Arumi gadis yang sebelumnya sangat bahagia dengan keluarga kecilnya harus menelan pil pahit yang mana ia harus kehilangan suaminya.
Di tambah lagi dia harus menikah dengan pria yang membuat suaminya tiada karena hamil dengan pria itu
Akan kah pernikahan mereka bertahan lama, dan bagaimana kehidupan Arumi setelah menikah dengan kenan Dirgantara
happy reading 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Nawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 29
kegaduhan terjadi di kediaman Dirgantara Tiara dan Arsyad sudah berkeliling rumah tapi tidak menemukan Arumi dan Ayumi.
"Tuan, saya pak Ilham mau bicara," Tina datang setelah menanyakan pada pak Ilham apa dia melihat Arumi pergi dengan membawa Ayumi atau tidak.
"Ya, Tuan tadi pagi Nona pamit membawa Nona kecil dia bilang mau ke rumah temannya," terang pak Ilham.
"Lalu kau membiarkannya?" tanya Arsyad dan pak Ilham pun mengangguk walaupun saat ini ia kebingungan dengan situasinya.
"Pih, gimana ini Arumi dia pergi membawa pergi cucu kita," panik Tiara tubuhnya tiba-tiba lemas.
"Kita tunggu sampai malam jika dia tidak pulang kita baru lapor polisi meminta bantuan untuk mencari Arumi dan Ayumi," Arsyad menenangkan istrinya tapi Tiara malah semakin panik.
Semua asisten rumah tangga nya pun bingung harus mencari ke mana lagi karena seluruh ruangan di rumah itu tidak menemukan Arumi.
Suara mobil terparkir menghentikan ocehan Tiara pak Ilham buru-buru berjalan ke depan dan membukakan pintu.
"Tuan muda pulang nyonya," ujar Ilham Tiara semakin panik pasalnya Kenan tidak memberitahukan kepulangannya.
"Bagaimana ini pih pasti yang ia tanyakan istri dan anaknya. Arumi ... Kau selalu saja membuat keluarga ku berantakan," kesal Tiara.
"Apa nya yang berantakan, mih," tanya Kenan berjalan menghampiri nya ia meletakkan beberapa bag di meja ruang tamu itu.
"Gak kok, wah banyak sekali oleh-oleh nya," Tiara mengalihkan pembicaraan dengan mengambil satu persatu bag itu dan mengeluarkan isinya yang ternyata sebuah tas dan juga baju untuk Tiara dan Arsyad.
"Ini untuk adik ku dan ini ... Untuk kau Tina bagikan juga pada Nina ya," ujar Kenan memberikan beberapa hadiah untuk orang rumah.
Tina pun bergegas pergi begitu pun Ilham, tetapi langkahnya terhenti ketika Kenan memanggilnya,"Ya, Tuan ada apa?" tanya Tina.
"Tolong panggilkan Nina setelah kau memberikan bag itu pasti saat ini ia bersama putriku," titah Tina ia menatap Arsyad dan Tiara.
Karena Tina tidak menjawab Kenan menanyakan kembali Tiara menganggukkan kepalanya menyuruh Tina berkata 'ya' lalu ia pergi ke dapur.
"Baiklah, aku lelah sekali pih, aku ke kamar dulu ya," pamit Kenan lagi-lagi Arsyad hanya mengangguk pelan.
Kenan masuk kedalam ia tidak melihat siapapun di sana dia masih tidak merasa curiga lalu ia bergegas mandi membersihkan tubuhnya.
Hari sudah berganti malam setelah mandi Kenan tertidur saat ia bangun ternyata jam dinding sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan ia melewati makan malam nya.
Kenan mengedarkan pandangannya lagi-lagi ia tidak melihat anak dan istrinya,"Apa mereka di luar yah?" batin Kenan yang mulai merasa ada yang tidak beres.
Kenan berjalan ke dapur ia melihat Tina saja ia tidak melihat keberadaan Nina dan menanyakan nya pada Tina,"Itu ... Tuan, Nina ...,"
"Nina di mana?" tanya Kenan sekali lagi.
"Dia sudah kembali ke mansion, Tuan," terang Tina sedikit gugup.
"Oh, aku kira dia ke mana. Pantas saja aku tidak melihat Arumi dan Ayumi sekarang dia berada di mansion," pikir Kenan tanpa curiga dan Tina hanya diam ia kembali mencuci piring.
"Tuan, aku lupa tadi Tuan Arsyad dan Nyonya menyuruh anda ke ruangan kerjanya jika sudah bangun," ujar Tina tanpa menatap Arsyad fokus dengan cuci piring nya.
"Baiklah," Jawab Kenan.
Kenan berlalu pergi dirasa sudah agak jauh Tina berbalik menatap majikannya dengan tatapan sendu,"Kasihan Tuan, apa yang terjadi nanti jika dia tau istri dan anaknya sudah tidak ada di rumah," ujar Tina.
***
"Apa?! Papi sama mami pasti bohong!" pekik Kenan reflek berdiri ia mulai panik bercampur marah terkejut itu sudah pasti.
