Arisa dikhianati calon suaminya sendiri di hari pernikahan. Namun karena tak mau malu, Arisa memutuskan menikahi pemuda desa bernama Ogi, yang diketahui juga sebagai murid favorit ayahnya Arisa dulu.
Ogi yang sepenuhnya punya usaha kerupuk di desa, membawa Arisa untuk ikut tinggal dengannya ke desa. Saat itulah kehidupan Arisa berubah drastis.
"Suara apa itu, Kang? Aku nggak bisa tidur," bisik Arisa sambil menghimpitkan badannya ke dekat Ogi.
"Itu cuman suara burung hantu atuh, Neng..." sahut Ogi berusaha tenang.
"Kompor gasnya mana, Kang?"
"Di sini masaknya masih pakai kayu atuh, Neng..."
"Ini kenapa sinyalnya nggak ada, Kang? Aku butuh wifi!"
"Di sini wifi belum ada atuh, Neng. Kalau mau sinyal pun harus naik ke tebing dulu."
Banyak pengalaman baru yang harus dilalui Arisa. Bagaimana kisah romantis dan kekocakkan mereka tinggal di desa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18 - Pakai Daster
"Aaaa!" Ogi refleks berteriak saat masuk ke kamar. Bagaimana tidak? Dia menyaksikan Arisa hanya mengenakan bra dan celana pendek.
"Astaga, Neng! Maaf!" Ogi langsung berbalik badan karena merasa bersalah.
"Kang! Ada binatang yang masuk ke bajuku. Dia gigit, Kang! Tolong carikan binatangnya. Aku takut!" ujar Arisa sambil gemetar ketakutan.
"Tapi, Neng... Neng nggak pakai ba--"
"Udah cepetan, Kang! Aku takut! Jangan pedulikan keadaanku!" potong Arisa. Dia terus menyapu-nyapu badannya karena ketakutan.
Ogi tak punya pilihan. Dia segera membantu Arisa. Termasuk memeriksa baju yang sudah dilepas Arisa. Ogi kibaskan pakaian itu sampai akhirnya ada sesuatu yang terlempar ke lantai.
"Astaga... Ini kelabang, Neng!" seru Ogi.
"Cepat lakukan sesuatu pada binatang itu! Buang keluar atau bunuh saja!" pekik Arisa dia terduduk di lantai sambil memegangi area tubuhnya yang sudah tergigit kelabang. Air mata mengalir dari sudut mata Arisa. Ia berusaha menahan sakit akibat gigitan binatang tersebut.
"Iya, Neng!" Ogi memutuskan membunuh kelabang itu. Lalu segera membuangnya keluar jendela. Selanjutnya barulah dia memeriksa keadaan Arisa. Gadis itu menangis histeris.
"Sakit, Kang... sakit banget!" rintih Arisa.
Ogi segera memeriksa gigitan kelabang di punggung Arisa. Bekas gigitan Itu tampak merah dan agak bengkak.
Ogi menelan ludah, berusaha tetap tenang walau jantungnya masih berdebar karena kejadian barusan. Ia memalingkan wajahnya sedikit agar Arisa tidak merasa semakin malu, lalu berkata pelan, “Neng, aku ambil kotak P3K dulu, ya. Jangan digaruk, nanti makin parah.”
Arisa hanya mengangguk sambil meringis. Tangannya masih memegangi bagian punggung yang terasa perih. Air matanya belum berhenti menetes.
Tak butuh waktu lama, Ogi kembali dengan kotak obat. Ia berlutut di belakang Arisa dengan sikap hati-hati dan penuh hormat. “Aku bersihin dulu bekasnya. Agak perih sedikit, tapi harus dibersihkan biar nggak infeksi.”
“Pelan-pelan ya, Kang…” suara Arisa bergetar.
“Iya, Neng. Tenang saja.”
Dengan kapas yang sudah diberi antiseptik, Ogi membersihkan area gigitan. Arisa sempat mendesis kecil karena perih, tapi Ogi segera mengipasi pelan dengan tangannya supaya rasa pedasnya cepat berkurang. Setelah itu ia mengoleskan salep untuk gigitan serangga.
“Kelabangnya lumayan besar. Pantas saja sakit,” gumam Ogi.
Arisa memutar wajahnya sedikit. “Serem banget… Aku kira cuma semut atau apa…”
“Kalau semut mah nggak bikin Neng teriak sampai seisi rumah dengar,” sahut Ogi, mencoba mencairkan suasana.
Arisa terisak kecil, tapi kali ini di sela tangisnya ada senyum tipis. “Kang Ogi ini masih sempat bercanda…”
“Kalau aku ikut panik, nanti siapa yang nolongin Neng?” jawabnya ringan.
Setelah selesai mengoleskan obat, Ogi berdiri dan meraih sesuatu dari kursi di sudut kamar. “Nah, sekarang Neng pakai ini dulu.”
Arisa menoleh, lalu matanya membesar melihat kain longgar bermotif bunga-bunga besar berwarna mencolok. “Itu… daster?”
“Iya,” Ogi mengangguk mantap. “Daster kesayangan eyang. Tadi kebetulan lagi dijemur, jadi aku ambilkan.”
“Loh, kok punya eyang?” Arisa hampir tertawa di tengah sisa tangisnya.
“Daripada Neng masuk angin atau kedinginan. Ini bahannya adem. Eyang bilang, daster itu pakaian paling nyaman sedunia.”
Arisa akhirnya benar-benar tertawa kecil. Rasa sakitnya memang masih ada, tapi kehangatan perhatian Ogi sedikit mengalihkan rasa perih itu. Dengan wajah memerah karena malu, dia membiarkan Ogi membantu memakaikan daster tersebut dengan tetap menjaga jarak dan sikap sopan.
Ogi memastikan kain itu menutupi dengan rapi, lalu berkata, “Nah, sekarang Neng resmi jadi anggota klub daster eyang.”
Arisa menunduk melihat dirinya yang kini mengenakan daster longgar kebesaran. “Emang benar nyaman ya."
“Benar kan,” jawab Ogi.
Beberapa detik hening. Arisa memperhatikan Ogi yang sedang merapikan kotak obat. Wajah pria itu tampak serius, tapi juga tulus. Tidak ada tatapan aneh, tidak ada sikap memanfaatkan keadaan. Hanya kepedulian.
“Kang…”
“Iya, Neng?”
“Terima kasih ya. Tadi aku panik banget. Kalau nggak ada Kang Ogi, aku nggak tahu harus gimana.”
Ogi tersenyum kecil. “Sudah tugasku jaga Neng Arisa. Tapi lain kali kalau lepas baju, bilang-bilang dulu ya. Biar nggak kena serangan jantung kedua.”
"Dih! Lagian aku terpaksa lagi begitu. Dari pada aku kena gigitan lebih banyak? Kan bahaya!" ungkap Arisa.
"Iya, Neng... Akang tahu," sahut Ogi. Dia hendak beranjak dari kamar. Namun Arisa sigap memegangi tangannya.
"Bisakah Kang Ogi menemaniku sebentar. Aku masih agak takut..." pinta Arisa lirih.
Deg!
Jantung Ogi bedegup kencang. Apalagi saat menatap wajah Arisa yang menatapnya.