Selepas menjadi dokter, Clarissa Aluna Sebastian, atau yang kerap disapa Luna itu, bertugas jauh dari kota kelahiran. Ia menemui banyak sekali karakter manusia. Salah satunya ketua geng motor yang mendadak membuat keributan saat dia sedang dinas di rumah sakit.
Arash Frederic mengalami luka di kepala akibat tawuran tengah malam. Semua anak buahnya bergegas ke rumah sakit, mengamuk agar ketua geng motor itu didahulukan. Tanpa diduga, Dokter muda yang terlihat anggun melawan mereka karena dianggap membuat keributan. Kemampuan bela diri yang mumpuni mampu melumpuhkan para anggota geng motor tersebut. Luna menegaskan, jika ingin diobati harus sesuai prosedur.
Sejak Dokter Luna menanganinya, Arash tidak bisa mengelak pesona dokter cantik yang multitalenta itu. Ia selalu berusaha menarik simpati gadis itu.
Akankah Arash bisa meluluhkannya? Mengingat, Luna berasal dari keluarga terpandang, memiliki saudara kembar yang posesif, ditambah seorang lelaki yang mencintainya sedari dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sensen_se., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 : Semangat MeLakOr!
Erangan kesakitan dari pasien, menyadarkan lamunan Luna. Bergegas memeriksa kondisi pasien yang meraung sambil memegang perutnya.
“Tolong bawa mesin USG!” perintah Luna, “Dan Anda tolong tunggu di luar, Pak,” tambah wanita itu pada Carlos.
Luna menutup tirai hijau yang menjuntai ke lantai. Membantu memasang jarum infus. Mencoba berbicara pada pasiennya itu, “Bu, masih bisa mendengar saya?” tanya Luna pelan.
Tisa mengangguk, bulir keringat mulai bermunculan di wajahnya. Ia juga masih tegang karena kesakitan.
“Ini kehamilan yang ke berapa? Apa sudah ada riwayat keguguran sebelumnya?” Luna bertanya lagi untuk tindakan selanjutnya.
“Hamil ketiga, dua sebelumnya juga keguguran,” sahut wanita itu tersengal-sengal.
Luna mengangguk sambil menghela napas berat, setibanya mesin USG, ia segera memeriksa kondisi rahim wanita itu. Manik matanya terlihat fokus pada layar kecil di depannya. Menggerakkan doppler perlahan pada permukaan perut Tisa bagian bawah.
“Gimana, Dok?” Suster siap mencatat hasil pemeriksaan Luna.
“Abortus Insipiens, pendarahan disertai jalan rahim yang sudah terbuka. segera hubungi dokter spesialis untuk tindak lanjutnya,” perintah Luna. “Ibu ini juga punya riwayat keguguran sebanyak dua kali sebelumnya,” sambungnya segera dicatat oleh perawat.
“Baik, akan segera saya sampaikan dan urus dokumennya," ujar perawat itu bergegas menghubungi dokter spesialis kandungan.
Luna menggenggam tangan wanita itu, menatap nanar sembari menghela napas panjang, “Ibu, maaf. Kali ini harus saya sampaikan, bahwa janin Ibu tidak bisa dipertahankan. Jadi harus dicurrette ya, Bu. Jika tidak, akan membahayakan nyawa Ibu. Yang sabar ya, Bu."
Tisa membeku, air matanya berlinang di kedua sudut matanya. Luna segera memanggil pria yang berstatus suaminya untuk masuk dan menjelaskan kondisinya. Setelah itu, Luna beranjak keluar. Melihat tidak ada pasien lagi, Luna bergegas keluar ruang IGD mencari keberadaan Arash. Rasa penasaran sekaligus khawatir membuncah di benaknya.
Di ujung koridor, Luna menangkap punggung suaminya bergetar hebat. Kakinya melangkah dengan perlahan, matanya memicing tajam ketika melihat Dira berada di samping Arash menyodorkan minuman kaleng dingin. Namun, diabaikan oleh Arash.
“Sabar, Arash,” ucap Dira mengusap bahu pria itu.
“Tinggalkan aku!” tukas lelaki itu mengentakkan bahunya agar tangan Dira terlepas.
“Enggak, aku mau temenin kamu Arash,” balas Dira kekeh ingin menemaninya.
Luna hanya menatap interaksi keduanya dari jarak yang begitu dekat. Bahkan menaikkan sebelah alis sembari melipat lengannya di dada.
“Pergi sebelum aku lepas kendali!” teriak pria itu melotot tajam. Ancamannya tidak pernah main-main. Sekalipun Dira wanita.
Dira memejamkan mata, napasnya berembus dengan berat. Detak jantungnya meningkat pesat. Terkejut akan bentakan lelaki itu.
“Baiklah, kalau kamu butuh aku, aku siap kapan pun!” tutur wanita itu membelai bahu Arash. Tidak peduli meski ditepis dengan kasar.
Dira beranjak berdiri, melangkah meninggalkan Arash seorang diri. Terkejut kala Luna berhenti tepat di hadapannya. Manik mereka saling menyorot tajam. Andai Luna memiliki bukti tentang rencana Dira waktu itu, mungkin ia sudah melaporkannya ke polisi.
“Oops, ditolak ya? Semangat merebut laki orang!” bisik Luna memanas-manasi wanita itu. Senyum lebar tersungging di bibir Luna. Lebih tepatnya senyuman mengejek.
Dira menggertakkan giginya, andai saja bukan di lingkungan rumah sakit, sudah pasti ia akan melawan. Wanita itu melanjutkan langkah, sengaja menabrak bahu Luna dengan kasar.
Luna hanya menepis bahunya, bibirnya mencebik dengan kesal. Kemudian mendekati Arash dan menyentuh bahu lelaki itu.
“Sudah ku bilang tinggalkan aku, Dira!” teria Arash menyentuh lengan Luna dan hampir menepisnya kasar. Namun, gerakannya kalah cepat dengan Luna. Gadis itu justru mengunci lengan Arash di belakang punggungnya.
“Kenapa sih kamu susah sekali mengendalikan emosi?” bisik Luna.
Mendengar suara dan aroma tubuh yang sangat dia kenal, Arash melemah. Ia mendongak, menemukan istrinya berdiri di sana.
“Luna,” gumam Arash. "Maaf."
Suaminya memang menyebalkan, tapi Luna tidak tega melihat pria itu selemah ini. “Kamu ada hubungan apa dengan mereka?” tanya wanita itu lembut melepas kuncian lengannya, kemudian turut duduk di samping Arash.
“Mereka ... mereka yang menghancurkan hidup keluargaku. Kenapa kamu selamatkan dia, Luna. Gara-gara wanita itu keluargaku berantakan,” balas Arash menunduk dalam.
Emosinya masih tak terkendali, ia khawatir justru akan melampiaskannya pada Luna. Deru napasnya masih berembus kasar. Kilat amarah memancar dari manik matanya. Pria itu enggan menoleh pada sang istri.
"Arash, sekalipun aku sedang berada di medan perang, setiap orang yang terluka tetap akan aku selamatkan. Tidak peduli orang itu dari pihak mana. Jadi, atas dasar apa aku tidak menyelematkannya? Satu nyawa manusia lebih berarti dibanding apa pun di dunia ini. Semua orang statusnya sama di mata dokter, yakni seorang pasien," jelas wanita itu dengan suara lembutnya. Berharap suaminya mengerti maksud ucapannya.
“Dokter Luna!"
Bersambung~
Bestii... Rekomendasi Novel Seru, Keren, greret dari Mom Al. Mampir ya, judulnya Dilema Dalam Pernikahan 💖