Siapa yang sanggup menjalani sebuah hubungan tanpa cinta? Apalagi pasangan kalian masih belum usai dengan masa lalunya. Dua tahun Janice menjalani hubungan dengan seorang pria yang sangat ia cintai, dan hidup bersama dengan pria tersebut tanpa ikatan pernikahan. Selama dua tahun itu Stendy tidak pernah membalas cinta Janice. Bahkan Stendy sering bersikap dingin dan acuh pada Janice. Sampai akhirnya wanita di masa lalu Stendy kembali, hingga membuat Janice terpaksa mengakhiri hubungannya dan melepaskan pria yang selama ini sangat ia cintai. Semua Janice lakukan, hanya untuk membuat Stendy bahagia bersama wanita yang dicintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva Hyungsik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memorable 25
Janice merasa seperti putri kandung Rania. Banyak hal yang dapat Janice pelajari selama beberapa hari tinggal bersama keluarga Owen. Terutama dengan Rania, wanita itu benar-benar memberikan pengalaman menyenangkan untuk Janice.
Rania tersenyum melihat Janice yang begitu serius dalam merajut. Bahkan hasil jahitannya terlihat sangat rapi. Rasa kagum menyelimuti hati Rania terhadap calon menantunya itu. Dalam benaknya, dirinya tidak salah dalam memilih menantu untuk sang putra.
“Janice,” panggil Rania, sambil tersenyum.
Janice pun, mendongak menatap Rania. “Iya, Ma.”
Rania meraih tangan Janice dan menggenggamnya. “Kamu tahu, Nak. Semenjak Mama melihatmu, Mama sangat yakin kalau kamu akan cocok dengan Owen. Mama juga yakin kamu dan Owen akan menjadi pasangan yang sangat romantis. Maka dari itu, Mama meminta orang tua kamu untuk menjodohkan kalian berdua. Tapi, Mama juga takut.” Rania menghela nafasnya pelan, sebelum melanjutkan ucapannya. “Mama takut kamu merasa terbebani dengan perjodohan ini. Apakah kamu merasa terpaksa menerima perjodohan ini, Nak? Mama takut, kamu menerima perjodohan ini hanya karena merasa tidak enak dengan keinginan Mama.”
Janice tersenyum, dan menggeleng pelan. “Memang waktu Ayah mengatakan akan menjodohkan aku, aku sempat menolak. Mungkin Mama juga sudah tahu apa yang terjadi padaku sebelumnya. Tapi, percayalah, Ma, kini aku sudah bisa menerima perjodohan ini. Walaupun nantinya akan ada cerita yang kurang mengenakan tentang perjodohan ini. Aku siap menghadapi apapun masalahnya, asalkan keluargaku tetap berada di sampingku,”
Rania mengangguk dengan senyum yang masih terpatri di wajahnya. Dia paham apa yang dimaksud dengan cerita yang kurang mengenakan menurut Janice. Sebab Rania tahu bagaimana dulu Owen bersahabat dengan Stendy.
“Mama senang mendengarnya, Nak. Percayalah, Mama dan Papa kamu terutama Owen akan selalu ada disampingmu!”
“Kalau begitu kamu lanjutkan kembali merajutnya. Mama akan ke bawah, mau lihat apakah Owen sudah pulang atau belum,” kata Rania yang di balas anggukan kepala dan senyuman manis Janice.
Owen baru saja tiba di rumah, saat hendak masuk dahinya mengernyit. Ada rasa yang aneh dalam rumahnya saat ini.
“Aku pulang!” seru Owen sambil berjalan pelan memasuki rumah.
“Mmmmppphhhttt…..!”
Owen menghentikan langkahnya setelah mendengar suara aneh. Kemudian ia kembali berjalan sangat pelan, untuk lebih meyakinkan gendang telinganya yang mendengar suara.
“Pa, Ma, Hansel, Janice!” Owen kembali memanggil penghuni rumahnya.
Lagi-lagi dia mendengar suara orang yang sedang bergumam. Owen tetap waspada setelah mendengar suara aneh itu lagi.
“Suara siapa itu?” gumamnya bermonolog.
Langkah terus menuju semakin kedalam rumah, hingga dirinya berdiri di dekat ruang keluarga. Ketika menoleh ke arah televisi, matanya seketika melotot.
“Astaga!” Owen terkejut ketika melihat Leo dan Hansel dalam posisi mulut dilakban dan kedua tangan mereka terikat lakban juga.
Owen berjalan cepat, “Apa yang terjadi? Siapa yang melakukannya? Dimana Mama dan Janice?” Owen memberondong pertanyaan pada Leo dan Hansel, sambil membuka lakban di tubuh mereka.
“Kalau tanya itu satu-satu. Biar kami bisa menjawabnya,” protes Hansel.
