Apakah kamu percaya cerita Cinderella?
Amina Arafat hanyalah seorang gadis yatim piatu, imigran dari Palestina dan tinggal bersama paman bibinya serta sepupunya di Brussels Belgia. Amina memiliki wajah cantik yang khas, membuat Akira Léopold, putra mahkota kerajaan Belgia, jatuh cinta pada pandangan pertama.
Amina yang merasa tidak pantas bersanding dengan seorang pangeran dan putra mahkota, mencoba menjauh dari Akira tapi dia salah. Akira adalah keturunan Léopold yang tidak akan menyerah begitu saja demi mendapatkan wanita yang sudah mencuri hatinya sejak bangku sekolah.
Generasi 8 klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amina Terkejut
Amina benar-benar merasa dimanjakan selama di Italia bersama Akira. Liburan mereka pun selesai dan ketiganya kembali ke Zürich. Akira dan Amina pun mulai mengepak barang yang hendak dibawa ke Brussels. Entah Amina malas punya banyak barang, ternyata kardus-kardus yang dipakai untuk menyimpan barang-barang gadis itu, tidak banyak.
"Kamu dua tahun disini ... Nggak ada barang-barang penting? Hanya buku-buku?" gumam Akira bingung. "Biasanya cewek itu punya banyak pernak pernik tapi kenapa punya kamu cuma simpel begini?"
"Biar kalau kita pulang ke Brussels praktis, Akira. Biaya pengiriman juga tidak banyak kan?" jawab Amina.
"Lalu, alat-alat dapur ini?" Akira menunjuk ke dus berisikan peralatan dapur.
"Aku jual lah ke toko loak ... Setidaknya, masih berguna buat orang lain. Aku ada apartemen di Brussels yang peralatan dapurnya lengkap. Jadi buat apa dobel-dobel kan?" jawab Amina sambil mengepak kardus itu.
"My prince, kami itu hanya ada empat piring makan dan empat gelas plus beberapa peralatan makan lainnya. Super sedikit dan super irit," sahut Bea.
"Begitu ya. Entah kalian malas punya barang banyak atau memang pelit!" gerutu Akira membuat Amina dan Bea tertawa.
"Anggap saja kita pelit, Akira," gelak Amina.
"Ya sudah. Mana saja yang mau kalian jual di pasar loak?" tanya Akira.
***
Setelah membersihkan apartemen yang jadi rumahnya selama dua tahun, Amina mengembalikan kunci ke pemilik apartemen. Pria itu terkejut saat tahu dua gadis yang berada disana, salah satunya kekasih pangeran Belgia.
Akira menemani Amina mengirimkan semua paket-paket berisikan buku dan barang-barang lain lewat perusahaan ekspedisi. Ketiganya pun kembali ke Brussels dengan mobil Akira. Perjalanan dari Zürich Swiss ke Brussels Belgia membutuhkan waktu sekitar tujuh jam.
"Kita jalan terus atau mau menginap di negara mana gitu?" tawar Akira.
"Langsung terus saja Akira. Kamu pasti malas lanjut kalau berhenti di banyak tempat." Amina menoleh ke arah Akira yang sedang memakai kacamata hitam.
"Kalau My Prince capek, biar aku yang nyetir," tawar Bea.
"Ya sudah. Bea, kamu yang nyetir. Nanti gantian!" senyum Akira.
Pria itu lalu membuka pintu belakang dan mempersilahkan Amina masuk.
Bea hanya menghela nafas panjang. Setidaknya aku tidak usah melihat pemandangan uwu-uwu di depan mata. Aku bisa konsentrasi nyetir saja.
Akira pun masuk ke kursi belakang dan Bea pun duduk di kursi pengemudi. Gadis itu lalu menyetir mobil Akira menuju tol ke arah Belgia.
***
"Apa kepala sekolah sudah memberikan informasi soal kapan kamu mulai mengajar?" tanya Akira sambil mengelus tangan Amina.
"Sudah. Ini kan sudah selesai semester ganjil. Tahun ajaran baru dimulai, aku mulai mengajar lagi."
Akira mengangguk. "Tapi kalau ada acara istana, kamu harus ikut."
Amina terkejut namun dia berusaha tenang. Amina teringat ucapan Sakura Park Moretti, Leona Accardi dan Daisy Mancini yang mendukung dirinya bersama Akira.
"Apakah acaranya macam makan malam atau pesta dengan para anggota kerajaan?" tanya Amina berusaha untuk tidak berdebar-debar.
"Bisa begitu dan nonton balet," senyum Akira. "Kamu suka balet kan?"
