Nayla, gadis yang dibesarkan di panti asuhan harus bekerja keras memenuhi kebutuhan adik-adik pantinya. Suatu hari dia bertemu dengan wanita kaya raya yang menyuruhnya untuk menikahi putranya.
Awalnya Nayla menolak, karena dia sudah berjanji pada teman masa kecilnya. Tapi karena suatu keadaan dia terpaksa menyetujuinya.
Akankah kehidupan rumah tangga Nayla bahagia, ketika rumah tangga yang di bangun berusaha di rusak oleh sang mertua yang awalnya menjodohkannya?
Bagaimana nasib Nayla, saat sahabatnya berubah menjadi musuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samudra lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kenapa rasanya sakit...
Nayla masih terdiam sambil memegangi pipinya.
"Nay, cepat beri tahu aku! Siapa orang yang menamparmu!" seru Alvin lagi.
Alvin memegang kedua bahu Nayla, dia menatap kedua bola mata istrinya itu. Dia benar-benar tidak terima melihat ada bekas tamparan di pipi istriya.
"Al, ini ...,"
"Ibu yang menamparnya," jawab seseorang yang baru saja datang dari balik pintu. Dan dia adalah Sarah, ibu Alvin.
"Ibu, tapi apa yang Nayla lakukan sampai ibu menamparnya?" tanya Alvin kepada ibunya.
"Nayla, kamu mau ibu yang menjawabnya atau kamu yang akan menjawabnya sendiri?"
"Apa-apaan ini? Apa yang sebenarnya ingin ibu lakukan?" batin Nayla.
"Nay, apa yang telah kamu lakukan hingga ibu sampai menamparmu?" tanya Alvin.
Bagi Alvin ibunya adalah sosok malaikat yang tidak mungkin melakukan kesalahan. Jika ibunya sampai menampar istrinya, pasti Naylalah yang sudah membuat kesalahan.
"Al, aku ..,"
Nayla merasa kebingungan harus memberikan jawaban apa kepada Alvin. Dia yakin, kalau ibu Alvin pasti memiliki rencana lain sampai dia mengakui bahwa dialah orang yang menamparnya.
Sarah menatap Nayla dengan senyum liciknya.
"Nay, jawab aku!" seru Alvin dengan sedikit berteriak.
"Al, aku...,"
"Jangan berteriak pada Nayla, Al! Tadi ibu yang salah. Ibu mengira kalau Nayla berselingkuh tadi, makanya ibu menamparnya. Ibu hanya tidak mau dia mengkhianatimu," jelas Sarah, yang tentu saja dengan sejuta kebohongan.
"Maksud ibu?"
"Tadi Nayla berbicara dengan seorang laki-laki di depan pintu gerbang rumah kita, ibu mengira kalau dia adalah kekasih Nayla. Tapi ternyata ibu salah, dia hanya menanyakan alamat pada Nayla," ujar Sarah.
Alvin bernapas lega, dia sempat mengira kalau istrinya benar-benar melakukan kesalahan besar. Alvin selalu berpikir kalau ibunya benar-benar orang baik.
"Bu, Al minta, lain kali ibu jangan langsung menampar Nayla ya!" pinta Alvin kepada ibunya.
"Iya, Al. Tadi ibu bersikap begitu karena ibu tidak mau ada orang yang menyakitimu, maafkan Ibu ya, Al!" kata Sarah dengan tutur kata yang di buat semanis mungkin.
"Maafkan ibu juga ya, Nay!" ucap Sarah kepada Nayla.
"Sudahlah, Bu. Lupakan itu! Aku yakin, Nayla juga sudah melupakannya," jawab Alvin.
"Iya, Bu. Nay sudah melupakannya," kata Nayla.
"Ya, sudah. Ibu kembali ke kamar ibu ya. Kalian istirahatlah!" seru Sarah.
Sebelum keluar dari kamar anaknya, Sarah memberikan tatapan tajamnya kepada Nayla. Tatapan yang mengisyaratkan sebuah ancaman untuknya.
Alvin kembali menutup pintu kamarnya, dia duduk di tepi ranjang.
"Apa masih sakit?" tanya Alvin seraya menyentuh pipi Nayla dengan sangat lembut.
"Tidak, Al" jawab Nayla.
"Ya sudah, istirahatlah lagi!" seru Alvin.
"Al, kalau boleh tahu dari mana kamu sampai pulang selarut ini?" tanya Nayla kepada suaminya.
"Aku ... aku ada keperluan tadi,"
Dari gelagat yang di tunjukkan oleh Alvin, dia tahu kalau suaminya itu menyembunyikan sesuatu.
"Apa kamu menemui gadis yang bernama Putri?"
Alvin menatap Nayla, dia tidak tahu harus menjawab apa kepada istrinya itu.
"Siapa Putri, Al?" tanya Nayla lagi.
Alvin masih terdiam.
"Apa Putri adalah wanita yang kamu cintai?" tanya Nayla sekali lagi.
Alvin beranjak dari tempatnya duduk, dia berdiri membelakangi Nayla.
"Al.." panggil Nayla.
Alvin menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Berkali-kali dia melakkan itu.
"Putri ... Putri adalah...Putri adalah gadis yang aku cintai sejak kecil. Aku sudah berjanji untuk menikahinya, tapi aku malah mengingkarinya."
Mendengar pengakuan dari Alvin, tubuh Nayla menjadi lemas. Dia sadar kalau Alvin menikahinya memang bukan karena cinta. Tapi tetap saja rasanya sakit ketika dia mendengar langsung dari mulut suaminya.
suka banget, walopun sebel banget sama karakter Vita di novel ini.. 😡
semoga sehat selalu ya kak..
mau baca karya2mu lainnya, bikin nagih soalnya..
semangat terus untuk berkarya ya kak.. 💪🏻😘🥰
APA -APAAN INI ???!!!
semoga bs baca ampe tamat.