Andre Pratama kalah taruhan dengan teman-temannya. Sebagai hukuman, dia harus melamar seorang wanita yang sangat tidak dia harapkan.
Namun, demi memenuhi janji dengan teman-temannya, dia melakukan lamaran tersebut. Padahal, dia masih menjalin hubungan dengan sang primadona di kampusnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IkeFrenhas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Cinta atau Kesepakatan
Ruangan itu masih sunyi, hanya deru napas yang terdengar nyaring di telinga. Jika saja suara detak jantung bisa terdengar, tentulah mampu memekakkan telinga.
"Dew, dari mana?" Andre masih menatap tajam, pertanyaannya tak kunjung mendapat jawaban dari Dewi.
Tangan Andre terulur, memegang kedua bahu Dewi lalu mengguncangnya pelan.
"Dew ...." Suara Andre kini melemah. Terdengar lembut, tapi menuntut.
Dewi mengerjapkan mata, dengan mulut sedikit terbuka. Entah mengapa, lidahnya terasa kelu untuk sekadar menyapa. Dia hanya bergeming, menatap lelaki di hadapan. Segala tanya dalam kepala dibiarkan begitu saja tanpa mendapat jawaban.
Seketika matanya mendelik, saat mendapati Andre malah mencium bibirnya.
Namun, bayangan Andre juga melakukannya pada Anggita memporak-porandakan pertahanan Dewi. Sontak dia mendorong dada Andre, agar menjauh darinya. Dewi memalingkan wajah, menepis rasa dalam dada agar tidak terhanyut oleh buaian sesaat.
Tanpa bisa dicegah, air mata itu begitu lancang mengalir membasahi kedua pipi Dewi. Sekarang, wajahnya tampak semakin kacau.
"Maaf ... maafkan aku, Dew. Aku ... aku ...." Andre bingung dengan apa yang terjadi. Kenapa Dewi menolaknya? Apa salahnya?
Andre mencoba merengkuh tubuh Dewi dalam pelukan, tapi sia-sia. Sebab wanita itu begitu bersikeras menolaknya.
Tidak bisa dipungkiri, ada yang tercabik di dada Andre menerima penolakan Dewi. Tidak biasanya istrinya begini.
"Dew, apa yang terjadi? Kenapa ... kenapa?" Andre terus memberondong pertanyaan kepada Dewi yang tak kunjung mendapatkan jawaban.
"Apa yang lu lakuin?!" Amika telah berdiri di samping Dewi. Membantu wanita itu agar terlepas dari kungkungan Andre.
"Apa yang lu lakuin ke sahabat, gue? Hah!" Amika berbicara dengan mata memerah.
Tidak lama kemudian Arman menyusul ke dapur. Tangannya mengelus punggung kekasihnya.
"Sudah, ayo," bisik Arman.
"Aku kesel banget sama Andre. Sok tahu, sok peduli. Padahal dia sendiri yang buat Dewi kayak gini." Amika membalas dengan menekan suaranya.
"Iya ... iya, aku tahu." Arman terus menenangkan Amika, yang tampaknya lebih terlihat emosi dibandingkan Dewi sendiri. Padahal dia tidak tahu masalah sebenarnya.
"Lu, ke mana semalam. Ha?" Amika bertanya sarkartis. "Jangan bilang lu lagi bercinta sama Anggita itu, padahal istri lu lagi sakit," lanjutnya.
"Amika," tegur Dewi mendengar perkataan Amika yang menurutnya sudah tidak layak diperdengarkan.
"Gua sebel sama laki lu." Amika membalas tak mau kalah.
"Apa maksudnya kamu sakit, Dew?" Andre bertanya khawatir, mengabaikan perkataan Amika.
"Lu enggak usah pura-pura. Lu ke mana semalam? Jadi bener dugaan gua, ha?" Amika masih memberondong Andre dengan pertanyaan dan tatapan sinis.
"Buka urusan lu. Lebih baik kalian pergi dari rumah gua!" Andre kesal, dia merasa Amika sudah terlalu masuk mencampuri urusan rumah tangganya.
"Heh. Sadar diri lu, suami enggak bertanggung jawab aja belagu." Amika membusungkan dada, menatap Andre penuh permusuhan.
"Gua bilang kalian keluar dari rumah ini. Kurang jelas, ha?!" Suara Andre meninggi.
Dewi terkesiap mendapati kemarahan Andre. Dia tidak pernah melihat suaminya sebegitu marahnya seperti ini. Itu pertama kalinya.
Dewi menatap Amika. Menggenggam tangan sahabatnya itu. "Gua enggak apa-apa, kalau kalian mau pulang." Suaranya lemah.
"Lu belain suami gak tahu diri itu?" tanya Amika tidak terima mendengar penuturan Dewi.
Dewi menggeleng lemah. "Gua cuma malu sama kalian. Udah ngerepotin, terus dengerin pertengkaran kami juga. Tolong mengertilah. Gua juga butuh istirahat."
