ceita ini tentang seorang gadis muda, yang rela menikahi bos di tempatnya bekerja. Demi membiayai pengobatan sang adik yang terbaring koma di rumah sakit.
Lelaki yg menikahinya, seorang yang sangat dingin, jarang banyak bicara tapi, sebenernya ramah dan penyayang.
Hanya saja kehidupan rumah tangganya dulu, yang hancur membuat laki-laki itu seakan menutup diri.
Bagaimana gadis ini menjalani rumah tangganya?
Sanggupkah dia bertahan?
mari kita simak sama-sama😊
ini karya pertamaku kak mungkin sedikit berantakan dalam penulisan jadi mohon bimbingannya ya😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cietyameyzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Semesta seakan ikut bahagia. Kicauan burung terdengar bergembira, angin berhembus menari-nari di udara.
Lisa tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Apa ini serius, atau sekedar permainan jebakan untuknya.
Rendy terus menatap Lisa, tak ada ekspresi apapun dari istrinya ini.
"Apa kamu tak mencintaiku juga?" tanya Rendy.
"Eh..anu.." Lisa tak tau harus berkata apa, mulutnya seakan terkunci.
"Aku kira kamu juga suka padaku," ucap Rendy memfokuskan kembali pandangannya pada danau di depannya.
Mungkin benar, Rendy terlalu cepat membuat kesimpulan. Rendy kira istrinya ini akan memiliki perasaan yang sama seperti dia.
"Aku juga sedang belajar mencintaimu, Mas. Aku terus belajar menerima keberadaanmu. Aku menerima takdir yang Allah tentukan untukku. Sekalipun itu menyakitkan bagiku. tapi itulah yang terbaik menurut Allah," ucap Lisa jelas.
Rendy tersenyum mendengar jawaban spontan dari Lisa.
"Apa kamu mau melewati sisa hidupmu denganku?. Berbagi sakit,sedih,senang dan bahagia?" tanya Rendy.
Lisa mengangguk, dia sudah tak bisa berbicara lagi. Ini benar-benar sebuah keajaiban dalam hidupnya. Kebahagian bertubi-tubi datang padanya kali ini.
"Berjanjilah padaku, apapun yang terjadi jangan coba lari dariku. Karena sekali kamu sudah masuk ke dalam kehidupanku, maka aku tak kan melepaskanmu!"
Perkataan Rendy terdengar seperti ancaman, tapi sebenarnya ini ekspresi rasa sayang yang Rendy coba ungkapkan.
"Iya mas." Jawab Lisa.
Tanpa aba-aba Rendy memeluk erat istrinya. Dia sudah menentukan keputusan yang terberat dalam hidupnya, tapi semua harus berjalan sesuai kenyataan.
...****************...
Sepulangnya dari taman, sikap Rendy semakin berubah. Dia sedikit manja dengan Lisa. Lisa saja agak sedikit canggung, apalagi begitu sampai rumah Rendy tak membiarkan istrinya ini keluar kamar.
"Mas ini sudah waktunya makan malam, aku harus memasak," ujar Lisa berharap Rendy mau melepaskan pelukannya sebentar saja.
"Sebentar lagi sayang." jawab Rendy.
Sayang..Itu panggilan Rendy untuk Lisa sekarang semenjak kejadian di taman. Rendy berjanji dalam hati, berusaha semampunya membahagiakan Lisa.
"Sayang, apa kamu tidak mau berhenti berkerja dan diam di rumah saja?" tanya Rendy.
"Insyaalloh kalau sudah waktunya, aku akan keluar kerja mas. Tapi aku sudah terbiasa bekerja dari remaja, jadi akan terasa suntuk jika aku berdiam saja di rumah. Itu bukan berarti aku tidak menerima kodratku sebagai wanita, yang memang sebaiknya diam di rumah saja!"Jelas Lisa.
"Kalau kamu sudah siap berhenti bekerja, kamu bisa mencari kesibukanmu sendiri. seperti..." ujar Rendy tak melanjutkan ucapannya.
"Seperti apa mas?" tanya Lisa penasaran.
"Ya seperti, misalnya mengasuh anak-anak kita nanti."
DEG..
Hati Lisa tersentak, benarkah yang di katakan suaminya ini kalau Rendy ingin memiliki anak dari Lisa?.
Perkatan Rendy di awal pernikahan masih teringat jelas oleh Lisa. Tapi sudahlah, bukankah sekarang mereka sama-sama sedang saling menerima satu sama lain.
"Anak-anak kita mas?"
"Iya, atau jangan-jangan kamu tak mau melahirkan anak untukku?" tanya Rendy.
Rendy melepaskan pelukannya, membalikkan badan Lisa agar berhadapan dengan dirinya.
"Bukan begitu maksudku mas, hanya saja.." Lisa tak berani mengatakannya.
"Hanya apa?"
"Saat dulu mas bilang padaku, kalau mas tidak menuntut apapun dariku. Aku pikir mas juga tidak mau mempunyai anak dari rahimku," beber Lisa.
Rendy terdiam mendengar jawaban istrinya ini. Bagaimana bisa Lisa menyimpulkan sesempit ini dari ucapannya dulu.
"Kamu salah, aku bukan tak ingin memiliki anak darimu. Tapi maksud aku, aku tak ingin kamu terbebani dari pernikahan ini. Makanya aku tak mau menuntut apa pun!" jelas Rendy.
Rendy memegang pipi Lisa dengan kedua tangannya. Mata mereka saling bertatapan, Lisa merasa sedikit gugup jika sudah seperti ini.
"Apa kamu ingin tau alasanku bahwa aku tidak mau ada perceraian di antara kita. Sekalipun aku menyadari, kita menikah bukan karena cinta," lanjut Rendy.
