Willie, seorang pengusaha muda yang sukses, hidupnya hancur seketika ketika sang istri, Vira meninggal secara tragis setelah berusaha membuka kasus pemerkosaan yang melibatkan anak didiknya sendiri.
Kematian Vira bukan kecelakaan biasa. Willie bersumpah akan menuntut balas kepada mereka yang telah merenggut keadilan dan istrinya.
Namun di balik amarah dan tekadnya, ada sosok kecil yang menahannya untuk tidak tenggelam sepenuhnya, putri semata wayangnya, Alia.
Alia berubah menjadi anak yang pendiam dan lemah sejak kepergian ibunya. Tidak ada satu pun yang mampu menenangkannya. Hanya seorang guru TK bernama Tisha, wanita lembut yang tanpa sengaja berhasil mengembalikan tawa Alia.
Merasa berhutang sekaligus membutuhkan kestabilan bagi putrinya, Willie mengambil keputusan untuk melakukan pernikahan kontrak dengan Tisha.
Willie harus memilih tetap melanjutkan dendamnya atau mengobati kehilangan dengan cinta yang tumbuh perlahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerita Tina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak sudi melihatmu
"Sayang, kau tidak ke sekolah?” tanya Willie pada Alia dengan nadanya dibuat seringan mungkin, sekadar basa-basi untuk mencairkan suasana yang terasa kaku.
“Kan hari ini libur, Pa,” jawab Alia polos.
Willie mengangguk. “Oh iya. Ya sudah, Papa berangkat ke kantor dulu, ya.”
Alia langsung meraih tangan ayahnya dan menyalami dengan ceria. Namun sesaat kemudian, pandangannya beralih ke Tisha.
“Ibu tidak salim?” tanya Alia lugu.
Tisha tertegun. Seketika dadanya menegang.
Willie pun sama kikuknya. Ia menjulurkan tangannya perlahan, ragu, seolah menunggu keputusan Tisha.
Tak ingin membuat Alia kecewa, Tisha akhirnya maju. Dengan gerakan singkat dan formal, ia menyalami tangan Willie, lalu menaruhnya sekilas di dahinya dengan gerak cepat dan jauh dari kehangatan.
Begitu ia hendak menarik kembali tangannya, genggaman itu tertahan. Jari Willie refleks menguat, menahan tangan Tisha.
Tisha mendongak terkejut. Willie menatap cincin di jari manis Tisha. Cincin bulat sederhana, dengan permata kecil di tengahnya. Ia tahu betul itu adalah cincin pernikahan mereka.
Perlahan, ia mengangkat tangan Tisha, memperhatikan cincin itu lebih dekat.
“Apa yang Anda lakukan?” suara Tisha dingin, waspada.
Ia mencoba menarik tangannya, namun genggaman Willie belum juga terlepas.
“Jadi semalam kau menghajarku dengan ini?” ucap Willie datar.
Dengan tangan lain, Willie sekilas mengusap pipinya sendiri. Di sana satu garis goresan masih terlihat jelas bekas yang ditinggalkan oleh cincin itu.
Willie menatap cincin itu lagi.
“Ini ada sudut tajam. Gantilah yang lain,” katanya, seolah itu adalah permintaan biasa.
“Tidak.” Jawab Tisha tegas.
Dengan satu tarikan kuat, ia berhasil melepaskan tangannya. “Cincin ini bisa jadi perisaiku, dari pria pemabuk seperti Anda.” lanjut Tisha dengan sorot mata tajam.
Kata-kata itu terasa menghantam Willie tanpa ampun. Dadanya tercekat. Tidak ada bantahan yang layak keluar.
Ia tahu ucapan Tisha bukan sekadar kemarahan. Itu kebenaran yang lahir dari ketakutan dan luka yang di buat oleh Willie sendiri.
Willie seperti baru sadar dengan apa yang ia lakukan. Tatapan mereka bertemu singkat canggung, penuh makna yang tidak diucapkan.
“Maaf.” ucap Willie singkat. Ia menundukkan kepala sekali.
Willie segera menoleh ke arah Alia.
“Papa berangkat,” ucapnya terdengar tergesa.
Ia berlalu dengan langkah tergesa, meninggalkan Tisha yang berdiri kaku dan Alia yang menatap kedua orang dewasa itu dengan bingung, tanpa memahami ketegangan yang baru saja terjadi di antara mereka.
Willie masuk masuk ke mobilnya. Begitu pintu tertutup, ia mengantukkan jidatnya ke setir didepannya berkali-kali seakan ingin menghukum dirinya sendiri.
“Apa yang sudah kulakukan.” gumamnya parau.
Sejak tadi ia bertekad menghindari Tisha. Ia ingin menjaga jarak dengan gadis itu. Namun kelakuannya barusan justru sebaliknya, terlihat ceroboh, tak terkontrol.
“Konyol,” bisiknya. “Kenapa aku jadi begini.”
Ia mendongak, menatap keluar melalui kaca depan. Sekilas, ia melihat Tisha memandang ke arah mobilnya. Gadis itu segera mengalihkan pandangannya ke arah lain seolah ia tak sudi menatap willie.
