NovelToon NovelToon
Cinta Di Tapal Batas

Cinta Di Tapal Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah / Romansa pedesaan / Diam-Diam Cinta / Cintamanis
Popularitas:14.1k
Nilai: 5
Nama Author: Buna Seta

Dini Kirana yang masih kelas dua SMA dijual oleh ayah tirinya kepada pria kaya yang sudah banyak istri untuk melunasi hutang. Dini memilih kabur dari rumah dan akhirnya kesasar ke salah satu Desa. Di tempat itu, Dini bertemu Aksa yang sudah berusia 28 tahun.

"Mas, boleh ya saya tidur di rumah kamu? Tolong Mas, saya butuh tempat tinggal."

"Kamu bukan siapa-siapa saya Dini, saya tidak mau digerebek warga Desa."

Bagaimana kisah selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Burhan menjatuhkan senjata ke lantai ketika polisi menodongkan pistol ke arahnya. Entah apa yang terjadi dengan pria tua itu tidak ada perlawanan ketika polisi memborgol tangannya.

Berbeda dengan Ringgo yang mencoba untuk berlari dan akhirnya 'door. Peluru bersarang di betis bagian belakang. Pria itu pun jatuh tersungkur di latar kontrakan menjadi tontonan para warga.

Penjudi yang tidak pernah menang, tapi tidak juga kapok itu diseret polisi ke dalam mobil. "Saya hanya wayang kenapa ditangkap juga? Tangkap saja dalangnya," Ringgo berteriak-teriak menunjuk Burhan. Kenapa Burhan hanya diam saja padahal dia yang menginginkan Dini. Satu kaki yang berdarah-darah ia angkat berjalan seperti Kanguru.

"Jangan banyak bicara! Masuk!" Polisi mendorong tubuh Ringgo.

Geger, kejadian depan rumah kontrakan tepat dini hari itu. Yang awalnya tentram dan damai pun berubah menyeramkan dan menegangkan. Anehnya mereka tidak mengenal siapa Burhan apa lagi Ringgo.

Mereka hanya bisa menatap kedua orang tua yang ditarik polisi ke arah kendaraan. Ya, itulah akibat orang yang sombong dan serakah. Bukan kenikmatan yang mereka dapat, padahal sudah diusia yang seharusnya hidup bahagia bersama cucu dan cicit.

"Ayah..." seru Aksa. Pria gagah itu melangkah cepat mendekati ayahnya yang hendak masuk ke dalam mobil.

"Kami harus membawa Ayah Anda, karena mempunyai senjata tajam tanpa izin," kata polisi, hanya kesalahan itu yang saat ini dia ketahui, tentu saja akan mengembangkan penyelidikan.

"Izinkan saya berbicara dengan Ayah saya, Pak. Sebentar saja," Aksa memohon. Melihat ayahnya yang tiba-tiba pasrah dan menurut saja tidak melawan ketika polisi tangkap membuat hati Aksa luluh lantak. Terutama melihat tangan Burhan diborgol seperti itu hati Aksa sedih, lalu minta polisi untuk melepas sebentar. "Saya yakin, Ayah saya tidak akan lari" lanjut Aksa dengan tatapan redup.

Polisi menatap mata Aksa seketika ingat ketiga anaknya. Bagaimana sedihnya dia setiap kali meninggalkan mereka untuk bertugas hingga larut, bahkan tidak pulang hingga beberapa hari. "Silakan" polisi akhirnya melepas borgol Burhan. Namun, tetap dalam pengawasannya.

"Maafkan aku, Yah..." Aksa menggenggam erat tangan yang mulai keriput itu seakan tidak mau berpisah. Aksa berharap kesalahan ayahnya tidak banyak sehingga tidak dihukum lama. Seharusnya diusia ayahnya saat ini sudah menikmati masa istirahat. Namun, ayahnya harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Penjara ternyata tempat petualangan Burhan yang terakhir dan entah sampai kapan akan menginap di ruang sempit itu. Sejauh mana polisi mendapatkan bukti-bukti atas perbuatan ayahnya itulah sebagai penentu seberapa lama Burhan di penjara.

"Anakku... Ayah terima kasih sama kamu," Burhan berkaca-kaca. "Kamu sudah menyadarkan Ayah walaupun terlambat," Burhan menepuk pundak Aksa. Dia bersalah telah mengganggu ketenangan hidup Dini yang ternyata kekasih putranya. Hampir saja ia menyakiti calon menantunya sendiri.