"Iya, Mas,"
"Karena setiap orang pasti berubah, begitupun kita. Dulu kita tak saling cinta dan menutup diri sendiri, tapi sejalannya waktu kita bisa saling menerima kehadiran pasangan masing2," ucap Rendy
Lisa terdiam, sungguh lelaki di hadapannya ini memiliki pemikiran yang dewasa. Rendy tak pernah berkata kasar, atau pun berteriak pada Lisa. Sekalipun Rendy sering acuh, tapi Rendy tak pernah menelantarkan Lisa.
...****************...
Keesokan paginya, Rendy dan Lisa sibuk dengan kegiatannya. Sebelum berangkat Lisa sempat menyiapkan kotak bekal makan siang untuk Rendy, tentu saja atas permintaan Rendy sendiri.
Di kantor Lisa tengah sibuk menyapu lantai, pikirannya melayang mengingat kejadian akhir-akhir ini. Sungguh ini terasa menyenangkan.
"Hei, ngelamun mulu kamu," ujar Mona yang baru menghampiri sahabatnya.
"Aih, kamu ini demennya ngagetin orang aja."
"Eh, gimana udah ada perkembangan belum sama si babang ganteng,"
"Perkembangan apanya?" tanya Lisa.
"Ya, misalnya udah bobo bareng gitu! ucap Mona penasaran.
Mereka selesai menyapu depan, lalu berpindah tempat ke bagian belakang kantor.
"Kalau itu mah tiap malam juga aku tidur bareng sama mas Rendy," tutur Lisa.
"Haduh Lisa, kamu kalau polos jangan kebangetan deh. Maksud bobo bareng di sini tuh, bukan tidur seranjang terus bangun. Bukan Lisa." ucap Mona gemas.
"Lah, kan tadi kamu bilang bobo bareng. Emang kaya gitu kan?"
"Ya Allah, gimana jelasinnya sama kamu ya. Kalau maksud aku itu bukan kaya gitu!"
"Terus maksud kamu itu kaya gimana."
Mona mendekat pada Lisa. kedua tangannya dia kepal hanya menyisakan jempol di setiap tangan, lalu menggerakan kedua jempolnya seperti saling beradu.
"Gini nih maksud aku, kamu sama babang tampan udah kaya gini belum?" tanya Mona.
Lisa yang semakin bingung dengan ucapan Mona hanya diam memandang sahabatnya ini.
"Kamu beneran engga ngerti?" tanya Mona sekali lagi.
Lisa menggelengkan kepalanya.
"Ya Allah, boleh engga kalau Mona yang cantiknya sedunia maya ini nabok bocah ini sekali aja," cap mona sambil mengangkat tangannya seperti layaknya sedang berdoa.
Rey yang tak sengaja lewat belakang kantor, melihat interaksi kedua wanita itu. Rey penasaran apa yang membuat mereka begitu asyik sekali, lalu Rey memutuskan untuk menghampiri Lisa dan Mona.
"Hmm..hmm." Rey berdehem menyadarkan kedua wanita itu.
Mona dan Lisa kompak membalikkan badan ke arah Rey, lalu mengangguk tanda hormat.
"Eh, pak Rey," sapa Mona.
"Ada apa nih, kayanya seru banget," tanya Rey.
"Oh ini kita lagi ngomongin sesuatu pak," kata Mona.
"Ngomongin apa?"
Mona tak menjawab, dia memberi kode ke Lisa agar Lisa menjawab pertanyaan Rey. Lisa yang memang notabennya, jarang berbohong bicara apa adanya.
"Begini pak, apa pak Rey tau arti seperti ini? tanya Lisa sambil mengikuti gerakan Mona tadi.
"Tadi Mona bilang, kalau wanita dan lelaki yang sudah menikah itu suka seperti itu," lanjut Lisa.
Mona tercengang mendengar ucapan Lisa, bisa-bisanya Lisa bertanya seperti itu pada pak Rey. Apalagi Lisa bilang kalau itu ucapannya.
"Malunya aku," batin Mona.
Rey yang mendengar pertanyaan Lisa, tak bisa menahan tawanya. Dia benar-benar tak menyangka, istri bosnya ini sangat polos.
"Bhahahahaha." tawa Rey.
"Memang ada yang lucu pak Rey sama pertanyaan saya?." tanya Lisa keheranan.
"Bukan gitu Lis, sebaiknya untuk soal ini kamu tanyakan aja sama suamimu. Saya takut salah bicara. Ha ha ha," ucap Rey yang masih terus tertawa.
"Kalau gitu saya tinggal dulu, jangan Lupa tanyakan ya, Lis," lanjut Rey membalikkan badan untuk kembali ke ruangannya lagi.
Rey melirik Mona sekejap, tatapannya tak bisa di artikan. Rey menilai Mona sebagai wanita tangguh, sama halnya dengan Lisa.
Rey sering mendengar gosip dari bawahannya, kalau Mona bekerja keras untuk menghidupi ibu juga adik-adiknya yang masih sekolah, Mona menjadi tulang punggung semenjak ayahnya meninggal.
Rey menoleh kembali ke arah Lisa dan Mona, lalu telunjuk tangan kanannya menunjuk Mona seraya berkata.
"Dan untuk kamu, Kamu cukup menarik," ucap Rey sambil tersenyum.
Memang Rey sudah tau, kalau Mona mengetahui pernikahaan Lisa dan bosnya dari awal.
...****************...
BERSAMBUNG~~~
Maafkan author ya kalau ceritanya kurang menarik😁
Tetap dukung aku ya dengan kasih Like&coment🤗
SELAMAT MEMBACA😊😊