NovelToon NovelToon
Luka Yang Tak Bersuara

Luka Yang Tak Bersuara

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Persahabatan / Romantis / Cintapertama / Enemy to Lovers / Cinta Murni
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: wnd ayn

Alice selalu terlihat biasa-biasa saja di mata semua orang—culun, pendiam, dan mudah dibully.

Tak ada yang tahu bahwa di balik senyumnya, ia menyimpan luka… dan sebuah rasa yang tak pernah terucap.

Danzel, sahabat yang selalu ada di sisinya, menjadi satu-satunya tempat Alice merasa aman. Namun, Danzel tak pernah menyadari bahwa kehadirannya adalah alasan Alice bertahan selama ini.


Mencintai dalam diam, terluka tanpa suara.

Bisakah perasaan yang tak terbalas menemukan jalannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wnd ayn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Keesokkan harinya saat jam istirahat,

Alice sedang duduk di kelas sendirian, menikmati sedikit ketenangan setelah pelajaran yang padat. Namun, keheningan itu segera dipecahkan oleh suara yang memanggil namanya.

"Alice!" panggil Rachel dari pintu kelas.

Alice mendongak, sedikit terkejut melihat Rachel memanggilnya. Biasanya, Rachel lebih memilih untuk menghindarinya atau melemparkan pandangan sinis.

"Ya?" jawab Alice pelan.

"Aku ingin bicara denganmu. Ada waktu sebentar?" Rachel melangkah masuk, matanya menatap langsung ke arah Alice.

Alice merasa sedikit canggung, tetapi dia mengangguk. "Tentu, ada apa?"

"Ikut aku sebentar ke rooftop. Lebih tenang di sana," ujar Rachel tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, lalu berbalik menuju pintu. Alice, meski ragu, mengikuti langkah Rachel keluar dari kelas.

Sementara itu, dari kejauhan, Stella, Megan, Mike, dan Rey yang baru saja hendak masuk kelas memperhatikan mereka. Ada rasa curiga yang muncul di antara mereka.

“Mereka berdua? Bersama?” bisik Stella.

“Kita ikuti saja,” balas Rey dengan wajah serius.

Angin berhembus pelan. Langit sore tampak cerah dengan awan putih yang berarak pelan. Rachel berdiri di ujung, memandang ke bawah, sementara Alice berhenti beberapa langkah di belakangnya.

“Jadi… apa yang ingin kamu bicarakan?” tanya Alice hati-hati.

Rachel menarik napas panjang, lalu berbalik.

“Tidak ada. Aku hanya ingin menceritakan sebuah kisah.”

Alice mengernyit. “Kisah?”

“Ya. Tentang seseorang yang jatuh cinta,” jawab Rachel pelan.

“Kau tahu, aku jatuh cinta pada Danzel sejak pertama kali masuk sekolah ini. Dan ternyata… dia juga sudah tertarik padaku sejak awal.”lanjutnya

Nada suaranya tenang, tapi matanya menyiratkan sesuatu yang lain.

“Selama dua tahun aku menunggu dia menyatakan perasaannya. Aku lelah menunggu, jadi aku mulai dekat dengan orang lain… tapi pada akhirnya, hatiku selalu kembali padanya.”

Rachel tersenyum tipis, seolah menertawakan dirinya sendiri.

“Lalu saat kelas tiga, dia akhirnya menyatakan cinta. Aku bahagia—karena kupikir semuanya akan sempurna.”

Alice hanya diam, menatap Rachel tanpa tahu ke mana arah pembicaraan ini. Tapi suasana di antara mereka mulai berubah; ada ketegangan yang sulit dijelaskan.

“Tapi sekarang,” lanjut Rachel, nadanya mulai menurun,

“setelah aku mendapatkannya… aku sadar ada sesuatu yang mengganggu. Seseorang yang selalu membuatnya berubah.”

Tatapannya beralih pada Alice.

“Seseorang itu… adalah kau.”

Alice membeku di tempatnya.“A-apa maksudmu?”

“Aku bisa melihat bagaimana dia menatapmu,” ucap Rachel tajam. “Bahkan setelah dia menjadi milikku, bagian dari dirinya tetap mengarah padamu. Dan kau… jangan pura-pura tidak tahu.”

Alice menelan ludah, matanya mulai memanas.

“Aku tidak—”

“Kau mencintainya, bukan?” potong Rachel cepat, melangkah maju hingga jarak mereka begitu dekat.

