Paris, 2021.
Tepat lima tahun Wulandari Laksana, 32 tahun, tinggal di kota yang dijuluki La Ville Des Lumiéres (kota cahaya) ini.
Dan tepat di tahun ke lima ini, pernikahannya dengan pria Perancis bernama Pierre, berakhir.
Hancur, tentu saja. Hidupnya seperti berada di titik nadir.
Namun, dia berusaha untuk mengumpulkan kepingan - kepingan hatinya yang hancur, dan mencoba bangkit kembali.
Berbekal kelulusannya dari Universitas Sorbonne, dia melamar menjadi guru Bahasa Inggris di sebuah SMA di pinggiran Paris.
Di sanalah dia bertemu dengan seorang murid bengal, 16 tahun, Maximilian Guillaume, yang membuat hidupnya kembali kacau.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Magnifica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Don't Touch Her (Jangan Sentuh Dia).
LYCÉE JEAN - BAPTISTE SAY, SURESNES.
"Good afternoon, everyone ...."
Wulan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kelas. Dilihatnya banyak kursi kosong di sana. Ia menghitung hanya ada dua belas anak saja. Artinya, ada delapan anak yang membolos. Termasuk Nadia. Ia tak melihat batang hidung gadis itu.
Ia melirik ke sudut ruangan, ada Max di sana, duduk di depan meja Etienne. Anak itu menelungkupkan kepalanya di atas meja. Tertidur, sepertinya. Wulan memutar bola matanya sebal.
"Siap untuk mata pelajaran hari ini?" serunya sembari mengetuk papan tulis dengan penghapusnya. Meminta perhatian seisi kelas yang tengah sibuk mengobrol satu sama lain.
Namun, seperti biasanya, tak ada yang menggubrisnya. Hanya Pauline, murid yang paling rajin dalam satu kelas, yang tampak memperhatikan. Dan juga Etienne, yang memamerkan senyum termanisnya, entah memang ia peduli dengan mata pelajarannya, atau hanya sedang menggoda Wulan saja.
Ia melihat pemuda berkulit hitam itu mendorong punggung Max beberapa kali, sepertinya mencoba membangunkan sahabatnya itu. Namun Max tak bergeming. Ia masih saja bertahan dengan posisi menelungkupnya.
"Max, lihat Miss Wulan cantik sekali," ujar Etienne lirih, namun masih sempat terdengar di telinga Wulan. Membuatnya hampir saja tak bisa menahan senyumnya.
Ia pun buru - buru membalikkan badan menghadap ke papan tulis dan mulai menuliskan mata pelajaran untuk hari ini.
Do you know any Shakespeare's poems or quotes (apa kalian tahu salah satu puisi atau kutipan dari Shakespeare)?
Wulan menuliskan sebuah pertanyaan di atas whiteboard. Ia berbalik menghadap seisi kelas. Menunggu seaeorang mengangkat tangannya.
"Aku tahu, Miss!" seru Etienne membuat semua murid memandang ke arahnya.
"Silahkan, Etienne."
Etienne meringis. "You ... are ... so ... beautiful, and, I love you."
Sesaat kemudian, gelak tawa terdengar menyambut ucapan asal Etienne.
"Nice try (usaha yang bagus), Etienne," puji Wulan. "Tapi sepertinya itu adalah kutipan yang kau karang sendiri," lanjutnya. Membuat Etienne tersipu malu.
"Ada yang lain? Pauline?" Ia memandang ke arah gadis berpenampilan culun dengan rambut kuncir kudanya itu.
"I pray you, do not fall in love with me, For I am falser than vows made in wine," ucap Pauline. Bibirnya menyunggingkan senyum bangga.
"Very nice, Pauline." Wulan bertepuk tangan memberi penghargaan pada gadis itu. "Sekarang, tugas kalian adalah menjabarkan arti dari kutipan yang Pauline sebutkan tadi, dengan Bahasa Inggris, sesuai dengan pemahaman kalian," ujarnya seraya menulis kutipan di papan tulis. "Aku beri kalian waktu dua puluh menit."
Wulan melangkah ke arah kursinya dan duduk di sana. Sembari merapikan buku - bukunya, ia memandang sekilas pada Max yang kini telah merubah posisinya dengan menyandarkan punggung di sandaran kursi. Sambil sesekali menepis tangan Etienne yang jahil menarik - narik rambut dan juga hoodienya.
Wajahnya terlihat murung. Dingin, seperti dulu ketika pertama kali Wulan melihatnya. Senyum manisnya hilang entah kemana. Muka tengilnya yang akhir - akhir ini membuatnya kesal sekaligus gemas, sama sekali tak nampak.
