Lima tahun Hana Ayunindya mengabdi sebagai istri sempurna bagi Arlan Mahendra. Namun, cinta saja ternyata tidak cukup untuk mengisi rahim yang masih sunyi. Di bawah tekanan keluarga dan ego yang terluka, Arlan menjatuhkan vonis paling kejam. Ia akan menikah lagi.
Maura hadir bukan hanya untuk memberikan keturunan yang didambakan Arlan, tapi juga untuk perlahan menggeser posisi Hana di rumah yang ia bangun dengan air mata. Hana mencoba ikhlas, mencoba menelan pahitnya dipoligami, hingga ia menyadari bahwa keikhlasan tanpa batas hanya akan membuatnya hancur tak bersisa.
Di tengah puing-puing hatinya, Hana memutuskan untuk bangkit dan menemukan kembali jati dirinya yang hilang. Saat itulah, Adrian Gavriel hadir dan menunjukkan bahwa Hana layak dicintai tanpa syarat.
Ketika Hana mulai berpaling, mampukah Arlan merelakannya? Ataukah penyesalan datang saat pintu hati Hana sudah tertutup rapat?
Kita simak kisah selanjutnya yuk di Karya => Bukan Istri Cadangan.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Tetangga sekitar mulai mengintip dari balik pagar mewah mereka, berbisik menyaksikan pemandangan yang tak pernah terbayangkan.
Keluarga Mahendra, sang penguasa bisnis tekstil, sedang dipaksa keluar dari istananya sendiri.
"Tidak bisa! Kalian tidak punya hak! Saya sedang hamil! Apa kalian tidak punya hati nurani?!" Maura menjerit histeris di teras rumah.
Ia mencengkeram tiang penyangga rumah yang megah itu, wajahnya merah padam dengan air mata yang terus mengalir, setengah akting, setengah ketakutan yang nyata.
Petugas berbaju seragam biru gelap itu tetap bergeming. "Maaf, Ibu Maura. Dokumen ini sah. Aset ini telah berpindah tangan ke pihak konsorsium Gavriel akibat gagal bayar. Anda punya waktu dua jam untuk mengosongkan tempat ini."
Di tengah kericuhan itu, Arlan berdiri dengan tubuh gemetar. Pakaiannya kusut, rambutnya acak-adakan, dan bau alkohol masih samar tercium dari tubuhnya.
Ia menatap sertifikat penyitaan yang ditunjukkan petugas dengan mata nanar. Dunianya benar-benar runtuh.
"Ini tidak mungkin... ini pasti ulah Adrian," geram Arlan.
Dengan tangan gemetar, ia merogoh saku celananya, mengambil ponsel dan menekan nomor Hana. Ia tidak peduli lagi pada harga diri. Ia butuh rumah ini. Ia butuh perlindungan.
Di saat yang bersamaan, sebuah sedan mewah berhenti tepat di depan gerbang yang sudah dijaga petugas keamanan. Bu Mira, keluar dari mobil dengan wajah pucat pasi.
Ia baru saja kembali dari butiknya, membawa tas belanja dari merek ternama, tanpa tahu bahwa rumahnya baru saja disita.
"Arlan! Apa-apaan ini?! Siapa orang-orang ini?!" teriak Bu Mira sambil berlari masuk, nyaris tersandung sepatunya sendiri.
"Ma... rumah ini disita," sahut Arlan lirih, suaranya nyaris hilang.
"Disita?! Bagaimana bisa?!" Bu Mira menatap petugas dengan pandangan menghina. "Kalian tahu siapa kami? Kami keluarga Mahendra! Pergi kalian dari sini sebelum saya telepon polisi!"
"Silakan, Nyonya," sahut salah satu petugas dengan tenang. "Polisi justru ada di sini untuk mendampingi kami."
Bu Mira terduduk di kursi teras yang mahal, tas belanjanya jatuh begitu saja ke lantai. Ia menoleh ke arah Maura yang masih menangis tersedu-sedu.
