Tama datang dengan satu tujuan: menjaga Lengkara.
Bukan untuk dimiliki, apalagi diperebutkan—cukup memastikan gadis itu baik-baik saja.
Namun mendekati Lengkara tak sesederhana rencananya.
Saat Tama sibuk mencari cara supaya selalu ada di dekat Lengkara, justru Sasa muncul tanpa aba-aba. Terlalu berisik, terlalu berani, dan terlalu sering menyebut namanya seolah mereka sudah sedekat itu.
Ironisnya, Sasa adalah adik dari laki-laki yang terang-terangan disukai Lengkara.
“Bang, 831 gimana? Yes or no?” Sasa menatapnya penuh harap.
Tama mendengus, menahan senyum yang tak seharusnya ada. “Apaan sih, nggak jelas banget!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berlawanan
Setelah Tama pulang, Sasa kembali bergabung dengan Selvia dan Dila. Ia mendengarkan dengan seksama kiat-kita percintaan guna mendapatkan Tama. Saat kedua teman kakak iparnya itu bertanya soal perasaannya pada Tama, Sasa tentu langsung menjawabnya dengan mantap jika dirinya benar-benar mentok di Tama. Namun cara yang dibagikan Selvia dan Dila membuatnya kesal sendiri. Bagaimana tidak? sekarang sudah tiga hari setelah ia terakhir kali bertemu Tama di acara nikahan tapi lelaki itu tak ada menghubunginya. Kata Selvia dan Dila, kita harus jual mahal supaya si cowok sadar. Tapi yang ia peroleh malah chat nya sama sekali tak dibalas meskipun sudah beberapa hari tak berkomunikasi.
"HP terus, Sa! tugas bahasa inggris udah selesai belum?" Mayra menyenggol lengan Sasa yang sedari tadi menatap ponsel.
"Udah selesai." jawab Sasa singkat, "gue lagi nunggu balesan ayang nih, dicuekin masa guenya." lanjutnya seraya menunjukan chat yang hanya dibaca tanpa dibalas.
"Lo udah ada pacar? bukannya lagi deket sama kak Justin? apa udah jadian?" Mayra jadi menyerbu dengan banyak pertanyaan.
"Bukan kak Justin. Ini anak SMK Persada."
"Yang tempo hari di cafe?" tebak Mayra.
Sasa mengangguk.
"Cepet banget lo udah jadian aja. Berati kita udah nggak usah nyamperin kesana dong, lo udah jadian."
"Belum jadian, May."
"Tapi namanya udah Ayang." Mayra melirik nama kontak di HP Sasa.
"Masih calon." jawabnya nyengir tanpa dosa, "pokoknya kalo tugas-tugas kelompok udah beres, senin kita otw SMK Persada deh pulang sekolah." lanjutnya.
"Oke gue temenin, yang penting tugas beres aja dulu."
"Siap!" balas Sasa.
Pulang sekolah Sasa langsung masuk ke rumah Ridwan, mencari jalur lain untuk bisa berkomunikasi dengan Tama. Setelah menyalami mami Jesi, ia berlalu menunggu kakak iparnya di kamar.
“Kaleng bohong!” teriak Sasa sambil melempar boneka pink berukuran jumbo saat Kara masuk.
Kara mengambil Dirdiran dan menggendongnya ke ranjang, “anak gue lo lempar-lempar Cin, nangis nih.”
“Bodo amat!” Sasa manyun.
“Kenapa lagi sih adek gue ini hm?” dengan jail Kara mencubit kedua pipi Sasa.
“Kaleng bohongin Sasa yah? Katanya yang tadi nomor baru bang Tama, tapi chat Sasa nggak ada yang dibalas satu pun tuh! Mana di telpon nggak diangkat mulu, yang ada direjeck!” protesnya.
“Kan Sasa jadi galau.” Lanjutnya masih manyun.
“Liat tuh nggak di balas satu pun. Beneran nomor bang Tama bukan sih?” Sasa melemparkan ponselnya pada Kara.
“Tuh kan dia online tapi nggak balas.”
“Ya ampun gitu doang manyun. Beneran nomor si Tamarin itu, Cin. Tadi HP nya di sita guru pas bacain chat lo kayaknya. Paling belum sempet ngebales, chat lo kan banyak banget.”
“Gitu? Ya udah Sasa telpon sekarang deh.” Sasa meraih ponselnya kembali dan menekan kontak Tama. Nihil, tak diangkat lagi.
“Tuh kan...” Sasa makin cemberut.
“Elah malah makin manyun, bentar gue telponin nih pake HP gue aja.” Kara mengeluarkan ponselnya dan melakukan panggilan vidio pada Tama.
“Hola Tamarin!” seru Kara saat wajah tampan itu mengisi layar ponselnya.
“Apaan pake VC segala? Ntar laki lo ngamuk!” jawab Tama cuek.
“Set dah jutek banget, Tamarin. Katanya dulu mau jadi guardian angel nya gue. Sekarang nih saatnya lo jadi guardian angel, tolongin gue.”
“Itu dulu, sekarang beda. Lo minta tolong sama laki lo aja sana!”
“Kagak bisa ini urgent, cuma lo yang mampu.”
“Emangnya mau minta tolong apaan?”
“Mohon diurus ini adek ipar gue udah manyun mulu chatnya---“ belum selesai Kara bicara Sasa sudah mengambil alih ponsel itu.
“Abang...” Sapa Sasa dengan tatapan sedih plus bibir manyunnya, dia beranjak berjalan ke balkon meninggalkan Kara.
“Dasar micin!” cibir Kara.
Setelah satu jam berlalu, Sasa kembali masuk dengan wajah ceria. Seratus delapan puluh derajat berbeda dengan sebelumnya, adik iparnya itu jadi senyam senyum tak jelas. Entah apa yang dibahas oleh mereka Kara tak peduli yang penting Sasa sudah tak manyun lagi.
“Makasih yah, Kaleng.” Sasa mengembalikan ponsel Kara.
“Udahan VC nya?”
“Udah, Kaleng. Weekend nanti bang Tama ngajakin Sasa jalan loh.” Ucapnya pamer.
“Sasa mau pulang dulu ah biar cepet weekend.” gadis itu mengambil tasnya dan buru-buru pergi.
“Lo pulang sekarang nggak bikin cepet weekend, Cin. Baru juga hari senin, sabtu masih lama woy!” teriak Kara yang diabaikan.
“Dasar micin!”
“Ini juga Tamarin! Katanya amit-amit tapi ngajak jalan.” Kara jadi greget sendiri. Iseng-iseng ia mengetik pesan untuk Tama yang terlihat sedang online.
Ada yang bilang amit-amit tapi ngajak jalan ntar weekend. Waspada bucin jalur karma loh!
yang senyam senyum
ke tawa ngakak
geleng-geleng kepala
senyum lagi
ngakak lagi
ampe aku baca pagi-pagi depan paksu, malah di curigai 🤣🤣🤣🤣
ini semua karena micin, yang gurih, gemes dan genes🤣
awas aja kalau bang tam tam hanya becandain anak orang🙄
sabar ya sa