Siapa bilang setiap manusia diberi kesempatan merasakan kebahagiaan? Tidak semua orang seberuntung itu—dan gadis ini adalah buktinya. Dia dikenal banyak orang, bukan karena status, kecerdasan, atau keahliannya, melainkan karena kemalangannya yang seakan tak berujung. Hidupnya penuh caci maki, dan di setiap langkahnya, dia terus mengutuk dunia serta takdir yang menjeratnya.
Hingga suatu hari, seseorang muncul mengaku berasal dari dunia lain dan menawarkan bantuan untuk menghapus takdir terkutuknya. Namun, benarkah kebahagiaan masih mungkin untuknya? Ataukah ini hanya awal dari penderitaan baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyelamatan
*** Ruangan hukuman
Di dalam ruangan gelap dan lembap itu, Elenna terbaring lemas di atas lantai batu yang dinginnya merambat hingga ke tulang. Punggungnya menempel langsung pada permukaan keras tanpa alas apa pun, membuat setiap tarikan napas terasa menyakitkan.
Udara di ruangan itu pengap, bercampur bau tanah basah dan besi berkarat, seolah tempat ini sengaja diciptakan untuk mematahkan siapa pun yang berlama-lama di dalamnya.
Napas Elenna tersengal. Dadanya naik turun tak beraturan, seakan paru-parunya menolak bekerja dengan normal.
Tubuhnya menggigil hebat, bukan hanya karena dingin yang menusuk, tetapi juga karena rasa takut yang belum sepenuhnya pergi. Otot-ototnya terasa kaku, sendi-sendinya nyeri, dan kepalanya berdenyut hebat setiap kali ia mencoba membuka mata.
Entah sudah berapa lama ia berada di sana. Waktu kehilangan makna di ruangan tanpa cahaya ini. Tidak ada jendela, tidak ada suara dunia luar, hanya detak jantungnya sendiri yang terdengar terlalu keras di telinga. Rasanya seperti seumur hidup. Seperti jika ia mati di sini pun, tak seorang pun akan segera menyadarinya.
Pikirannya melayang, terpecah antara kesadaran dan ketidaksadaran. Sesekali bayangan wajah Lilith muncul di balik kegelapan, disertai tawa rendah yang menggema.
Sesekali suara para pengawal terdengar kembali, mencemooh, menyebutnya gila, tak berharga, pantas menerima semua ini.
Ia mencoba bergerak, hanya sedikit, sekadar memastikan tubuhnya masih miliknya. Namun, rasa nyeri yang menjalar dari pergelangan kaki hingga bahu membuatnya mengerang pelan. Elenna menyerah. Ia memejamkan mata lagi, pasrah, membiarkan lantai dingin itu menjadi satu-satunya penopang.
Lalu, suara langkah kaki terdengar.
Tidak keras, tapi cukup jelas untuk menembus kesunyian. Derap langkah yang tegas. Teratur. Tidak tergesa-gesa.
Jantung Elenna langsung berdegup kencang. Tubuhnya menegang secara refleks, meski tenaganya nyaris habis. Otot-ototnya menolak, tetapi pikirannya sudah lebih dulu dipenuhi ketakutan.
Apakah mereka datang lagi?
Apakah ini giliran hukuman berikutnya?
Atau… mereka hanya ingin memastikan ia masih hidup, agar penderitaannya bisa dilanjutkan esok hari?
Langkah itu semakin dekat. Setiap suara sepatu yang menghantam lantai lorong terdengar seperti hitungan mundur. Elenna menggigit bibirnya, berusaha menahan gemetar yang semakin tak terkendali.
Kemudian terdengar bunyi logam bergesekan.
Cklek.
Suara kunci yang diputar membuat napas Elenna tersendat.
Pintu terbuka perlahan. Engselnya berderit pelan, seolah ikut menikmati ketegangan di dalam ruangan. Cahaya dari luar menyusup masuk, tipis namun menyilaukan bagi mata Elenna yang sudah terlalu lama terbiasa dengan kegelapan. Ia mengerjap berkali-kali, air mata refleks menggenang, pandangannya kabur oleh rasa perih. Di ambang pintu, sebuah siluet berdiri.
Tinggi. Tegap. Membentuk bayangan panjang yang jatuh tepat ke arah tubuhnya.
Untuk sesaat, Elenna tak berani berharap. Ia terlalu sering dikecewakan oleh harapan.
Terdengar suara pelan
“Elenna, aku di sini.”
Suara itu menembus kabut di kepalanya. Hangat. Familiar. Dan menyakitkan, karena terlalu ia rindukan.
Dada Elenna bergetar. Napasnya tercekat, lalu keluar sebagai helaan lemah. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, ia memaksa membuka mata lebih lebar, menahan rasa perih yang menyengat.
Sosok itu melangkah mendekat, meninggalkan bayangan, masuk sepenuhnya ke dalam cahaya redup. Wajahnya kini terlihat jelas. Seorang pria muda dengan rambut cokelat gelap yang tersisir rapi, rahangnya tegas, sorot matanya tajam namun dibingkai ketenangan yang hangat. Ada kerutan tipis di keningnya, tanda kekhawatiran yang tidak dibuat-buat.
“Alberto…” suara Elenna serak, nyaris tak terdengar, seperti bisikan yang bisa lenyap kapan saja.
Alberto. Kakak tirinya. Satu-satunya orang di mansion itu yang pernah berbicara padanya tanpa nada merendahkan.
Alberto segera berlutut di hadapannya, mengabaikan lantai kotor yang menyentuh lutut celananya. Tangannya terulur, menyentuh wajah Elenna dengan lembut, seolah ia bisa hancur jika disentuh terlalu keras.
