NovelToon NovelToon
Bintang Jatuh Dan Sepotong Hati 2

Bintang Jatuh Dan Sepotong Hati 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Obsesi
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Elara Tulus

Selamat datang kembali, Pembaca Setia!

Terima kasih karena telah melangkah sejauh ini bersama Aulia. Jika kamu ada di sini, artinya kamu telah menjadi saksi bisu betapa perihnya luka yang ia simpan selama lima tahun, dan betapa kuatnya ia saat mencoba berdiri di atas kakinya sendiri di buku pertama.

Di "Bintang Jatuh Dan Sepotong Hati 2", perjalanan ini akan menjadi lebih menantang. Kita akan menyaksikan bagaimana Aulia mengubah rasa sakitnya menjadi kekuatan, bagaimana rahasia kelam masa lalu mulai terkuak satu per satu, dan ke mana arah hatinya akan berlabuh.

Terima kasih telah setia menanti dan mendukung karya ini. Mari kita lanjutkan perjuangan Aulia sampai akhir!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Tulus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERISAI UNTUK SANG DEWI PALSU

Kesibukan mempersiapkan perayaan ulang tahun ke-70 Nenek Trisha sempat mengalihkan perhatian Devan dari dunia luar. Namun, ketika gema tentang "robot pintar revolusioner" milik Grup Laksmana meledak di jagat maya, Devan baru menyadari bahwa proyek yang ia percayakan pada Vivian (Meli) telah mencapai kesuksesan yang melampaui ekspektasi.

Kini, kantor CEO Grup Laksmana dipenuhi oleh para petinggi perusahaan. Wajah-wajah tua yang biasanya skeptis itu kini tampak memerah karena semangat, berlomba-lomba melontarkan sanjungan setinggi langit.

"Bu Vivian benar-benar luar biasa! Dalam waktu sesingkat ini bisa melahirkan teknologi sebesar ini, dia benar-benar seorang genius yang dikirim untuk kita!" seru salah satu direktur senior dengan nada menjilat.

"Pak Devan memang memiliki mata yang tajam dalam menilai bakat. Dengan Bu Vivian di samping Anda, masa depan Grup Laksmana tidak akan tergoyahkan," tambah yang lain, disambut anggukan setuju.

"Hmph, UME itu benar-benar picik. Mereka pikir bisa sombong hanya karena pernah besar di luar negeri? Sekarang, setelah Pak Devan memukul mereka lebih dulu dengan pengumuman ini, aku ingin lihat seberapa hancur harga diri mereka!"

Devan mendengarkan semua itu dengan wajah sedingin pualam. Matanya yang tajam menyapu sekelompok pria licik itu—orang-orang yang dulu diam membisu saat ia menyerahkan proyek ini pada Vivian, menunggu momen untuk menertawakan kegagalannya. Sekarang, merekalah yang paling depan dalam memuja.

Tanpa sepatah kata pun, Devan hanya mengangkat tangannya, memberi isyarat dingin ke arah pintu. Meski mereka adalah rekan sejawat ayahnya, Gibson, tidak ada satu pun yang berani membantah wibawa Devan. Mereka keluar satu per satu dengan senyum canggung.

Setelah ruangan sunyi, Devan menyandarkan punggungnya. Jarinya mengetuk meja kayu ek itu secara ritmis. Alisnya berkerut tipis; ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, namun ia belum bisa menyentuhnya. Rasanya terlalu instan, terlalu sempurna.

Pintu terbuka pelan. Fadil masuk membawa map dokumen terbaru. "Pak, hasil pemeriksaan profesional untuk robot ini sudah keluar. Semua uji coba berjalan tanpa cela. Tim penilai memprediksi fitur baru yang diajukan Bu Vivian akan menjadi gebrakan terbesar di industri teknologi tahun ini."

Fadil sendiri tak mampu menyembunyikan kekagumannya. Sebagai asisten kepercayaan Devan, ia tahu Vivian memang kompeten, tapi tingkat "genius" yang ditunjukkan kali ini terasa hampir tidak masuk akal. Bagaimana mungkin bakat sebesar ini baru meledak sekarang? pikir Fadil heran.

Namun, alih-alih merayakan kesuksesan Vivian, Devan justru melontarkan pertanyaan yang tak terduga. "Aku dengar UME juga mengumumkan produk baru di hari yang sama. Bagaimana perkembangan di pihak mereka?"

Fadil menggeleng perlahan. "Belum ada informasi pasti, Pak. Mereka sepertinya sedang menutup diri rapat-rapat setelah pengumuman kita."

