Arumi gadis yang sebelumnya sangat bahagia dengan keluarga kecilnya harus menelan pil pahit yang mana ia harus kehilangan suaminya.
Di tambah lagi dia harus menikah dengan pria yang membuat suaminya tiada karena hamil dengan pria itu
Akan kah pernikahan mereka bertahan lama, dan bagaimana kehidupan Arumi setelah menikah dengan kenan Dirgantara
happy reading 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Nawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 35
"Di mana, Ayumi? Apa dia tidak sekolah hari ini?" tanya Kenan yang baru saja datang di meja makan lalu menarik kursi dan duduk.
"Mana ada tanggal merah sekolah yang buka," celetuk Tiara.
"Apa? tanggal?" Kenan meraih ponselnya ia melihat kalender yang Memang merah di angka 21.
Ponsel di letakkan kembali ia melepaskan jas nya. Hari pun sampai lupa karena memang pekerjaan sangat banyak akhir-akhir ini apalagi dia juga harus bolak balik ke rumah sakit melihat keadaan Arumi yang tak kunjung ada perubahan.
"Kau mau ke mana?" tanya Arsyad melihat Kenan yang ingin pergi.
"Ke rumah sakit kemana lagi?" sahut Kenan.
Tiara menghela napas panjangnya ia pun berdiri menghampiri putranya yang memperhatikan langkah sang mami yang kini sudah berada di hadapannya.
"Kenan, apa kau lupa jika kau punya Ayumi. Mami tau kau harus mengurus ibunya tapi Ayumi juga butuh perhatian Ayahnya. Mami menyuruh mu menikah lagi tapi kau tidak mau kasihan Ayumi yang seolah diabaikan oleh mu," terang Tiara yang kali ini menasehati sang putra karena lalai dengan putri satu-satunya.
"Aku mengerti, maaf jika aku sampai lupa dengan putri ku sendiri aku akan ke kamarnya," ujar Kenan ia melangkah menuju kamar Ayumi.
Sedangkan yang akan ditemui sedang sibuk dengan bonekanya serta mainan rumah rumahannya seolah Ayumi sedang memainkan boneka itu seperti nyata sambil bercerita dan juga bicara pada bonekanya.
"Ayumi ... Nenek kan cudah bilang kamu halus makan," ucap Ayumi menirukan suara neneknya memegangi boneka.
"Aku gak lapal mau na cama ayah aja makan na," Ayumi tidak memegang boneka ia berperan sebagai dirinya sendiri dan merajuk sendiri.
"Bial aonty aja yang cuapin Ayumi ya," Ayumi memegangi kembali boneka yang lainnya seolah itu Riana sang Tante.
Lalu ia melepaskan semua mainan nya lalu berdiri dengan bertolak pinggang,"Cudah aku bilang aku mau na di cuapin cama Ayah. Cama ibu ... Ehh," Arumi men jeda omongannya sejenak ia seperti orang dewasa yang sedang berpikir.
"Ibu? tapi ibu kan maci cakit," Ayumi duduk kembali ia menatap kedua bonekanya dan menatap semua mainannya.
"Gimana ya lacana main cama ibu di temenin ibu cambil di cuapin. Huaaaa ibu Ayumi mau ibu,hiks kapan ibu cembuh huaaa,"
Sambil menyeka air matanya Ayumi terus saja menangis tapi ia tetap mengusap air matanya walaupun tak kunjung habis.
Kenan yang sedari tadi memperhatikan putrinya tepat di belakang gadis kecil yang saat ini berumur 6 tahun itu juga ikut menangis. Bagaimana tidak Ayumi hanya bersama istrinya saat umurnya baru delapan bulan ia belum begitu mengenali wajah sang ibu hanya foto yang ada di kamarnya saat Arumi dan Kenan menggendong Ayumi yang kala itu baru berusia 6 bulan.
Tidak ingin larut dalam kesedihan ia pun melangkah masuk mendekat pada putrinya yang terkejut seketika menoleh.
"Sayang, putri Ayah," ucap Kenan dengan sangat lembut.
"Ayah ...," lirih Ayumi yang langsung membersihkan wajahnya ia tidak ingin melihat dirinya menangis.
"Tidak perlu di bersihkan, Ayah tau kamu habis menangis," ujar Kenan.
"Gak kok cuma abis nonton dlama cina," ucap Ayumi Kenan pun tertawa memang Ayumi sangat anti menangis di hadapannya. Entah kenapa mungkin ia tidak ingin terlihat kusut di depan sang Ayah.
