Tujuh belas tahun lalu, Ethan Royce Adler, ketua geng motor DOMINION, menghabiskan satu malam penuh gairah dengan seorang gadis cantik yang bahkan tak ia ketahui namanya.
Kini, di usia 35 tahun, Ethan adalah CEO AdlerTech Industries—dingin, berkuasa, dan masih terikat pada wajah gadis yang dulu memabukkannya.
Sampai takdir mempertemukannya kembali...
Namun sayang... Wanita itu tak mengingatnya.
Keira Althea.
Cerewet, keras kepala, bar-bar.
Dan tanpa sadar, masih memiliki kekuatan yang sama untuk menghancurkan pertahanan Ethan.
“Jangan goda batas sabarku, Keira. Sekali aku ingin, tak ada yang bisa menyelamatkanmu dariku.”_ Ethan.
“Coba saja, Pak Ethan. Lihat siapa yang terbakar lebih dulu.”_ Keira.
Dua karakter keras kepala.
Satu rahasia yang mengikat masa lalu dan masa kini.
Dan cinta yang terlalu liar untuk jinak—bahkan ol
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Keira menggulung selimutnya sambil fokus penuh ke layar TV. Episode drakor lagi seru-serunya—tokoh utamanya baru saja hampir ketahuan selingkuh padahal itu cuma kesalahpahaman klasik. Hidup Keira mungkin berantakan, tapi drama orang lain selalu lebih menenangkan.
Aiden muncul dari arah pintu sambil merapikan jaket kulitnya dengan punggung berlambang elang mencengkram mahkota. “Ma, aku keluar dulu.”
Keira tanpa menoleh menjawab, “Boleh. Tapi nggak ada pulang lewat jam sebelas.” Nada suaranya tajam, ancamannya khas Keira banget.
Aiden menghela napas kecil, wajahnya tetap datar dan tenang. “Iya, Ma.”
Keira baru menoleh setelah itu, menunjuk Aiden dengan remote TV. “Dengerin baik-baik. Kalau kamu pulang telat, uang bensin kamu mama potong sebulan! Jangan coba-coba.”
Aiden cuma mengangguk santai, bahkan sempat menjawab dengan datar, “Kalau gitu aku naik sepeda aja, lebih hemat.”
Keira memelotot. “Jangan ngelawak dingin ke mama, Aiden. Mama lagi sensitif nih.”
Aiden menahan senyum tipis—sangat tipis, nyaris tak terlihat. "Hm" sahutnya singkat sebelum akhirnya keluar rumah.
"Dasar." Keira mendengus pelan melihat sikap dingin putra semata wayangnya itu. Tapi sedetik kemudian ia pun tersenyum tipis, seolah menikmati setiap momen bersama anaknya.
Lalu Keira kembali tenggelam dalam drakor. Baru dua menit menikmati adegan oppa-oppa ganteng, ponselnya berdering. Nama yang muncul di layar membuat Keira langsung menghela napas panjang.
Bos Nyebelin is calling..
"Ini Pak Ethan ada apa sih?! Malam-malam gini nelpon. Ganggu orang nonton drakor aja." gumamnya kesal.
Dengan enggan, ia pun mengangkat panggilan tersebut. “Halo?”
Suara Ethan terdengar dingin, tegas, dan tanpa basa-basi seperti biasa. “Keira, antarkan berkas untuk meeting besok ke mansion saya. Sekarang.”
Keira tiba-tiba ngeblank sesaat.
Mulutnya sedikit terbuka, dan matanya berkedip-kedip lucu, mencoba mencerna maksud bosnya yang nyebelin itu. “Apa?! Sekarang? Ini malam lho, Pak Ethan.”
“Berkas itu harus saya review malam ini.” Suaranya tetap datar, sama sekali tidak terganggu oleh protes Keira. “Kirimkan ke mansion saya dalam waktu tiga puluh menit. Alamat mansion nanti saya shareloc.”
Lalu telepon ditutup. Tanpa pamit. Tanpa terima kasih. Tanpa hati nurani.
Keira menatap ponsel itu dengan tatapan membunuh. “Ya ampun nih orang! Ganggu waktu nonton drakor gue aja! Baru mau liat oppa ciuman loh!”
