NovelToon NovelToon
Mencairnya Es Cinta

Mencairnya Es Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Athariz271

Pernikahan yang diawali dengan perjodohan, tanpa adanya rasa cinta membuat Zayn dan Raras merasa kaku, bahkan terkesan formal layaknya rekan kerja. Tapi seiring berjalannya waktu, Raras mampu mencairkan gunung es dengan kesabarannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Athariz271, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kegugupan Dav

Hari-hari berlalu, hubungan antara Zayn dan Raras kembali baik seperti biasa. Beberapa hari ini pekerjaan kantor sangat sibuk, Zayn maupun Raras seringkali pulang malam.

Malam ini Raras membawa pekerjaannya pulang setelah beberapa hari lembur dikantor, sementara Zayn masih belum pulang.

Saking lelahnya, Raras tanpa sadar tertidur di sofa ruang televisi. Berkas-berkas penting berserak di meja dan lantai. Tubuhnya merebah begitu saja, membuat beberapa helai rambut terjatuh ke wajahnya.

Sementara di jalanan yang masih cukup padat Zayn menyetir mobil dengan tenang. Beberapa kancing kemeja ia copot, membuatnya semakin tampan dengan gaya acak-acakan.

“Hufft.”

“Apa Raras udah tidur, ya?”

Setelah beberapa menit, mobil akhirnya masuk ke dalam gerbang rumah. Dia memarkirkan mobil dengan hati-hati, lalu keluar membawa barang-barangnya. Saat membuka pintu, lampu ruang tamu hanya menyala redup.

Zayn langsung berjalan hendak ke kamar, tapi pandangannya terhenti pada sosok wanita yang sedari tadi ia cari keberadaannya.

Zayn melihat Raras tertidur di sofa dengan kaki menekuk. Zayn memutuskan untuk menghampirinya dan menyimpan barangnya begitu saja.

Zayn terus memperhatikan lekuk tubuh istrinya dari atas ke bawah. Zayn akui dia sangat tertarik dengan tubuh sintal Raras.

“Nggak. Aku hanya menyukai tubuhnya, bukan mencintainya.” Tekan Zayn dalam hati.

Pikirannya terus bergejolak memikirkan yang tidak-tidak. Membuatnya merasa resah dan bimbang.

Tanpa banyak berpikir lagi, Zayn menekuk badan dan dengan lembut mengangkat tubuh Raras ke dalam pelukannya. Zayn memutuskan menggendong istrinya ke kamar.

Tiba-tiba dia teringat perkataan sang papah. Lama-lama Raras akan bosan menunggu, dan meninggalkannya pergi.

“Apa mungkin dia akan seperti itu?”

Setelah menyelimuti Raras, Zayn memutuskan untuk membersihkan tubuh. Zayn mengguyur tubuhnya di bawah aliran shower, ia teringat masa-masa perkenalannya dengan Raras.

Dia sama sekali tak pernah kepikiran akan menikah dan memiliki istri seperti Raras. Dulu, Zayn hanya fokus dengan pekerjaan tanpa memikirkan wanita sedikitpun. Ada banyak wanita yang berusaha mencuri perhatiannya dan mendekatinya dengan segala cara, tapi Zayn tetap teguh dengan pendiriannya.

Hingga saatnya dia bertemu Raras, dan mulai mengubah cara pandangnya. Rara yang penurut dan tak pernah mengganggunya, membuat Zayn berpikir lain.

Saat wanita lain berlomba mendapat perhatiannya, Raras hanya diam dengan segala tingkahnya yang unik, membuatnya penasaran dan ingin terus menggali informasi dirinya.

Tapi satu yang tertahan hingga kini, rasa traumanya akan seorang wanita masih melekat di hati dan pikiran. Rasa takut dikhianati dan ditinggalkan membuatnya enggan memiliki perasaan pada siapapun.

Hubungannya dengan Raras cukup urusan rumah dan ranjang saja, saling menghangatkan dan memenuhi kebutuhan batin Zayn rasa itu cukup.

“Aku tidak tau, apa aku bisa mencintai Raras atau hanya akan seperti ini sampai nanti.”

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Keesokan harinya Raras terbangun, dia menatap sekeliling dan terkejut saat berada dikamarnya. Semalam dia sangat lelah dan tak kuat lagi berjalan, hingga memutuskan untuk tidur di ruang televisi saja.

Raras bangun dengan perlahan, menatap sekilas suaminya yang masih tertidur pulas. Raras lanjut membersihkan diri dan bersiap untuk memulai aktivitas kembali.

Begitu duduk dimeja makan, Raras langsung meneguk air putih sambil menunggu suaminya turun. Raras melihat bi Inem membawa kotak makan dan menyimpannya diatas meja.

“Buat siapa bi?”

“Ini untuk bapak, bu. Semalam minta dibawakan sarapan dari rumah, katanya ada meeting pagi.” Jelas bi Inem.

“Oh.” Raras mengangguk dan memutuskan untuk sarapan lebih dulu.

Saat Raras memakan sarapannya, Zayn turun dengan penampilan rapi. Dia bahkan sudah siap dengan tas kerjanya.

“Sarapan mas?”

“Saya bawa bekal, kamu sarapan dulu saja.”

Raras mengangguk menghabiskan sarapannya. “Mm, mas.”

Zayn menoleh, seolah bertanya ada apa.

“Apa semalam kamu yang gendong aku ke kamar?” Tanya Raras pelan.

