Ditinggalkan oleh calon suami seminggu sebelum pernikahan nya membuat hati Alina hancur lebur. Belum mendapatkan jawaban akan maksud calon suaminya yang meninggalkan dirinya, Alina kembali dikejutkan beberapa bulan kemudian akan permintaan pria yang belum menghilang dari hatinya itu.
"Aku mohon padamu, tolong rawat bayi ini. Aku memohon padamu Alina. Jaga Rosa dengan baik." Setelah mengucapkan itu, Edwin menghembuskan nafas terakhirnya.
Bagaimanakah kelanjutan nya? Apakah Alina akan membesarkan nya? atau justru mengikuti egonya? Dan bayi siapa itu sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Nilam Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bangkit Perlahan
Sepulang dari rumah sakit. Alina, dia mengurung diri di dalam kamarnya, tidak ada pembicaraan seperti biasanya ataupun senyuman hangat maupun semangat untuk beraktivitas.
Kertas-kertas hasil dari rancangan tangan nya dan juga undangan pernikahan yang masih tersisa berserakan dimana-mana. Tidak ada reaksi ataupun keinginan untuk membereskannya. Hanya mata yang lelah dengan pemikiran yang berat menatap semua itu.
"Nona, ayo makan dulu. Bibi bawakan makanan untuk nona." Bibi, wanita paruh baya itu berusaha untuk kebangkitan dari wanita yang sedang terpuruk itu.
Tidak ada jawaban, tangannya kembali mengetuk pintu. "Nona, bibi masuk ya." Masih tidak ada jawaban, wanita paruh baya itu akhirnya memutuskan untuk membuka pintu. Dan bagusnya, itu tidak terkunci. Hawa pengap dengan keadaan yang gelap membuat bibi melangkah dengan hati-hati. Perlahan tangannya menyalakan saklar lampu.
Seiring dengan menyalanya cahaya, tampak Alina dengan tatapan kosongnya meringkuk di kursi menatap balkon yang terhalang jendela dan menampilkan langit yang gelap tanpa rembulan.
"Nona, bibi bawakan makanan dan juga teh. Ayo nona, makan dulu.... Atau setidak-tidaknya nona minum teh nya." jelas bibi penuh harap, hatinya sakit melihat Alina yg tidak bereaksi.
"Nona..... apa yang terjadi pada nona, itu adalah hal yang menyakitkan. Tapi nona, bibi yakin nona tidak akan menyerah semudah itu. Setelah apa yang nona alami hingga sekarang.... Apa nona sungguh ingin menyerah?" Alina mulai merespon, matanya menatap sejenak bibi.
"Nona, setiap yang terjadi.... itu memiliki maksud tersendiri. kalau tidak memberikan kebahagiaan, maka itu memberikan kekuatan agar nona semakin kuat dan nona sanggup untuk itu. Mungkin, dia memang bukan jodoh nona. Akan lebih baik terjadi sekarang, bagaimana kalau itu terjadi setelah nona menikah? Bukankah itu lebih menyakitkan Nona?" Jelas bibi.
Air mata, air mata menjadi jawaban Alina. Tak lama bahunya kembali bergetar dan tenggelam pada bahu bibi yang menjadi sandaran nya. "Nona! Nona, bibi disini.... Nona tidak sendiri." Malam itu, Alina kembali menangis, tapi mungkin itu menjadi tangisan pembangkit semangat nya kembali.
Selepas malam itu, Alina mulai menata kehidupan nya kembali. Alina juga perlahan berganti menjadi sosok yang berbeda. Setelah tidak ada kabar dari Edward dan pernikahan yang batal, Alina menjadi gila kerja dan menjadi pendiam.
"Nona makan dulu." Ujar bibi membawa makanan, meksipun tidak di meja makan, setidaknya ada perkembangan.
"Iya, letakkan saja disana." Ujar Alina dengan sketsa desain baju di depannya.
"Jangan lupa nona, bibi tidak ingin Nona sakit." Perkataan wanita itu membuat Alina meletakkan sketsanya dan mengambil piring berisi lauk pauk enak itu.
"Sudah, aku makan...." Bibi yang melihat apa yang diharapkannya, wanita itu perlahan mundur.
Dibalik pintu besar itu, air matanya kembali mengalir. "Aku sangat berharap nona kembali seperti dulu. Ini sudah sepuluh bulan, tetapi nona menjadi pribadi lain."
********************
"Nona mau berangkat?" Tanya bibi kepada Alina di malam pukul sembilan.
"Iya, aku mau menemui klien. Ingin memastikan ukuran tubuhnya dan juga desain nya. Aku akan kembali cepat." Seolah tau rasa khawatir wanita itu, Alina mengatakannya.
"Baiklah, nona hati-hati."
"Iya." Alina melajukan mobilnya, di tengah perjalanan yang mendekati jalanan dengan pepohonan samping kiri kanan, Alina dikagetkan dengan sesosok yang melintas di depan mobilnya membuat Alina banting setir.
Alina yang merasakan pusing di kepalanya dikejutkan dengan wajah yang berada di depan kaca mobilnya. "Ed?"
Bersambung......
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak 🥰 🥰 🙏