Ia bangkit dari sofa sambil terus ngomel-ngomel sendiri. “Selalu aja sok ngebos, sok penting banget! Emang dia pikir gue robot? Nggak bisa nunggu sampai besok pagi gitu?”
Sambil mengumpulkan berkas yang dimaksud, Keira masih meracau. “Demi apa gue harus nganter ini ke mansion malam-malam… Ya ampun Pak Ethan, kalo bukan karena gue butuh gaji, udah gue timpuk lo pake remote ini!”
Namun, meski bibirnya ngomel ke mana-mana, langkahnya tetap menuju pintu. Karena ya… mau bagaimana lagi? Bos tetap bos.
...----------------...
Begitu mobilnya berhenti di depan mansion Ethan, Keira menelan ludah.
Rumah itu besar. Terlalu besar. Dan malam-malam begini, suasana elegan plus sepi itu malah bikin bulu kuduknya berdiri.
Pintu utama dibuka dari dalam oleh seorang wanita paruh baya dengan seragam rapi, serta wajah yang hangat tapi wibawanya kuat. Ia merupakan kepala pelayan di mansion tersebut. “Selamat malam, Nona Keira,” ucapnya sambil sedikit membungkuk.
Keira membalas dengan senyum kaku. “Mal… malam. Saya mau mengantar berkas untuk Pak Ethan.”
Wanita itu tersenyum sopan. “Ya, saya sudah diberi tahu. Pak Ethan masih mandi.”
Keira langsung tersedak udara.
“Ma–mandi? Oh… ya… mandi… bagus dong bersih…”
Dia tertawa canggung sendiri, lalu mencibir dalam hati. "Mandi?! Malam-malam gini?! Cowok GILA!"
Wanita paruh baya itu tetap profesional, tidak menanggapi kecanggungan Keira.
“Pak Ethan berpesan, kalau Nona Keira datang, Nona diminta menunggu di kamarnya.”
Keira terpaku.
“A-apa?…Di kamarnya?”
Mata Keira membesar.
Atau mungkin membulat seperti koin.
Wanita itu mengangguk dengan tenang seolah itu hal paling normal di dunia. “Betul. Mari, saya antar.”
Dalam hati, Keira sudah panik setengah mati.
"Astaga, ini bos atau psycho? Siapa suruh-suruh nunggu di kamar? Mau apa dia? Gue harus kabur nggak sih? Tapi… berkas… gaji… tagihan listrik…"
Dengan langkah ragu-ragu, Keira mengikuti wanita itu menaiki tangga besar yang karpetnya terlalu empuk untuk diinjak rakyat jelata seperti dirinya.
Sesampai di depan pintu kamar Ethan, kepala pelayan itu membuka pintunya sedikit dan mempersilakan Keira masuk.
“Silakan masuk, Nona. Mungkin sebentar lagi Pak Ethan akan selesai.”
Keira berdiri di ambang pintu, menatap interior kamar yang luas, rapi, dan wangi maskulin—dan entah kenapa membuat jantungnya berdebar.
“Uh… iya. Terima kasih.”
Wanita itu membungkuk singkat dan beranjak pergi, meninggalkan Keira sendirian di kamar Ethan.
Keira melangkah masuk dengan waspada, bergumam sendiri. “Duh, Tuhan… jangan sampe dia keluar cuma pakai handuk atau apa… Gue bisa mati kaget…”
Dan pintu tertutup di belakangnya dengan klik yang membuat suasana makin intens.
...----------------...
Keira duduk kaku di sofa besar kamar Ethan, berusaha tidak menyentuh apa pun. Tangannya gelisah, matanya sibuk menatap ke mana saja, asal bukan ke pintu kamar mandi.
"Santai… santai Kei… cuma nganter berkas… cuma nunggu… bukan adegan drakor…"
Tiba-tiba…
Pintu kamar mandi terbuka.
Uap hangat meluncur keluar lebih dulu. Lalu sosok tinggi itu muncul.
Ethan.
Hanya mengenakan handuk putih yang melilit rendah di pinggangnya.
