Celina Andreas dijuluki sebagai bawang merah begitu tergila-gila dengan seorang pria sehingga berbagai cara ia lakukan buat menaklukkan hati sang pria incarannya. Meskipun pria itu mencintai adik tirinya.
Berhasilkah Celina menjadi istrinya atau cintanya hanya bertepuk sebelah tangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 4
Azka yang mendengar wanita incarannya menonton konser, dia pun lantas pergi ke sana hanya untuk lebih dekat dengan Elma.
Azka sengaja mencari keberadaan Elma, setelah menemukan wanita itu ia berdiri di sampingnya.
Elma tak menyangka Azka juga turut menonton acara konser padahal pria itu pernah mengatakan tak suka menonton konser. "Kau di sini juga?"
"Hai, apa kabar?" Azka berbasa-basi.
"Aku baik. Aku tidak menyangka kita ketemu lagi di sini," kata Elma tersenyum.
"Ya, kebetulan sekali. Apa mungkin kita sebenarnya berjodoh?" Azka tampak tertawa.
Elma juga tertawa.
"Kau dengan siapa?" tanya Azka melihat ke arah beberapa temannya Elma.
"Aku ke sini sendirian," jawab Elma.
"Celina tidak ikut?" tanya Azka lagi.
"Dia tak mau," jawab Elma.
Bagus. Azka begitu senang Celina tak ikut menonton konser. Jika wanita itu ikut, maka dipastikan dirinya tak dapat leluasa berbicara dengan Elma.
"Kau sendirian juga?" tanya Elma.
"Ya," jawab Azka.
"Apa aku boleh pulang bersamamu?" tanya Elma meminta izin. "Kebetulan aku tidak membawa mobil, tadi aku ke sini naik bus," lanjutnya memberikan alasan.
"Oh, tentu saja boleh. Dengan senang hati," jawab Azka tersenyum bahagia.
Selang 3 jam, Elma dan Azka sudah berada di dalam mobil. Elma begitu senang malam ini karena impiannya menonton konser penyanyi kesayangannya terwujud.
"Apa kau masih bepergian ke luar kota?" tanya Azka sembari menyalakan mesin mobilnya.
"Beberapa bulan ini aku berada di kota ini," jawab Elma.
"Kenapa kau tidak bekerja di perusahaan milik Om Hendra?" tanya Azka lagi.
"Aku tidak mau membebani Papa Hendra, dia sudah terlalu baik kepadaku dan Mama Ana. Tetapi, beberapa tahun lalu sikap Kak Celina mulai berubah. Aku memilih tidak bekerja di sana karena tak mau Kak Celina semakin membenciku," jawab Elma beralasan.
"Apa kau dan Celina sering bertengkar?" tanya Azka penasaran, ia ingin mengetahui sebenarnya sifat asli Celina walaupun dia telah tahu sebelumnya dari beberapa mulut orang lain.
"Ya, tapi itu hal biasa diantara kakak beradik," jawab Elma tersenyum.
"Aku dengar Celina sering memperlakukan buruk dirimu. Apa itu benar?" tanya Azka.
"Aku bukan anak kandungnya Papa Hendra. Aku dan Mamaku cuma menumpang di keluarga mereka, jadi perlakuan buruk Kak Celina aku anggap wajarlah," jawab Elma.
"Kau bilang wajar?" Azka tak menyangka Elma menjawabnya begitu.
"Ya, wajar. Karena harta itu miliknya, jadi dia mau berbuat apapun aku harus terima," kata Elma.
"Tapi, dia tidak seharusnya begitu," ucap Azka.
"Aku dan mama tidak diusir saja, aku sudah sangat bersyukur!" kata Elma lagi tersenyum.
"Terbuat dari apa sebenarnya hatimu? Kenapa kau menganggap perlakuan buruk Celina hal yang wajar?" batin Azka. Ia semakin yakin memilih Elma menjadi pasangan hidupnya daripada Celina. Ia tak peduli kedua orang tuanya menolak pilihannya.
Selang 30 menit kemudian, keduanya tiba dikediaman Hendra Nata. Sebelum Elma turun, ia mengingatkan wanita itu tak memberitahu siapapun bahwa Azka yang mengantarkannya pulang.
"Memangnya kenapa?" tanya Elma heran.
"Aku tidak mau Celina salah paham. Kau 'kan tahu kalau kedua orang tua kami mau menjodohkan aku dan dia," jawab Azka. Ya, waktu acara keluarga beberapa bulan lalu Elma memang tak hadir tapi dia mengetahui bahwa Elma adalah bagian dari keluarganya Hendra Nata juga.
"Hmm, baiklah aku tidak akan memberitahu mereka," janji Elma. "Terima kasih, ya!" ia kemudian keluar dari mobil setelah Azka mengangguk kecil.
