memberikan sumbangsihnya bagi para korban." Davin menjawab sambil mengulum senyumnya.
Beberapa rekannya mengangguk, bibir mereka membentuk huruf 'O'.
"Tapi, Dok. Ini banyak sekali?" tanya lain.
"Nanti kalau nggak terpakai di sini bisa diberikan ke Puskesmas di Kecamatan," jawab Davin enteng.
Belum reda keterkejutan mereka, kini kembali dibuat terkejut oleh kedatangan truk-truk besar yang mengangkut pasir dan material lainnya.
"Apa ini bantuan dari pemerintah yang datang untuk membangun rumah kita kembali?" tanya salah seorang warga kepada temannya.
"Alhamdulillah, kalau memang itu benar," timpal yang lain.
Davin segera menghampiri kerumunan warga dan meminta mereka untuk membantu menurunkan material tersebut.
Seperti dikomando warga pun dengan suka rela bergotong-royong membantu menurunkan material dari atas truk.
"Dok, saya penasaran. Ini bantuan dari pemerintah atau swasta?" tanya Leo.
"Dari swasta, Mas. Saya berkoordinasi bersama teman-teman pengusaha yang saya kenal, mengajukan proposal ke beberapa perusahaan properti untuk memberi bantuan kepada para korban bencana," jawab Davin tanpa memberitahu bahwa saudara-saudaranya yang mengirimkan bantuan.
"Waw, nggak nyangka Dokter Davin gercep sekali," puji yang lain.
"Ah, biasa saja itu mah, jangan terlalu dibesar-besarkan. Sebab itu bukan bantuan dari saya pribadi," ujar Davin merendah.
Dalam sekejap semua material telah diturunkan dan tertata rapi di salah satu tenda. Truk pun kemudian pergi.
Davin kemudian mengumpulkan warga. "Bapak-bapak, yang merasa tukang bangunan dimohon kesediaannya besok untuk memulai mengerjakan pembangunan rumah. Apakah Bapak semua setuju?"
"Setuju...!" seru mereka serempak.
"Baiklah, lebih banyak yang bekerja lebih baik, agar pembangunan rumah cepat selesai," kata Davin.
"Namun, perlu diperhatikan bahwa kita tidak boleh asal-asalan dalam membangunnya. Gunakan bahan seefisien mungkin. Dan ingat jangan ada kecurangan dalam bentuk apapun," tambahnya memperingatkan.
"Siap, Pak Dokter!" Lagi-lagi mereka menjawab serempak.
"Bagus, karena saya tidak akan segan-segan untuk menindak oknum yang nakal," kata Davin. Kata kata yang diucapkannya penuh dengan tekanan bahkan ancaman.
.
Sementara itu di kantor kelurahan, Pak Aris tengah menerima laporan dari bawahannya tentang penemuannya. Sesaat lalu setelah dia bersama yang lain melihat iring-iringan truk yang melintas memuat material, lantas memerintahkan seseorang untuk menyelidikinya.
"Pak, truk-truk itu berhenti di lapangan dekat tenda pengungsian," kata sang kaur.
"Kalau tidak salah, itu bantuan teman-teman Dokter Davin dari kota."
Pak Lurah manggut-manggut sambil mengelus janggutnya.
"Kalau begitu kita harus ke sana dan minta penjelasan kenapa dia tidak merundingkannya dulu dengan pimpinan desa," kata Pak Aris.
"Kita ini pemimpin, tapi seolah tidak dianggap. Padahal bantuan apapun kan, harus melalui prosedur yang berlaku di sini."
Selanjutnya dengan dipimpin oleh Pak Aris sendiri, mereka pun mendatangi Davin untuk minta penjelasan.
Tak lama, Pak Aris beserta jajarannya tiba dan langsung menerobos kerumunan warga. Mereka berdiri membentuk barisan di hadapan Davin bersama rekan-rekannya.
"Dokter Davin bisa minta waktunya untuk bicara?" tanya Herman, sang sekretaris desa.
"Ada apa ya, Pak?" tanya Davin balik.
"Kita bicara di dalam," kata Pak Lurah.
"Baik." Davin pun mengajak yang lain untuk ikut dalam pembicaraan mereka.
"Silakan, Pak. Apa yang mau dibicarakan," kata Davin.
"Begini, Dok. Untuk apa material ini dan kenapa tidak berunding dulu dengan kami mengenai bantuan ini. Dengan begitu kami bisa menghandle-nya, tanpa merepotkan Anda semua," kata Pak Aris dengan percaya diri.
Davin tersenyum penuh arti. Dia sudah paham dengam kriteria orang-orang seperti ini. Maka dia pun menjawab dengan santai.
"Saya hanya menjalankan amanah dari teman-teman untuk menyampaikan bantuan langsung ke masyarakat. Karena jika melalui prosedur sangat ribet dan rawan dikorupsi."
Wajah Pak Aris dan beberapa jajarannya seketika merah padam, antara malu dan entahlah -- yang jelas mereka merasa tersudut dan tak mampu membantah.