Sri tidak menyangka jika rumah tangganya akan berakhir karena orang yang paling dia cintai dan hormati, entah bagaimana dia mendeskripsikan hati yang tidak akan pernah sembuh karena perselingkuhan suami dengan perempuan yang tak lain ibunya sendiri.
Dia berusaha untuk tabah dan melanjutkan hidup tapi bayangan penghianatan dan masalalu membuatnya seakan semakin tercekik.
mampu ka dia kembali bangkit setelah pengkhianatan itu diatas dia juga memiliki kewajiban berbakti pada orangtua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Sedangkan pasangan anak dan ibu itu kini menikmati kebersamaan dipantai seperti keinginan sang anak, Siti tersenyum tipis melihat kebahagiaan anaknya begitu mereka sampai dipantai.
"Ibu ayo pergi beli itu". Sri bagai anak kecil yang berjalan kesana kemari mencari jajanan yang ingin dia makan.
Siti hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang anak yang seakan melampiaskan rasa penasarannya.
"Hati-hati, perhatikan jalanmu, banyak orang loh nak". Siti memperingatkan sang anak karena anaknya ini terlalu senang.
"Aku bahagia banget karena bisa pergi ke pantai bareng ibu seperti ini, makasih yah bu". Ucapnya dengan senyuman mengambang.
"Sama-sama nak, puas-puasin yah, mumpung kita di sini" Ucapnya dengan senyuman tulus.
Hatinya bagai diremas benda tak kasat mata, setiap kali dia mengingat perbuatannya pada sang anak, hatinya pasti merasakan sakit.
"Tidak apa bu, lupakan saja yang lalu, aku sangat senang ibu mau menyayangi aku selayaknya ibu dan anak, aku hanya berdoa jika nanti ibu hidup jauh dariku, ibu akan baik-baik saja dan sering menghubungi aku".
Siti tidak menjawab hanya mengelus kepala sang anak kemudian menggandeng sang anak untuk berjalan-jalan membeli jajanan.
Setelah puas keduanya duduk sambil menikmati senja yang sebentar lagi berakhir karena akan tiba waktu malam hari.
Saat mereka duduk, terlihat beberapa orang mendekati mereka kemudian membungkuk seperti memberi hormat.
"Maaf Bu, bisakah kita berbicara sebentar". Tanya dengan sopan.
Sri menatap mereka bingung karena mereka bicara pada ibunya seperti seorang karyawan yang begitu menghormati atasannya
"Iya, silahkan saja, kita bicara disana sambil duduk didalam Kafe". Ucap Siti dengan santai.
Mereka mengangguk sopan dan mempersilahkan keduanya berjalan lebih dulu dan mereka mengikutinya.
Sri yang tidak tahan karena dengan rasa penasaran dan rasa ingin tahu pun akhirnya bertanya.
"Ibu mengenal mereka?, kok mereka begitu sopan pada ibu? ". Tanyanya dengan pelan.
"Kamu lihat dan dengarkan saja nanti, kamu pasti akan menemukan jawabannya". Siti hanya menggandeng sang anak tanpa menjawab pertanyaannya.
Sri mendengus kecil mendengar jawaban ibunya, dia memasang wajah cemberutnya karena ibunya tidak menjawab pertanyaannya malah kesannya mengalihkan pembicaraan.
"Ada apa? ". Tanya Siti begitu mereka semua duduk di dalam kafe.
Salah satu dari mereka memberikan sebuah map kemudian diterima oleh Siti dengan tatapan tajam.
"Ada masalah bu, ada yang berusaha menyabotase laporan keuangan perusahaan, sepertinya mereka bekerjasama dengan beberapa bagian". Ucapnya dengan serius.
"Kalian sudah menelusuri semuanya??, apa yang kalian temukan? ". Tanyanya dengan serius.
Ketiga kenal ini adalah orang kepercayaannya dikantor tempat usahanya dibangun yang tidak pernah ada orang yang tahu selain dirinya.
"Iya bu, saya sudah melaporkan itu ke polisi dan pengacara akan mengurusnya, mereka bermain cukup rapi dan merugikan perusahaan dengan dana lumayan". Ucapnya dengan helaan nafas panjang.
Siti mengangguk mengerti, sepertinya setelah ini dia harus turun tangan sendiri untuk menyelesaikannya.
Sedangkan Sri yang mendengar percakapan itu hanya diam dan melongo,
"Ibu punya perusahaan? ". Tanyanya dalam hati.
Dia ingin bertanya tapi dia mengurungkan niatnya karena pembahasan mereka seperti nya sangat serius apalagi ini berhubungan dengan dana perusahaan.
