Cinta terpendam adalah perasaan suka diam-diam. Mencintai sendiri.
Setiap insan pasti pernah merasakan Cinta Terpendam.
Memendam cinta walau hanya sehari, atau bahkan lebih.Terlepas dari cinta itu terbalas atau tidak. Tetap cinta itu itu sempat terpendam.
Beruntung bagi seseorang yang memendam cinta, saat cintanya terbalas. Terlepas berapa lama cinta itu terpendam.
Namun, bagaimana jika cinta terpendam berlabuh pada seorang pembenci?
Khadziya Putri seorang gadis berusia 17 tahun, tiga tahun memendam cinta membuatnya tersiksa akan sakitnya mencintai dalam diam.
Reynan Prayoga laki-laki yang membuatnya berdebar-debar, membuat Ziya salah tingkah, tapi dia juga mematahkan hati Ziya.
Reynan begitu membenci Ziya, setiap berhadapan Reynan akan melontarkan kata kasar dan pedas.
Kenapa Reynan begitu membenci Ziya? Akankah benci berubah jadi cinta?
Mungkinkah cinta terpendam cukup lama akan terbalas?
Ikuti kisahnya di Novel ini. Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marta Linda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perubahan Sikap Ziya
Seminggu berlalu, kini Ziya sudah pulang ke rumah. Patah tulang di bagian tangan membuat Ziya frustasi. Sulit mengurus diri membuat hidupnya terasa menyedihkan.
Ziya bahkan tidak bisa membersihkan tubuhnya sendiri. Semua ibu yang melakukan, mulai dari membersihkan tubuh Ziya hingga menyiapkan keperluannya.
Ziya tampak duduk termenung menatap ke dinding kamar. Tatapan kosong selalu tampak di mata itu. Sejak Kecelakaan itu dirinya berubah murung dan sedikit bicara.
Perubahan sikap Ziya berbanding terbalik dengan dia yang sebelumnya. Dia berubah dingin, ketus, dan mudah emosi. Tidak jarang Ziya marah-marah saat Redo dan Khaira datang berkunjung.
Sampai detik ini belum ada kata maaf dari Ziya untuk Redo maupun Khaira. Lain halnya jika dengan ibu, Ziya lebih banyak diam dan terlihat tegar. Namun, di saat dia sendiri Ziya sering menangisi keadaannya yang dia rasa mempersulit ibunya.
Ibu sering kali mendapati putrinya melamun, tidak jarang dia mendapati putrinya menangis dalam kesendiriannya. Ibu kehabisan cara untuk membuat Ziya kembali ceria seperti dulu.
Bahkan Redo dan Ziya, orang terdekat Ziya pun tidak bisa mendekatinya. Ibu sedih melihat perubahan Ziya.
Sikap dingin itu akan muncul saat orang lain datang menjenguknya. Dia akan menunjukkan sikap ketusnya saat dia tidak menyukai sesuatu. Berbanding terbalik dengan sikapnya dulu yang ramah.
Sikap ramah itu hilang bersamaan senyuman yang selalu menghiasi harinya.
"Ziya, apa kamu mau keluar jalan-jalan?" ibu rasa mengajak Ziya keluar akan membuat Ziya tidak murung.
Ziya menggeleng. Ibu menghela napas. Sering kali dia menawarkan putrinya untuk keluar rumah, namun jawabannya selalu sama. Hanya gelengan kepala yang ibu dapati sebagai jawaban.
"Ibu tahu kamu terpukul dengan keadaanmu seperti ini. Ibu lebih terpukul Nak, ibu juga sedih melihat keadaanmu. Tapi ibu lebih sedih melihatmu seperti ini, tidak banyak bicara seperti dulu, lebih banyak diam di kamar. Sikapmu membuat ibu takut, ibu takut jiwamu terguncang karena ini.
Tolong jangan seperti ini, jangan membuat ibu takut. Jangan siksa ibu dengan sikap diammu ini. Semua akan berlalu, perlu waktu untuk kembali pulih seperti dulu. Bersabarlah, Nak." Ibu berurai air mata mengucapkan kata-kata itu.
Ziya memeluk ibu merasa bersalah. Dia tidak menyadari sikapnya membuat ibu takut dan khawatir pada kejiwaannya.
"Maafkan Ziya, Bu. Ziya sedih karena menjadi beban ibu. Ziya jadi merepotkan ibu. Bahkan Ziya tidak bisa mengurus diri sendiri." Perasaan bersalah membuat Ziya menitikkan air mata.
Terdengar Suara ketukan pintu dari luar. ibu meregangkan pelukannya mencium puncak kepala Ziya kemudian berlalu keluar kamar.
"Selamat siang Bu," Mario tampak berdiri di ambang pintu.
"Wa'alaikumsalam," ucap ibu tidak suka, menyindir tamunya yang selalu mengucapkan kata itu saat berkunjung.
"Silahkan masuk," ujar ibu ketus.
Rasa tidak suka pada Si penabrak putrinya itu tidak memudar meski Mario bertanggung jawab penuh.
"Tunggu sebentar, saya akan buatkan minum dulu," ujar ibu setelah Mario di persilahkan duduk. Ibu hendak berlalu namun terhenti karena Mario mencegahnya.
"Tidak perlu, Bu. Saya tidak lama," balas Mario cepat sebelum ibu melangkah.
