Hati Davin hancur ketika mengetahui cintanya pada Renata juniornya, bertepuk sebelah tangan dan ternyata hanya dimanfaatkan untuk kepentingan karir.
Dia lalu memilih pergi menjadi relawan medis di daerah bencana, dan bertemu Melodi, gadis yatim piatu nan tangguh merawat adiknya yang lumpuh
Ketulusan dan ketegaran Melodi mampu membuat Davin terpikat. Namun, perbedaan status di antara mereka terlalu besar membuat Melodi ragu.
Mampukah Davin meyakinkan Melodi bahwa cinta sejati tak mengenal batas? Atau justru perbedaan akan memisahkan mereka selamanya?
Yuk, ikuti kisahnya hanya di sini;
"Melodi Cinta Untuk Davin" karya Moms TZ, bukan yang lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Bahagia itu sederhana
Sore itu, halaman SD Satu Sukun dipenuhi oleh warga yang antusias menyaksikan turnamen bola voli putri antar desa, yakni Desa Sukun melawan Desa Pete. Turnamen tersebut memperebutkan piala Pak Camat. Sorak-sorai penonton memenuhi udara, menambah semangat para pemain di lapangan.
Melodi sendiri tergabung dalam tim Desa Sukun. Ia bermain dengan penuh semangat, bergerak lincah dan memberikan pukulan-pukulan tajam yang membuat timnya meraih poin demi poin.
Di pinggir lapangan, Davin memperhatikan aksi Melodi dengan tatapan terpesona. Wajahnya serius dan tampak kagum melihat perjuangan Melodi untuk kemenangan timnya.
Namun, tidak jauh dari sana, Dahlia tampak uring-uringan. Ia melihat bagaimana Davin yang tak berkedip menatap Melodi beraksi di lapangan. Apalagi dokter muda itu merangkul Alvian tanpa rasa canggung, membuat Dahlia makin meradang. Matanya memicing, dada terasa sesak melihat kedekatan mereka.
“Kurang ajar! Rupanya dia malah memilih dekat dengan orang-orang miskin seperti mereka,” gumam Dahlia dengan suara pelan, penuh kebencian.
Dahlia menatap Davin dengan penuh rasa kesal. Ia tidak menyangka bahwa Melodi, yang selama ini dianggap sebelah mata, ternyata bukan hanya pekerja keras tetapi juga memiliki bakat yang luar biasa. Keahliannya dalam bermain voli membuat Davin tampak terpesona, sesuatu yang membuat hati Dahlia semakin panas.
“Memang siapa Melodi sampai membuat Davin segitunya?” gumam Dahlia dalam hati dengan nada sinis.
Hatinya dipenuhi rasa iri dengki. Kebencian terhadap Melodi semakin menjadi. "Kenapa harus Melodi sih? Kenapa bukan aku saja coba!"
Dahlia bukannya menonton pertandingan yang berlangsung, ia justru sibuk dengan dirinya sendiri yang tak bisa menerima kenyataan bahwa dia bukanlah apa-apa bagi Davin.
Suasana pertandingan semakin memanas, sorak-sorai penonton kian menggema, dan semangatnya menular ke seluruh tim Desa Sukun.
Alvian tampak antusias, dia tak mau kalah dengan yang lain memberikan suntikan semangat untuk kakaknya.
"Kak Mel hebat kan, Pak Dokter?" kata Alvian dengan bangga.
"Iya, Mbak Mel sangat hebat," Davin menimpali.
"Tapi masih ada lagi loh, kelebihan Kak Mel yang lain. Pak Dokter pasti suka," lanjutnya menambahkan.
Beberapa saat kemudian pertandingan selesai dengan skor tiga satu untuk kemenangan Desa Sukun.
Melodi menghampiri Alvian, ia tersenyum langsung memeluk adiknya. "Desa kita menang, Dik."
"Vian senang deh, Kak. Kak Mel hebat banget!"
Davin menyodorkan sebotol air mineral dingin pada Melodi. "Ini minumlah, Mbak Mel pasti haus."
