Ditinggalkan oleh calon suami seminggu sebelum pernikahan nya membuat hati Alina hancur lebur. Belum mendapatkan jawaban akan maksud calon suaminya yang meninggalkan dirinya, Alina kembali dikejutkan beberapa bulan kemudian akan permintaan pria yang belum menghilang dari hatinya itu.
"Aku mohon padamu, tolong rawat bayi ini. Aku memohon padamu Alina. Jaga Rosa dengan baik." Setelah mengucapkan itu, Edwin menghembuskan nafas terakhirnya.
Bagaimanakah kelanjutan nya? Apakah Alina akan membesarkan nya? atau justru mengikuti egonya? Dan bayi siapa itu sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Nilam Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ya, Mama.....
Alina beberapa kali menghela napas. Entahlah, mungkin karena pengalaman pertamanya bekerja di bawah naungan orang lain. Dia belum bisa melanjutkan sepenuhnya untuk desain kembali. Mengingat modal dan juga tempat yang harus disiapkan.
Tapi mungkin semuanya akan berjalan pelan-pelan. "Ok Alina, semuanya akan baik-baik saja. Ambil napas dan.... Keluarkan. Aku bisa." Ujarnya menatap pantulan dirinya.
"Aku lupa!" Alina keluar dari kamarnya, baru saja melewati pintu kehadiran Rosa sudah ada disana.
"Mammamaa." Ujarnya menatap Alina dengan senyuman mengembang.
"Aku ingin mencari sesuatu, jadi jangan mulai. OK?" Tapi Rosa tertawa lebar. Alina tidak menanggapi lagi, dia mencari kartu akses bus nya, entah mengapa dia bisa lupa.
"Dimana aku letakkan? Biasanya disini." Alina mengacak-acak penyimpanan kecil dan juga laci meja yang dilihatnya.
"Tidak ada, dimana ya? Dimana aku letakkan? Kalau pakai sepeda, yang benar saja.... Tidak mungkin!" Ujarnya sendiri. Alina bergerak menuju dapur, ingin bertanya pada bibi. Tapi langkah itu berhenti saat dia melihat sepasang kaki mungil yang mendekat. Tapi bukan itu bagian yang menarik perhatian nya. Apa yang ada di tangan kecil itu.
"Itu dia!" Ujar Alina, dia mendekati Rosa.
"Berikan padaku." Ujarnya pada Rosa yang melihat nya dengan tatapan berbinar.
"Ayo, berikan padaku." Ujarnya kembali.
"Mammamaa." Balas Rosa.
"Eh!" Rosa tampak menjauhinya. Alina mengejar Rosa yang tenaganya tidak bisa diremehkan.
"Tunggu! Berikan padaku kartunya! Ayo, aku berikan mainan mu, bagaimana?" Tapi Rosa hanya menoleh kecil dan tidak tertarik.
Tapi Alina tidak kehilangan akal, dia membunyikan kunci dengan mainan yang bewarna dan berbunyi itu. Rosa berhenti, wajahnya melihat Alina. "Ya bagus... Ayo kesini...." Rosa tertawa lebar, tapi.....
"Ok! Cukup! Sekarang berikan itu padaku!" Dengan cepat, Alina sudah berada di depan Rosa dengan jarak dekat.
"Ayo berikan padaku...."
"Nannanana, woaaaa. Ekhee!" Mendengar tangisan kecil itu, Alina melonggarkan tarikannya. Wajah yang tadinya berseri-seri itu berubah basah karena air mata.
"Berikan pada ma...ma.... Ma-ma." Tangisnya mereda, dengan mata yang masih basah Rosa melihatnya.
"Mamamamamaa."
"Iya, Mama. Berikan pada mama."
"Mamamamamaa." Tapi bukan hanya kartu akses bus yang didapatkan, Rosa juga langsung mendarat sempurna, menghambur ke dalam pelukan hangat. Alina merasakan kepalanya kosong sejenak. Sesuatu kembali terjadi, dan sesuatu itu menghantam perasaan nya.
"Mamamamamaa." Panggilan itu dan sentuhan seolah ingin diperhatikan membuat Alina terpaku.
"Ya, Mama."
************************
"Tuan memanggil saya?" Tanya pria itu ragu-ragu.
"Ya, masuk!"
"Aku ingin, kau lebih memperhatikan lagi para karyawan disini."
"Iya Tuan, saya akan melakukan nya lebih teliti lagi."
"Itu harus! Karena aku tidak ingin ada karyawan yang seperti pekerja di bar ada disini! Kalau dia tidak bisa diatur, keluarkan saja! Aku perlu karyawan dengan kepala yang berisi dan juga penuh dengan kesopanan. Aku tidak peduli dia keluar dari sini dan bagaimana penampilan nya! Tapi disini! Perusahaan ini! Aku tidak bisa toleransi! Mengerti?" Penjelasan itu membuat dada pria itu meloncat bukan main.
"Iya tuan, saya mengerti."
"Aku butuh realisasinya, bukan sekedar ucapan. Besok, aku tidak mau ini terjadi lagi. Kalau terjadi...... Bukan dia saja, tapi kau juga di pecat! OK?"
Pria itu menelan ludah dan keringat dingin mengisi wajahnya meskipun ruangan terasa sejuk. "Ba-baik Tuan."
"Lakukan!"
"Saya permisi." Gegas, pria itu keluar dari ruangan yang membuat nya ketakutan.
"Tuan, tapi agaknya itu tidak diperhatikan oleh Daddy Tuan."
"Mungkin saja, dia sekalian cuci mata. Aku tidak peduli dengan itu, sekarang perusahaan ini berada di bawah kendali ku! Jadi, ikuti aturan ku."
"Baik Tuan. Tapi, ngomong-ngomong tentang itu...."
"Jangan bicara kalau kehilangan jejaknya. Cari lagi! Dan pastikan apakah.... Bayi itu ada dengan nya."
"Lalu setelah itu tuan?"
"Jaga saja."
"Kenapa tidak dibawa pulang tuan? Itu pasti akan membuat nona Rhea sembuh."
"Tidak, tidak semudah itu. Ini tidak sesederhana itu. Aku perlu bukti untuk kelicikan pembelot dan mungkin, sekarang usianya belum genap dua tahun. Cari saja! Kita sudah disini! Cari wanita itu!"
"Baik tuan. Akan segera saya laporkan."
"Dimana kau my little?" Tanyanya menatap jalanan yang ramai tanpa hambatan.
Bersambung.....
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak 🥰 🙏
Author ucapkan selamat tahun Baru 2026. Semoga di tahun ini, Allah memberikan kesehatan dan rezeki yang berlimpah untuk kita semua, Aamin 🙏🙏