"Ini semua gara-gara kamu, Maura! Semuanya jadi hancur!"
"Kok aku disalahkan, Ma?! Ini semua karena Hana! Hana yang jahat!" balas Maura tak mau kalah, sambil terus memegangi perutnya.
Di seberang sana, di dalam mobil mewah yang terparkir beberapa blok dari kediaman Mahendra, Hana melihat ponselnya bergetar. Nama Arlan muncul di layar.
Ia melirik Adrian yang duduk di sampingnya. Adrian hanya mengangguk kecil, memberikan izin tanpa suara.
Hana menggeser layar hijau. Ia menempelkan ponsel itu ke telinganya.
"Halo," suara Hana terdengar sangat dingin, seolah ia sedang bicara pada orang asing.
"Hana! Hentikan semua ini!" suara Arlan terdengar pecah di telepon. "Aku mohon... jangan lakukan ini padaku. Dia baru saja pulang, dia shock. Kau boleh menghancurkan perusahaanku, kau boleh mengambil uangku, tapi jangan usir kami dari rumah ini! Berikan sedikit toleransi, Han. Bagaimanapun, ini rumah yang penuh kenangan kita..."
Hana tersenyum sinis di dalam mobil.
Kenangan?
Yang ia ingat hanyalah malam-malam sepi menunggunya pulang, dan hinaan yang ia terima dari Bu Mira di meja makan itu.
"Toleransi, Mas? Kau bicara soal toleransi setelah apa yang kau lakukan padaku selama ini?" Hana bertanya pelan, namun setiap katanya tajam seperti belati.
"Aku minta maaf! Aku salah! Aku akan lakukan apa saja, Han! Tolong, tarik kembali petugas-petugas ini. Maura sedang hamil, dia tidak bisa stres seperti ini!"
Hana menarik napas panjang. Inilah saat yang ia tunggu. Saat di mana ia memegang kendali penuh atas nasib pria yang dulu memenjarakannya dalam duka.
"Baiklah, Arlan. Aku akan memberimu toleransi," ucap Hana.
Arlan di seberang sana langsung berbinar. "Benarkah? Terima kasih, Han. Aku tahu kau tidak akan tega melakukan ini untukku..."
"Dengar dulu," potong Hana tajam. "Toleransi ini tidak gratis. Aku punya satu syarat. Dan jika kau mengabulkannya sekarang juga, aku tidak hanya akan membatalkan penyitaan rumah ini, tapi aku juga akan mengembalikan aset perusahaanmu dan membatalkan nota kesepahaman kemarin. Kau akan mendapatkan Mahendra Group kembali secara utuh."
Jantung Arlan berdegup kencang. "Apa? Apa syaratnya? Katakan!"
Hana menatap lurus ke depan, ke arah gerbang rumah Mahendra yang terlihat dari kejauhan. "Ceraikan aku. Sekarang juga. Tanpa syarat, tanpa harta gono-gini, dan tanpa drama di pengadilan. Kita tanda tangani surat perceraian itu di depan notarisku yang sudah ada di sana. Jika kau setuju, Mahendra Group tetap milikmu. Jika kau menolak... dalam satu jam, semua barangmu akan ada di trotoar."
Hening menyelimuti sambungan telepon itu.
Arlan tertegun.
Tawaran itu adalah sebuah paradoks. Untuk menyelamatkan kerajaannya, ia harus melepaskan wanita yang kini justru terlihat begitu berharga di matanya.
"Kau... kau ingin aku menceraikanmu?" tanya Arlan lirih.
"Aku tidak ingin menceraikanmu, Mas. Aku butuh kebebasanku seutuhnya," sahut Hana. "Pilihannya ada di tanganmu. Menjadi CEO yang sukses tanpa aku, atau menjadi tunawisma di jalanan bersama Maura dan bayinya itu."
Arlan menurunkan ponselnya dari telinga. Ia menatap ibunya yang menangis histeris, lalu menatap Maura yang tampak sangat berantakan. Di depan matanya, petugas mulai mengangkut sofa ruang tamu keluar.
