NovelToon NovelToon
Hantu Tampan Si Mesum

Hantu Tampan Si Mesum

Status: tamat
Genre:Misteri / Horor / Dunia Lain / Spiritual / Hantu / Suami Hantu / Tamat
Popularitas:13.5k
Nilai: 5
Nama Author: Jing_Jing22

Angin Siang Itu Berhembus Cukup Kencang, Memainkan Helai Rambut Panjang Milik Jelita Yang Sedang Duduk Santai Di Selasar Universitas. Bagi Jelita, Dunia Hanya Sebatas Apa Yang Bisa Dilihat Oleh Mata Dan Logika. Baginya, Cerita Hantu Hanyalah Dongeng Pengantar Tidur Untuk Orang-Orang Penakut.​"Hari Ini Kita Gak Ada Kelas! Gimana Kalau Kita Ke Gedung Kosong Sebelah," Ajak Salah Satu Teman Jelita Yang Bernama Dinda. Matanya Berkilat Penuh Rencana Tersembunyi.​Jelita Mengangkat Alisnya Sebelah, Menatap Dinda Dengan Tatapan Remeh. "Buat Apa Kita Kesana? Kamu Mau Ngajak Mojok Ya?" Selidik Jelita Sambil Tersenyum Tipis.​"Kamu Kan Gak Pernah Takut Dan Gak Pernah Percaya Hal Kaya Gitu. Kita Mau Tantang Kamu Kesana Untuk Uji Nyali," Kata Dinda Tegas.​"Bener Juga! Lumayan Hiburan Di Saat Lagi Kelas Kosong," Sambung Ira Yang Tiba-Tiba Bergabung, Memberikan Dorongan Ekstra Agar Jelita Terpojok.​Jelita Tertawa Kecil, Sebuah Tawa Yang Mengandung Kesombongan. "Oke, Siapa Takut? Ayok Kita Kesana."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Rita—atau makhluk di dalam tubuhnya—perlahan berdiri. Gerakannya patah-patah, terdengar suara tulang yang berderak ngeri saat ia memutar lehernya ke arah Jelita. Wajah cantik Rita kini terlihat sangat menyeramkan dengan guratan-guratan hitam di sekitar matanya.

​"Tubuh manusia ini sangat rapuh, tapi kebenciannya... ah, rasanya sangat lezat, Raja," ucap 'Rita' dengan suara ganda yang menyeramkan—perpaduan suara melengking Rita dan suara bariton Mahesa yang berat.

​Dinda bersembunyi di balik punggung Jelita, tangannya bergetar hebat saat memegang kristal birunya. "Jel... itu bukan Rita lagi! Itu... itu monster yang pakai baju Rita! Mas Gama mana?! Kenapa cuma Mas Arjuna yang di sini?!"

​Ira terjatuh dari kursinya, merayap mundur saat 'Rita' mulai melangkah mendekatinya dengan tangan yang kukunya mendadak memanjang dan menghitam. "Jangan... jangan mendekat!" teriak Ira dengan suara parau.

Arjuna berdiri di depan Ira, keris gaibnya mulai menampakkan wujud asli yang berpendar keemasan. Namun, ia tampak ragu untuk menyerang.

​"Licik kau, Mahesa!" geram Arjuna. "Kau tahu aku tidak bisa menghancurkan jiwa pemberontakmu tanpa menghancurkan wadah manusia yang kau tempati!"

​Mahesa dalam tubuh Rita tertawa melengking, suara tawanya memecahkan kaca jendela kelas yang tersisa. "Tepat sekali, Arjuna! Jika kau menyerangku, kau membunuh manusia ini. Dan jika manusia ini mati di tangan sang Raja Astina Maya, maka tahtamu akan tercemar oleh darah manusia tak berdosa. Pilihannya ada padamu... biarkan aku membawa Irawati, atau kau hancurkan gadis sirik ini?"

​Jelita melangkah maju, cincin kecubungnya bersinar sangat terang hingga menyelimuti seluruh ruangan dengan cahaya ungu. "Tidak akan ada yang terluka hari ini, Mahesa! Keluar dari tubuh temanku sekarang juga!"

​Di tengah keheningan waktu yang membeku, Arjuna berdiri dengan kemarahan yang tenang namun mematikan. Ia tidak lagi sudi bermain kata-kata. Dengan satu hentakan kaki ke lantai, ia memanggil panglima setianya.

