NovelToon NovelToon
Jodohku Ternyata Lurah

Jodohku Ternyata Lurah

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Perjodohan / Wanita Karir / Keluarga / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: zenun smith

Menurut Azalea Laire, dirinya mempunyai bapak kolotnya minta ampun. Jaman sekarang masih saja dijodoh-jodohkan, mana pakai ada ancaman segala, dimana kalau tidak mau dijodohkan, dirinya akan ditendang bukan lagi dari keluarga, tapi di depak dari muka bumi.

Azalea geram di tagih perjodohan terus oleh bapaknya, sehingga dia punya niat buat ngelabrak pria yang mau dijodohkan olehnya agar laki-laki itu ilfeel dan mundur dari perjodohan. Tapi eh tapi, ketika Azalea merealisasikan niat itu yang mana dia pergi ke desa untuk menemui sang jodoh, ternyata dia melakukan kesalahan.

Ternyata jodoh dia adalah Lurah.

Terus kira-kira masalah apa yang udah dibikin oleh Azalea? Kira-kira masalah Azalea ini bikin geram atau malah bikin cengar-cengir?

Nyok kita pantengin aja ceritanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sesi Latihan

Prinsip hidup Azalea sebenarnya sederhana saja, jangan buat hidup yang sudah rumit menjadi semakin pelik karena memikirkan perasaan orang lain yang belum tentu memikirkan kita. Biasanya, jika seseorang tahu ada teman dekatnya yang menaruh hati pada pria yang sama, langkah paling umum adalah menarik diri. Menjaga jarak, menjaga perasaan, atau istilah kerennya menjaga etika pertemanan. Namun bagi Azalea, logika semacam itu terasa sangat melelahkan dan membatasi gerak.

Ia memilih bersikap santai. Baginya, hidup terlalu singkat jika hanya dihabiskan untuk mengikuti standar moralitas orang lain yang dinamis. Hari ini mereka bilang A, besok bisa jadi B. Jika Azalea harus terus-menerus menyesuaikan langkah kakinya agar tidak menginjak bayang-bayang perasaan Suci, maka kapan ia akan berjalan untuk dirinya sendiri?

"Kalau aku harus selalu mengalah demi perasaan orang, lama-lama aku bisa kehilangan jati diriku sendiri," batinnya sambil bercermin pagi itu.

Bayangkan saja jika ia harus mengikuti keinginan semua orang. Orang lain menyinyir tentang pilihan hidupnya, lalu ia berubah sesuai keinginan mereka. Orang lain ingin dia begini, dia harus mewujudkannya. Orang lain begitu, dia ikut-ikutan begitu. Itu bukan hidup namanya, tapi menjadi boneka tali yang digerakkan oleh jemari publik. Jikalau Suci menyukai Hagia lalu Azalea mundur, lantas siapa yang akan memikirkan perasaan Azalea.

Baginya situasi antara dirinya dan Suci adalah kompetisi yang wajar. Persaingan sehat. Selama janur kuning belum melengkung, atau dalam kasus yang lebih realistis, selama Hagia tidak secara resmi menjadi milik siapapun, maka peluang masih terbuka lebar. Kecuali jika pria itu adalah suami orang, barulah Azalea akan tahu diri dan mundur seribu langkah tanpa perlu diminta. Dan sekarang Hagia masih bebas, Azalea pun punya hak yang sama untuk merasa nyaman di dekatnya.

Maka,

Dengan semangat yang baru, Azalea melangkah keluar kamar. Ia ingin melihat sejauh mana perkembangan kegiatan di sanggar setelah beberapa hari ia bergabung. Ia ingin merasa sibuk agar pikirannya tidak melulu berputar pada drama perasaan yang tidak produktif.

Sesampainya di sanggar, suasana masih tampak seperti biasanya. Riuh rendah suara anggota lain yang sedang berlatih vokal atau sekadar berbincang. Mata Azlaea mencari-cari keberadaan seseorang.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Tadinya Azalea berniat mencari-cari keberadaan Hagia dengan ekor matanya, berpura-pura tidak sengaja lewat hanya untuk melihat eksistensi pria itu. Namun ternyata, takdir sedang ingin bermain-main dengan ramah padanya. Justru Hagia-lah yang lebih dulu menghampirinya dengan langkah lebar dan wajah yang serius

"Azalea, kebetulan banget. Aku memang lagi cari kamu," sapa Hagia.

Azalea berusaha menetralkan raut wajahnya agar tidak tampak terlalu kegirangan. "Ada perlu apa memangnya, Kak?"

"Ini, aku mau kasih revisi naskah yang ter-update. Karena naskah ini bakal kita bawa ke perlombaan regional, ada beberapa poin yang aku ubah sedikit supaya lebih kuat karakterisasinya," jelas Hagia sambil menyodorkan beberapa lembar kertas.

