Bayu, seorang penyanyi kafe, menemukan cinta sejatinya pada Larasati. Namun, orang tua Laras menolaknya karena statusnya yang sederhana.
Saat berjuang membuktikan diri, Bayu tertabrak mobil di depan Laras dan koma. Jiwanya yang terlepas hanya bisa menyaksikan Laras yang setia menunggunya, sementara hidup terus berjalan tanpa dirinya.
Ketika Bayu sadar dari koma, dunia yang ia tinggalkan tak lagi sama. Yang pertama ia lihat bukanlah senyum bahagia Laras, melainkan pemandangan yang menghantam dadanya—Laras duduk di pelaminan, tetapi bukan dengannya.
Dan yang lebih menyakitkan, bukan hanya kenyataan bahwa Laras telah menikah dengan pria lain, tetapi juga karena pernikahan itu terpaksa demi melunasi hutang keluarga. Laras terjebak dalam ikatan tanpa cinta dan dikhianati suaminya.
Kini, Bayu harus memilih—merebut kembali cintanya atau menyerah pada takdir yang terus memisahkan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Memanfaatkan
Bayu duduk di kursi roda di balkon kamar rumah sakit, menatap langit senja yang perlahan memudar. Tangannya mencengkeram selimut yang menutupi kakinya, perasaan bercampur aduk memenuhi dadanya. Ia benci merasa lemah, benci harus bergantung pada orang yang dulu membencinya. Shailendra, ayahnya, kini berdiri di belakangnya, diam sejenak sebelum melangkah mendekat dengan membawa semangkuk sup hangat.
"Dokter bilang kau harus banyak makan agar cepat pulih," suara Shailendra terdengar tenang, nyaris lembut.
Bayu tidak langsung menjawab. Ia tetap menatap lurus ke depan, merasa aneh dengan perhatian ini. Dulu, tatapan ayahnya selalu penuh kebencian. Sekarang, yang ia lihat hanyalah rasa bersalah yang dalam.
"Kenapa repot-repot, Pa?" suara Bayu terdengar dingin. "Bukankah lebih baik Papa biarkan aku mati saja? Seperti dulu, saat Papa bahkan tak peduli aku hidup atau tidak?"
Shailendra terdiam, tatapan matanya suram. "Papa sudah melakukan banyak kesalahan, Bayu."
Bayu tertawa kecil, getir. "Iya, dan sekarang Papa ingin menebus semuanya? Aku harus bagaimana? Menerima begitu saja? Seolah semua luka dan kebencian itu bisa hilang hanya karena Papa tiba-tiba bersikap baik?"
Shailendra menarik napas panjang. "Papa tidak meminta maaf agar kau segera memaafkan. Papa hanya ingin melakukan hal yang seharusnya Papa lakukan sejak dulu."
Bayu menoleh, tatapannya tajam dan penuh luka. "Tapi aku belum bisa memaafkan Papa. Seumur hidup, aku hanya diberi uang bulanan tanpa dianggap ada. Papa lebih menyayangi dan membanggakan orang lain dibanding anak kandung sendiri." Suaranya bergetar, bukan karena lemah, tapi karena terlalu banyak luka yang selama ini ia pendam.
"Aku masih berusaha menjadi anak yang baik. Aku mencoba bertahan, berharap Papa melihatku, percaya padaku. Tapi tidak. Papa lebih percaya pada mereka—orang-orang yang hanya ingin menghancurkan hubungan kita demi keuntungan mereka sendiri. Aku sudah mencoba memperingatkan, tapi Papa menutup telinga. Sekarang, setelah Papa dikhianati, baru Papa sadar dan ingin memperbaiki segalanya?"
Shailendra mengepalkan tangan di sisi tubuhnya, menahan emosi yang bercampur aduk. Hubungannya dengan Bayu sangat kompleks dan penuh luka dari masa lalu. Hubungan ayah-anak yang seharusnya dekat, tetapi dihancurkan oleh kebencian, kesalahpahaman, dan manipulasi pihak ketiga.
