Pertemanan dua keluarga tidak menjadikan Allegri dan Allegra akrab. Sejak kecil keduanya selalu berdebat dan membuat Allegra sebagai gadis mungil yang memiliki tubuh berisi menangis karena bullying yang di lakukan Allegri.
Allegra selalu memeluk Monica, mengadu pada wanita yang sudah ia anggap sebagai ibu kedua baginya setelah Giana.
Beberapa tahun berlalu keduanya telah dewasa. Kini Allegri menjadi pimpinan rumah yang di dirikan orang tuanya. Laki-laki tampan itu menjadi pemimpin yang terkenal dingin dan berdedikasi tinggi terhadap aturan yang telah ia tetapkan.
Allegra tidak bisa menolak ketika kedua orangtuanya Valentino dan Giana , meminta ia melanjutkan bekerja untuk mengabdikan diri dirumah sakit yang kini di pimpin Allegri.
Bagaimana saat keduanya menjadi rekan kerja? Apakah keduanya masih saling membenci?
Ikuti sekuel TERJEBAK CINTA MAFIA ini ya. Anak Monica-Luigi & Valentino-Giana. Semoga kalian suka.
Jangan lupa interaksi kalian di setiap bab, agar novel ini bisa berk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
UNGKAPAN PERASAAN ALLEGRI
"A-pa maksud mu memanggilku sayang?". Gadis itu memberanikan diri membalas tatapan intens manik hitam Allegri yang begitu dekat dengannya.
"Aku mendengar semua ucapan mu semalam Al. Aku sama sekali belum tidur. Apa maksud mu, aku membuat mu kecewa dan kau mengejar ku ke bandara supaya aku membatalkan penerbangan ku beberapa tahun yang lalu, Al?".
"Ya kau benar sekali, headset hanya alasanku saja. Sebenarnya aku ingin mendengar penjelasan mu, sekarang Al", ucap Allegra dengan kedua mata berkaca-kaca dan bibir bergetar ketika mengungkapkan apa yang ia rasakan saat ini di hadapan langsung Allegri.
Terdengar hembusan nafas Allegri. Laki-laki itu membalikkan badannya dengan dua tangan ia masukan ke dalam saku celana. Allegri berdiri di belakang jendela kaca, menatap jauh ke depan.
"Karena aku mencintai mu Allegra. Sejak lama aku memendam perasaan ini untuk mu. Menunggu mu dewasa dan memahami perasaan cinta. Tapi kamu memilih menjauh–"
Mendengar itu membuat tangan Alle spontan bertumpu pada meja kerja. Bulir-bulir bening menyentuh wajah gadis itu dengan sendirinya.
"Kamu jahat Al. Kamu tega membiarkan otakku berpikir buruk tentang mu selama ini, bahkan sangat membenci mu. Namun ketika pulang, aku merasa kau sangat berbeda...kau perhatian pada ku–"
"Karena aku sangat merindukan mu, Alle. Aku sangat merindukan gadis kecil yang selalu menangis ketika aku jahil padanya. Aku sangat merindukan tingkah menggemaskan gadis itu saat ia kesal dan marah pada ku".
"Kamu tidak tahu, aku begitu bahagia ketika mendengar mu memutuskan kembali".
Allegri kembali menghampiri gadis itu. Sesaat keduanya bertatapan.
Detik selanjutnya, menghambur berpelukan mesra dengan erat.
Bertubi-tubi Allegri mencium kening Alle. "Aku sangat mencintaimu Allegra. Jangan pernah lagi pergi dari ku, sayang", ucapnya dengan perasaan mendalam.
Alle mengeratkan pelukannya pada tubuh atletis Allegri. Perlahan mengangkat wajahnya, menatap laki-laki itu. Menjijit mengimbangi tubuh Allegri yang tinggi. Mencium bibir laki-laki itu atas keinginan sendiri.
Tentu saja tindakan Alle tidak ditolak laki-laki itu. Malah sebaliknya membalas ciuman panas Allegra.
Kini kedua tangan gadis itu melingkar pada leher Allegri. Al tidak menyia-nyiakan kesempatan, laki-laki itu mengangkat pinggang Allegra. Mendudukkan gadis itu di atas meja kerja.
Posisi seperti itu membuat keduanya leluasa berciuman mesra. Saling bertukar saliva. Seakan melepaskan rindu yang terpendam bertahun lamanya.
Allegri tidak butuh jawaban Alle atas ungkapan perasaannya. Ia pria dewasa, tentu sudah tahu dari balasan sentuhan gadis itu.
Cukup lama keduanya berciuman mesra. Allegra menghentikannya.
"Al...A-ku butuh oksigen, aku sesak", ucapnya.
Netra hitam Allegri menatap intens bibir Allegra yang membengkak ulahnya. Ibu jarinya mengusap lembut bibir gadis itu.
"Aku akan memeriksa jantung mu", bisik Allegri di telinga Alle dengan intonasi begitu mengoda. Menggigit lembut telinga Allegra. Jemari tangan laki-laki itu membuka satu persatu kancing kemeja yang membalut tubuh seksi Allegra.
Ucapan Allegri, membuat Alle tertawa manja sambil menengadahkan wajahnya menahan sensasi panas tubuhnya seperti di aliri listrik bertegangan tinggi. "Ternyata kau perayu ulung, Al..."
Namun pekerjaan Allegri harus terhenti karena ada yang mengetuk pintu. "Shitt. Itu pasti Guiliano dan orang yang akan membantu mu memindahkan furniture".
Kedua mata Allegra melotot. Gadis itu spontan berlari ke kamar mandi. Tentu saja ia tidak mau ada yang melihatnya berantakan seperti itu.
...***...
To be continue