Kisah dua orang Indigo
Lachlan Lexington de Luca memiliki kekuatan di luar Nurul para sepupunya ... L biasa dipanggil, memiliki sixth sense yang bisa berkomunikasi dengan hantu. Kali ini liburan L ke Jakarta menjadi berbeda karena dia harus membantu empat hantu gentayangan untuk bisa ke alam baka... Dengan syarat harus berbuat baik baru bisa dipertimbangkan masuk surga atau neraka. Di perjalanan membantu, L bertemu dengan seorang gadis yang takut hantu tapi punya kemampuan yg sama dengan L.
Nareswari adalah seorang gadis berprofesi sebagai konsultan gizi di rumah sakit tapi dia juga punya kemampuan bisa melihat hantu. Nareswari super takut dengan mereka sampai dirinya bertemu dengan Lachlan yang memiliki kemapuan sama. Keduanya membantu empat hantu yang rusuh minta kembali ke habitatnya... Eh alamnya. Bagaimana ceritanya? Menyambut Halloween... FYI ini horor unfaedah...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jaga Lilin
Kopi Kenangan Kuningan
Sagara, Raiden dan Shohei menikmati kopi dan roti sambil menunggu Danar datang. Sagara yakin jika teman masa SMA nya akan datang begitu mendengar uang.
"Kira-kira bakalan datang nggak, Gara?"
"Harusnya datang, Dendeng..."
"Kok bisa ya kepikiran untuk membunuh kedua orangtuanya hanya demi uang tanah dan uang asuransi..." gumam Shohei.
"Lho apa kamu tahu. Kata Aslan, malah dia mengurus kasus ada seorang ibu bersedia membunuh demi uang $100 ... Apalagi uang bernilai puluhan ratusan hinggal milyaran ... " jawab Sagara.
"Memang berapa uang tunjangan yang belum diambil?" tanya Raiden.
"Tidak ada. Aku hanya memancingnya karena semua uang dari peninggalan orangtuanya sudah diambil semua" jawab Sagara kalem.
Tak lama datang dua orang dengan wajah khas preman mendatangi mereka bertiga. Sagara, Raiden dan Shohei langsung memasang wajah datar.
"Mana yang namanya Sagara?" tanya preman itu.
"Aku Sagara. Kalian siapa?" Sagara menatap datar ke arah kedua preman itu.
"Kami ada pesan dari Mas Danar. Uangnya ditransfer saja ke rekening ini." Pria itu memberikan secarik kertas lengkap dengan nomor rekening.
Sagara hanya melirik tidak berminat. "Bila Danar tidak mau bertemu denganku, no money. Bilang sama dia, temui aku ! Atau uangnya akan aku serahkan ke badan amal."
Kedua preman itu saling berpandangan.
"Oke tampaknya Danar tidak mau datang jadi ... Senin aku tunggu disini. Kamu bilang sama dia. Aku tunggu disini, jam makan siang !" ucap Sagara lagi dengan nada tegas.
Kedua preman itu hanya bisa mengangguk karena melihat wajah dingin Sagara dan tiga pria di belakangnya, mereka tahu jika pria tampan ini bukan tipe orang yang mudah diintimidasi.
"Baiklah. Kami permisi." Kedua preman itu pergi meninggalkan kertas di atas meja.
Sagara mengambil kertas itu dan membacanya. "Nomor rekening bank Arta Jaya. Harus aku periksa lebih lanjut..."
"Apakah bisa?" tanya Raiden.
"Bisalah kalau darurat."
***
Pemakaman Umum di daerah pinggiran kota Jakarta
Shohei menaikkan kerah jaketnya karena merasakan hawa dingin menyerang meskipun Jakarta termasuk panas. Mereka dalam perjalanan menuju tempat Samsul dimakamkan. Shohei bersyukur karena Lachlan tidak melakukan ritual dengan apa itu.. Kemenyan? Macam sage ya?
Mereka tiba di tengah-tengah pemakaman di jam sebelas malam ini dan Lachlan memilih memasang barang-barang canggih milik Freya untuk bisa berkomunikasi dengan hantu.
Raiden menggelar tikar sambil menyiapkan minuman dan kacang macam orang mau jaga ronda. Nareswari sudah bersiap-siap dengan buku ayat pendek jika memang diperlukan sedangkan Sagara dan Shohei duduk manis.
"Ini nggak bakalan seram kan?" bisik Shohei.
"Tergantung..." jawab Sagara.
"Duh..." Shohei semakin mendekat ke Sagara.
"Pak Samsul... Jika bapak disini, tolong pencet tombol hijau" pinta Lachlan setelah semua siap.
"Nggak muncul kak L" ucap Nonik Belanda.
"Yang muncul malah yang lain..." lapor mas Muka Rata.
"Seriously?" seru Raiden sedangkan Sagara dan Shohei sudah merasa merinding. Tanpa sadar, keduanya saling berdekatan dan Shohei memegang lengan Sagara.
"Kalian pada ngapain ? Cari pesugihan ya?" seru seseorang sambil menyorotkan senter ke arah lima orang di sana.
Lachlan dan Raiden menoleh ke belakang dimana dua orang berpakaian hansip berdiri dekat bangunan kantor pemakaman.
"Nggak pak ... Kita cuma lagi jaga lilin" jawab Raiden asal membuat semua saudaranya menegurnya.
"Dendeng !"
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaaaa
Pengennya banyak bab nya cuma aku sudah mengantuk.
Insyaallah besok banyak deh episodenya.
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️