Shailendra dulu membenci Bayu karena kehilangan wanita yang dicintainya, dan ia menutup hatinya terhadap anaknya sendiri. Ia membangun tembok kebencian, lebih memilih mempercayai istri keduanya dan anak yang ia kira darah dagingnya, daripada mempercayai Bayu.
Hal ini membuat Bayu tumbuh dengan perasaan tidak diinginkan, hanya dianggap sebagai beban yang perlu diberi uang, tapi tidak diberi kasih sayang.
Namun, kini keadaan berbalik. Shailendra sadar bahwa ia telah salah, bahwa ia telah ditipu dan kehilangan banyak waktu berharga bersama anak kandungnya. Tapi meskipun ia ingin memperbaiki segalanya, Bayu bukanlah anak yang bisa begitu saja melupakan semua luka yang telah ia terima. Ia berhak marah, kecewa, dan menuntut jawaban. Ia berhak membenci. Dan ia pantas menerima semua ini.
Tapi setidaknya, ini bukan akhir. Ini adalah langkah pertama untuk menebus segalanya.
***
Laras baru saja keluar dari kantor ketika matanya menangkap pemandangan yang membuatnya berhenti di tempat. Sherin—adiknya—berjalan keluar dari sebuah restoran mewah bersama Edward.
Edward membuka pintu mobil untuk Sherin dengan senyum hangat, seolah-olah pria itu adalah kekasih sejati yang penuh perhatian. Sherin, dengan wajah berbinar, tampak tersipu saat menerima hadiah kecil dalam kotak beludru yang Edward sodorkan padanya.
Laras mengepalkan tangan. Ini pasti disengaja.
Dengan langkah cepat, Laras menghampiri mereka. “Sherin,” suaranya terdengar lebih tajam dari yang ia maksudkan. “Apa yang kau lakukan di sini?”
Sherin menoleh dengan wajah berbinar. “Oh, Kak! Pak Edward mengajakku makan malam.”
Laras menatap Edward dengan penuh kecurigaan. Pria itu hanya menyeringai tipis. “Kami kebetulan bertemu. Aku pikir, tak ada salahnya mengajak adikmu makan malam, 'kan? Dia terlihat sangat manis malam ini.”
Laras mengabaikan godaan halus itu dan menatap Sherin. “Kenapa kau mau pergi dengannya?”
Sherin mendengus. “Kenapa tidak? Pak Edward pria baik. Dia hanya ingin mengenalku lebih jauh.”
Laras mendengus sinis. “Kau yakin hanya itu? Atau kau tak sadar sedang dimanfaatkan?”
Sherin melipat tangan di dada. “Kakak kenapa sih? Selalu negatif thinking! Hanya karena Kakak tak menyukai Pak Edward, bukan berarti dia seburuk itu.”
Edward tertawa kecil. “Kau selalu berprasangka buruk padaku, Laras. Tapi lihat adikmu, dia bisa menilainya sendiri.”
Laras mendekat, menatap Edward tajam. “Aku tahu apa yang kau lakukan. Kau sengaja mendekati Sherin untuk membuatku marah, 'kan?”
Edward tetap tersenyum, tapi matanya berkilat licik. “Kau terlalu tinggi hati, Laras. Tidak semua hal tentangmu.”
Laras ingin membalas, tapi Sherin sudah lebih dulu menarik tangan Edward, seolah ingin menghindari konfrontasi lebih lanjut.
“Kak, kau terlalu serius. Aku hanya ingin bersenang-senang. Jangan berlagak seperti ibuku,” ujar Sherin sambil merajuk.
Laras merasakan kemarahan mendidih di dadanya. Edward benar-benar memainkan permainan kotornya. Tapi ia tak bisa langsung menarik Sherin tanpa membuat keadaan semakin buruk.