Melodi tersenyum melepaskan pelukan. Ia menerima botol tersebut. "Terima kasih, Pak Dokter."
Davin...? Entah apa yang dipikirkannya. Semoga bukan sesuatu yang anu. Dia begitu terkesima oleh kecantikan Melodi yang alami tanpa polesan. Wajahnya yang berkeringat dan kemerahan membuatnya makin klepek-klepek. (Mami Mia anak bontotmu lagi terpanah asmara ini, loh)
Dari kejauhan, Dahlia menatap interaksi Davin dan Melodi dengan dada bergemuruh karena rasa cemburu. Padahal pacar Davin bukan, tetapi rasa cemburunya meletup-letup, mungkin mirip sama letupan lahar panas gunung Merapi.
.
Malam harinya Davin mendatangi Melodi di rumahnya. Sudah hampir seminggu mereka menempati rumah itu. Davin memang sengaja meminta para pekerja untuk mendahulukan pembangunan rumah Melodi demi kenyamanan mereka.
Tok
Tok
Tok
"Assalamualaikum."
Dari dalam Alvian mendorong kursi rodanya untuk membuka pintu.
"Waalaikumsalam," jawab Alvian. "Eeh, Pak Dokter. Mari masuk."
Alvian membuka pintu lebar-lebar supaya Davin bisa masuk.
Namun, Davin menolak. "Saya di teras saja, Vian. Nggak sopan malam-malam bertamu masuk ke dalam rumah, nanti bisa menimbulkan fitnah." Dia beralasan.
"Ada yang datang bertamu, Dik?" tanya Melodi dari dapur.
"Pak Dokter, Kak," seru Alvian.
Melodi segera keluar begitu mendengar Davin yang datang bertamu. "Loh, Pak Dokter ada apa ya, malam-malam begini datang kemari?" tanyanya sambil melihat sekitar rumahnya takut ada yang salah paham.
Davin mengangkat kedua tangannya yang menenteng plastik kresek. "Saya bawa makanan. Sengaja ke sini untuk mengapresiasi kerja keras Mbak Mel yang sudah memenangkan lomba."
Ada saja yang dijadikan Davin alasan untuk mendekati Melodi.
"Ah, kenapa Pak Dokter harus repot-repot? Saya jadi nggak enak, sudah sering dibantu," kata Melodi sungkan.
"Nggak kok, saya senang melakukannya." Davin lalu menyerahkan plastik kresek berisi makanan kepada Melodi.
"Ya sudah, saya gelar tikar dulu, biar kita makan dengan leluasa di sini."
Melodi masuk ke dalam rumah, lalu keluar membawa tikar. Davin membantu menggelar tikar tersebut. Kemudian mengangkat Alvian dan mendudukkan dengan nyaman di atas tikar.
Melodi membuka plastik tersebut, ternyata Davin membeli sate.
"Wah...sate!" seru Alvian, mata kecilnya tampak berbinar, tetapi berusah untuk menahan dirinya.
Davin yang peka, langsung mengambil satu tusuk dan memberikannya pada Alvian.
"Terima kasih, Pak Dokter." Alvian tersenyum menerimanya.
Melodi hanya menggelengkan kepala melihat tingkah adiknya. "Maaf ya, Pak Dokter. Bagi kami sate makanan yang sangat mewah. Dan kami hampir tidak pernah memakannya semenjak kedua orangtua kami nggak ada."
Davin tersenyum miris, membayangkan betapa sulitnya kehidupan yang dijalani Melodi bersama adiknya.
Malam itu, mereka menikmati makan malam bersama sambil berbincang ringan, sesekali diselingi tawa canda yang hangat. Davin merasakan kebahagiaan yang begitu damai mengalir di hatinya. Meski hidup dalam kesederhanaan, mereka mampu menemukan kebahagiaan yang nyata. Bukankah tak perlu kemewahan jika hal sederhana sudah mampu membuat hati merasa bahagia?