Wajah Owen terlihat sangat serius, kemudian dia menatap Hansel dengan sangat kesal.
“Dimana Mama dan Janice, Pa?” tanya Owen pada Leo. Karena sejak tadi Leo hanya diam.
“Mama dan Janice, mereka…”
“Owen.” Rania memanggil Owen, membuat pria itn langsung menoleh.
Owen dengan cepat berdiri dan menghampiri Rania. Terlihat wajah khawatir Owen, yang membuat Rania mengerutkan dahinya.
“Mama tidak apa-apa?” tanya Owen.
Rania menggeleng, sebelum menjawab pertanyaan Owen. “Mama baik-baik saja. Memangnya kenapa?”
Owen bernafas lega, wajahnya juga tidak terlihat begitu panik dan gelisah. “Sebenarnya apa yang terjadi, Ma? Mengapa mulut dan tangan Hansel dan Papa dilakban seperti itu?”
Rania tersenyum, namun tatapannya tajam ke arah Leo dan Hansel. Kemudian Rania pun menceritakan apa yang terjadi, dan mengapa keduanya diikat dengan lakban. Owen hanya bisa mendesah kasar sambil menggelengkan kepalanya, kemudian dia pun tertawa.
“Dimana Janice, Ma?” tanya Owen, karena sejak tadi dia sudah sangat merindukan wanita itu.
“Dia ada di ruang santai,” jawab Rania.
“Kalau begitu Owen ke atas dulu,” kata Owen.
Rania mengangguk, “Sekalian ajak Janice turun untuk makan malam,” ucap Rania yang dibalas anggukan kepala oleh Owen.
Owen pun, segera menuju ruang santai yang ada di dekat taman belakang. Ketika langkahnya hampir sampai di depan ruang santai itu, Owen dapat melihat Janice dari jendela di ruangan tersebut. Owen dapat melihat betapa seriusnya Janice dalam merajut, jarinya begitu lincah memainkan jarum rajut.
Langkah Owen semakin mendekat, dia membuka pintu ruang santai, dan melihat Janice duduk di sofa, fokus pada benang rajutan di tangannya. Janice sedang membentuk sebuah pola yang terlihat sangat cantik dan rumit. Owen tidak bisa tidak menatap kagum pada keahlian Janice.
Owen menghampiri Janice, namun wanita itu masih belum menyadari kehadiran Owen. Karena janice sangat fokus dengan apa yang sedang dikerjakannya.
Owen berdiri di belakang janice, dia sedikit membungkukkan tubuhnya sedikit. "Wow, Janice... itu sangat cantik!" kata Owen, suaranya tidak terlalu keras agar tidak mengganggu konsentrasi Janice.
Janice terkejut dan menoleh ke arah Owen. Tubuh Janice membeku, matanya pun melebar saking terkejutnya. Dia hampir saja mencium pipi Owen, sebab wajah pria itu begitu dekat dengan wajahnya.
Janice sedikit menjauhkan wajahnya. "Oh, Kak Owen! Aku tidak menyadari kamu sudah pulang," katanya, sambil tersenyum kikuk.
Owen mengulum senyumnya, dia tahu sedang menahan malu karena ulahnya. Kemudian Owen duduk di sebelahnya, dan kembali berucap. "Aku baru saja pulang. Aku tidak tahu kamu bisa merajut seperti ini," katanya, sambil memandang pola rajutan Janice dengan kagum.
Janice tersenyum, "Aku belajar dari nenekku. Aku suka merajut karena bisa membuatku tenang," katanya, sambil melanjutkan pekerjaannya.
Owen menatap Janice dengan mata yang berkilau. "Aku sangat mengagumi kamu, Janice. Kamu begitu berbakat," katanya, suaranya lembut.
Janice tersenyum dan menoleh ke arah Owen. "Terima kasih, Kak Owen. Aku senang kamu suka," katanya, sambil merasa bahagia dengan pujian Owen.
Owen tersenyum, dan detik itu pun dirinya teringat saat mereka masih bersekolah. Owen ingat kalau dahulu janice pernah memberi sebuah syal rajut kepada Stendy. Namun, pemberian wanita itu tidak pernah dipakai oleh Stendy. Apakah Janice merajutnya sendiri? Ingin ria bertanya, namun rasanya sangat enggan bertanya hal tersebut pada Janice. Akan tetapi, ketika mengingat itu, hati Owen merasa gusar. Ada rasa iri dalam hatinya. Hingga dirinya menginginkan sesuatu yang sama dengan apa yang sudah janice berikan pada Stendy.
“Bisakah kau membuatkanku syal?” tanya Owen, sambil menatap Janice dengan begitu intens.
Janice menoleh kembali, dengan alis yang sedikit berkerut. “Kau mau aku buatkan syal?” Janice mengulang kembali ucapan Owen, karena dia takut salah mendengarnya.