​"Gama! Saya perintahkan menghadap sekarang!" seru Arjuna.

Dalam sekejap, asap biru pekat muncul di tengah ruangan dan membentuk sosok Gama yang langsung berlutut di hadapan tuannya. "Salam Baginda. Sesuai dengan titah Baginda, apa yang harus hamba lakukan?"

​Arjuna menunjuk ke arah Rita yang masih dirasuki oleh bayangan hitam Mahesa. Matanya berkilat merah, memancarkan aura dingin yang membuat bulu kuduk Ira dan Dinda berdiri.

​"Bereskan Mahesa. Tarik dia keluar dan bawa ke alam bawah. Itulah hukuman yang layak untuk pemberontak seperti dia," perintah Arjuna dengan suara mutlak.

​Gama melirik ke arah tubuh Rita yang gemetar karena kekuatan Mahesa di dalamnya. "Lalu bagaimana dengan manusia itu, Baginda? Jiwanya masih terikat dengan raga ini."

​Arjuna menatap Rita dengan pandangan tanpa ampun. Baginya, siapa pun yang mengancam ketenangan Jelita tidak pantas mendapatkan belas kasihan. "Bawa dia bersama Mahesa. Masukkan dia ke alam bawah untuk sementara waktu. Aku tidak suka seseorang membenci Ratuku dengan begitu dalam. Biarkan dia merasakan dinginnya kegelapan agar dia tahu siapa yang dia lawan."

Dinda yang mendengar itu langsung menutup mulutnya, matanya membelalak. "H-hah?! Rita mau dibawa ke alam bawah juga? Mas Gama, beneran mau dibawa?!"

​Ira pun tampak syok, meskipun ia membenci Rita, ia tidak menyangka hukumannya akan sejauh ini. "Jel... Arjuna serius? Rita itu manusia, dia bisa gila di sana!"

​Jelita ingin bicara, namun ia melihat rahang Arjuna yang mengeras—tanda bahwa perintah sang Raja tidak bisa diganggu gugat jika itu menyangkut keselamatannya.

​Gama berdiri, pedang batunya kini mengeluarkan rantai-rantai cahaya biru yang bergemerincing ngeri. Ia melangkah menuju Rita. "Maafkan aku, Manusia. Kau memilih sekutu yang salah."

​"TIDAAAK! ARJUNAAAA! KAU TIDAK BISA MELAKUKAN INI!" teriak Mahesa dari dalam mulut Rita. Suaranya melengking tinggi saat rantai-rantai gaib Gama mulai melilit tubuh Rita, menarik bayangan hitam Mahesa beserta jiwa Rita yang penuh kebencian itu menuju sebuah lubang hitam yang terbuka di lantai kelas.

Lubang hitam di lantai kelas itu tertutup perlahan, menelan jeritan Mahesa dan raga Rita yang malang. Keheningan yang hampa kini berganti dengan udara yang mulai hangat kembali. Mahasiswa lain yang tadinya mematung mulai menunjukkan tanda-tanda akan terbangun dari pengaruh pembekuan waktu.

​Arjuna menghela napas panjang, auranya yang tadi meledak-ledak perlahan mereda. Ia melangkah mendekati Jelita yang masih berdiri mematung.

​"Semuanya sudah selesai, Ratuku," ucap Arjuna dengan suara rendah yang kini terdengar jauh lebih lembut.

​Jelita tidak langsung menjawab. Ia hanya diam, menatap lekat-lekat sosok Arjuna yang kini berdiri di depannya dalam wujud manusia sempurna. Jaket kulit hitam, rahang yang tegas, dan mata yang—meskipun masih memancarkan kekuatan besar—kini terlihat sangat nyata. Jelita seolah sedang mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa sosok di depannya ini adalah pria yang sama dengan sang Raja dari alam lain.

​Menyadari tatapan Jelita yang begitu intens, perlahan sudut bibir Arjuna terangkat. Aura dominannya yang mengerikan tadi mendadak berganti menjadi seringai jahat yang penuh godaan. Ia melangkah satu tindak lebih dekat hingga jarak mereka sangat tipis.

​"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" goda Arjuna, suaranya sedikit serak, kembali pada sifat aslinya yang selalu senang menggoda Jelita. "Apakah aku jauh lebih tampan saat menjadi manusia seperti ini?"