"Arlan! Lakukan sesuatu!" teriak Bu Mira.
Arlan menatap Maura. "Mah... Hana bilang, dia akan mengembalikan semuanya jika aku menceraikannya."
Maura terhenti dari tangisnya. Matanya berkilat. Ia berpikir cepat. Jika Arlan menceraikan Hana, maka ia akan menjadi satu-satunya nyonya di rumah ini. Dan yang paling penting, harta Arlan akan kembali. Ia tidak ingin hidup miskin.
"Lakukan, Mas! Ceraikan saja dia!" Maura mendesak. "Dia wanita jahat! Biarkan dia pergi! Yang penting perusahaanmu kembali, Mas. Kita butuh uang untuk anak ini!"
Arlan merasa dunianya semakin sempit. Ia melirik ke arah gerbang, dan di sana, seorang pria berjas rapi, dia notaris Adrian. Pria itu sudah berdiri membawa dokumen yang dimaksud Hana.
Dengan langkah gontai, Arlan berjalan menuju notaris itu. Tangannya gemetar saat menerima pulpen. Ia melihat draf surat perceraian itu. Nama 'Hana Ayunindya' dan 'Arlan Mahendra' tertera di sana, menunggu untuk dipisahkan selamanya.
Hana, dari dalam mobil, turun perlahan. Ia berjalan mendekat ke gerbang, didampingi oleh Adrian yang merangkul pinggangnya secara posesif. Mereka tampak seperti pasangan penguasa yang sedang meninjau wilayah jajahan.
Mata Arlan bertemu dengan mata Hana. Ada kilat kemenangan di sana.
"Tanda tangani, Mas Arlan. Dan kau akan mendapatkan mainanmu kembali," ucap Hana, berdiri hanya beberapa meter dari Arlan.
Arlan menatap Hana, lalu beralih menatap Adrian. Rasa cemburu membakar dadanya, namun rasa takut akan kemiskinan jauh lebih besar.
Dengan satu tarikan napas panjang yang penuh sesak, Arlan membubuhkan tanda tangannya di atas materai.
Selesai.
Secara administratif dan kesepakatan, Arlan telah melepaskan haknya atas Hana.
Hana mengambil dokumen itu dari tangan notaris, memeriksanya sebentar, lalu tersenyum puas. Ia memberikan dokumen itu pada Adrian.
"Sesuai janji, Mas. Petugas akan ditarik mundur," ucap Hana. "Rumah ini tetap milikmu. Mahendra Group tetap milikmu. Tapi ingat satu hal..."
Hana melangkah maju, berbisik tepat di telinga Arlan yang mematung.
"Aku memberikanmu harta itu bukan karena aku baik. Tapi karena aku ingin kau menyaksikan dari singgasana sepimu, bagaimana aku akan menjadi jauh lebih bahagia dan sukses tanpa bayang-bayangmu. Nikmatilah hidupmu dengan Maura... selagi kebohongannya belum terungkap."
Hana berbalik, berjalan pergi tanpa menoleh lagi. Ia masuk ke dalam mobil Adrian. Mobil itu melaju meninggalkan kepulan debu di depan rumah Mahendra.
Arlan jatuh berlutut di aspal depan rumahnya. Ia memegang surat perjanjian pengembalian aset, namun hatinya terasa kosong melompong.
Ia telah mendapatkan hartanya kembali, namun ia baru saja menyadari bahwa ia telah kehilangan satu-satunya hal yang sebenarnya memberikan makna pada hidupnya.
"Aku bebas, sekarang," gumam Hana di dalam mobil, menyandarkan kepalanya di bahu Adrian.
"Kau bukan hanya bebas, Hana. Kau adalah pemenang," balas Adrian sambil mencium tangannya.
Namun, di teras rumah, Maura tersenyum penuh kemenangan.
...----------------...
Next Episode ....