Seorang Dokter Jenius dari masa depan bereinkarnasi kembali ke dalam raga seorang putri bangsawan, yang menikah dengan pria yang sangat membenci dirinya. Hingga pada suatu hari yang nahas, dia pun diasingkan ke sebuah wilayah terkutuk bersama pelayannya, karena tuduhan.yang keji.
*
"Aku tidak akan menyerah! Sudah diberi kehidupan dan kesempatan kedua, masa harus aku sia-siakan?"
*
Jadilah saksinya, wahai langit! Jika aku, akan mengguncang dunia kuno ini dengan semua keahlianku!"
*
"Nona, tapi Anda tidak bisa apa-apa, loh!"
*
"Tenang saja ... Dewa memberkatiku dalam komaku kemarin, dan aku akan menunjukkan keahlianku!"
*
Bagaimana kisah si Dokter Jenius ini di dunia kuno yang tidak terdapat di dalam sejarah Kekaisaran?
*
Apakah dia mampu membangun kekuatannya sendiri di sana?
*
Ikuti kisah si Dokter Bar-bar hanya di sini ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora79, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25: Undangan Putra Mahkota Zhang Liang!
***
Seminggu setelah perayaan lima bulan itu, suasana Kediaman Duxi kembali tenang.
Gerimis mengundang sejak pagi hari, membuat bayi Mingye dan Yuexin berbaring malas diatas ranjang bayi, yang dibuat khusus oleh Ibu mereka.
Ranjang itu memiiki sebuah formasi pengumpul 'Qi', sekaligus menjadi penghangat terbaik untuk mereka berdua.
Walaupun mereka terlihat tenang diluar, namun suara hati mereka terdengar berisik seperti suasana di pasar malam.
"Adik, kamu tahu tidak? Para Bangsawan itu datang penuh niat terselubung! Otak mereka dipenuhi oleh intrik-intrik terencana untuk Ibu ..." ujar Mingye kepada Yuexin.
"Wah, Kak! Hidung an-jingmu itu masih tajam kaya dulu ternyata, hahahaha! Feeling aku juga mengatakan, jika mereka ingin memanfaatkan Ibu untuk ambisi dan keserakahan mereka ..." sahut Yuexin.
"Hmmp! Tentu saja masih berfungsi dengan baik, tidak seperti otak kamu tuh yang bocor halus, walaupun sudah pindah raga!" ujar Mingye sambil mendengus.
"Putra Mahkota itu juga bukan orang yang baik. Dia terlihat sopan dan tenang dipermukaan, namun dia sangat berbahaya dan perhitungan!" lanjut Mingye.
"Hum! Sedangkan Pangeran ketiga itu adalah tipe 'umpan', dia bodoh dan sangat berisik sekali! Jorok pula! Iyuuh ..." sahut Yuexin sambil mengerutkan hidungnya.
Anlian yang sedang serius melihat sebuah peta wilayah, menghela napas lelah.
Anak-anaknya ini sangat aktif, jika sedang berdiskusi tentang sesuatu.
"Kalian bisa tenang tidak sih? Setiap membuka mata, pasti suara kalian sangat berisik dalam benak Ibu ..." gumam Anlian sambil memijat pelipisnya.
Bayi Yuexin menoleh ke arah Anlian dengan mata terbeliak lebar dan mulut mungilnya terbuka karena terkejut.
"Eh! Kok Ibu bisa dengar suara hati kita? Apakah Ibu kita ini seorang Peri, ya?" seru Yuexin.
"Hahahahaha! Dasar bodoh! Ibu sudah bisa mendengar suara kita, sejak kita lahir ke dunia ini! Ruang ajaib Universal Ibu, terhubung dengan sistem informasi Universal milik kita, tahu?!" sahut Minye sambil tertawa.
Yuexin menyipitkan matanya ...
"Apakah sistem informasi milik kita ini adalah buatan Ibu? Kok bisa nyambung?" tanya Yuexin.
"Sepertinya begitu ..." sahut Mingye.
Anlian melirik ke arah mereka dengan tatapan mengancam.
"Jika kalian tidak bisa diam, maka jatah susu kalian akan Ibu kurangi malam ini ..." ujar Anlian dengan suara rendah.
Mingye dan Yuexin langsung panik, itu adalah susu ajaib buatan Ibunya dan rasanya sangat lezat!
Jika dikurangi, maka asupan energi untuk memperkuat sistem mereka pun berkurang, dan mereka tidak ingin itu.
"Maafkan kami, Bu! Kami diam sekarang! Kami hanya bercanda ..."
♨
Tidak lama kemudian, terdengar sura ketukan pelan dari arah luar pintu kamar Anlian.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Nyonya ... Ada Utusan dari Istana. Mereka ingin bertemu Anda," ujar Yaoyao dari arah luar.
