Ini Kisah Essa dan Alex, adik dari Sera dan Darren di novel Godaan Cinta Ibu Susu
~~
Tidak Pernah Menyangka, diusia matangnya Alex, akan menikahi gadis kecil yang selalu membuatnya kesal siapa lagi jika bukan adik ipar bosnya. Karena satu insiden memaksa mereka untuk menikah.
Vanessa tidak mau menikah diusia muda apalagi dengan laki-laki menyebalkan seperti Alex, tapi karena satu insiden memaksanya untuk menerima lamaran itu.
BAGAIMANA KISAH MEREKA YANG TIDAK PERNAH AKUR? AKANKAH BENIH-BENIH CINTA TUMBUH DIANTARANYA?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini ratna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelayanan Pertama
"Alex, kamu tahu aku, kan. Jika keinginan ku satu tetaplah satu siapapun tidak akan ada yang bisa menghentikan ku termasuk mendapatkan kamu kembali Alex. Aku tidak peduli kamu sudah menikah atau belum, aku tetap akan kembali padamu dan kamu akan menjadi milikku."
Mendengar kata-kata itu membuat hati Essa yang dilanda asmara menjadi berapi. Amarahnya terbakar hingga ia tidak bisa diam lagi, Essa membuka pintu dan keluar. Alex, yang berdiri di depan pintu itu pun terkejut, Essa tiba-tiba muncul dan melewatinya.
"Hei j4lang!"
Alex tersentak. Essa baru saja bilang apa?
"J4lang ...," geram Heyra mengepal tangannya kuat. Heyra, bangkit dari lantai berdiri yang siap menghadapi dunia. Essa, menatapnya tajam sambil berdiri melipat kedua tangannya di bawah dada.
"Essa, apa yang kamu lakukan. Masuklah ini urusanku," bisik Alex. Essa, menurunkan tangan Alex yang menggenggamnya, menatapnya penuh kekecewaan karena Alex, malah memintanya pergi.
"Tenang Om, aku tidak akan cari gara-gara. Aku hanya ingin memberi sedikit pelajaran."
Essa akhirnya menjauh dari Alex, berjalan ke arah Heyra yang menatapnya penuh amarah.
"Kau bilang apa tadi? J4lang. Kau tidak tahu siapa aku."
"Tentu. Kamu adalah wanita yang berusaha mendekati suamiku. Aku tidak habis pikir kenapa semua orang menyukaimu, termasuk temanku jadi aku sangat marah padamu." Kata Essa dengan gagah berani.
"Aku hanya ingin memperingatkan kamu, ya. Jangan ganggu suamiku mengerti. Kamu, kan artis terkenal kenapa tidak cari saja lelaki lain, yang lebih kaya, tampan, kan banyak. Kenapa harus suamiku."
Heyra tersenyum sinis. Ia mendongak menatap Essa dengan tatapan membunuh.
"Hei, bocah. Sebelum Alex mengenalmu dia lebih dulu mengenalku. Cintanya Alex hanya untukku, jadi ... aku yakin Alex pasti kembali padaku."
"Perasaan bisa berubah kapan saja. Aku awalnya tidak menyukainya tapi sekarang kami saling suka."
"Jangan terlalu berharap, bisa saja Alex menjadikanmu sebagai pelarian," bisik Heyra tapi menusuk.
Pelarian—kenapa Essa tidak memikirkan hal itu. Apa benar Alex hanya menganggapnya sebagai pelarian. Essa pun tertegun perkataan Heyra membuat pikirannya kacau. Tapi, Essa bukanlah gadis yang mudah percaya perkataan orang lain, dia percaya Alex karena selama pernikahannya pria itu tidak pernah melanggar janjinya. Alex belum menyentuhnya sama sekali dan Essa percaya jika Alex tidak menjadikannya pelarian.
"Bagaimana jika kita buktikan siapa yang paling Alex cintai. Aku atau kamu," tantang Heyra semakin membuat dada Essa semakin panas.
"Ok. Aku terima tantanganmu. Jika aku yang dicintainya maka kamu harus pergi nona Heyra, yang tengil sombongnya minta ampun. Seandainya penggemarmu tahu kamu itu penggoda suami orang mereka pasti membencimu."
"Ingat ya satu hal, aku bukan penggoda. Aku hanya ingin mendapatkan kekasihku kembali. Ingat itu gadis tengil."
Keduanya saling menatap tajam. Pergulatan sengit sepertinya akan segera dimulai. Alex, yang melihat kedua wanita di depannya berdebat langsung segera melerai. Ia menarik tangan Essa untuk membawanya masuk dan membiarkan Heyra, sendirian di sana.
Heyra cukup kesal karena Alex memilih pergi mengabaikannya.
***
"Essa, kenapa kamu menerima tantangannya. Apa aku ini sebuah barang yang harus diperebutkan."
"Om, hatiku panas," geramnya. "Terus aku harus diam saja ketika mantan pacarmu itu terang-terangan untuk merebut kembali kamu. Aku dengar semuanya, dia bilang dia akan membuatmu kembali padanya."
"Kamu khawatir?" tanya Alex, memiringkan wajah sambil menatap istrinya intens.
"Ya, jelas. Om bersamanya 3 tahun sedangkan bersamaku baru 3 bulan. Besar kemungkinan jika Om kembali kepadanya."