Sementara itu, Edward tersenyum menang. Ia tahu Laras mulai terusik.
Dan permainan baru saja dimulai.
***
Di rumah keluarga Darma, suasana lebih ramai dari biasanya. Sherin baru saja pulang dengan wajah berbinar, membawa tas belanja dari butik terkenal. Wati langsung menyambutnya dengan penuh semangat.
"Kamu beli apa saja, Sayang?" tanya Wati antusias, matanya berbinar melihat tas belanja itu.
Sherin tersenyum bangga. "Ini dari Pak Edward, Bu. Dia bilang aku pantas mendapatkan sesuatu yang cantik."
Wati langsung menoleh ke Darma dengan mata penuh harapan. "Pak, dengar itu? Pak Edward perhatian sekali!"
Darma mengangguk puas. "Bagus! Memang seharusnya begitu. Dia laki-laki mapan, kalau dia serius dengan Sherin, kita bisa tenang."
Laras yang baru saja masuk ke ruang tengah langsung merasa gerah mendengar percakapan itu. Ia meletakkan tasnya dengan kasar dan menatap Sherin tajam.
"Kamu serius membiarkan dia memperlakukanmu seperti itu, Sherin?" suara Laras penuh ketidakpercayaan.
Sherin mendengus dan menaruh tas belanjanya di meja. "Kak, kamu ini kenapa sih? Bukannya ikut senang, malah nyinyir!"
Laras menatap Sherin dengan tajam. "Kamu tahu Edward itu buaya darat, 'kan? Apa kamu pikir dia benar-benar serius sama kamu?"
Sherin melipat tangan di dada. "Kalau pun iya, lalu kenapa? Dia lajang, aku juga. Dan setidaknya dia menghargai aku, tidak seperti kamu yang selalu menjelek-jelekkannya!"
Wati mengangguk setuju. "Iya, Laras. Kamu itu terlalu keras kepala! Coba lihat adikmu, dia bisa mengambil kesempatan. Pak Edward pria kaya, tampan, sukses dan singel. Memangnya ada yang salah kalau Sherin dekat dengannya?"
Laras mendengus. "Masalahnya, Edward tidak bisa dipercaya! Dia bukan pria yang layak untuk Sherin!"
Darma, yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara. "Laras, dengarkan Ayah. Kamu itu keras kepala, terlalu idealis. Hidup ini bukan cuma soal benar dan salah, tapi juga soal kesempatan. Kalau Sherin bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik, kenapa kamu malah menghalangi?"
Laras menatap ayahnya dengan penuh kekecewaan. "Jadi, Ayah juga setuju kalau Sherin hanya dijadikan mainan?"
Darma mengangkat bahu. "Kalau Pak Edward serius, apa salahnya? Kalau tidak pun, Sherin juga bukan anak kecil. Dia bisa mengambil keputusan sendiri."
Laras mengepalkan tangan, geram melihat keluarganya yang begitu mudah terbuai oleh harta Edward. Mereka sama sekali tidak sadar kalau pria itu hanya memancingnya dengan Sherin.
Sherin mendekat dan menatap Laras penuh tantangan. "Kak, aku tahu kamu cuma cemburu karena Pak Edward memilih mendekatiku. Kamu pikir dia masih mengharapkanmu setelah kamu mempermalukannya di depan umum?"
Laras menatap adiknya tajam. "Percaya sama aku, Sherin. Edward itu berbahaya."
Sherin tersenyum sinis. "Atau mungkin kamu takut aku yang akan mendapatkan perhatian dan keuntungan dari Edward, bukan kamu?"
Laras menghela napas panjang, menahan emosinya. Sherin sudah termakan permainan Edward. Dan keluarganya... mereka terlalu buta untuk melihat apa yang sedang terjadi.
Laras harus menemukan cara untuk menghentikan ini sebelum Sherin jatuh lebih jauh.
...🍁💦🍁...
.
To be continued