"Ayah..." Aksa menangis seperti anak kecil. Dia peluk ayahnya untuk yang pertama kali. Hangat terasa, kehangatan yang tidak pernah Aksa dapatkan sejak kecil dari ayah biologisnya. Ayahnya yang biasanya seperti singa edan, saat ini menjelma menjadi seekor kelinci. "Tidak ada kata terlambat Ayah," Aksa melepas pelukan lalu sedikit membungkuk menatap wajah ayahnya karena postur tubuh Burhan lebih pendek darinya. Aksa mengucap doa. Semoga di waktu singkat ini mampu membersihkan dosa ayahnya.

"Aksa, induk restoran yang berada di kota ini untuk kamu," Burhan mengatakan bahwa induk restoran dan rumah mewah miliknya sudah atas nama Aksa. "Jika kamu tidak percaya periksa saja dokumen di meja kerja" lanjutnya.

Aksa tidak menjawab, ia masih ragu apakah harta milik ayahnya didapat dengan cara yang halal? Lagi pula jika ia menerima restoran dan rumah apakah empat saudara perempuannya yang belum dia kenal tidak akan protes.

"Jangan khawatir Aksa, rumah dan seisinya yang Ayah berikan untuk kamu, murni hasil dari restoran" papar Burhan seolah tahu yang Aksa pikirkan.

"Saya khawatir saudara-saudara akan iri, Yah."

"Untuk tiga kakak kamu dan satu adik perempuan kamu sudah Ayah bagi restoran satu persatu walaupun hanya di cabang," Burhan memberi Aksa harta lebih banyak tentu sudah menjadi pertimbangan. Selama ini ia tidak pernah mengurus dan membesarkan Aksa seperti anak-anaknya yang lain. Terlebih lagi Aksa anak laki-laki.

"Terima kasih Yah" Aksa berharap ayahnya terlahir kembali menjadi pribadi yang bersih di masa tuanya setelah pulang dari penjara nanti, Aksa berjanji akan memperhatikannya.

Burhan tersenyum, mengusap kepala Aksa, lalu berpaling ke arah Dini dan Ratna yang hanya menonton drama di waktu orang sedang enaknya tidur.

"Dini..." lirih Burhan.

Dini menatap Burhan tapi bibirnya tetap terkatub. Sorot mata Burhan yang awalnya liar penuh nafsu, saat ini tidak terlihat lagi. Anggukan kepala Dini sebagai jawaban, bahkan memaafkan walau dengan satu syarat. "Yang terpenting Bapak tidak akan mengulangi," jawab Dini pada akhirnya.

Burhan tersenyum lalu beralih menatap Ratna. "Bu Ratna, saya minta maaf karena sudah kurang ngajar," pungkas Burhan. Tidak menunggu tanggapan Ratna, Burhan naik ke atas mobil polisi tanpa diperintah.

Aksa hanya menatap kendaraan yang membawa ayahnya menjauh meninggalkan tempat itu perasaannya campur aduk.

"Dini biar pulang bersama saya, Sa" ucap Ratna menyadarkan Aksa.

"Baik Tante..." Aksa mengangguk santun.

"Aku duluan, Pak. Terima kasih" Dini mencium punggung tangan Aksa seperti ketika di sekolah.

"Terima kasih untuk apa?" Aksa mengeryit bingung.

"Bapak sudah menyelamatkan kehormatan saya."

Sepasang kekasih itu berbicara terlalu formal, mungkin karena ada Ratna di antara mereka. Aksa mengantar Dini dan Ratna hingga masuk mobil kemudian pergi.

**************

Seminggu kemudian selama itu Aksa dan Dini sibuk sekali. Bukan hanya sekolah saja tapi juga harus mondar-mondar kantor polisi untuk menjadi saksi kejahatan Ringgo dan Burhan. Terutama Aksa, pria itu lebih sibuk karena mulai menggantikan ayahnya sebagai pemilik restoran.

Pagi itu Dini sudah tiba di sekolah bersamaan dengan Aksa dengan kendaraan masing-masing. Bukan hal yang sulit bagi Ratna untuk mengganti motor putrinya yang dijual Ringgo.

"Selamat pagi bidadari..." ucap Aksa tersenyum lebar. Pria itu sudah terlihat lebih tenang tidak seperti hari-hari sebelumnya, selalu murung memikirkan ayahnya.

"Selamat pagi bidodara..." Dini terkikik, disambut tawa Aksa.

"Mana ada Bidodara?" Aksa geleng-geleng.

"Lagian bukan mengucap, assalamualaikum" sindir Dini.

"Assalamualaikum..."

"Waalaikum sallam..."

Mereka pun jalan bareng, tentu tujuan berbeda. Aksa hendak ke ruang guru, sementara Dini ke kelas. Selama seminggu ini Dini lebih tenang karena bu Lusi tidak masuk sekolah. Bahkan jam ngajar Lusi diganti oleh guru piket.

"Mas Aksa..." ucap seseorang.

Aksa dan Dini menoleh, ternyata orang yang Dini pikirkan hari ini masuk sekolah.