"Jangan sotoy. Kamu tidak tahu apa yang aku pikirkan dan rasakan. Hubungan tiga tahun, bahkan puluhan tahun bisa saja berubah. Cinta, rasa itu tidak selamanya ada. Ibuku bisa meninggalkan ayahku setelah 16 tahun pernikahan, apa aku tidak bisa berpaling dari Heyra karena hubungan tiga tahun."
Essa terdiam. Ia menatap Alex dalam diam.
"Apa cinta juga bisa hilang, jika salah satu di antara kita egois? Selama tiga bulan pernikahan aku tidak pernah menjalankan tugasku sebagai istri termasuk ...," tahan Essa. Ucapannya terhenti ketika merasa malu.
"Om, apa aku egois karena aku selalu melarangmu untuk menyentuhku. Apa keegoisanku ini bisa mengubah perasaanmu padaku?"
Entah, kenapa Essa merasa takut jika Alex akan meninggalkannya. Perasaannya mulai tumbuh, ia mulai menyukai pria yang baru tiga bulan menjadi suaminya itu.
"Essa, aku sudah bilang padamu, jika aku bukan tipe lelaki yang memaksa. Aku tidak pernah ada niat untuk meninggalkanmu, sekalipun kamu belum siap sampai pernikahan kita berjalan satu tahun. Karena tujuanku menikah bukan untuk itu."
"Aku tahu kamu masih belum terlalu dewasa yang dipaksa menikah dengan pria dewasa. Pikiranmu tidak labil tapi ... impianmu masih panjang. Kamu belum memikirkan tentang bagaimana berumah tangga, yang kamu pikirkan dan yang ada dalam pikiranmu adalah impian dan cita-cita."
Alex menghentikan sejenak pembicaraannya lalu menghela pelan nafasnya.
"Aku akan selalu mendukungmu. Kita tidak harus melakukannya sekarang, masih ada lain waktu. Jika kamu sudah siap barulah aku akan melakukannya." Alex, mengacak lembut rambut Essa sambil tersenyum. Senyum manisnya membuat hati Essa teduh.
"Sudah, jangan terlalu dipikirkan masalah ini. Pergilah ke kamar, dan bersihkan dirimu. Aku akan tunggu di luar setelah kamu selesai baru aku akan masuk," katanya yang kembali mengelus kepala Essa.
"Tunggu Om." Panggilan Essa menghentikan Alex yang hendak berbalik. Alex, berbalik ia kembali menatap Essa.
"Apa?" tanyanya demikian. Alex sedikit membungkukkan tubuhnya karena Essa terus saja menunduk.
"Essa," panggilnya dengan lembut. Essa mendongak, menatap mata Alex penuh ketakutan. Kedua tangannya meremas ujung bajunya, nafasnya ditarik sangat panjang seolah sedang merasakan beban.
"Om, apa selama ini kamu begitu tersiksa? Maaf, aku belum siap. Tapi ... apa bisa melakukannya dengan hal lain, apa aku tetap bisa menjadi istri yang baik tanpa melakukan itu. Aku hanya merasa bersalah," ucap Essa yang menunduk.
"Apa maksudmu Essa?" Alex semakin dibuat bingung.
Essa mendongak, matanya berkaca. Matanya terpejam bersamaan dengan aliran nafas yang naik turun. Sedetik tubuh pendeknya berjinjit, kedua tangan memegang erat bahu Alex, hingga setelah mendekat dan tidak berjarak Essa memajukan wajahnya.
Tubuh Alex menegang hingga meremang. Baru saja Essa mencium bibirnya. Belajar dari mana gadis itu, tapi yang jelas ia ingin belajar menjadi istri yang baik walau perlu waktu.
Essa melepaskan kecupannya, menarik diri dari tubuh Alex lantas berdiri santai tepat di hadapan pria itu.
"Aku akan berusaha tapi ... butuh waktu. Biarkan aku memulainya dari hal kecil, apa ciuman tadi bisa disebut jika aku melayanimu?
Alex tersenyum, bibirnya tersungging tipis, istrinya benar-benar polos. Tetapi ciuman itu sudah memancing h4sratnya.
Essa tersentak kala pinggangnya ditarik sangat dekat oleh Alex, salivanya mulai turun setiap kali menatap netra indah milik Alex.
"Om—"
"Aku akan menunggumu Essa. Kau ingin belajar dari awal maka aku akan menuntunmu."
Dengan lembut dan gerakan tiba-tiba, bibir Alex meraup bibir mungil tipis milik Essa. Benda kenyal yang selama ini menggoda pada akhirnya bisa ia dapatkan. Tanpa harus memaksa, Essa memberikan ciuman itu untuknya.
Pengalaman pertama sulit bagi Essa untuk mengimbangi. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika bibir keduanya saling bertukar saliva. Perlagan, mulutnya terbuka menyimbangi Alex yang kini telah memasuki lidahnya.
Mata Essa terpejam ketika sentuhan itu terasa n*kmat. Lidah Alex melilit, dan bibirnta menyesap pelan bibir ranum milinya. Essa, hanya diam seraya mengikuti arahan dari Alex.
Jika Essa belum siap, maka hanya dengan saling bertukar saliva itu sudah cukup bagi mereka. Alex dan Essa.
thour buat essa kuat gak mudah di tindas ma pelakor, buat jd essa wanita kuat.