NovelToon NovelToon
Luka Yang Tak Bersuara

Luka Yang Tak Bersuara

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Persahabatan / Romantis / Cintapertama / Enemy to Lovers / Cinta Murni
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: wnd ayn

Alice selalu terlihat biasa-biasa saja di mata semua orang—culun, pendiam, dan mudah dibully.

Tak ada yang tahu bahwa di balik senyumnya, ia menyimpan luka… dan sebuah rasa yang tak pernah terucap.

Danzel, sahabat yang selalu ada di sisinya, menjadi satu-satunya tempat Alice merasa aman. Namun, Danzel tak pernah menyadari bahwa kehadirannya adalah alasan Alice bertahan selama ini.


Mencintai dalam diam, terluka tanpa suara.

Bisakah perasaan yang tak terbalas menemukan jalannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wnd ayn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Dengan gerakan cepat, Rey menarik tubuh Alice hingga terpojok ke dinding.

Senyumnya semakin melebar, sorot matanya tajam namun penuh maksud. Tanpa membuang waktu, satu tangannya terulur, mulai membuka kancing seragamnya sendiri. Alice yang panik menggeleng berulang kali, berusaha memberontak, namun tenaganya tak sebanding dengan Rey.

Stella yang sudah terlihat sangat kesal segera melangkah cepat menghampiri.

"Hentikan, Rey! Jangan melewati batasmu! Kita harus pergi dari sini!" teriaknya sambil menarik lengan Rey dengan kasar, mencoba menjauhkannya dari Alice.

Namun, Rey mendorong tubuh Stella dengan bahunya, keras dan tanpa ampun. Stella terjatuh ke lantai, matanya membelalak tak percaya.

"Diam! Jangan berani menghalangiku!" maki Rey dengan tatapan dingin menusuk.

Mike segera menghampiri dan mengulurkan tangan untuk membantu Stella berdiri. Stella menerima uluran itu, berdiri dengan napas terengah.

"Kenapa kau diam saja, Mike?! Cegah Rey sebelum dia melakukan sesuatu yang gila!" desaknya.

Mike menunduk, wajahnya tegang. "Aku... aku tidak bisa." Dia tahu betul sifat Rey yang keras kepala, dan jika melawan, situasinya bisa menjadi lebih buruk.

Stella mengepalkan kedua tangannya, rahangnya mengeras menahan amarah. Ia tahu ia tak punya cukup kekuatan untuk melawan Rey. Napasnya memburu saat pandangannya berpaling, tak sanggup melihat ketika Rey mulai melancarkan aksinya—merobek seragam Alice dengan gerakan kasar dan tidak sabaran.

Stella dan Mike terpaksa melangkahkan kakinya pergi untuk sementara,

Alice memejamkan mata, tubuhnya bergetar hebat, merasakan ketakutan yang mencekam. Namun, di tengah rasa takut itu, ia memaksa dirinya mengumpulkan keberanian. Dengan sisa tenaga, kakinya terangkat dan menghantam bagian tengah tubuh Rey.

**"Aghhh!"** Rey mengerang kesakitan, tubuhnya terhuyung ke belakang. Alice tak menyia-nyiakan kesempatan itu—ia berlari sekuat tenaga menuju pintu.

Naas, Rey lebih cepat. Kakinya menjegal langkah Alice, membuatnya tersandung dan jatuh keras ke lantai.

Dengan napas tersengal dan tatapan penuh kemarahan, Rey menarik Alice berdiri dengan paksa. "Menurutlah, Alice! Jangan coba-coba melawanku! Turuti saja apa yang kuinginkan!"

Alice menggigit bibirnya, air mata memenuhi matanya. "Tidak, Rey... tolong jangan lakukan ini padaku. Aku mohon..."Suaranya bergetar, kedua tangannya berusaha menutupi tubuhnya. "Kamu boleh menghina, mencaciku. aku bisa menanggung semua itu. Tapi jangan lakukan hal ini. Tidak dengan cara ini..."

Namun Rey tak peduli. Wajahnya mengeras, kemarahan membara. Dengan kasar, ia mendorong tubuh Alice hingga menghantam dinding. Benturan itu membuat dahinya robek, darah segar menetes perlahan.