"Kalau kau tidak percaya coba tanyakan sama adik mu, Kenan. Dia juga memergoki Arumi beberapa kali bertemu dengan pria lain," tatapan Kenan beralih pada adiknya dengan tertunduk Riana mengiyakan.
"Lalu dia kemana sekarang? Ayumi ... Kenapa dia membawa putriku juga pergi," Kenan mulai frustasi ia sangat tidak menyangka jika Arumi membawa putri mereka.
"Kau tenang saja papi sudah melaporkan hal ini pada polisi besok kita ke sana lagi agar bisa tau perkembangannya," saran Arsyad.
Kenan hanya terdiam dengan tatapan kosongnya ia mengusap kasar wajahnya mulai merasa khawatir tentang keberadaan keduanya entah di mana mereka berdua sekarang.
"Kak," Riana menghampiri ingin memeluk sang kakak yang menangis tapi Kenan memberi isyarat lalu ia pergi begitu saja ke kamarnya
Sesampainya di kamar ia memeriksa seluruh isi dalam kamarnya, dari laci, lemari pakaian dan meja rias sang istri berharap ada petunjuk yang bisa membantu menemukan Arumi.
"Arumi, kau di mana? Kenapa kau tega melakukan ini padaku," sembari terus mencari ke setiap tempat akhirnya ia menemukan sebuah buku yang ternyata itu milik Arumi.
Padahal sebelumnya ia tidak pernah tau jika Arumi menulis buku itu karena ia menaruhnya sangat sembunyi sekali hingga tidak pernah terlihat oleh Kenan.
"Buku apa ini? Tapi tertulis nama Arumi. Sejak kapan dia menulis dairy seperti ini," Kenan duduk di kursi ia membuka halaman pertama dan sesuatu terjatuh dari dalam buku itu.
"Foto?" Kenan langsung membalik foto tersebut dan terpampang jelas itu adalah foto pernikahannya dengan Natan, tetapi ia tidak mengenali pria itu karena saat di rumah sakit wajah Natan banyak sekali luka dan hampir tidak jelas wajahnya karena luka akibat kecelakaan itu.
"Siapa ini? ... Tapi di sampingnya Arumi, apakah dia Natan?" Kenan mendekatkan foto tersebut meneliti dengan seksama wajah Natan karena di rasa mirip sekali dengan seseorang.
Namun, Kenan bingung dan masih mengingat jika dia pernah bertemu pria itu tapi dia tidak ingat sampai seketika ia menatap kembali foto tersebut dan mengingat nya,"Narendra ... Apa mungkin?" lirih Kenan.
***
Seorang pria sedang menatap foto ia ikut terkejut, pagi yang sangat mengejutkan begitulah kira-kira yang ada di dalam hatinya.
"Benar-benar mirip kok bisa?" seru Jimmy mendekat pada Kenan sambil menyodorkan foto itu pada Kenan. Kenan mengambil kembali foto itu menatapnya juga lalu pandangannya teralihkan ke arah jendela.
"Setau ku Narendra tidak mempunyai kakak atau pun adik, apa ini hanya kebetulan?" ujar Kenan ia terdiam sejenak dan berkata,"Apa Arumi bersamanya sekarang?"
Jimmy pun terdiam dan berpikir keras,"Jika memang iya apa alasan Arumi pergi bersama Narendra? Bukan kah dia sudah menikah dengan Helen?" terang Jimmy.
"Menikah? Dengan Narendra? Kapan?" cecar Kenang yang memang tidak pernah tau kabar dari Helen setelah Helen meminta maaf. Kenan jadi curiga saat ia menegur Arumi karena ia terus saja memandangi Narendra yang sudah pergi.
Di lanjutkan dengan saat Narendra pernah mengatakan jika Arumi Memang tertarik padanya membuat bukti itu semakin kuat jika istrinya saat ini bersama Narendra hanya karena pria itu mirip dengan Natan.
"Persis nya aku juga tidak tau karena pernikahan mereka sangat tertutup. Jangan tanya alasannya aku benar-benar tidak tau," Jimmy langsung meneruskan omongannya karena ekspresi Kenan seperti ingin bertanya kembali.
"Lalu sekarang kita harus bagaimana? Jika Arumi ingin bersama Narendra hanya karena ia sangat mirip dengan Natan. Mengapa dia harus membawa putri ku, Ayumi ... Ayah sangat Rindu nak,"
Terlihat sekali Kenan sangat merindukan putrinya. Jimmy merangkul sahabatnya itu kenapa hidupnya tidak terlepas dari sahabatnya yang satu itu. Baru saja selesai masalah sekarang Kenan harus berurusan lagi dengan Narendra.
"Kenan, bagaimana jika kita ke rumah orang tuanya Helen, jika memang Natan dan Narendra itu bersaudara berarti pernikahan Helen dan Narendra tidak sah karena mereka adalah saudara tiri. Bukan kah om Danu adalah ayah kandung Natan?" saran Jimmy.
"Kau benar juga, baiklah kita akan ke rumahnya saat jam makan siang," putus Kenan yang di anggukki Jimmy.
*
*
Bersambung.