“Maaf,” ucapnya pelan. “Aku terlambat.”
Air mata yang sejak tadi tertahan akhirnya menggenang di mata Elenna. Dadanya terasa sesak oleh emosi yang bercampur aduk, lega, sakit, dan kelelahan yang tak tertahankan.
“Aku tahu…” bisiknya, bibirnya bergetar. “Aku tahu kakak pasti datang…”
Alberto tidak menjawab. Ia hanya menghela napas pelan, lalu dengan hati-hati mengangkat tubuh Elenna. Gadis itu terasa terlalu ringan di lengannya, lebih seperti anak kecil daripada remaja seusianya. Alberto mengerutkan rahang, seolah menahan sesuatu.
Ia membawa Elenna keluar dari ruangan itu. Cahaya lorong menyambut mereka, begitu terang hingga Elenna kembali memejamkan mata. Para pengawal yang berjaga langsung berdiri tegak. Tidak satu pun berani menghalangi langkah Alberto.
“Pastikan kejadian seperti ini tidak terulang,” ucap Alberto dingin, tanpa menoleh.
Nada suaranya tenang, tetapi mengandung tekanan yang membuat siapa pun paham itu bukan permintaan.
“Baik, Tuan Muda,” jawab para pengawal serempak, menundukkan kepala.
Namun, di antara mereka, beberapa pasang mata saling bertukar pandang. Ada sesuatu yang bergerak di balik ekspresi mereka, pengertian, keraguan, atau mungkin kepastian akan sesuatu yang tidak Elenna pahami.
Dalam dekapannya, Elenna mencoba menenangkan diri. Jantungnya masih berdegup cepat, tetapi kini tidak lagi diliputi kepanikan. Ia selamat. Kakaknya datang menjemputnya.
Tubuhnya rileks perlahan, kepalanya bersandar di dada Alberto. Ia tidak melihat bahwa di balik pelukan penuh perlindungan itu, tersungging senyum tipis di wajah Alberto. Senyum yang terlalu cepat menghilang untuk disadari.
Setibanya di kamar Elenna, Elenna dibaringkan di atas ranjang sempit dengan seprai kusam yang baunya lembap dan asing. Kasur itu tipis, pegasnya terasa jelas di punggung, tetapi dibandingkan lantai batu dingin, tempat ini terasa seperti kemewahan.
Dinding kamar retak, catnya mengelupas di beberapa bagian. Jendela kecil di sudut ruangan hanya membiarkan cahaya redup masuk, cukup untuk melihat debu yang melayang pelan di udara. Bahkan kamar pelayan utama di mansion itu masih jauh lebih layak dibandingkan tempat ini.
Namun, Elenna tidak mengeluh. Karena ini adalah ruangan yang bahkan terlalu bagus untuk bisa ditinggali olehnya. Baginya, ruangan ini tetap terasa lebih aman.
Alberto menutup pintu perlahan, memastikan tidak ada seorang pun yang menguping. Ia mendekat, menggulung lengan bajunya, lalu mengambil kain bersih dan mangkuk kecil berisi air hangat. Gerakannya cekatan, nyaris terlalu terlatih, saat ia mulai membersihkan luka-luka di lengan dan pergelangan kaki Elenna.
Cairan obat menyentuh kulitnya.
Elenna meringis pelan.
“Sabar sedikit,” ujar Alberto lembut. “Lukanya cukup parah.”
“Aku… tidak apa-apa,” balas Elenna lirih, meski suaranya bergetar.
Alberto meliriknya sekilas. “Kau selalu berkata begitu,” katanya pelan, hampir seperti keluhan yang dipenuhi perhatian. “Padahal kau yang paling sering terluka.”
Kata-kata itu membuat dada Elenna terasa sesak. Ia menoleh, menatap langit-langit kamar, berusaha menahan perasaan yang kembali naik ke permukaan.
Setelah selesai membalut lukanya, Alberto berdiri dan mengambil mangkuk lain dari meja kecil. Bubur hangat, masih mengepulkan uap tipis. Ia duduk di tepi ranjang dan menyendok perlahan.
“Cobalah makan,” katanya. “Tubuhmu butuh tenaga.”
Elenna ragu sejenak, lalu mengangguk kecil. Alberto menyuapinya dengan sabar, sendok demi sendok, seolah Elenna adalah sesuatu yang rapuh dan harus dijaga dengan sangat hati-hati.
“Semua orang menuduhku…” suara Elenna pecah di tengah kalimat. Matanya berkaca-kaca. “Aku tidak melakukan apa pun. Tapi tak seorang pun mau mendengarkan.”
Alberto berhenti sejenak. Ia menatap Elenna, sorot matanya tenang, meyakinkan.
“Aku percaya padamu,” ucapnya tanpa ragu. “Sejak awal.”
Air mata Elenna akhirnya jatuh. Ia menunduk, bahunya bergetar.
“Terima kasih, Kak,” bisiknya. “Kalau bukan karena kakak… aku tidak tahu harus bagaimana.”
Alberto tersenyum tipis, lalu menyeka air mata di pipi Elenna dengan ibu jarinya.
“Kau tidak sendirian,” katanya pelan. “Selama aku ada di sini.”
Elenna memejamkan mata, membiarkan kata-kata itu meresap. Hatinya masih sakit, masih dipenuhi kesedihan karena tuduhan yang tak adil. Namun, kehadiran Alberto memberinya sedikit kehangatan, cukup bagi dirinya untuk bertahan.
Ia benar-benar percaya, setidaknya untuk saat ini, bahwa kakaknya adalah satu-satunya orang yang berada di pihaknya.
Sementara itu, di balik ekspresi penuh perhatian Alberto, pikirannya tetap tenang… dan terjaga.