Azalea menerima kertas itu, jarinya sempat bersentuhan dengan ujung jari Hagia, menciptakan sengatan listrik kecil yang membuatnya hampir kehilangan fokus. "Oh, berarti kita latihan lagi dong sekarang? Memangnya Kakak nggak kerja hari ini?"

Hagia tersenyum tipis, jenis senyuman yang membuat matanya sedikit menyipit. "Lagi cuti beberapa hari. Sampai lomba selesai nanti aku mau fokus di sini.".

Azalea manggut-manggut. Dalam hati ia merasa ada kesamaan di antara mereka. Ia sendiri pun tengah mangkir dari rutinitas pekerjaannya di kota demi berada di desa ini, meski alasannya sedikit berbeda dengan Hagia yang cuti demi dedikasi pada seni.

Sesi latihan pun dimulai.

Begitu naskah di tangan dan instruksi diberikan, Azalea seketika melupakan rencana-rencana pribadinya, termasuk keinginannya semalam untuk berkunjung ke rumah Hagia. Kali ini, Azalea harus menekuni peran sebagai seorang Putri Raja dalam sebuah legenda rakyat daerah. Tema lomba memang mengangkat kearifan lokal, dan kisah yang mereka bawakan adalah tentang cinta yang tidak direstui.

Hagia sang sutradara sekaligus lawan mainnya, berperan sebagai abdi istana. Seorang pelayan setia dan sang Tuan Putri saling jatuh hati karena kebersamaan mereka. Namun begitu hubungan tersebut diketahui, kisah mereka berakhir pilu.

Azalea menatap lekat naskah di tangannya. Perubahan yang dilakukan Hagia tidak terlalu banyak namun sangat krusial. Ada penambahan titik-titik improvisasi di mana emosi harus lebih banyak bicara daripada kata-kata.

"Kita coba bagian adegan di taman ya, Lea," instruksi Hagia.

Mereka pun mulai berlakon. Hagia menunjukkan dedikasi yang luar biasa. Ia mengajari Azalea bagaimana cara menatapnya--bukan sebagai Azalea kepada Hagia, melainkan sebagai seorang Tuan Putri kepada pria yang ia cintai namun tak mungkin ia miliki.

"Tatapanmu harus punya penghayatan, Lea. Kamu mencintai dia, tapi kamu tahu ada jurang di antara kalian," bisik Hagia memberi arahan.

Sementara itu, Hagia sendiri memerankan sosok abdi yang rendah hati dengan sangat sempurna. Ia selalu menundukkan pandangannya saat berbicara pada Azalea. Ia memposisikan dirinya seolah-olah memang tidak pantas bahkan sekadar untuk menatap ujung sepatu sang Tuan Putri. Gestur tubuhnya, cara ia sedikit membungkuk, hingga raut wajah yang penuh pengabdian namun terselip kepedihan, membuat Azalea terpukau.

Azalea harus mengakui, pria di depannya ini adalah seorang aktor alami. Hagia sangat detail dalam mengatur raut wajah. Kadang Azalea merasa ngeri sendiri, ia sulit membedakan mana yang merupakan bagian dari peran dan mana yang sungguhan jika mereka tidak sedang berada di tengah latihan seperti ini.

Hagia juga memiliki ketenangan yang luar biasa. Ia tidak terusik oleh mata-mata anggota sanggar lain yang menonton di pinggir panggung.

Berbeda dengan Azalea.

Ketika teman-temannya di pinggir panggung mulai menggoda dengan suara cie-cie atau siulan nakal, fokus Azalea seringkali buyar. Ia adalah tipe orang yang mudah terdistraksi jika menyangkut urusan berlakon seperti ini. Rasanya ia ingin sekali menutup wajahnya atau tertawa cengengesan demi menutupi rasa malunya.

"Tuan Putri..." panggil Hagia. Itu adalah sepenggal dialog dalam naskah, namun entah mengapa saat keluar dari mulut Hagia, panggilan itu terasa seperti belaian di telinga Azalea.

Hati Azalea berdesir hebat. Panggilan Tuan Putri itu terasa begitu personal. Ia merasa seolah benar-benar sedang dipuja oleh pria ini. Keinginannya untuk cengir-cengir tak tertahankan hampir mencapai batas.

"Ada apa kau memanggilku?" jawab Azalea.

Hagia tiba-tiba menghentikan aktingnya, ia keluar dari karakter sejenak untuk memberikan koreksi. "Lea, pas aku panggil di bagian ini, kamu jangan langsung jawab. Kamu menatap aku lekat dulu. Aku ingin lihat ada pancaran mata menyukai seseorang di situ. Dan di dialog setelah ini, kamu minta aku ubah panggilan. Kamu nggak mau dipanggil Tuan Putri saat kita sedang berdua."

"Iya, siap Ketua. Maaf, tadi agak kurang fokus."

"Tidak apa-apa. Kita ulang lagi ya dari ketukan yang tadi."