"Kenapa Ayah teltawa? Memang na Ayumi selucu itu," kesal Ayumi, Kenan langsung menggendong putri nya dan melangkah keluar.
"Hari ini kau libur sekolah bukan, katakan pada Ayah kau mau ke mana?" tanya Kenan Ayumi terdiam sejenak lalu ia mendekatkan dirinya ke telinga sang Ayah dan berbisik.
Kini Kenan yang terdiam bukannya ia tidak ingin mau menuruti putrinya tapi hal yang di jauhin Kenan karena ia tidak akan ke tempat itu lagi.
"Ayah ...," pekik Ayumi mengagetkan Kenan.
"I ... Ya, ya kita ke sana," jawab Kenan.
***
Di dalam mobil Kenan memperhatikan putrinya yang sedari tadi sibuk memilah makanan sambil terus saja berbicara. Ia tidak menganggu dan kembali fokus menyetir.
"Apa yang akan dia pikirkan nanti jika aku tiba-tiba datang lagi? Kalau bukan karena putri ku aku tidak akan ke rumah itu lagi," batin Kenan sesekali menatap Arumi dari kaca sepion yang ada di hadapannya.
Satu jam perjalanan ia pun sampai dan langsung di bukakan pintu karena memang orang-orang di sana sangat hapal dengan mobil yang waktu itu sering datang di rumah itu.
Kenan tidak langsung turun dari mobil padahal putrinya sudah turu lebih dulu.
Kleek
"Ayah kenapa melamun cepet tulun," Kenan terkejut saat Arumi membuka pintu mobil ia hanya mengangguk dan langsung ikut turun.
Ayumi sangat senang ia membawakan banyak cemilan di sebuah bag lumayan besar dan langsung saja mengetuk pintu yang sangat keras serta suaranya yang lumayan membuat telinga Kenan sakit.
"Ayumi, tidak sopan berteriak di depan rumah orang," Tegur Kenan yang mana ia mencari bel yang terletak di ujung sedikit terhalang pohon hias.
Ting
Tong
Kleek
Pintu terbuka seorang wanita terkejut melihat tamu yang datang ke rumahnya,"ounty, Jen," teriak Ayumi mereka berdua pun langsung heboh membuat Kenan hanya menggelengkan kepalanya heran.
"Kamu bawa apa?" tanya Jena melihat paper bag yang di bawa Ayumi. Dengan senang hati Ayumi memberikannya pada Kenan yang juga begitu senang dengan pemberian putri kecil yang sangat ia sayangi.
Jena menyuruh Ayumi masuk dan memberitahu jika Daddy-nya yang sudah dianggap Ayumi sebagai kakeknya sedang memberi makan bebek di halaman belakang. Tentu saja Ayumi antusias karena bebek itu ia beli bersama Jena saat mereka sempat jalan jalan berdua saja.
Namun, karena Tiara tidak suka memelihara binatang jadilah bebek itu di rawat oleh Dika yang memang senang dengan hewan.
"Masuklah," ajak Jena.
"Tidak perlu aku kesini karena Ayumi yang rindu padamu aku titip yah jika dia sudah meminta pulang hubungi aku nanti aku akan menjemput nya lagi," terang Kenan yang langsung berbalik.
Akan tetapi, buru-buru Jena menghentikan langkahnya dengan menggenggam tangan Kenan,"Jika Ayumi merindukan ku apa ayahnya juga merindu kan ku?" tanya Jena.
Kenan berbalik perlahan ia melepaskan genggaman tangan Jena,"Sudah berapa kali aku mengatakannya padamu jangan selalu salah paham dengan kebaikan ku yang aku lakukan hanya untuk Ayumi tidak lebih," telan Kenan.
"Aku permisi," imbuh Kenan yang melanjutkan langkahnya untuk pergi menuju kembali ke rumah sakit karena tadi ia baru saja membaca pesan dokter menyuruh nya untuk datang.
"Apa tidak ada kesempatan untuk ku? Jadi istri kedua pun aku rela, Kenan. Arumi ... Kau sangat beruntung dicintai hebat oleh Kenan aku sangat iri padamu tapi setidaknya aku sudah mendapatkan hati putrinya atau aku akan jadikan Ayumi saja sebagai penghubung hubungan ku dengan Kenan," Jena tersenyum semrik seraya menatap mobil mewah Kenan yang sudah menghilang dari pandangannya.
*
*
Bersambung.