"Yaudah kalau gitu, jangan nangis lagi. Kita pulang. Tapi ingat, kalau ada apa-apa. Langsung telpon gua. Ngerti?"
Dewi mengangguk, hatinya seketika menghangat mendapatkan perhatian yang begitu banyak dari sahabatnya.
"Makasih. Lu emang sahabat terbaik gua." Dewi berujar lembut.
Lalu pandangannya beralih pada Arman yang masih berdiri di tempatnya, memperhatikan perdebatan mereka. "Makasih, ya Kak. Titip Amika, dia emang suka emosian. Hati-hati aja, kalau jurusnya keluar."
"Sialan, lu." Amika memukul bahu Dewi pelan.
Sedangkan Arman tersenyum menyaksikan kehangatan kedua sahabat itu.
"Tentu. Kamu hati-hati, ya ...." Arman mengangguk meraih bahu Amika menuntunnya keluar. Sebelum melangkah lebih jauh, Arman berbalik menatap Andre tajam. "Jangan sakiti Dewi. Karena dia berarti untuk kami. Kalau lu berani buat dia nangis lagi, lu berhadapan sama gua." Setelah mengatakan itu, Arman dan Amika keluar meninggalkan kontrakan tersebut.
Mata Andre melotot, kaget mendengar perkataan Arman yang terdengar seperti ancaman.
Dewi meninggalkan Andre seorang diri di dapur.
Andre menyusul Dewi di kamar, lalu memeluk istrinya dari belakang. "Maafkan aku."
Entahlah, ucapan Andre kali ini terdengar tulus. Dewi terpaku di tempat bingung harus merespon begaimana perkataan maaf dari Andre.
"Maafkan aku." ulang Andre lagi. "Maaf ... telah membuatmu sesakit ini. Aku janji akan memperbaiki semuanya untuk hubungan kita." Andre semakin melingkarkan tangannya di pinggang Dewi.
Dewi tersenyum, lalu mengurai pelukan Andre di pinggangnya. Dia pun berbalik menghadap Andre. Kedua tangannya menangkup pipi suaminya, menatap dalam pada kedua mata yang kini telah berkaca-kaca.
"Aku maafkan," ucapnya lembut. "Jangan terlalu memaksakan diri pada sesuatu yang tidak bisa Kaka tepati. Lagi pula, pernikahan kita tinggal hitungan bulan. Semuanya akan berakhir." Dewi meringis menahan sakit di ulu hatinya.
Mengatakan kebenaran tentang hubungan mereka, nyatanya membuat hatinya seperti teremas. Sakit, tapi tak berdarah.
Hatinya begitu merana, tapi bagaimanapun juga dia harus siap pada perpisahan sesuai kesepakatan mereka. Tidak, lebih tepatnya sesuai permintaan Andre.
Andre menggeleng, lantas bulir bening itu pun mengalir membasahi kedua pipinya. Dia sendiri tidak tahu sebab pastinya, kenapa menangis begini? Hanya saja, perkataan Dewi tentang perpisahan membuat dadanya begitu sesak. Lantas, seperti teriris sembilu yang membuatnya mengeluarkan cairan bening itu.
Dewi menghapus air mata Andre dengan ibu jarinya. Lalu meraih kepala lelaki yang dia cintai tersebut, dan diletakkannya di dada. Siapa sangka, jika perlakuannya malah membuat Andre semakin tergugu menangis.
Dewi mengelus punggung lelakinya. Bukankah dia telah berjanji akan membahagiakan lelaki itu. Lelaki yang menikahanya karena taruhan. Lelaki yang begitu dicintainya sejak sekian lama.
Akhirnya, Andre dan Dewi saling berpelukan erat di ranjang. Menumpahkan segala rasa yang mereka miliki.
Entah bagaimana awalnya, Andre selalu mampu membuat Dewi bertekuk lutut tak berdaya oleh segala belaian lembut yang lelaki itu berikan.
Walaupun Dewi tahu, bisa jadi Andre tidak sengaja melakukannya. Namun, luapan rasa kali ini seperti menumpahkan segala kecamuk yang ada dalam benak.
Mereka pun melebur menjadi satu, menggapai puncak tertinggi dari segala rasa yang berkeliaran di dada pada satu muara bernama hasrat.
"Aku belum siap kehilangan kamu, Dew. Aku bisa gila," ucap Andre dengan napas tersengal.
Dewi tidak menjawab, dadanya masih kembang kempis. Napasnya pun masih terputus-putus. Rasanya, dia ingin menjerit melantangkan suara hati, mengungkapkan rasa berapa dia mencintai lelaki dalam pelukannya ini.
Namun, lidahnya begitu kelu. Suaranya seolah tercekat di tenggorokan. Hanya mampu mengalirkan buliran bening.
"Jangan menangis lagi. Aku begitu terluka melihatmu menangis." Andre mengecup kedua mata Dewi, lalu turun ke pipi. Menghapus jejak basah itu dengan bibirnya.