Ibu kembali duduk berhadapan dengan Mario, memperhatikan selembar kertas yang tampak di sodorkan ke arahnya.
"Ini surat pernyataan yang di minta putri ibu," jelas Mario.
"Surat pernyataan?" tanya ibu tidak mengerti.
"Silahkan di baca dulu, Bu!" ucap Mario
Ibu meraih selembar kertas itu dan mulai membacanya. Ekspresi ibu berubah-ubah saat membacanya.
"Maksudnya apa ini?" tanya ibu tidak suka.
"Putri ibu meminta tiga persyaratan itu untuk mempertanggungjawabkan perbuatan saya," jawab Mario.
Dahi ibu mengerut dalam. Ziya tidak memberitahukan hal ini padanya. Ibu tidak yakin akan ucapan Mario.
"Saya tidak tahu mengenai hal ini, saya perlu menanyakan ini pada Ziya," ujar ibu.
Mario mengangguk. Ibu berlalu menuju kamar Ziya. Ibu menyodorkan kertas itu pada Ziya saat sudah di dalam kamar.
"Apa benar kamu minta 3 persyaratan itu pada Si penabrak itu?" tanya ibu lembut.
"Iya, Bu. Ziya meminta membuat surat pernyataan ini agar dia tidak bisa lepas dari tanggung jawab.
Dengan adanya surat pernyataan ini, kita bisa menggugatnya jika dia ingkar. Ini untuk jaga-jaga, Bu," ujar Ziya.
"Persyaratan pertama, Dia harus menanggung semua biaya pengobatan Ziya. Baik pengobatan medis maupun nonmedis. Itu memang seharusnya.
Persyaratan kedua, dia harus menanggung biaya kehidupan sehari-hari kita dan menanggung biaya sekolah Tian sampai Ziya kembali pulih dan mendapat pekerjaan.
Dia juga harus mengganti gaji Ziya yang seharusnya Ziya terima jika Ziya bekerja. Gaji itu dia ganti sesuai dengan waktu Ziya tidak bekerja.
Persyaratan ketiga, dia harus menyediakan dua orang perawat untuk merawat Ziya." Ziya menjelaskan dengan singkat isi surat pernyataan yang di pegangnya.
"Persyaratan pertama memang kewajiban dia, tapi untuk persyaratan kedua ibu rasa itu terlalu berlebihan.
Terdengar kejam jika kita meminta dia memenuhi kebutuhan sehari-hari kita hingga biaya sekolah Tian. bahkan mengganti gajimu juga.
Itu seperti pemerasan.
Persyaratan ketiga, ibu keberatan. Ibu ingin mengurusmu sendiri. Ibu senang melakukan itu, kamu sama sekali tidak membebani ibu. Jangan pernah merasa seperti itu, ibu yang melahirkan kamu. Sudah kewajiban ibu mengurus kamu yang sakit." Ujar ibu mengatakan Keberatan atas persyaratan kedua dan ketiga.
Ziya mendesah. "Persyaratan ini sudah di sepakati sebelumnya ibu.
Karena itu surat ini di buat, dia tidak keberatan dengan tiga persyaratan ini.
Untuk persyaratan ketiga Ziya pinta untuk membantu ibu.
Meringankan ibu, ibu juga bisa kembali bekerja.
Bukankah dengan merawat Ziya ibu tidak bisa bekerja seminggu ini.
Ini sudah Ziya pikirkan sebelumnya.
ibu jangan salah paham, Ziya bukan tidak mau di urus sama ibu. Ini Ziya lakukan untuk kebaikan kita semua, Bu.
Dia juga setuju, terbukti surat pernyataan ini sudah di bubuhi tanda tangan dan bermaterai." Jelas Ziya
Ibu mengangguk paham. Setelahnya kembali menemui Mario dengan berkas sudah di tanda tangani oleh Ziya.
"Ini saya pegang buat jaga-jaga kalau kamu ingkar," ujar ibu ketus.
"Memang seharusnya begitu," balas Mario.
"Bolehkah saya melihat kondisi putri ibu?" tanya Mario meminta izin menjenguk Ziya.
"Masuklah," ibu berlalu menyimpan surat pernyataan itu setelah Mario meninggalkan ibu masuk ke kamar Ziya.
Mario berdiri di ambang pintu. Dia di sambut dengan tatapan dingin dari Ziya, seperti biasa. Ziya selalu menatap seperti itu saat dia datang berkunjung menjenguk Ziya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Mario setelah berada di samping tempat tidur Ziya.
Ziya mendengus. "Tidak perlu basa basi, kau bisa melihat sendiri keadaanku," balas Ziya ketus.
Mario sudah terbiasa akan sikap Ziya. Tidak membuatnya tersinggung. Perasaan bersalah membuatnya tidak memikirkan nada ketus Ziya saat berkata.
"Bersambung...
Terima kasih sudah membaca karya author. Terima kasih juga buat teman sesama author dan readers yang sudah kasih Like, rate 5, dan vote buat novel ini.
Jangan bosan tekan Like untuk setiap bab novel ini. Jika berkenan kasih vote yah sayangkuh. Tekan ❤favorite untuk novel ini. Terima kasih yang selalu hadir. Ailopyu all😍😚
.
.
.
salam dari "Diakah Jodohku, Jodohku dari Kakaku "☺
Jangan lupa tinggalkan jejak 😉