Owen mengangguk, dan tersenyum. “Iya, bisakah? Tapi, jika kamu tidak keberatan,” kata Owen, sambil mengangkat kedua bahunya.
Janice terdiam sejenak, sebelum akhirnya dia menyanggupinya. “Baiklah, aku akan buatkannya untukmu. Tapi, tidak bisa malam ini.”
“Tidak apa. Aku tidak memintamu untuk langsung membuatnya, aku akan menunggu.” jawab Owen, sambil tersenyum.
Janice mengangguk dan tersenyum, kemudian Owen mengajak wanita itu untuk turun kebawah. Sebab Rania dan yang lainnya sudah menunggu untuk makan malam.
*
Stendy baru saja tiba di villa miliknya, saat memasuki villa tersebut hal pertama yang dirasakannya adalah suasana yang sepi dan ruangan yang gelap.
Stendy berjalan pelan, bayang-bayang masa lalu kembali menghantuinya. Dia kembali teringat saat Janice masih berada di villa itu. Tiap malam Janice selalu menunggu dirinya pulang, menyambut kedatangannya dan membawakan tas kerjanya dengan senyum sumringah yang selalu ditunjukkan olehnya.
Stendy menarik nafas dengan kasar, dadanya terasa sesak mengingat Janice. Dia pun meraup wajahnya dengan kasar, sambil menyugar rambutnya ke belakang.
“Sudah hampir dua bulan kau tidak kembali, Janice. Tapi, aku tidak akan pernah mencarimu. Karena aku tahu kau akan kembali dan memohon padaku untuk menikahimu,” kata Stendy, sambil berdecak sinis.
Ponsel Stendy berdering, dan nama Harisa pun tertera di layar ponselnya.
“Halo,”
“Sayang, tolong aku! Di depan apartemenku ada Ayah. Sejak tadi dia terus memaksaku untuk masuk.”
Stendy terkejut. “Tunggu aku! Aku akan segera ke sana,” kata Stendy, sambil mematikan sambungan teleponnya.
Dia pun, bergegas meraih kunci mobil dan segera menuju apartemen Harisa. Stendy juga mencoba menghubungi Rodez, dan Yohan. Dia meminta bantuan mereka, karena takut dirinya terjebak macet dan terlalu lama datang. Stendy terlihat sangat khawatir dengan Harisa. Apalagi dia tahu dari Harisa, kalau wanita itu sering diperlakukan kasar oleh ayahnya.
Yohan lebih dahulu tiba di apartemen Harisa. Dia langsung bergegas menuju lantai tempat Harisa berada. Setibanya di lantai unit apartment Harisa, Yohan dapat melihat seorang pria paruh baya masih kekeh berdiri sambil menekan bel pintu apartemen.
Dengan langkah cepat Yohan menghampiri Liam, kemudian menepuk pundak pria itu setelah Yohan berada di posisi belakang Liam.
Liam menoleh, sambil menatap bingung ke arah Yohan. Sementara Yohan pun, tak kalah tajamnya menatap Liam saat ini.
“Maaf, Pak. Sedang apa dan mau apa Anda di sini?” tanya Yohan.
Liam tersenyum, sebelum menjawab pertanyaan Yohan. “Saya hanya ingin bertemu dengan putri saya, Tuan. Karena saya sudah lama sekali tidak bertemu dengannya,” jawab Liam.
Lidah Yohan berdecak, lalu dia tersenyum meremeh. “Ck, saya tidak percaya dengan apa yang Anda katakan. Mana mungkin anak Anda tinggal di apartemen mewah ini. Lihatlah penampilan Anda, Pak!” ucap Yohan sedikit menyinggung penampilan Liam.
“Mana ada orang miskin sepertimu tinggal di tempat elit seperti ini!” lagi-lagi Yohan merendahkan harga diri Liam.
“Sebaiknya Anda segera pergi dari sini. Sebelum saya memanggil petugas keamanan dan berujung Anda dipenjarakan!” ujar Yohan bernada penuh ancaman.
Kedua tangan Liam mengayun cepat, sambil menggelengkan kepala. “J-jangan, Tuan. Tolong jangan seperti ini, saya hanya ingin menemui putri saya. Dia memang tinggal di apartemen ini, dan di unit inilah dia tinggal.” Liam mengatupkan kedua tangannya didepan dada, memohon agar Yohan tak melaporkan dirinya.
Yohan mengeraskan rahangnya, dan langsung menarik kerah baju Liam. “Jangan membantahku tua bangka! Aku bisa saja menyakitimu bahkan memukulmu saat ini juga,” kata Yohan, sambil mendorong tubuh Liam hingga pria itu tersungkur ke belakang.
Tidak lama Rodez dan Stendy datang bersamaan. Rodez menatap tajam pada Yohan, sedangkan Stendy sendiri hanya bisa menatap datar pada Liam yang kini sedang berusaha bangun.