"Masuk, Yaoyao!"
Ceklek!
"Utusan dari Istana lagi? Untuk apa mereka datang lagi? Apakah pekerjaan di dalam Istana lagi tidak sibuk, sampai-sampai terlalu sering mengutus utusannya datang ke dalam Kediaman ini?" tanya Anlian sambil memakai jubah luarnya.
"Saya tidak tahu, Nyonya. Tuan Shen sedang berada diluar kediaman soalnya ..."
"Baiklah, ayo kita temui mereka! Bawa kedua anakku kesana, mungkin mereka bisanya dikamar terus ..."
"Baik, Nyonya ..."
Yaoyao dan seorang pelayan perempuan langsung menggendong kedua bayi itu, dan mereka berjalan bersama menuju Aula utama.
♨
Di dalam Aula utama, terlihat seorang Kasim Istana yang sedang duduk menikmati teh, sambil menundukkan kepalanya.
Mendengar suara langkah kaki yang mendekat, dia mengangkat kepalanya dan langsung membungkuk hormat kearah Anlian.
"Salam, Nyonya Tabib Ajaib ..."
"Silahkan duduk, Kasim. Ada keperluan apa?" tanya Anlian.
Kasim itu menyerahkan sebuah undangan ke tangan Yaoyao, agar diberikan kepada Anlian.
"Apa ini?" tanya Anlian.
"Itu adalah undangan pribadi dari Yang Mulia Putra Mahkota untuk Nyonya Tabib ..." jawab Kasim itu.
Anlian membuka undangan itu, lalu dia membacanya perlahan.
*Saya mengundang Tabib Anlian secara pribadi, agar bisa bertemu di Paviliun Bambu Giok tujuh hari dari sekarang, untuk berbincang.*
Setelah membaca undangan itu, Anlian langsung terdiam.
Kasim itu langsung pamit, setelah Yaoyao memberikan sebuah amplop merah ke tangannya.
"Tuh, aku bilang juga apa? Analisaku memang sangat tepat sekali!" ujar Mingye dalam benaknya.
"Yeah! Pertarungan mencari sekutu dimulai! Hahahaha ... pasti akan seru sekali!" sahut Yuexin sambil tertawa.
Shen Luo baru masuk ke dalam kediaman, dan dia melihat wajah murung Anlian.
"Ada apa, Nyonya? Kenapa wajahmu murung begitu?" tanya Shen Luo.
Yaoyao menuangkan teh herbal ke dalam dua buah cangkir, dan langsung memberikannya kepada Anlian dan Shen Luo.
Anlian memberikan undangan itu kepada Shen Luo, agar dia membacanya.
"Kamu tidak wajib datang, jika kamu tidak ingin datang ..." ujar Shen Luo setelah membacanya.
"Aku tahu itu, Tuan Shen. Namun, jika aku tidak datang, dia pasti akan tetap mencari cara untuk bertemu denganku di kemudian hari ... Dan itu akan mengganggu ketenanganku ..." sahut Anlian.
"Tapi ini sangat berbahaya, Nyonya ..." ujar Shen Luo.
"Aku paham itu ..." sahut Anlian.
"Yang Mulia Kaisar masih hidup dan sehat, Putra Mahkota sudah mulai gelisah mencari para pendukungnya! Tidak baik untuk ketenangan kita ..." ujar Shen Luo.
Anlian tersenyum tipis, saat mendengar kekhawatiran Shen Luo.
"Posisi Kaisar tidak seaman yang terlihat dipermukaan ... Jangan khawatir, Tuan Shen... Aku punya rencana ..."
♨
Malam itu, Anlian duduk di tepi ranjang bayi, sambi menepuk lembut perut Mingye dan Yuexin.
"Hey, kalian ... Bagaimana pendapat kalian tentang undangan ini?" tanya Anlian dengan suara rendah.
Mingye dan Yuexin membeliakkan kedua matanya yang indah sambil tersenyum ke arah Anlian.
"Menurut aku, Ibu terima saja undangan itu dan dengarkan ocehan dia dulu. Keputusan itu ada ditangan Ibu semua, jadi jangan ragu .." ujar Yuexin sambil memainkan jemari kakinya.
"Aku setuju dengan adik, dengarkan dulu rencana dia apa, namun Ibu tidak boleh menjanjikan apa-apa kepadanya ..." sahut Mingye dengan wajah serius.
Anlian merasa malu pada dirinya sendiri, saat dia meminta pendapat dari para bayi usia lima bulan itu.
"Apakah ada alasan tersendiri, sampai kalian berpendapat seperti itu, hm?" tanya Anlian.
