Pernikahan yang kukira pelabuhan cinta, ternyata hanyalah jerat maut yang dirancang suamiku sendiri. Namaku Aruna, putri keluarga Adiwangsa yang dicap lugu oleh dunia. Namun di malam pengantinku yang penuh duri, aku menyaksikan pengkhianatan Tristan dan selingkuhannya tepat di depan mataku.
Tristan ingin hartaku, ia ingin membuangku ke desa terpencil hingga aku membusuk. Namun, ia melakukan satu kesalahan besar: membiarkan Aruna Adiwangsa pergi dengan liontin warisan ibunya.
Sebuah Ruang Ajaib terbuka dari tetesan darah rasa sakitku. Di sana, aku membangun kekuatan, mengumpulkan harta, dan menyusun strategi yang tak terduga. Tristan, nikmatilah sisa kejayaanmu, karena saat aku kembali, aku akan memastikan kau berlutut memohon ampun di bawah kakiku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Angel Abilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Pembersihan Dimulai
Langit masih gelap dan hari belum benar-benar pagi ketika Pak Baskara sudah berada di ruang kerjanya yang kedap suara. Di hadapannya, tiga layar monitor menyala, menampilkan struktur organisasi Adiwangsa Group yang rumit. Luka di keningnya semalam masih terasa berdenyut, namun rasa tanggung jawab dan sedikit rasa segan terhadap aura baru Aruna membuatnya bekerja lebihan cepat dari biasanya.
"Lakukan sekarang," perintah Baskara dingin ke dalam telepon. "Blokir semua akses kartu identitas mereka. Jangan ada satu pun dokumen atau perangkat keras yang keluar dari gedung sebelum tim audit forensik sampai."
Baskara bukan sekadar pengacara; ia adalah "penjaga gerbang" legalitas keluarga Adiwangsa. Dengan satu ketukan jarinya, puluhan surat pemberhentian sementara dan pembekuan aset melesat ke surel para manajer serta direksi yang selama ini menjadi kaki tangan tersembunyi Baron.
Pukul 08.00 pagi, lobi utama Gedung Adiwangsa yang biasanya tenang mendadak gaduh. Beberapa pejabat tinggi perusahaan terlihat kebingungan di depan gerbang sensor; mereka berkali-kali menempelkan kartu akses emasnya, namun mesin itu terus mengeluarkan bunyi tit merah yang kasar.
"Ada kesalahan sistem! Saya ini Direktur Operasional!" teriak pria berperut buncit dengan setelan mahal itu. Ia adalah salah satu orang kepercayaan Baron yang menyusup sejak lima tahun lalu. Wajahnya memerah karena malu, tangannya terus memukul-mukul mesin sensor yang sama sekali tidak merespons.
"Mohon maaf, Pak," ucap petugas keamanan dengan nada yang tidak terbantahkan, menghalangi langkah sang direktur. "Ini perintah langsung dari kantor hukum Pak Baskara berdasarkan instruksi pemilik tunggal Adiwangsa yang sah. Anda diminta menyerahkan semua inventaris kantor. Mulai dari kartu akses hingga ponsel perusahaan dan segera menuju ruang rapat utama di lantai 40."
Di lantai 40, suasana terasa sangat dingin dan penuh ketakutan. Pak Baskara berdiri di balik meja marmer panjang, memegang tumpukan map hitam yang berisi bukti penggelapan dana dan sabotase proyek. Di sampingnya, beberapa pria berjas dari tim audit berdiri siaga dengan wajah tanpa ekspresi. Menutup semua akses keluar, seolah tidak membiarkan satu orang pun lolos dari sana.
Para kaki tangan Baron yang tersisa berkumpul dengan wajah sangat pucat. Mereka saling lirik, mencari sosok pemimpin yang biasanya memberi instruksi. Namun, Baron tidak ada. Ponselnya mati, dan keberadaannya seperti hilang ditelan bumi.
"Di mana Tuan Baron? Dia tidak bisa dibiarkan diperlakukan seperti ini!" seru salah satu manajer senior, Ia mencoba meninggikan suaranya, melempar ancaman kosong.
Baskara memperbaiki letak kacamatanya dengan gerakan tenang, teringat ketegasan Aruna semalam. "Baron sudah tidak lagi memiliki kuasa atas napasnya sendiri, apalagi atas perusahaan ini. Beliau sudah... dipensiunkan oleh alam"
Pintu ruang rapat terbuka perlahan. Aruna melangkah masuk dengan setelan blazer hitam tajam. Ia tidak lagi tampak seperti gadis yang ragu; langkahnya mantap, dan tatapannya mengunci setiap orang di ruangan itu hingga mereka menunduk.
"Jangan mencari orang yang sudah dikubur oleh dosa-dosanya sendiri," ucap Aruna dingin. Suaranya yang rendah namun tajam dalam keheningan, memaksa setiap orang di ruangan itu untuk diam tak bergerak. Ia berdiri di ujung meja, menatap para pria yang selama ini mengambil pelan-pelan kekayaan ayahnya.
Baskara menunduk hormat saat Aruna melewati kursinya. Di dalam hati, pengacara tahu, pembersihan ini baru saja dimulai, dan Aruna tidak akan menyisakan satu pun benalu di tubuh Adiwangsa.
Aruna baru saja akan membuka map pertama di atas meja ketika ponsel di saku blazer-nya bergetar. Ia melirik layar, nama Rian tertera di sana. Seketika, tatapan tajamnya melunak, digantikan oleh kerutan tipis di dahi. Ia mengangkat tangan, memberi isyarat agar Pak Baskara dan para direktur yang ketakutan itu menunggu.
"Ya, Rian?" Aruna menjawab pendek.