Alice memalingkan wajah. “Aku tidak tahu apa yang kamu—”

“Jangan bohongi dirimu sendiri!” bentak Rachel. “Aku melihatnya! Tatapanmu, sikapmu… semua jelas. Kau mencintainya!”

Rachel tersenyum sinis, tapi matanya berkaca.

“Kau tahu apa yang paling menyakitkan, Alice? Saat dia menyelamatkanmu dari Rey… dan juga saat dia menolongmu dari mobil itu. Aku ada di sana! Aku ada di sampingnya! Tapi yang dia pikirkan… cuma kau!”

“Aku tidak pernah memintanya melakukan itu!” balas Alice spontan, suaranya bergetar tapi tegas.

"Tapi dia melakukannya!" Rachel memotong cepat. "Dan kenapa? Karena kau! Kau selalu ada di pikirannya. Aku bisa melihatnya di matanya."

Keheningan menelan udara.

Rachel menunduk, lalu perlahan mengangkat wajahnya dengan tatapan kosong.

“Jadi aku tanya sekali lagi, Alice…”

Langkahnya maju setapak. “Kau mencintainya, bukan?”

Alice hanya berdiri terpaku. Suasana terasa mencekik. Rachel mengeluarkan ponselnya diam-diam, mengirim pesan cepat kepada seseorang. Wajahnya tampak semakin tak stabil.

“Jawab!” teriak Rachel tiba-tiba.

“Kalau tidak—aku akan melompat dari sini!”

Alice tersentak. “Rachel, jangan bercanda!” Ia berlari mendekat, menahan tangan Rachel yang kini sudah berdiri di tepi pembatas atap.

“Katakan, Alice!” Rachel menjerit. “Kau mencintainya, kan? Kau juga ingin dia memilihmu, kan?!”

Air mata Alice mulai mengalir.

“Ya! Aku mencintainya!” jeritnya akhirnya. “Aku mencintainya sejak lama!!”

Suaranya pecah, penuh keputusasaan.

“Aku tahu cintaku ini tak akan pernah berbalas. Tapi aku tetap berharap… meski hanya sedikit, bahwa suatu hari dia akan melihatku—benar-benar melihatku…”

Rachel tersenyum samar, tapi di balik senyum itu, ada sesuatu yang aneh.

“Akhirnya kau mengaku…” bisiknya.

Rachel melepaskan genggamannya. Wajah Rachel berubah dingin, dan tanpa peringatan, ia melompat dari tepi atap.

"Rachel!" Alice menjerit kaget, matanya membelalak tak percaya. ia melangkah maju, berusaha meraih tubuh Rachel yang sudah melayang jatuh ke bawah

**

Namun sebelum tubuh Rachel benar-benar terjatuh, sebuah tangan kekar muncul dari arah tak terduga, menangkapnya tepat waktu. Tangan itu menahan Rachel dengan kuat, menariknya kembali ke atas dengan tenaga penuh.

“Danzel...” bisik Alice terkejut, matanya membesar. Jantungnya berdegup kencang —

Dengan tenaga luar biasa, Danzel berhasil menarik Rachel kembali ke atap. Nafasnya memburu, tubuhnya bergetar karena adrenalin.

Tak jauh dari sana, Stella, Megan, Mike, dan Rey bersembunyi di balik tembok, menyaksikan semuanya tanpa suara.

Begitu Rachel berhasil naik, ia langsung memeluk Danzel erat-erat, tubuhnya gemetar seperti seseorang yang baru saja lolos dari maut. Namun, di balik pelukannya, Rachel tersenyum samar — bagus, kau datang tepat waktu, Danzel.

Sebelumnya, Rachel memang telah mengirim pesan padanya, memintanya datang ke rooftop “karena ada hal penting”.

“Aku... aku sangat takut sekali, Danzel,” ucap Rachel dengan suara bergetar. “Beruntung kau datang tepat waktu... kalau tidak, aku pasti sudah jatuh.”

Kemudian, dengan tiba-tiba, Rachel menatap Alice dan berkata,

“Alice... dia mendorongku dari atas sini.”

Alice membelalakkan mata. “Apa? Tidak! Aku tidak mendorongmu, Rachel! Kamu sendiri yang—”

“Bohong!” potong Rachel cepat, nadanya meninggi. “Danzel, kau melihatnya sendiri, kan? Kau lihat bagaimana dia menarikku? Dia ingin aku jatuh! Dia ingin menyingkirkanku!”

Alice menatap Danzel dengan wajah pucat, matanya memohon.“Tidak, Danzel... aku tidak melakukan itu. Aku justru mencoba menyelamatkannya!”