Kali ini, Mingye yang menjawab terlebih dahulu.
"Menurut sistem informasi, Putra Mahkota itu membutuhkan 'Legitimasi' dari Ibu. Ibu adalah seorang Tabib Ajaib yang dipercaya oleh Kaisar dan dicintai oleh rakyat, dan yang terpenting adalah karena sikap Ibu yang 'netral' dan adil ..." jawab Mingye sambil menganalisa semuanya di layar hologram miliknya.
"Singkat cerita, Ibu adalah sebuah 'Aset Emas' bagi Dinasti ini, yang bisa membuat rakyat serta pejabat berdiri dipihak Ibu dengan mudah!" sahut Yuexin.
Anlian merasa sedikit tertekan ...
Dia tidak ingin menjadi 'boneka' politik, oke?
Dia terlahir kembali untuk hidup nyaman dan aman, bukan terlibat berbagai intrik politik seperti ini.
Sepertinya, kehidupan keduanya juga tidak lepas dari lingkungan 'Kekuasaan dan Pejabat', dan dia harus siap menerima keadaan ini, demi ambisi dan kehidupan anak-anaknya kelak.
"Bagaimana jika Ibu menolaknya?" tanya Anlian.
"Bah! Walau ditolak, dia tidak akan berhenti untuk mencobanya kembali, Bu! Politik itu seperti lintah, yang akan menghisap kedamaian hidup nyaman kita!" seru Yuexin sambil menyemburkan air liurnya.
"Bedanya, lintah yang satu ini sangat sopan dan selalu tersenyum ramah ... Bah! Bah! Bah!" sahut Mingye dengan wajah mengerut kesal.
Anlian terkikik mendengar ucapan kedua bayi itu dalam benaknya.
Bagaimana jika mereka sudah bisa bicara nanti?
Yang pasti, dunia Anlian akan sangat berwarna.
"Baiklah, Ibu akan datang menghadapinya bersama kalian, oke?"
"Oke ... oke!"
♨
Seminggu kemudian-Paviliun Bambu Giok ...
Paviliun Bambu Giok adalah sebuah Paviiun tenang, yang dikelilingi oleh ratusan bambu hijau dan sebuah kolam ikan koi berwarna emas.
Putra Mahkota Zhang Liang terlihat berdiri sendirian di sana, mengenakan hanfu sederhana warna putih corak emas, tanpa memakai atribut yang berlebihan.
Anlian datang bersama Shen Luo dan kedua bayinya, dia memakai hanfu hitam bercorak emas yang elegan.
"Salam kepada Yang Mulia Putra Mahkota ... Maaf sudah membuat Anda menunggu lama ..." ujar Anlian memberi salam.
"Tidak perlu formalitas berlebihan, Tabib Anlian. Silahkan duduk ..." jawab Zhang Liang dengan senyuman ramah.
Setelah mereka duduk berhadapan, Putra Mahkota menuangkan teh untuk keluarga Anlian.
"Saya akan bicara langsung ke intinya, Tabib Anlian ..." ujar Zhang Liang.
"Silahkan, Yang Mulia ..."
"Saya ingin Anda menjadi pendukung saya ..." ujar Zhang Liang dengan nada mantap.
Anlian menyesap tehnya perlahan, lalu dia mengangkat alisnya.
"Mendukung Anda dalam hal apa?" tanya Anlian.
"Dalam perebutan takhta Kekaisaran selanjutnya," jawab Zhang Liang.
Suasana menjadi hening sejenak, Anlian memainkan jemarinya diatas cangkir teh tersebut.
Lalu, dia mendengar suara susu dalam benaknya.
"Wow, Bulls Eyes! Langsung dan tepat sasaran! Hahahaha! Tidak berbelit-belit dan sangat efisien!" seru Yuexin sambil tertawa.
"Orang ini terlalu berani melangkah, akan sangat merepotkan di masa depan ..." ujar Mingye, menganalisa.
Anlian kembali menatap ke arah Putra Mahkota dengan tajam.
"Langkah yang cukup berani sekali! Apakah ada alasannya?" ujar Anlian sambil menyeringai tipis.
Putra Mahkota Zhang Liang menatap ke arah kolam ikan Koi, pandangannya menerawang jauh.
"Ayahanda Kaisar terlihat semakin tua, dan Istana mulai terpecah. Para Pangeran yang lain sudah bergerak dibalik layar ..." jawab Zhang Liang dengan nada sendu.
"Itu adalah urusan internal Istana, tidak ada hubungannya dengan saya ..." ujar Anlian.
"Anda sangat benar ... namun, jika salah satu dari mereka naik takhta, maka Dinasti Zhang ini akan hancur ditangan mereka ..." sahut Zhang Liang.