“Ya. Apa keberatan?”

“E-nggak kok. Maaf ya jadi ngerepotin.” Cicit Raras malu.

“Tidak masalah, kamu ringan.”

“Hah?! Yang bener mas? Masa sih, kok aku ngerasa akhir-akhir ini gendutan ya, aku sering makan larut malam soalnya.”

Zayn tersenyum tipis, “Nggak kok, makanlah yang banyak.”

Raras tersenyum lebar, memperhatikan tubuhnya sendiri, dia jadi tambah percaya diri setelah mendengar perkataan suaminya.

“Nanti saya pulang cepat, kamu juga usahakan pulang cepat.” Ucap Zayn lalu beranjak membawa kotak bekal miliknya.

Raras mengerutkan kening, “Kenapa harus pulang cepat, bukannya dia juga tahu kalau kantor lagi sibuk banget.” Gumamnya.

Di kantor Zayn, suasana sudah sangat sibuk jauh sebelum jam kerja resmi dimulai. Karyawan bergerak cepat dari satu meja ke meja lain, beberapa sedang menyusun berkas untuk meeting besar yang akan dimulai dalam satu jam lagi.

Zayn masuk ke ruangan CEO dengan langkah tegas, langsung menaruh tas dan kotak bekal di atas meja. Dav segera menghampirinya dengan tumpukan berkas penting.

"Pak, semua materi meeting sudah siap. Mitra dari luar kota sudah tiba dan sedang menunggu di ruangan konferensi," lapor Dav dengan nada cepat.

Zayn mengangguk tanpa melihat ke arahnya. "Baik. Segera hubungi departemen keuangan untuk memastikan data laporan sudah benar. Dan jangan lupa siapkan ruangan untuk acara pengumuman besok."

"Dalam proses pak," jawab Dav sambil mencatat. "Selain itu, sudah ada tiga calon kandidat untuk menggantikan Bu Mega. Apakah ingin dijadwalkan wawancara hari ini juga?"

"Nanti sore saja," kata Zayn singkat, membuka kotak bekal yang dibuat Bi Inem. Meskipun sibuk, dia tetap mengambil waktu sebentar untuk makan walau hanya sedikit.

Kantor begitu sibuk, ada beberapa perubahan yang akan diberlakukan. Meski begitu karyawan tetap semangat dan berusaha baik-baik saja. Karena akan ada bonus yang menanti di akhir.

Saat jam istirahat, Zayn sengaja menghampiri sekretarisnya di ruangan. Dav terlihat sangat sibuk dengan ponselnya, hingga tak menyadari kedatangannya.

Karena merasa kepo dengan apa yang dilihat Dav, Zayn diam-diam ikut melihat ponsel. Seketika matanya terbelalak melihat adegan tak senonoh yang Dav tonton.

“Gila ini si Dav, ngapain siang-siang begini nonton adegan plus-plus.” Batin Zayn.

Meski begitu, dia juga larut akan setiap adegan yang terjadi. Zayn berdiri diam di belakang Dav, matanya tidak bisa lepas dari layar ponsel yang menampilkan adegan yang tidak pantas.

Detak jantungnya seakan meningkat, melihat dua sosok lawan jenis beradegan di kamar mandi. Basahnya air shower menambah suasana yang semakin intim.

Zayn jadi berpikir ingin melakukannya juga bersama Raras. “Apa dia mau ya kalau di kamar mandi?”

Setelah beberapa detik, Dav tiba-tiba menyadari ada orang di belakangnya. Dia dengan tergesa-gesa menutup aplikasi dan memutar tubuh, wajahnya memerah karena malu.

"P-pak Zayn! Maaf pak, saya tidak menyadari Anda datang," ucap Dav dengan suara gemetar, tangannya terus meremas ponsel mengalihkan rasa gugup.

Zayn hanya menatapnya dengan tatapan yang sulit ditebak, kemudian duduk di kursi depan meja Dav. "Apa itu?" tanyanya singkat,

"Maaf sekali pak! Saya hanya..." kata Dav bingung menjawab.

Zayn mengangkat satu alisnya sambil tersenyum miring, “Hanya apa?” Desaknya.

“Ekhem. I-itu tadi, ada teman kirim link. Saya pikir apa.” Cicit Dav jadi salah tingkah sendiri.

Zayn sekuat tenaga menahan tawa, tak dipungkiri dirinya juga ikut menonton dan membayangkan yang tidak-tidak.

“Saya janji tidak akan mengulanginya lagi di kantor, pak. Maaf." Ucap Dav sungguh-sungguh.

Zayn mengangguk pelan, lalu berdiri kembali. "Jangan lakukan lagi. Kantor bukan tempat untuk hal semacam itu," ucapnya datar. Namun dalam hati, dia juga merasa sedikit terganggu – mengapa dia juga ikut terpaku melihatnya?

"Saya mengerti pak! Maaf sekali lagi," jawab Dav dengan kepala menunduk.

“Ya sudah, ayo ikut saya makan siang sekalian ketemu klien.”

Bersambung…

1
jisung
lanjutt kak cerita bagus dan singkat aku suka.😍
Athariz271: di tunggu ya😍
total 1 replies
Bunda Sri
lanjut Thor
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
jalang gk tau diri
falea sezi
abis di pake dia cuek kayak lacur aja qm ras hmmm kasian
Bunda Sri
lanjut Thor , jng berhenti ceritanya bagus
Bak Mis
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!