Amina tampak berbinar matanya karena dia sangat suka balet. Sayangnya waktu kecil dia dianggap tidak bisa menari karena badannya kaku seperti papan oleh guru tarinya. Pamannya memilih menarik Amina dari sanggar balet itu karena tidak mau keponakannya selalu kena bully oleh gurunya sendiri.
Siapapun tahu balet adalah dunia yang levelnya berbeda. Jika bisa menjadi prima balerina, akan mendapatkan banyak popularitas dan sponsor. Pamannya agak bersyukur Amina tidak punya bakat karena dia tidak mau keponakannya mendapatkan banyak bullying.
"Bagaimana kamu tahu aku suka balet?" tanya Amina bingung.
"Aku bertanya pada pamanmu," jawab Akira terus terang.
"Apalagi yang paman Jalil ceritakan padamu?" tanya Amina penasaran bagaimana Akira bisa mengorek cerita tentang dirinya.
"Bahwa kamu pernah masuk sekolah balet tapi dibilang tidak punya bakat karena kaku. Jadi pamanmu menarik dari sekolah itu karena tidak mau kamu kena bully oleh guru tarinya," jawab Akira.
"Paman Jalil terlalu ember," gumam Amina.
"Tidak masalah karena aku jadi tahu kesukaan kamu yang lain bukan?" senyum Akira.
"Itu namanya curang, Akira! Kamu tidak mencari tahu sendiri soal aku!"
"Hei, itu namanya juga mencari tahu kamu dengan caraku sendiri! Siapa lagi yang tahu soal kamu kalau bukan anggota keluarga kamu sendiri bukan? Lagipula, aku suka kok tahu kesukaan kamu. Interest yang sederhana."
"Akira, aku juga punya ketertarikan pada perhiasan ...."
"Wajar. Cewek mana yang tidak suka dengan perhiasan bukan?" potong Akira.
"Iya sih."
"Mina ... Apakah kamu tahu ... Bahwa Omaku mengirimkan uang setiap bulan ke Bea untuk biaya hidup kalian?" ucap Akira.
Mata hijau Amina terbelalak. "Queen Mother mengirimkan uang ke aku dan Bea? Bukannya Bea bekerja di mini market? Aku juga bekerja? Bea selalu memberitahukan catatan keuangan kami."
"Benar. Tapi ... kalian membayar uang sewa apartemen bukan? Plus kalian hidupnya sangat irit. Uang dari Oma, memang disimpan Bea sebagai dana darurat kalau kalian ada apa-apa tapi Bea harus ke Jerman untuk belanja! Dia mengawal kamu terus. Masa kamu tidak tahu Bea punya uang dari mana? Gaji kamu memang hanya cukup bayar apartemen dan biaya hidup di Swiss sangat tinggi. Paman dan bibi kamu juga mengirim secukupnya."
"Tapi Akira ... Aku sungguh tidak tahu." Amina terdiam saat teringat Bea menawari berbelanja di Zürich saja daripada ke Jerman. Amina ingat Bea menabung hasil kerjanya — yang katanya gajinya — lalu mereka belanja cukup banyak tapi pengawalnya bilang tidak apa-apa.
Amina menoleh cepat ke Bea. "Apakah itu uang dari Queen Mother?"
"I ...iya nona Amina. Queen Mother tidak mau kita kekurangan karena tahu biaya disini mahal ... Jadi saya memakai uang yang dikirim," jawab Bea tidak enak. "Perintah Queen Mother, nona Amina."
Amina hanya memejamkan matanya. "Akira ...."
"Ya?"
"Aku merasa jadi anak manja yang tidak berguna karena seperti terus dibantu ...." Amina hanya bisa menghela nafas panjang karena tidak menyangka semua orang bersekongkol membantu dirinya padahal dia bukanlah siapa-siapa.
"Aku tidak tahu jika Oma mengirimkan sesuatu lewat Bea. Aku baru tahu juga akhir-akhir ini," jawab Akira.
"Kamu tidak berbohong?" Amina menatap Akira dengan tatapan menyelidik.
"Aku tidak berbohong, Mina. Daddy selalu bilang dengan pasangan harus jujur dan lebih baik dia mendengar langsung dari kita karena kejujuran antara pasangan itu membuat jalannya lebih enak, Mina."
***
Yuhuuuu up malam Yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
prince Akira seperti pria-pria keturunan Pratomo lainnya
coba kalo nggak pasti bukan hanya para sesepuh yang masih hidup, tapi Kanjeng Raden Ayu The God Mother dari dunia arwah terlebih Kanjeng Raden Mas Haryo Pratomo akan turun tangan
memang sih orang tuanya berjasa buat kamu tapi si hikmah nggak bisa menempatkan diri