Ada apa dengan anak itu?
.
.
"Okay, time's up (waktunya telah habis)!" seru Wulan seraya melirik jam di pergelangan tangannya. "Ayo kumpulkan semua."
Wulan memperhatikan satu persatu muridnya yang mulai beranjak dari duduknya. Beberapa dari mereka menyerahkan tugas yang ia berikan beberapa saat lalu, dan sebagian lain hanya melewati mejanya saja lalu keluar kelas tanpa memberi alasan apa pun.
"Max!" panggil Wulan ketika melihat Max melewatinya begitu saja.
"Apa?" tanyanya datar. "Aku sedang tidak ingin bicara dengan siapa pun. Moodku sedang tidak bagus."
Wulan menyambar buku - buku serta tasnya dan mengejar langkah Max keluar kelas.
"Ada masalah?" tanya Wulan begitu ia berhasil menyejajarkan langkahnya dengan pemuda itu.
"Aku selalu punya masalah, Miss."
Wulan mendecak. "Tapi biasanya kau tidak bersikap dingin seperti ini."
"Memangnya kau selalu memperhatikanku?" Max menaikkan alisnya. Memantang Wulan untuk memberi jawaban.
"Tentu saja aku memperhatikanmu." Wulan mengutuki diri sendiri atas kata - kata yang meluncur begitu saja dari mulutnya tanpa permisi. "Dan semua murid di sini," lanjutnya.
Max mengibaskan tangannya. Kesal dengan jawaban Wulan yang selalu sama. Ia pun terus melangkah melewati pelataran sekolah dan menuju ke cafetaria tanpa memperdulikan Ibu Gurunya itu.
"Wulan, mau makan siang di luar?"
Max menghentikan langkahnya begitu mendengar suara seseorang tengah berbicara dengan Wulan. Ia segera berbalik dan mendapati Damien tengah menyentuhkan tangannya di pinggang Wulan dan mengajaknya pergi.
Amarahnya seketika meluap. Dengan tangan terkepal Max melangkah mendekati Damien dan Wulan yang telah bersiap untuk berlalu.
"Ne la touche pas (jangan sentuh dia)!" serunya seraya menepis tangan Damien dan mendorong dada pria itu menjauh dari Wulan.
"Woo ... ada apa ini?" Damien mengangkat kedua tangannya lalu menahan lengan Max yang hampir saja mendaratkan bogem mentah padanya.
Wulan meraih lengan Max dan menariknya ke belakang. "Ada apa denganmu, Max?"
"Jangan dekat - dekat dengan si Brengsek ini, Miss!" seru Max geram.
"Hei, jaga bicaramu!" hardik Damien sembari menunjuk wajah Max.
"Fils de pute (baji ngan)!" Max meraih kerah jaket Damien dan bersiap untuk menghantam wajah pria itu.
Wulan dengan cepat menahan lengan Max dan berdiri di antara keduanya. Ia menatap Max tajam sembari menggeleng kuat.
"Max, kau benar - benar keterlaluan!" seru Wulan. Ia menoleh ke arah Damien dan membantunya merapikan jaketnya. "Kau tidak apa - apa?"
Damien tersenyum miring pada Max yang masih menatapnya dengan penuh amarah.
"Aku akan bicara denganmu nanti sepulang sekolah," ujar Wulan sembari memandang ke arah Max yang berdiri mematung dengan muka merah padam. Lalu mengajak Damien berlalu dari tempat itu.
Terlihat wajah - wajah keheranan dan penuh tanya dari beberapa siswa yang tengah berada di dekat cafetaria dan sedari tadi memperhatikan keributan itu. Mereka saling berbisik. Menduga - duga apa yang baru saja terjadi.
Sementara Max hanya diam memandangi punggung Damien dan Wulan yang mulai menjauh. Ia sekilas menangkap gerakan tangan Damien yang mencoba meraih pinggang Wulan namun ditepis dengan halus oleh wanita itu.
***
***
***
sunggu max bikin duniaq jungkir balik kak thor...q bener2 merasa max sosok yg nyata yg ingin q temui setiap menit.
karymu sunggu luar biasa ❤️❤️
tapi dr 2 novel (ben-laras,max-wulan)q merik kesimpulan bahwa kak lady menyukai laki2 bermata biru.🤭
modyaaarrrrr😡😡😡
bahsanya tidak monoton dan mudah dimengerti serta ceritanya juga menarik..semangat terus kak lady😍