- Berawal dari benci -
Akhh!
"Lo, kalau jalan pakai mata! "
"Maaf, kak "
"Ck, cewek gendut kaya lo mending pergi deh dari sini! "
" Baik ka! "
"Gendut amat sih! "
- berakhir di pelaminan -
"Apa nikah sama dia?, what! "
" Dewa bangun! "
" Akh, mama dewa ngga bisa nikah sama dia! "
" Harus bisa! "
- love 100 kg -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 19 Tuan es
Semua, mata terpaku oleh ketampanan dewa dan jangan lupakan seorang gadis. Berbobot besar yang berjalan dengan napas, tersengal yang berjalan di samping dewa. Semua mata di mall terpaku pada keduanya tak ayal, banyak netizen yang berkomentar bahkan tidak segan-segan. Menghina gadis tersebut dalam bentuk nyinyiran dan bisikan,
Aura, menundukkan kepalanya karena tidak sengaja menangkap beberapa nyinyiran dari. Orang-orang dewa, terhenti langkah nya ia sangat tahu apa yang sedang di hadapi gadis tersebut ia mengambil tangan aura membuat aura mendelik tidak percaya, Hawa panas langsung menjalar dari kaki hingga ke otaknya, detak jantungnya terasa sangat cepat kala tangan lembut tersebut menyentuhnya.
Dewa, mengayun langkah membuat mau tidak mau aura. Berjalan juga tatapan nya masih terkunci di tangan mereka berdua,
"Lo, itu anak keberapa kalau gue boleh tau? " Tanya dewa memecahkan kesunyian. Yang ada diantara meraka, aura mengerjap cepat berkerut dahi. Mendengar perkataan dewa yang tidak masuk ke akalnya, " Eh, sorry ka dewa bicara apa ya? " Tanya aura tergagap-gagap membuat dewa, berdecak sebal
"Selain, lo jelek lo juga lemot dan dongo ya! " Sarkas Dewa membuat aura. Menunduk dalam-dalam, kata-kata dewa menyakitkan hatinya namun entah kenapa perkataan judes itu. Mengalirkan hawa hangat yang pastinya bukan hawa kemarahan,
"Kenapa, kita ke tempat ice skating?" Tanya aura dengan suara tidak percaya. Saat dewa membeli tiket ice skating dan juga, membawa perlengkapan untuk main di lantai. Yang sudah membeku tersebut, dewa tidak menggubris ia membawa sang pacar ke arah bangku panjang yang memang di sediakan disana. "Lo tutup mulut, lo dan duduk! " Perintah dewa dengan dingin. Aura berdecak sebal " Nanya aja salah!, dasar ngga peka! " Cebik aura sembari menaruh bobot tubuh nya di bangku tersebut sampai menimbulkan bunyi, 'prang! ' membuat aura, menundukkan kepalanya malu,
Dewa, yang sudah selesai pakai sepatu dan beberapa pengaman untuknya. Main ice skating langsung menghampiri aura yang, bersusah payah untuk memakai sepatu tersebut. Ia berdecak sebal mengambil sepatu tersebut dan perlengkapan lainnya, dari tangan aura membuat aura berkerut dahi.
dewa, melengkung kan tubuh nya membuat aura segera memberhentikan niat lelaki tersebut. "Ka, lo mau ngapain sih? " Tanya aura gusar melihat dewa. Seperti ini membuat malu dia jadi pusat perhatian bukan pusat perbelanjaan ya! Hahaha, dewa mendongak lalu berkata "lo diam, atau lo ngga gue anter pulang nantinya! " Ancaman itu sukses. Membuat aura terdiam memperhatikan apa yang, dilakukan lelaki tersebut. Dewa dengan lembut membuka sepatu milik aura lalu, memakaikan nya sepatu khusus untuk main ice skating.
Dewa, kembali menegakkan punggung nya. Kala tugasnya telah selesai tugas memasangkan sepatu kepada aura, " Ka, kenapa lo lakuin ini? "Tanya aura memandang dengan rasa tidak percaya. Dewa menatapnya kesal lalu berkata, " Lo itu kaya tamu, ya nanya terus! Diam bisa ngga sih?. Lagian emang lo bisa pakai sepatu? Dengan tubuh lo kaya gitu?. Ck! " Dewa mencak-mencak. Perkataan dewa lagi-lagi membuat, hati aura tertusuk ia menundukan kepalanya dalam.
"Lo, tau ngga ka.. Perkataan lo itu kelewatan tauk! " Suaranya terdengar sedih, matanya seperti ada badai namun badainya tidak sekencang. Yang ada di hatinya dewa, langsung menoleh ke arah aura ia merasa bersalah karena telah. Menyakiti hati wanita tersebut, " So- sorry! , gue ngga sengaja bilang lo kaya gitu ra!.. Maafin gue ya! Gue kurang ajar kelewatan! " Suaranya penuh penyesalan. Aura menggeleng kan kepalanya, " Gue, seharusnya yang minta maaf karena kejadian itu. Lo terpaksa harus mempacari gadis jelek gendut kaya gue! " Tetesan air mata, yang paling dewa benci jatuh. Dari pelupuk mata gadis itu,
"Maafin, gue! Jangan nangis dong! " Bujuk dewa sembari berlutut tekuk di hadapan sang gadis. Ia menyeka air mata sang gadis, " Mending kita, main yuk! Jangan sedih!.. Gue ajak lo biar lo ngga sedih! "Setiap perkataan dewa membawa dampak yang besar untuk. Gadis berbobot besar tersebut, Ia mengangguk kan kepalanya lalu membiarkan dewa menuntun nya ke arah lantai yang membeku tersebut,
" Eh!, "
"Lo bisa! "
Aura, tersenyum seingatnya Dulu ia sering kesini waktu sama papanya. Saja habis itu tidak lagi, melihat gadis itu tersenyum membuat dewa tersenyum entah kenapa perasaan nya tenang, seperti ini