Setelah itu, Putra Mahkota Zhang Liang menghela napas berat.
Seolah-olah ada sebuah beban berat yang menghimpit jantungnya.
"Saya tidak minta macam-macam dari Anda, hanya memerlukan keberadaan Anda yang berdiri disisi saya sebagai pendukung terkuat ..." ujar Zhang Liang.
Anlian menyandarkan bahunya ke arah belakang, sambil menepuk-nepuk bokong Yuexin.
"Sebagai apa?" tanya Anlian.
"Sebagai Tabib Agung Kekaisaran dan simbol stabilitas, karena Anda adalah satu-satunya Tabib wanita yang dipercaya oleh berbagai kalangan masyarakat," jawab Zhang Liang.
Anlian tersenyum tipis saat mendengarnya.
"Bagaimana dengan kompensasi yang akan Anda berikan kepada saya?" tanya Anlian.
Putra Mahkota Zhang Liang menatap lurus ke arah Anlian.
"Saya akan memberikan wilayah Selatan untuk Anda miliki, tanpa adanya campur tangan Istana Kekaisaran. Saya juga akan menuliskan dekrit yang disertai stempel sah Istana, agar Anda percaya ..." jawab Zhang Liang dengan nada mantap.
Anlian dan Shen luo saling tatap, ini memang wilayah yang dia inginkan untuk perkembangan anak-anaknya kelak.
"Bagaimana dengan keselamatan anak-anakku nanti?" tanya Anlian.
Walau dia punya Ashura Neraka dibelakangnya, Anlian tetap khawatir akan keselamatan anak-anaknya, sebelum mereka dewasa.
Bukan racun ataupun pembunuh yang dia takuti, tapi sekarang ... dia sangat takut kehilangan kedua anaknya ini.
"Mereka akan selalu.aman dibawah penjaga bayangan milik saya ..." jawab Zhang Liang.
Anlian terkekeh ringan ...
"Sebenarnya, saya bukan tipe wanita yang mudah percaya dengan omongan saja ... Semua harus disertai bukti dan saksi, agar terasa lebih nyata ..." ujar Anlian.
"Saya tidak akan mengingkari janji ..." ujar Zhang Liang.
"Janji manusia semuanya rapuh ... Mereka akan lupa dengan janji, saat sudah mencapai tujuannya!" sahut Anlian.
"Saya tidak akan seperti itu ..." ujar Zhang Liang.
Anlian langsung berdiri dari kursinya.
"Saya lelah berbasa-basi! Intinya, saya tidak ingin menjadi 'Pion' Anda, Yang Mulia ..." ujar Anlian pada akhirnya.
Putra Mahkota Zhang Liang juga berdiri dari kursinya.
"Saya tidak berniat untuk menjadikan Anda pion saya, Tabib Anlian!" sahut Zhang Liang dengan nada tegas.
Anlian menatap rerimbunan pohon bambu yang terlihat cantik dan menenangkan pikirannya.
"Tujuan saya adalah hidup damai bersama keluarga saya dan menolong rakyat yang membutuhkan pengobatan. Tidak ada niat untuk ikut campur dalam urusan Istana. Namun, saya hanya bisa mengatakan satu hal kepada Anda ..." ujar Anlian.
"Apa itu?" tanya Zhang Liang.
"Jika Dinasti ini diambang kehancuran karena kebodohan penguasanya, maka saya akan berpihak kepada orang yang menyelamatkan, demi masa depan anak-anak saya ..." jawab Anlian dengan nada tegas.
"Wow! Jawaban Ibuku sangat keren sekali!" seru Yuexin dengan mata berbinar.
"Ibuku memang yang terbaik!" timpal Mingye.
Putra MahkotaZhang Liang tersenyum, lalu dia membungkuk ke arah Anlian.
"Terima kasih, Tabib Anlian ... Itu saja sudah lebih dari cukup."
♨
Dalam perjalanan kembali menuju kediaman, Shen Luo menatap ke arah Anlian.
"Apakah kamu baru saja menyetujuinya?" tanya Shen Luo.
"Tidak ..."
"Tapi, kamu juga tidak menolaknya ..."
Anlian tersenyum sambil melirik kedua bayi mungilnya.
"Kamu tenang saja ..."
"Jika dunia ini ingin bermain dengan kekuasaan ..."
"Maka biarkan Ibu dan kedua bayi imutnya ini ikut bermain di dalamnya dengan cara 'Maju sepuluh langkah ke depan' agar mereka paham, jika aku bukanlah orang yang bisa dipermainkan!"
♨♨♨
Note: Percakapan hati kedua bayi, aku pakai tulisan miring ya gaess ... repot ngetik kurung buka dan kurung tutup soalnya ...😁🙏🏻💖