Liam mengingat Rodez, namun dirinya berpura-pura lupa pada Rodez. “Maaf, Tuan. Saya tidak ada niat mengganggu. Saya datang ke sini hanya ingin bertemu dengan putri saya,” kata Liam kembali.
Stendy berjalan mendekat, kedua tangannya berada di saku celananya. Tatapannya tajam dan dingin.
“Beberapa bulan lalu saya sudah mengingatkan Anda, Tuan. Sepertinya peringatan saya itu Anda anggap angin lalu,” ucap Stendy, yang membuat Liam bingung.
“A-apa maksud Anda, Tuan?” tanya Liam yang mencoba untuk mengingat.
Stendy berdecak kesal. “Ck, apa perlu saya ingatkan kembali?” Stendy menjeda ucapannya. “Ah, biar ku perjelas saja, afar ingatan Anda kembali. Bukankah Anda sudah menerima cek senilai 10 miliar dariku, Tuan Liam?”
Liam tercengang mendengar pertanyaan Stendy. Liam juga baru mengetahui bahwa pria di hadapannya ini adalah Stendy Canet. Pria yang akan menjadi target selanjutnya oleh Harisa dan mantan istrinya.
Liam mundur satu langkah, jari telunjuknya menunjuk ke arah Stendy. “K-kau… kau Tuan Stendy?”
“Iya, aku Stendy Canet. Sebaiknya Anda pergi tinggalkan tempat ini dan jangan pernah kembali dengan alasan apapun itu. Karena kau sudah sepakat untuk tidak mengganggu Harisa lagi.”
Liam menggeleng, sejujurnya dia hendak mengatakan sesuatu yang begitu mengganjal dalam hatinya. Namun, tatapannya tidak sengaja bertemu dengan tatapan Rodez.
Rodez mengangguk, memberi isyarat pada Liam untuk menuruti ucapan Stendy. Liam mendesah kasar, kemudian tanpa berkata lagi dia pun pergi begitu saja.
“Lebih baik kalian masuk duluan. Aku akan tetap mengawasi pria itu,” kata Rodez, yang dibalas anggukan oleh Yohan dan Stendy.
Melihat Stendy dan Yohan sudah masuk ke dalam unit apartment Harisa. Rodez pun, mengikuti Liam.
Rodez mengambil ponselnya yang bergetar. Ada sebuah pesan dari nomor Liam.
[Jika Anda ingin bicara dengan saya, temui saya di taman tidak jauh dari gedung itu.]
Baiklah
(Balas Rodez)
Rodez pun, segera menuju tempat yang sudah disepakati. Sementara itu di dalam apartemen, Stendy sedang berusaha untuk menenangkan Harisa yang sedang menangis karena takut.
“Sudahlah, Harisa! Ayah kamu juga sudah pergi,” kata Stendy, kembali menenangkan wanitanya.
Yohan datang dari dapur dengan segelas air minum. “Ini minumlah, agar kau lebih tenang.” Yohan menyodorkan gelas tersebut pada Harisa.
Harisa pun menerimanya dan segera meminum air tersebut. “Terima kasih,” ujarnya pelan.
Yohan hanya tersenyum tipis dan mengangguk, kemudian dia menatap ke arah Stendy.
“Stendy. Sebenarnya untuk apa pria tua bangka itu datang ke sini lagi? Bukankah kau sudah memberinya kompensasi, agar tidak mengganggu Harisa lagi?” tanya Yohan.
“Apakah dia ingin mengancam Harisa, supaya kau memberinya uang lagi?” Yohan kembali bertanya.
Harisa yang mendengar itu pun, sedikit sulit menelan salivanya. Kemudian dia melirik ke arah Stendy yang terlihat jelas wajah seriusnya.
“Sepertinya begitu. Mungkin uang yang kuberikan sudah habis,” sahut Stendy.
Harisa menggenggam tangan Stendy. “Sayang, aku takut. Kalau besok atau lusa dia datang lagi, bagaimana?”
Stendy tersenyum, sambil mengusap punggung Harisa. “Kamu tenang saja. Urusan Ayah kamu biar menjadi urusanku,” jawab Stendy.
“Iya, kau tenang saja, Harisa. Serahkan semuanya pada kekasihmu ini. Dia pasti akan membantumu,” seru Yohan, sambil tersenyum lebar.
Harisa pun, tersenyum dan mengangguk. Namun, tanpa Stendy dan Yohan tahu bahwa dalam hati wanita itu sedang tertawa bahagia.
“Mungkin ini salah satu cara untuk bisa memanfaatkan Stendy, agar dia mau mengeluarkan uangnya. Hahaha… terima kasih Ayah, karena kamu bisa melancarkan niatku,” ujar Harisa di dalam hatinya.