(Khusus Dewasa 21+)
Antonio seorang pria dingin dan kejam yang berprofesi sebagai seorang pembunuh bayaran yang akan selalu menghabisi lawannya dengan kejam.
Kecintaannya kepada senjata dan pekerjaannya membuat Antonio tidak pernah mengenal cinta.
Suatu hari dia bertemu dengan Wanita yang mampu menggetarkan hatinya, hati seorang pria tampan yang terkenal berdarah dingin.
Tapi dia tidak tahu harus memilih yang mana.
Apakah dia harus memilih wanita itu dan meninggalkan pekerjaan yang sangat dicintainya?
Atau dia akan melupakan wanita yang telah mencuri hatinya demi pekerjaannya?
Atau ada kemungkinan lain yang terjadi?
Kategori: Dewasa (21+)
Genre: Action, Romance, Petualangan, Fantasi
Setting: Indonesia
Alur: Maju-Mundur
Status: On-going
Ilustrasi Tokoh: Berdasarkan pendalaman karakter
Cover by Dva Official
copyright2020, Pengembara Elite
#mafia #action #romance
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengembara Elite, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penawar Formula
Acquolina Cafè tampak sedang sepi pengunjung saat ini, Antonio terlihat berjalan menghampiri Ferguso yang sedang membersihkan meja.
"Hello Ferguso!" Sapa Antonio.
"Hai Antonio!" Balas Ferguso sambil tersenyum ke arahnya.
"Bisakah aku bertemu Pedro?" Antonio bertanya sambil duduk di kursi depan meja bartender.
"Baiklah, tunggu sebentar!" Jawab Ferguso, kemudian ia bergegas ke ruangan dalam.
Tak berapa lama ia kembali dengan raut kecewa, "Maaf bos sedang tidak ada. Mungkin dia keluar sebentar," ujarnya sambil kembali membersihkan meja di hadapannya.
"Bisa tolong ambilkan aku sebotol bir?" Pinta Antonio.
Ferguso pun lantas mengambil sebotol bir dan membuka tutupnya, kemudian diberikan kepada Antonio.
"Sudah lama aku tak meminumnya," ucap Antonio setelah selesai menegak minuman dalam botol itu.
"Benarkah? Sudah berapa lama kau meminumnya?" Ferguso bertanya penasaran.
"Entahlah, terakhir kali aku menenggak alkohol hampir saja membuat aku tewas," jawab Antonio santai.
Ferguso hanya tersenyum mendengarnya, ia seolah tak percaya dengan ucapan Antonio. Karena sepengetahuannya, orang seperti Antonio itu sangat sulit untuk dilumpuhkan.
"Aku tak percaya, mungkin hanya bualanmu saja," Ferguso menanggapi dengan santai.
"Hahahaha," Antonio hanya tertawa.
Tak lama kemudian pintu lonceng diatas pintu terdengar, pertanda ada tamu yang datang. Saat ini memang sedang sepi, musik pun tidak terdengar seperti biasanya. Hanya suara hilir mudik kendaraan di luar yang menjadi irama penghibur sekarang ini. Sehingga suara lonceng pertanda tamu bisa terdengar dengan jelas.
"Ah... sudah malam pun jalanan masih saja macet," umpat Pedro yang baru saja masuk sambil menjinjing kantong kresek besar.
Ferguso hanya tersenyum melihat tingkah bosnya, kemudian meraih kantong kresek pemberian Pedro.
"Kau sudah lama disini?" Tanya Pedro pada Antonio yang sedang cuek dan santai menikmati minumannya.
"Lumayan," Antonio menjawab singkat.
"Ayo masuk!" Ajak Pedro.
Kemudian mereka bergegas ke ruangan dalam, tempat mereka berdua biasa berdiskusi.
"Bagaimana strategiku?" Tanya Pedro seraya duduk di kursinya.
"Lumayan, aku tak perlu mengotori tanganku. Hanya saja agak sulit mengelabui para petugas kepolisian itu," ujar Antonio santai.
"Hahahaha, aku sudah menduga. Tapi aku percaya padamu, bila kau menuruti perintahku semua bom itu tak akan terdeteksi walau oleh peralatan canggih sekalipun," ucap Pedro bangga.
Antonio bahkan mengakui jika strategi Pedro memang terlalu gila, namun ia juga menyadari bahwa tanpa strategi itu dia tak akan berhasil melenyapkan 3 targetnya dalam sekali gerak.
"Ada case lagi?" ia bertanya mengalihkan pembicaraan.
"Apakah Anna sudah siap?" Pedro bertanya meyelidik.
"Sepertinya sudah, aku belum terlalu banyak bicara dengannya. Setelah misi kemarin aku hanya beristirahat sebentar, lalu mengunjungimu kesini," Antonio menjawab.
Pedro menghela nafas sejenak sambil mengangkat bahunya.
"Aku kira kau ingin bersenang-senang dengannya lebih lama," ujarnya.
"Hmm," Antonio hanya mendengus kesal.
"Misimu masih sama, mencari Pablo dan melenyapkan organisasinya," Pedro memberi petunjuk.
"Kapanpun kau siap, silahkan! Pihak asosiasi memberi kebebasan waktu padamu," tambahnya.
Antonio tampak berpikir sejenak, pikirannya menerawang mundur. Ia teringat tentang informasi yang didapatkan dari Elano pada saat menjalani misi membunuh Nicholas.