Alice meringis kesakitan, tubuhnya melemas, pandangannya mulai kabur. Di balik penglihatan yang berkunang-kunang, ia masih bisa melihat Rey mendekat, sorot matanya penuh nafsu dan amarah.

"Aku sudah bosan menghina dan mencacimu, Alice." Suara Rey terdengar dingin. "itu semua masih belum cukup bagiku setelah yang satu ini."

Tanpa ampun, Rey menampar kedua pipi Alice berulang kali. Air mata membasahi wajahnya, pipinya memerah, sudut bibirnya pecah hingga mengeluarkan darah. Nafsu dan amarah membuat Rey kehilangan kendali, seolah setan telah merasuki pikirannya.

Napas Alice semakin berat, keringat bercucuran. Tatapan matanya penuh ketakutan. Namun bagi Rey, pemandangan itu justru membakar hasratnya lebih dalam—wajah Alice yang terluka, bibir yang bergetar, dan rambut yang menutupi sebagian wajahnya membuatnya makin tergila-gila.

Rey kembali mendekat, tangannya terulur, siap melakukan sesuatu yang membuat Alice semakin ngeri. Gadis itu sudah tak sanggup melawan. Ia hanya bisa memejamkan mata, pasrah, berdoa dalam hati agar seseorang datang menyelamatkannya.

Bughhh!

Sebuah pukulan keras menghantam tubuh bagian belakang Rey. Tubuhnya terhuyung lalu terlempar ke sudut ruangan, membentur keras lantai.

"Alice!"Suara itu menggelegar, penuh kepanikan dan amarah.

Danzel berlari menghampiri Alice yang tubuhnya sudah merosot hingga terduduk di lantai. Napasnya memburu, matanya dipenuhi kekhawatiran saat melihat luka dan air mata yang membanjiri wajah gadis itu.

 

“Apa yang terjadi padamu?” Suara Danzel nyaris pecah.

Tangannya yang bergetar memegang lembut wajah Alice yang penuh luka. Wajah gadis itu sembab, bibirnya pecah berdarah, keringat bercampur air mata mengalir tanpa henti—pemandangan yang membuat dada Danzel terasa sesak.

Alice menatapnya dengan mata sayu, penuh kepedihan. “Danzel…”bisiknya lemah.

“A-aku sangat takut sekali, Danzel…” suaranya pecah, napasnya tersengal, trauma jelas membekas di setiap kata.

Mata Danzel memerah, amarah dan kesedihan bercampur menjadi satu. Ia menoleh ke sudut ruangan, melihat Rey yang mulai berusaha bangkit. Kemarahan mendidih di dadanya.

Danzel masih ingat jelas apa yang baru saja ia lihat—bagaimana Rey mencoba melecehkan Alice. 

Mike dan Stella yang sudah kembali, berdiri di dekat pintu hanya membeku.

Danzel perlahan berdiri, matanya tak lepas dari Rey yang kini menatapnya dengan wajah bersalah. Rey tampak tersadar akan apa yang baru saja dilakukannya.

"Apa yang telah kau lakukan, Rey!!” bentak Danzel, suaranya menggelegar.

Tanpa memberi kesempatan untuk membela diri, Danzel menghantam wajah Rey dengan pukulan keras.

Bughh! Bughh! Bughh!

Pukulan demi pukulan mendarat tanpa ampun. Rey terhuyung, darah mengalir dari sudut bibirnya, wajahnya membengkak dan babak belur. Ia tidak melawan—seakan menerima semua amarah itu sebagai hukuman.

Sebuah pukulan keras mendarat di perutnya, membuat Rey meringis sebelum tubuhnya ambruk ke lantai, meringkuk sambil memegangi perut.

Danzel terengah-engah, pandangannya penuh amarah pada Rey yang kini tak berdaya. Ia tak lagi melihat Rey sebagai teman—hanya monster yang telah menghancurkan Alice.

Danzel mengangkat tinjunya lagi, bersiap memukul untuk terakhir kalinya, namun…

“Danzel…”suara lirih Alice menghentikannya.

Alice mencoba berdiri, namun tubuhnya lunglai dan terjatuh. Matanya terpejam, seluruh tenaganya hilang.

Deg!

1
Sari Nilam
terlalu lemah juga gak bagus thor katakter utamanya
Sari Nilam
bodohnya danzel
Sari Nilam
rachel jaih lebih licik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!