"Saya akan kesana lusa, pastikan kalian menyiapkan segalanya, saya akan menumpas orang-orang yang menjadi lintah darat dalam perusahaan, saya pastikan mereka membayar semuanya ". Ucapnya dengan dingin.
Ketiga orang itu mengangguk kemudian memberikan semua laporan yang mereka pegang untuk diberikan kepada atasan mereka.
"Kalian boleh kembali kesana, pastikan kalian mengawasi pergerakan mereka dalam semua sisi, saya akan membuat perhitungan setelah saya datang".
"Baik bu, kami akan tunggu ibu di perusahaan, kami akan menjemput ibu di bandara nanti".
Siti mengangguk kemudian mempersilahkan mereka semua pergi dan kini dia menatap anaknya yang dia tahu sejak tadi memperhatikan dan juga ingin bertanya padanya.
Setelah mereka pergi dia menghela nafasnya dan kini pandangannya fokus pada sang anak.
"Ini laporannya, kamu bisa perhatikan apa yang terjadi tanpa ibu jelaskan". Siti memberikan laporan itu kemudian diterima baik oleh Sri.
Sri mengkerut kan keningnya melihat laporan itu, perusahaan yang bergerak dibidang pertambangan dan juga perkebunan kelapa sawit dan yang paling membuatnya tercengang adalah semua itu adalah milik ibunya.
"Ibu sengaja menyembunyikan siapa ibu sebenarnya, ibu hanya ingin bebas dari keluarga, itu alasan utama ibu melakukan semua ini". Ucapnya perlahan.
Dia akan memberikan alasan utama dirinya melakukan perselingkuhan dengan mantan suami anaknya itu.
"Ibu terlalu lelah dikekang dan dikontrol oleh keluarga, andai mereka tahu ibu memiliki semua ini, mereka akan dengan serakahnya akan mengambil alih semua yang ibu bangun tanpa peduli bagaimana ibu mendapatkan nya". Ucapnya pelan.
"Maksud ibu? ". Tanyanya tidak mengerti.
"Keluarga ibu itu adalah manusia serakah dan tidak tahu diri, selama ini ibu dipaksa untuk bekerja dan menghasilkan uang dan semua yang ibu dapatkan mereka ambil tanpa tahu betapa lelahnya ibu, ayahmu tak tahu karena mereka pandai menyembunyikan segalanya".
"Ibu mengalami tekanan mental yang sangat sulit sembuh, bukan hanya kena baby blues waktu itu tapi ibu juga terkena penyakit mental lain karena tekanan keluarga yang luar biasa hebat, kamu bisa lihat dan dengar sendiri ucapan ayahmu saat memberitahukan mu".
Siti menghela nafas berat, rongga dadanya sangat sesak bahkan untuk bernafas pun sangat sulit, kenangan kelam keluarga hingga kini dia rasakan semakin menjadi saat mereka tahu jika dirinya memiliki banyak tanah tanpa mereka tahu dan mereka mengambilnya dengan paksa demi kata bakti dan itu dilakukan oleh orangtuanya dan saudaranya sendiri.
"Jadi ibu melakukannya hanya untuk bebas dan diusir dari keluarga?? ". Tanyanya dengan tidak percaya.
Sebegitu beratkah beban mental ibunya sampai ibunya melakukan hal memalukan seperti itu bahkan mengorbankan dirinya dan juga anaknya sendiri.
"Itu benar, ibu sudah tak punya jalan lain untuk lepas dari semua ini, kamu tahu bahkan rumah yang ibu ingin berikan padamu, tadinya ibu akan jual tapi ternyata keluarga ibu mengambilnya dan menjualnya tanpa ibu tahu, karena kuasa yang dimiliki oleh mereka maka orang itu membeli tanpa tahu siapa yang memiliki nya.
"Ya allah jadi?? ". Sri menutup mulutnya tidak percaya.
"Itu benar, itulah sebabnya ibu tak pernah mengatakan hal ini dan mengusahakan supaya ibu terusir dan membuat keluarga malu, ibu sangat tahu adat dari kampung kita".
"Jadi maksud ibu, ibu tak pernah berniat berselingkuh apalagi bermain api dengan Irfan, ibu hanya ingin pergi dari sana sebagai orang terbuang agar keluarga ibu tidak menemukan ibu begitu?? ". Tanyanya lagi.
"Iya setelah ini ibu bebas dan hidup sesuai keinginan ibu dan untuk ini mereka tidak akan mendapatkan nya, karena semua itu akan ibu wariskan kepadamu dan juga anak yang berada didalam perut ibu setelah ibu tiada".