Kini ia telah mengetahui dimana markas Black Shadow dan tempat Pablo bersembunyi, namun ia masih tetap ragu dengan waktu yang tepat untuk memulai pergerakan.
"Kau ingin beberapa informasi?" Tanya Pedro mengagetkannya.
Kemudian Antonio menatap tajam Pedro.
"Aku sudah mengetahui informasi tentang Pablo dan organisasinya," tegasnya.
Pablo tersentak saat mendengar perkataan Antonio, ia tampak heran dan tak percaya.
"Darimana kau mendapatkannya?" Tanyanya.
"Aku mendapatkan informasi itu dari salah satu anggota Black Shadow sebelum aku bunuh," Antonio menjawab datar.
"Siapa?" Pedro tampak antusias mendengarkan.
"Elano!"
Sontak saja Pedro terkejut saat mendengar nama itu. Bukannya ia tak percaya dengan apa yang diucapkan Antonio, namun ia tak percaya jika seorang Elano yang merupakan orang kepercayaan Pablo bisa membongkar rahasia organisasinya kepada musuh
"Aku mencoba formula buatan ayah, dan itu berhasil," Antonio berkata seolah tahu jalan pikiran Pedro.
"Pantas saja," Pedro berkata sambil menghela nafas panjang.
"Tidak ada yang bisa lolos dari efek formula ciptaan ayahmu, bahkan aku sendiri pernah merasakannya. Dia mengetahui segala informasi yang aku punya, termasuk informasi penting anggota tipe strategi," ia menjelaskan dengan lirih.
Antonio menatap Pedro seolah tak percaya apa yang dikatakannya.
"Benarkah formula itu tak bisa dihindari?" Ia bertanya serius.
"Entahlah, aku tak mengetahuinya. Yang pasti setiap penyakit pasti memiliki obatnya," Pedro menjawab pelan, ia seperti merasa menyesal telah membicarakan masa lalunya pada Antonio.
"Aku paham, mungkin di bagian lain dari berkas itu masih terdapat rahasia yang belum aku ketahui," ujar Antonio sambil menganggukan kepala.
Pedro mengernyitkan dahinya, ia tak menyangka jika Antonio belum mempelajari semuanya.
"Aku kira kau telah menguasai semuanya," ucapnya.
"Aku tak berhak mempelajarinya, ia hanya menitipkannya padaku dan memberikannya padamu setelah kau siap. Aku telah berjanji seperti itu," tambahnya.
Antonio merasa tenang setelah mendengar perkataan Pedro, sekarang ia merasa yakin jika formula ciptaan ayahnya tidak bocor ke tangan yang tidak bertanggung jawab.
"Baiklah, aku akan mencari tahu tentang penawar dari efek formula itu. Setelah semuanya siap, aku akan memulai kembali misiku bersama Anna," ujarnya penuh semangat.
"Kau yakin?" Pedro bertanya meyakinkan.
"Iya, aku yakin dan aku percaya bahwa semua formula itu bisa dipatahkan efeknya. Aku juga ingin membuat penawar yang bisa membuatku kebal terhadap serum itu," jawab Antonio tegas.
"Bagus! Pelajarilah dengan serius! Saat ini kau lah satu-satunya harapan ayahmu, buatlah ia bangga saat melihatnya dari sana!" Pedro berkata menyemangati.
Antonio hanya tersenyum kecil, kemudian berpamitan dan pergi meninggalkan Acquolina Cafè menuju kediamannya.
***
Anna terlihat sedang bersantai di sofa panjang sambil menyaksikan acara televisi. Kemudian terperanjat saat mendengar deru mobil terparkir di halaman rumahnya.
"Hai, kau baru pulang? Darimana saja?" ucapnya saat melihat Antonio keluar dari mobil dan berjalan mendekatinya.
Antonio tak menjawab, ia lantas memeluk Anna dan membopongnya ke atas sofa setelah menendang pintu hingga tertutup.
"Aww.." Anna terpekik saat perlahan bibir Antonio mencumbunya lehernya.
Ia tak menyangka akan mendapat perlakuan yang istimewa oleh pria yang kini ia cintai.
"Ssshhh... Ah," perlahan Anna mengeluarkan desisan dan desahan indah yang membuat bulu kuduk merinding.
Gairah Antonio semakin memuncak saat mendengar suara indah itu tepat di dekat telinganya, hingga membuat naluri kelelakiannya semakin menggila.
"Pelan-pelan saja, aku tak akan kemana-mana," Anna berkata lirih mengingatkan pria yang kini perlahan menindih tubuhnya.
Antonio tak menjawab, ia hanya menutup bibir Anna dengan bibirnya. Lidah mereka saling bermain di dalam rongga mulutnya masing-masing.
Semakin lama permainan mereka semakin intens, bahkan dinginnya malam tak dapat menutupi panasnya aura yang bergejolak diantara mereka berdua. Hingga malam semakin larut, permainan mereka pun semakin memuncak seolah mendaki gunung yang teramat tinggi.
***
Jangan lupa tinggalkan Like dan Komen ya!!!
Bantu Vote juga agar Author semakin bersemangat!
semoga ceritanya bikin betah so
dari awal dah menarik.
sepertinya novel ini menarik.. 😎
lanjut aah..
ya kaaan...? 😎
aku boleh mampir ya..