"Aku baru saja lewat di depan gedung kantormu. Banyak mobil hitam dan pengamanan ekstra ketat," suara Rian terdengar tenang dari seberang telepon, diselingi suara berisik knalpot motornya yang masih menyala. "Aku tahu kamu sedang melakukan 'pembersihan', tapi orang-orang Baron bukan tipe yang akan menyerah begitu saja. Ada beberapa titik buta di sistem keamanan gudang digital kalian yang mungkin belum Pak Baskara sentuh."
Aruna terdiam, matanya melirik ke arah para direktur yang kini berkeringat dingin. "Apa maksudmu?"
"Mereka punya server cadangan di luar gedung ini, Aruna. Jika mereka merasa terpojok, mereka bisa menghapus semua bukti transaksi ilegal dalam hitungan detik dari jarak jauh," jelas Rian dengan nada mendesak. "Aku bisa membantumu mengunci akses itu dari sini sebelum mereka sempat menekan tombol hapus. Kamu butuh seseorang yang bisa bergerak di jalur yang tidak tersentuh prosedur resmi, tempat di mana Pak Baskara tidak bisa melangkah."
Aruna menatap Pak Baskara, yang terlihat waspada melihat perubahan ekspresi Aruna. Aruna tahu, meski ia memiliki kuasa hukum, teknologi Baron berada di level yang berbeda.
"Lakukan, Rian," ucap Aruna tegas. "Kunci semuanya. Jangan biarkan mereka menyisakan satu celah pun untuk lari."
"Dimengerti. Tetaplah di sana, Boss Lady. Aku akan menjaga pintu belakang digitalmu," jawab Rian sebelum memutus sambungan.
Aruna memasukkan kembali ponselnya. Ia kembali menatap orang-orang di depannya dengan senyum tipis yang terasa dingin. Jenis senyum yang memberi tanda bahwa nasib mereka baru saja dikunci rapat. "Baru saja saya mendapat kabar bahwa pintu pelarian terakhir kalian sudah terkunci..."
Ruangan itu mendadak menjadi hening. Para manajer senior itu terlihat lemas; beberapa dari mereka bahkan lupa cara bernapas, menyadari bahwa pelarian digital mereka pun sudah diputus tanpa sisa.
Aruna membiarkan keheningan itu menyiksa mental mereka selama beberapa detik lagi. Ia sengaja tidak melanjutkan kalimatnya, membiarkan rasa takut yang perlahan-lahan melumpuhkan nyali para pengkhianat itu.
Sementara itu, beberapa blok dari Gedung Adiwangsa, Rian memarkir motornya di sebuah lorong sempit yang tersembunyi. Ia tidak butuh ruangan kantor mewah; baginya, trotoar dengan sinyal WiFi yang kuat sudah cukup. Ia mengeluarkan perangkat tablet khusus dari tas ranselnya, jari-jarinya bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal, menembus kode rahasia yang selama ini disembunyikan Baron.
"Ketemu," gumam Rian. Matanya memantulkan barisan kode hijau yang berlari cepat di layar. "Server bayangan di pinggiran kota. Pintar juga kalian."
Di lantai 40, Aruna berdiri dengan tenang, namun jemarinya sesekali mengetuk meja marmer, menunggu sinyal keberhasilan dari Rian. Pak Baskara memperhatikannya dengan saksama, menyadari bahwa strategi Aruna kali ini jauh melampaui apa yang pernah ia bayangkan. Aruna tidak hanya menyerang secara fisik dan hukum seperti yang biasa dilakukan ayahnya dulu sebelum jatuh sakit. Aruna tidak sedang bermain kasar, ia sedang bermain pintar. Dengan bantuan Rian, ia memutus informasi musuhnya menghanguskan server yang menjadi napas terakhir mereka. Kini, para direktur itu hanya sekadar raga tanpa kuasa, menunggu vonis hukum yang akan membuat mereka terpojok dan tidak bisa melarikan diri.
Bzzzt.
Ponsel Aruna bergetar singkat. Sebuah pesan masuk: "Terkunci. Pintu belakang sudah hangus. Mereka tidak bisa menghapus apa pun lagi."
Aruna menyimpan ponselnya kembali, lalu menatap direktur operasional yang tadi paling keras berteriak di lobi. Pria itu kini terlihat tidak bertenaga, kehilangan seluruh wibawanya saat keringat dingin membasahi leher kemeja mahalnya.
"Tadi saya katakan pintu pelarian kalian sudah terkunci," Aruna melanjutkan kalimatnya yang sempat menggantung, suaranya kini terdengar lebih santai namun jauh lebih mengancam. "Dan baru saja, kuncinya saya buang ke dasar laut. Jadi, mari kita berhenti berpura-pura. Pak Baskara, silakan bacakan temuan tim audit tentang proyek fiktif di Kalimantan."
Baskara mengangguk, membuka map hitamnya dengan tenang, "Pada tanggal 14 Mei tahun lalu, terjadi aliran dana sebesar empat puluh miliar rupiah..."
Mendengar angka itu disebut, sang direktur langsung terduduk lemas di kursinya. Keheningan di ruangan itu terdengartidak jelas oleh suara tangis sesenggukan dari salah satu manajer senior yang menyadari bahwa karier dan kebebasan mereka baru saja berakhir di tangan seorang gadis yang mereka remehkan kemarin pagi.
Aruna melipat kedua tangannya di depan dada, berdiri dengan dagu terangkat,menatap mereka tanpa rasa iba sedikit pun. Di luar jendela, cahaya matahari pagi mulai menyusup masuk dan menyinari kota Jakarta yang sibuk. Namun bagi orang-orang di ruangan ini, terangnya pagi justru menjadi saksi atas runtuhnya seluruh dunia yang mereka bangun dengan kebohongan.