Rambutnya masih basah. Tetes-tetes air mengalir turun melewati lehernya, bahunya, lalu meluncur ke dada bidangnya yang… ya Tuhan.
Dada itu—keras, kekar, berkilau oleh sisa air. Dan tepat di tengahnya…
Tato elang membara dengan sayap terbentang.
Keira langsung refleks berdiri. “T–TUNGGU! Saya bukan ng—ngapa-ngapain! Saya cuma… saya cuma… berkas! Beneran cuma berkas!” katanya gelagapan, matanya panik tapi tak bisa berhenti menatap.
Ethan berhenti di tengah kamar, menatap Keira dengan seringai kecil di bibirnya. Suaranya rendah, berat, membuat udara seperti menurun suhunya. “Kamu sudah datang,” ucapnya santai. “Bagus.”
Ia melangkah menghampiri Keira.
Hingga tangan Keira jadi gemetar. “Pa–pak… bapak kenapa keluar… gitu?”
Ethan menurunkan handuk kecil di tangannya, mengusap rambutnya perlahan.
Setiap gerakan memamerkan otot lengan dan bahu yang seakan sengaja dibuat untuk menyiksa mental wanita.
“Ini kamarku,” jawab Ethan simpel, dingin. “Kenapa? Kamu keberatan melihat aku seperti ini?”
Keira menelan ludah. “Sa-saya… bukan keberatan, cuma… ya… gini kan… nggak sopan… saya tamu… bapak… handuk…”
Keira makin ngaco.
Ethan memiringkan kepalanya, ekspresinya seperti sedang mengamati reaksi Keira dengan penuh minat.
Tatapannya turun ke bibir Keira… lalu ke pipinya yang sudah merah.
“Wajahmu merah,” gumamnya.
Nada suaranya terdengar terlalu tenang. “Kenapa?”
Keira buru-buru memalingkan pandangan. “A-apa sih Pak?! Ya jelas aja panas, AC kamar bapak kurang dingin!”
Padahal AC dinginnya hampir bikin es batu bisa tumbuh spontan.
Tapi Ethan tak menjawab. Ia melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka.
Tatapannya tiba-tiba berubah. Lebih dalam. Lebih… menyelidik.
Dan pada saat itu…
Keira melihat jelas tato di dada Ethan.
Tato elang.
Garis-garisnya.
Bentangan sayapnya.
Bentuknya.
Keira tersentak. "Ini… Ini… sama."
Tato yang sama persis dengan pria di malam itu.
Pria misterius yang memeluknya dalam gelap.
Pria yang membuatnya kehilangan kontrol.
Pria yang identitasnya tak pernah ia ketahui.
Kilasan malam panas itu menyeruak begitu kuat:
Tangan besar yang memegang pinggangnya.
Napas berat di lehernya.
Dada bertato yang melekat di tubuhnya.
Tatapan samar di remang-remang klub Eclipse.
Keira mematung.
Napasnya tercekat.
Ethan memperhatikan ekspresinya yang berubah. “Keira?” suaranya rendah, sedikit curiga.
Keira tersentak kembali ke realitas. “Eng-nggak! Saya… Saya cuma… kaget aja! Tato bapak… gede…”
Dia memalingkan muka, pipinya merah padam.
Astaga Keira, idiot!
Ethan semakin melangkah mendekat, pelan, tapi mantap.
Hanya tinggal satu meter jarak yang memisahkan mereka sekarang.
“Kenapa kamu melihat tato ini seperti… kamu pernah menyentuhnya?”
Suaranya pelan, tajam, seperti ujung mata pisau dingin.
Keira hampir melompat. “A-APA?! Nggak pernah! Nggak pernah nyentuh! Nggak kenal! Nggak tahu! Mana berani saya nyentuh bos saya?!”
Tapi jantungnya berdetak terlalu cepat.
Kakinya lemas.
Kepalanya kacau.
Dan Ethan…
Masih menatapnya. Intens. Dalam. Membaca setiap gerakannya.
Seolah dia tahu Keira sedang menyembunyikan sesuatu.
...****************...
tutur bahasanya rapi halus tegas jarang tipo atau mungkin belum ada
semangat tor 💪💪💪