Celina yang berada di balkon rumah meremas kuat pagar pembatas setelah melihat ke arah bawah, ia sangat mengenal mobil yang dikendarai oleh Azka. Ia semakin membenci Elma karena mencoba mengambil hati pria yang disukainya.
Selepas mobil Azka menghilang dari pandangannya, Celina bergegas turun menghampiri Elma. "Kau tadi diantar siapa?"
Elma yang hendak masuk kamar membalikkan badannya, "Eh, Kak Celina. Belum tidur, ya?" ia tersenyum nyengir. Dia pikir seluruh penghuni rumah telah tertidur karena ia tiba jarum jam sudah menunjukkan pukul 12 malam.
"Jangan berbasa-basi!" Celina menunjukkan wajah dinginnya. "Kau tadi dengan siapa?" suara Celina terlihat menakutkan.
"Aku dengan temanku."
"Siapa namanya?" tanya Celina terus menatap tajam saudara tirinya itu.
Elma tampak kebingungan mencari nama yang akan disebutkannya.
"Apa temanmu itu tidak punya nama, hah?" Celina sedikit meninggikan suaranya.
"Andre, Kak!" Elma terpaksa berbohong.
"Jangan coba membohongiku!!" Celina semakin kesal.
"Aku tidak berbohong, Kak!" Elma berkata dengan terbata-bata karena ketakutan.
"Kau tadi diantar Azka 'kan? Anaknya Om Angga?" Celina menerka.
"Iya, Kak!" Elma begitu gemetar.
"Kenapa kau bisa bersama dia, hah??" Celina semakin dibakar api cemburu.
"Kami tak sengaja bertemu ditempat konser, Kak. Dia lalu menawarkan tumpangan, aku pikir tidak masalah karena kami 'kan jalan pulangnya searah."
"Aku tidak percaya. Pasti kau mencoba menggodanya, 'kan?" tuding Celina.
"Tidak, Kak. Aku sama sekali tak menggodanya!" Elma membantah tuduhan.
"Ini terakhir kalinya aku melihatmu dekat dengan Azka. Jika kau berani mendekatinya, maka aku tidak akan pernah diam!" Celina mengancam.
"Iya, Kak. Aku janji, aku dan dia juga tidak memiliki hubungan apa-apa," ucap Elma.
Setelah mencecar dengan beberapa pertanyaan, Celina kemudian meninggalkan Elma. Punggung Celina telah menghilang dari pandangannya, Elma lantas menghembuskan napas lega.
***
Esok paginya, Hendra menegur Celina yang hendak berangkat ke kantor dan melewati sarapan bersama. "Kenapa kau memarahi Elma? Apa salahnya?"
"Oh, jadi anak kesayangan Papa itu telah mengadu?" singgung Celina melirik Ana yang duduk dengan kepala menunduk sembari memegang sendok dan garpu.
"Bukan Elma yang mengadu, tapi Mama Ana. Dia melihatmu memarahi Elma semalam," kata Hendra.
"Ya, aku memang memarahi anak kesayangan Papa itu. Karena dia sudah berani menggoda Azka!"
"Papa sudah bertanya kepada Elma, dia tidak menggoda Azka. Mereka kebetulan bertemu di sana. Kamu jangan salah paham," ucap Hendra.
"Kenapa dia tidak menolak tawarannya Azka? Bukankah dia sengaja ingin memancing pertengkaran?" tuding Celina.
"Celina, buang pikiran burukmu itu. Kalian belum melakukan pertunangan dan jangan menganggap Azka adalah milikmu!" Hendra mengingatkan putrinya agar tak terlalu terobsesi.
"Belum atau tidaknya, dia tetap akan menjadi suamiku, Pa. Mau dia menerima perjodohan ini ataupun tidak, Papa harus memaksanya agar mau menerimanya!" kata Celina meninggikan suaranya.
"Celin, kita tidak bisa memaksa seseorang yang tak mau menerimamu!" Hendra terus menjelaskan putrinya biar tak patah hati terlalu dalam.
"Aku tidak peduli, kami tetap harus menikah. Apapun caranya, Papa harus mewujudkan keinginan aku. Karena selama ini Papa 'kan tidak pernah memenuhi permintaan aku meskipun itu tak terlalu penting!" lagi-lagi Celina mengungkit rasa sakit hatinya. Dia pernah minta dibelikan boneka Barbie edisi terbaru, Elma ternyata juga menyukai boneka itu. Celina terpaksa mengalah dengan alasan hari itu Elma sedang berulang tahun jadi cuma boneka yang diincar dibelikan untuk Elma dan kebetulan juga stok boneka tinggal satu.