Di sisi lain, 'Cepatlah berangkat. Aku tak ingin merasakan keberadaanmu disini,' batin Tisha getir.
Willie akhirnya menyalakan mobilnya. Ia menurunkan kaca setengah, lalu melambaikan tangan ke arah Alia.
Alia membalas lambaian tu. “Dadah, Papa!” seru Alia ceria.
Willie tersenyum tipis, lalu melirik Tisha sekali lagi. Willie menarik napas panjang dan melajukan mobilnya.
Sesampainya di kantor, Willie langsung duduk di balik meja kerjanya. Ia mengecek ponselnya. Ada satu pesan dari Rendra sudah masuk sejak beberapa jam lalu.
"Hai bro, kau baik-baik saja?"
Belum sempat ia membalas, ponselnya kembali bergetar. Rendra menelponnya. Willie menghela napas pendek, lalu mengangkatnya dengan setengah malas.
“Halo.”
“Hey, kau masih hidup?” suara Rendra langsung terdengar.
“Bagaimana keadaanmu? Kau semalam minum terlalu banyak. Aku sangat khawatir.”
Willie menyeringai masam. “Sialan,” geramnya. “Sebanyak apa kau menuang minuman ke gelasku?”
“Ah, aku juga tidak ingat,” Rendra terkekeh singkat, lalu nadanya berubah heran.
“Eh, kenapa kau marah begitu? Apa ada terjadi sesuatu?”
Willie terdiam sesaat. Pertanyaan itu mengenai tepat di titik yang tak ingin ia bahas.
“Ya… memang ada,” jawabnya akhirnya, namun cepat-cepat mengalihkannya. Ia tak sanggup menceritakan apa pun.
“Tanganku luka. Aku jadi sulit bekerja." lanjut Willie.
“Sudah ke rumah sakit?, Kau semalam menghantam gelas terlalu keras."
Rendra terdengar serius. “Will, kau tak perlu menyiksa dirimu sendiri cuma gara-gara omongan para cecunguk itu.”
“Aku justru ingin menghajar mereka satu per satu,” sahut Willie datar. “Sudahlah. Aku sudah dikantor, Aku lagi sibuk sekarang.”
Tanpa menunggu jawaban, Willie mematikan telepon itu. Ia menjatuhkan ponsel ke atas meja, lalu memejamkan matanya dan bersandar ke kursi kerja.
Ruangan terasa sunyi, tapi kepalanya justru semakin bising. “Tisha…” gumamnya lirih, tanpa sadar.
Ia menghela napas panjang dengan wajah tegang. “Mengapa di depan gadis itu aku selalu saja bertingkah aneh.”
***
Pagi itu, linimasa media sosial meledak. Sebuah akun berita hiburan besar mengunggah judul, "Skandal Perselingkuhan Pejabat 'H' "
Artikel itu dilengkapi bukti foto, Video dan kronologi yang disusun rapi untuk sekadar gosip.
Dalam waktu singkat, unggahan itu dibagikan ribuan kali. Kolom komentar segera dipenuhi reaksi beragam.
Akun gosip lain menyusul, lebih berisik, lebih liar. Judul-judul dipelintir, narasi sengaja dilebihkan.
Publik menggila. Ada yang mengutuk.
Ada yang justru sibuk mencari tahu siapa gadis yang bersama dengan pejabat itu, karena Willie memberikan efek blur pada wajah gadis itu.
Niat Willie hanya ingin menghancurkan keluarga pejabat yang bernama "Hartono" itu. Tidak dengan hidup gadis selingkuhannya.
Tak sedikit yang mulai mempertanyakan satu hal.
"Tenyata begitu kelakuannya."
“Siapa sumbernya?”
Spekulasi liar beredar, seolah-olah sumber dari bukti itu adalah orang dalamnya Hartono, mungkin karena dendam lama atau sekedar permainan kekuasaan.
Nama aliansi, jabatan, dan beberapa perusahaan ikut terseret. Rekan bisnis mulai menjaga jarak. Telepon kantor tak berhenti berdering.
Namun di balik semua hiruk-pikuk itu, satu hal terasa ganjil. Tak ada pembelaan.
Tidak satu pun bantahan.
Willie menatap layar ponsel yang menampilkan artikel itu. "Ini baru permulaan." ucapnya dengan senyum sinis.
***
Disisi lain, masih di luar negeri. Ponsel Hartono terus berdering sejak tadi, memecah keheningan kamar hotel yang masih gelap.
Tubuhnya masih bergulat di balik selimut putih bersama perempuan simpanannya. Wajahnya berkerut kesal ketika dering itu tak juga berhenti.
Dengan geram, ia akhirnya menggapai ponsel dan mengangkatnya.
“Ada apa pagi-pagi begini?” bentaknya.
Namun suara di seberang menjelaskan tentang skandalnya yang sudah menyebar luas Seketika kabar itu membuat darahnya berdesir.
Hartono langsung terduduk, selimut melorot dari tubuhnya. Perempuan di dekatnya mengerang pelan, ia tak sadar badai tengah menghantam.
“Apa kau bercanda?” suaranya meninggi namun memastikan.
“Sialan…Siapa yang berani melakukan ini padaku?” geramnya penuh amarah.