Azalea mengangguk. Ia memejamkan mata sejenak, membuang jauh-jauh gangguan dari penonton di sekelilingnya. Ia membayangkan dirinya benar-benar seorang putri yang kesepian di istana megah, yang hanya menemukan kebahagiaan saat melihat abdi setianya ini.

Latihan diulang. Kali ini saat Hagia memanggilnya, Azalea tidak langsung menyahut. Ia berhenti melangkah, memutar tubuhnya lalu menatap Hagia tepat di manik matanya, yang langsung di respon sepersekian detik menunduk oleh Hagia.

"Tataplah mataku, ini perintah." Azalea berdialog.

Azalea menyalurkan seluruh perasaan yang selama ini ia pendam dalam diam, yaitu rasa suka yang ia miliki untuk Hagia di dunia nyata ke dalam tatapan sang Tuan Putri. Barulah Hagia menjawab dengan dialog lainnya, terus beruntun ke adegan selanjutnya dimana Sang Putri bertanya ada apa memanggilku.

Namun Hagia tetaplah Hagia. Sebagai seorang sutradara yang perfeksionis, ia hanya melihat itu sebagai keberhasilan akting anak buahnya. Ia mengangguk puas melihat eksekusi Azalea, tanpa menyadari sedikit pun bahwa sebagian dari tatapan itu bukanlah sekadar akting.

Latihan berlanjut hingga matahari mulai meninggi. Selama berjam-jam itu, Azalea belajar banyak. Bukan hanya tentang seni peran, tapi juga tentang bagaimana menahan diri. Ia melihat bagaimana Suci sesekali melintas di pinggir sanggar, menatap mereka dengan tatapan yang sulit diartikan.

Ada rasa tak tega yang sempat mampir di hati Azalea saat melihat wajah Suci yang muram. Namun ia kembali teringat pada prinsipnya pagi tadi. Hidup jangan berpatokan pada perasaan orang lain. Jika ia terus memikirkan apakah Suci cemburu atau tidak, maka latihan ini tidak akan pernah selesai, dan ia tidak akan pernah bisa tampil maksimal.

"Oke, latihan cukup untuk hari ini" Ujar Hagia ke semua tim terkait. Mereka lantas membubarkan diri. Kini Hagia menoleh ke Azalea.

"Progres kamu bagus banget, Lea. Kamu punya bakat terpendam di akting."

"Makasih, Kak. Itu juga karena Kakak ngajarinnya detail banget."

Hagia membereskan naskah-naskahnya. "Besok kita lanjut lagi jam sembilan pagi ya? Jangan telat, karena kita mau coba pakai properti."

"Siap, Bos!" Azalea memberikan hormat main-main, yang dibalas tawa kecil oleh Hagia.

Saat Azalea hendak melangkah pergi, ia melihat Hagia masih sibuk berdiskusi dengan beberapa tim lain. Pria itu tampak sangat berwibawa dalam kepemimpinannya. Azalea sadar, pesona Hagia memang bukan hanya terletak pada wajahnya, tapi pada gairah yang ia miliki terhadap apa yang ia kerjakan.

Di sisi lain Azalea juga menangkap kembali pemandangan Suci yang tengah pergi dengan langkah tergesa. Azalea menghela nafas pelan. Tiba-tiba Hagia yang tadi sibuk menghampiri Azalea.

"Lea, jalan-jalan yuk." Ajak Hagia.

.

.

Bersambung.

1
Felycia R. Fernandez
Hagia kah??
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
vote meluncur
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
😍😍😍😍
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
otornya absurd, tokohnya jadi absurd juga 🤦‍♀️🤦‍♀️
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
kamu salah paham. tapi aku suka. biarkan kesalah paham ini, semakin panjang /Facepalm/
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
iya, punya ayahmu. tapi kamu pewarisnya
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
heleehhhh, modus mu /Facepalm//Facepalm//Curse/
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
dan ternyata itu ialah nomor sang penipu /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
sebegitu khawatirnya hagia sama lea. apalagi itu, jika bukan cinta
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
ooo, lebih privasi gitu maksudnya
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
dia memang menyukai mu hagia. seharusnya bukan akting yg ditunjukkan tapi kebenaran
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
fokus leaaa, fokus /Chuckle//Chuckle//Facepalm/
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
aku suka sama pikiranmu
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
nah kan, akhirnya kamu sadar lea
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
dia bukan khawatir kamu patah hati Lea. yang dia khawatirkan kamu berhasil berada di hati Hagia. walaupun itu, memang benar adanya
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
Sebutkan nama lengkapnya Yahh /Facepalm//Grin/
〈⎳ FT. Zira
eaaa katahuannn
〈⎳ FT. Zira
aduh alasannya/Facepalm/
〈⎳ FT. Zira
lahhh... kelihatan banget jadinya
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
zenuuuuuunnnnnnn nackal sekali kamuuuhhhhhhh. ihhh geeemmmeeessshhhh
Zenun: iiih ada akak😄🥳👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!