"Kamu sudah lebih baik Lusi, maaf, saya belum sempat menjenguk" Aksa menjabat tangan Lusi. Akhir-akhir ini kesehatan Lusi memang sedang menurun.

"Memang Mas Aksa ke mana saja?" Tanya Lusi tampak kecewa lalu menoleh Dini sebal. Dia pikir Aksa hanya memperhatikan Dini saja, makanya tidak sempat menjenguk nya.

"Saya sedang banyak urusan" jawab Aksa, tidak ada untungnya ia menceritakan tentang keluarganya kepada Lusi.

Aksa bersama Lusi ke ruang guru bersama-sama sambil ngobrol entah apa lagi yang mereka bicarakan.

Sementara Dini masuk kelas meletakkan tas, kemudian ke lapangan hendak upacara. Dalam perjalanan Dini lagi-lagi bertemu Aksa. Di depan kelas Marini mereka berhenti. Anak-anak sudah sepi, tentu sudah berkumpul di lapangan.

"Bu Lusi tadi pasti membicarakan aku ya, Pak?" Dini ingat tatapan Lusi tadi merasa curiga.

"Tidak kok, sudahlah pagi-pagi jangan membicarakan orang" nasehat Aksa lalu berbicara masalah yang lain.

"Jangan-jangan Pak Aksa nanti pindah ke kota lagi," ucap Dini. Sekarang ini Aksa sudah mempunyai tugas yang baru, Dini khawatir Aksa berhenti menjadi guru dan fokus mengembangkan restoran.

"Tentu tidak Dini..." Aksa mengatakan bahwa mengajar adalah pilihan hidupnya tentu tidak akan ia tinggalkan.

"Oh..." Dini lega. Kendati setelah lulus nanti Dini lanjut kuliah di kota dan pada akhirnya tinggal bersama ibunya lagi, toh masih lama.

"Bapak lewat sebelah sana , terus saya lewat sini" Dini membuat aturan. Dia tidak mau menjadi perbincangan jika ke lapangan bareng Aksa.

"Ngatur" ucap Aksa, walaupun akhirnya mengikuti saran Dini.

Upacara bendera pun sedang berjalan, sinar matahari pagi itu terasa hangat. Menambah perjalanan upacara bendera semakin tenang.

Bruk!

Namun, tiba-tiba saja seorang wanita yang berdiri di barisan guru jatuh tersungkur.

...~Bersambung~...

1
Darti abdullah
luar biasa
Eka ELissa
knpa tu Lusi..... entahlah hy emk yg tau.....
Buna Seta: Jangan jangan bunting
total 1 replies
Attaya Zahro
typo kak..yang memberi Burhan bukan Ringgo
Attaya Zahro: Iya kak 😍😍
total 2 replies
Ita rahmawati
ada apa nih dg bu lusi
Ita rahmawati
polisi dateng,,apakah 22 nya ditangkep 🤔
Eka ELissa
nah lohh.... Burhan Ringgo msuk bui.,. tu bersiap udh di jmput mo di bawa ke hotel 🏨🏨🏨 prodeo 😄😄😄😄🤭
Buna Seta: Kapok dia 😁
total 1 replies
neng ade
aku hadir disini thor .. 🙏😍
Buna Seta: Lanjut ya
total 1 replies
Ita rahmawati
aksa kah yg dateng atau orang lain
vj'z tri
🫣🫣🫣🫣 semoga selamat 🫣🫣
Eka ELissa
Lusi pa Ringgo.....yg culik....dini... entahlah hy emak yg tau...
Eka ELissa
aduh....Bu ..dini....di culik tau ...smoga GK knpa2....yaaa......🤦🤦🤦
Bu Kus
lanjut
Fitriah Fitri
pleazee thor ... 2 bab tudey. nti sore up lg kan dr kmrn 1 bab trs up nya
Buna Seta: Lagi galau say, retensi buruk 😭
total 1 replies
vj'z tri
sabar Mak sabar tanya pelan pelan jangan langsung gas 🤭🤭🤭🤭
Ita rahmawati
siapa ya yg nyulik,,lusikah atau ringgo kah atau ada lg orang baru 🤔
Eka ELissa
dini....pak....msih inget kan kmu...😡😡😡
Ita rahmawati
hadeuh siapa nih yg bekap dini
Attaya Zahro
Jangan² nih kerjaan si Bu Lusi,.dan malah membuat Aksa jadi salah paham ma Burhan..
Attaya Zahro
Waduh..Dini di culik..tolong Dini Bang Aksa
Bu Kus
lebih baik jujur aja dini kan Aska gak tahu dengan kamu jujur pasti akan bertindak jangan main curiga nanti kamu nyesel lho
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!