Danzel terdiam. Dalam pikirannya berputar campur aduk — tuduhan Rachel, wajah panik Alice, Dia tahu Alice tidak mungkin berbuat jahat, tapi... dia tiba di saat yang salah. Ia hanya melihat Rachel dan Alice berdiri di tepi atap.

Melihat keraguan di matanya, Rachel segera menambahkan tekanan.

“Kau dengar sendiri tadi, kan?” katanya cepat. “Dia mengaku mencintaimu, Danzel. Itu sebabnya dia mencoba menjauhkanmu dariku!”

Kata-kata itu membuat Danzel terpaku. Ya… dia memang mendengar Alice berteriak “Aku mencintaimu!” sebelum sempat mencapai mereka. Kini, kebenaran dan kebohongan menyatu menjadi satu simpul yang membingungkan di pikirannya.

“B-benarkah begitu, Alice?” tanya Danzel, suaranya rendah tapi tegas. Tatapannya menembus mata Alice.

Rachel hendak berbicara, namun Danzel menahan tangannya.“Biarkan dia menjawab.”

Keheningan menyelimuti atap itu.

Alice menunduk, air mata mulai menggenang. Ia ingin berlari, ingin bersembunyi, tapi Danzel menunggunya dengan tatapan yang seolah menuntut kebenaran.

“Ya...” suaranya hampir berbisik. “Itu benar."

Danzel menatapnya lama. Ada sesuatu di dalam dirinya yang bergetar — sesuatu yang ia sendiri tak bisa jelaskan. Namun sebelum perasaan itu tumbuh, suara Rachel memotong.

“Lihat? Aku sudah bilang! Dia mencintaimu, Danzel! Dan itulah alasannya — dia cemburu padaku, dia ingin menyingkirkanku!”

Alice tertegun, air matanya kini jatuh deras.

“Rachel, berhenti...! Aku tidak seperti itu! Aku tidak pernah ingin menyakitimu, apalagi merebut Danzel!”

Danzel menatap keduanya dengan tatapan kabur antara logika dan emosi.

“Alice... benarkah kamu tidak mendorongnya?”

“Tidak! Demi Tuhan, tidak!” isak Alice.

Namun Rachel tidak berhenti.

“Danzel, ingat janjimu padaku,” katanya dengan suara pelan tapi menusuk. “Kau berjanji untuk selalu percaya padaku, apa pun yang terjadi.”

Kata-kata itu memukul sisi lemah Danzel. Ia menutup mata sejenak — cinta dan rasa bersalah saling bertarung di dalam dirinya.

Perlahan, Danzel menatap Alice lagi.

“Aku ingin percaya padamu, tapi... semua yang kulihat dan kudengar membuatku sulit melakukannya.”

“Danzel, tolong dengarkan aku—”

“Cukup, Alice!” potong Danzel tajam. Suaranya bergema di atap yang sunyi. “Aku tidak ingin mendengarkan penjelasanmu lagi.”

Alice membeku. Air matanya menetes satu per satu tanpa bisa ia tahan.

“Aku... kecewa,” lanjut Danzel, suaranya kini bergetar tapi tetap dingin. “Selama ini aku menganggapmu sahabat. Aku melindungimu, menjagamu, karena aku peduli. Tapi ternyata, di balik kepolosanmu, ada sesuatu yang lain.”

“Sesuatu yang... aku tidak kenal.”

Kata-kata itu seperti pisau yang menancap di dada Alice.

“Aku menyayangimu, Alice. Tapi hanya sebagai sahabat,” lanjut Danzel, nadanya pelan tapi tegas.

“Perhatianku padamu, kekhawatiranku... itu bukan cinta.”

Alice menggigit bibirnya, mencoba menahan isak.“Aku tahu itu,” bisiknya nyaris tak terdengar. “Tapi cintaku... tidak pernah salah.”

Danzel menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan, lalu menghela napas panjang.

“Aku menghargai perasaanmu, tapi aku tidak bisa membalasnya. Maaf... aku tidak mencintaimu.”

Dunia Alice seakan berhenti berputar. Napasnya terasa sesak, pandangannya buram oleh air mata.

"Dan satu lagi..." Danzel mengambil napas dalam-dalam, sebelum menatap Alice lagi. "Dengan adanya kejadian ini, persahabatan kita... telah berakhir. Aku tidak ingin kisah cintaku hancur hanya karena persahabatan kita

1
Sari Nilam
terlalu lemah juga gak bagus thor katakter utamanya
Sari Nilam
bodohnya danzel
Sari Nilam
rachel jaih lebih licik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!