Devan menyentuh dagunya, matanya menatap kosong ke depan. Fadil teringat sesuatu yang ia lihat sekilas di daftar tim teknis UME yang sempat bocor—nama "Scarlett" tercetak di sana sebagai anggota utama. Namun, melihat suasana hati Devan yang sedang rumit, Fadil menelan kembali kata-katanya.

"Tiga hari lagi konferensi pers dimulai," Fadil mengalihkan pembicaraan. "Bu Vivian akan tampil sendiri sebagai wajah utama proyek ini. Karena antusiasme publik yang sangat liar, saya khawatir akan ada sabotase dari pihak lawan. Apa perlu kita..."

"Batalkan semua jadwalku untuk tiga hari ke depan," potong Devan tegas.

Fadil tertegun. Artinya, sang CEO sendiri yang akan turun tangan langsung untuk menjadi pelindung bagi Vivian. "Tapi Pak... jika Bu Scarlett melihatnya... bagaimana?"

Fadil tahu, jika Scarlett benar-benar bagian dari tim UME, melihat suaminya sendiri menjadi perisai bagi pesaing terberatnya di depan umum akan menjadi belati yang menusuk jantungnya.

"Scarlett?" Devan mengernyit, suaranya rendah namun penuh otoritas. "Kenapa memangnya kalau dia lihat? Vivian adalah kepala proyek Grup Laksmana sekarang. Apa yang aku lakukan adalah profesionalisme demi kepentingan perusahaan."

Logika Devan memang tak bercelah di atas kertas, namun saat Fadil hendak berbalik, Devan kembali bersuara, suaranya kini sedikit lebih lunak. "Lupakan soal pembatalan jadwal penuh. Atur saja tempat dudukku di sisi arena, jangan terlalu mencolok."

Meskipun mulutnya berkata ini demi pekerjaan, Devan teringat bagaimana Scarlett belakangan ini sangat sensitif. Ia tidak ingin memberi alasan lagi bagi Scarlett untuk menjauh, terutama saat proses perceraian mereka sedang menggantung. Ia ingin melindungi Vivian, tapi ia juga tidak ingin benar-benar menghancurkan sisa-sisa jembatan menuju istrinya.

Devan tidak menyadari bahwa dengan melindungi Vivian, ia sebenarnya sedang melindungi pencuri yang merampas keringat Scarlett. Ia tidak tahu bahwa tempat duduk di "sisi arena" itu akan menjadi barisan terdepan untuk menyaksikan kehancuran yang ia buat sendiri.

1
Sweet Girl
Klo kalian saling mendukung, Khan keren ya...
Sweet Girl
Telat...
Sweet Girl
Menyayat hati.
Sweet Girl
Hhaaaa Gantle kali kau Mavin...👍
Sweet Girl
Sak bahagiane persepsi mu terhadap Aulia, Van...
Sweet Girl
Semoga kamu bisa menyelesaikan semua proyek mu dan bisa operasi, Aulia.
Sweet Girl
Bwahahaha kapok Lu.... ngerasa Ndak kamu...
Sweet Girl
Mantap...👍
Sweet Girl
Sengkuni mulai beraksi.
Sweet Girl
Harus menyadari lho Tor...
Sweet Girl
Enak aja Hak Melati di klaim Aulia.
emang apa prestasinya Melati, Ken...
Sweet Girl
Bwahahaha tau Ndak pintunya... klo Ndak tau tak anter... tak gandeng sampai pintu.
Sweet Girl
Tor... bikin mereka yg akan menghancurkan Aulia, gagal semua ya...
kasihan tau Aulia... udah capek capek mikir, mau di sabotase.
Sweet Girl
Jangan percaya sama mereka Aulia, kamu harus tetep pantau tuuu pergerakan Jin iprit sama Henry.
Sweet Girl
Oooaaalah baru mudeng ini si Jin iprit Khan adik tiri nya Aulia ya...
weeeesss angel... angel...
Sweet Girl
Semoga kopinya ada Sianidanya🤣
Sweet Girl
Yo mbok wes toh Tor... penderitaannya Aulia...
Sampek kurang turu lhooo sangking mau menunjukkan keberhasilan dr tantangan Henry.
Sweet Girl
semangat aja dalam memperbaiki SDM, Aulia.
Ndak usah mikirin hal hal yg bikin kita jatuh.
Sweet Girl
Buruk Hatinya.
Sweet Girl
Bagaimana ceritanya Tor... kok Violetta sampai Ndak tau klo Pamela habis minum obat perangsang.
padahal tadi yang jemput Pamela di rumah Rizki Khan Violetta.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!