Wajah Jelita seketika memerah hingga ke telinga. Ia segera membuang muka, mencoba mencari udara segar karena jarak Arjuna yang terlalu dekat membuatnya gugup.

​"Pede sekali kamu!" ketus Jelita, meski jantungnya berdegup kencang. "Aku hanya... aku hanya heran melihatmu memakai baju manusia. Dan apa yang kamu lakukan pada Rita tadi, itu benar-benar—"

​"Ssttt..." Arjuna meletakkan jari telunjuknya di bibir Jelita. "Jangan bahas wanita itu lagi. Hari ini aku menjadi mahasiswa hanya untukmu. Jadi, bukankah seharusnya kau berterima kasih pada 'teman sekelasmu' yang tampan ini?"

​Di belakang mereka, Dinda menyenggol lengan Ira yang masih sedikit syok. "Tuh kan, Ra... ganti mode lagi. Tadi kayak malaikat pencabut nyawa, sekarang jadi pangeran mesum lagi. Bipolar banget ya hantunya Jelita."

​Ira hanya bisa menghela napas panjang, sambil memegang kepalanya yang pening. "Setidaknya kita tidak ikut ditarik ke alam bawah, Dinda. Itu sudah lebih dari cukup bagiku."

Di tengah ruang kelas yang perlahan mulai kembali normal, Arjuna seolah tidak peduli dengan keberadaan orang lain. Ia menarik pinggang Jelita dan memeluknya dengan erat, seolah ingin memberikan seluruh perlindungannya melalui sentuhan fisik dalam wujud manusianya.

​Ira dan Dinda yang berdiri tak jauh dari sana hanya bisa terperangah dengan mulut setengah terbuka.

​"Ya ampun... Kalau Raja mah bebas ya, mau berbuat romantis di mana pun oke saja. Anggap saja kita berdua ini cuma lalat kampus yang lewat," celetuk Dinda sambil menutup matanya dengan jari yang sengaja direnggangkan agar tetap bisa mengintip.

​Arjuna melepaskan pelukannya perlahan, namun tangannya masih mengusap pipi Jelita dengan lembut. Napasnya terdengar sedikit berat, seolah menahan beban energi yang besar untuk mempertahankan wujud manusianya.

​"Aku tidak bisa lama-lama dalam keadaan seperti ini, tubuh manusia ini mulai menolak energiku," bisik Arjuna dengan suara rendah yang hanya bisa didengar Jelita. Ia menatap Jelita dengan tatapan yang sangat dalam. "Aku pamit dulu, Ratuku. Sampai jumpa nanti malam."

​Cup!

​Tanpa aba-aba, Arjuna mendaratkan ciuman singkat namun tegas di bibir Jelita. Sebuah tindakan yang membuat Jelita membeku di tempat dan membuat Dinda hampir berteriak histeris jika tidak segera dibekap oleh Ira.

​Dalam satu kedipan mata, sosok pemuda berjaket kulit itu memudar dan menghilang menjadi butiran cahaya hitam yang halus, meninggalkan aroma cendana yang kuat di udara.

1
🇮🇩 NaYaNiKa 🇵🇸
Ok... Qt melipir LG ke cerita Juna & JeL2.
Plus Ira & si berisik Dinda. Kombinasi maaaauuut... 🤣🤣🤣
🇮🇩 M i K u R 🇵🇸
Nungguin seTahun aja rasanya dah melelahkan banget. Apalg menunggu Ribuan Tahun LG. Hanya untuk kecewa lagi. Selama msh beda alam, jgn ngarep bersatu...
🇮🇩 SaNTy 🇵🇸
Ku menanti seorang kekasih,yg tercantik yg datang dihari ini...
Tiba2 ke inget lagu ini... Kesian jg si Arjuna. Tapi ya itulah hdp. 2 alam tidak mungkin bersatu...
🇮🇩 SaNTy 🇵🇸
Manusia milik Tuhannya. Bukan milik entitas manapun. Arjuna ngajak ribut bener. Kalo AQ JD Jelita, dah ku paku kepalanya ke lantai. SeGalak itu AQ.
🇮🇩 SaNTy 🇵🇸
Sebnrnya, so Arjuna gak ada hak utk marah. Org tua normal manapun pasti gak akan mau anaknya jadi penghuni alam gaib. Gak diterima langit & ditolak bumi. Ya susah...
🇮🇩 SaNTy 🇵🇸
Laaaaaaaaaah... Anaknya yg maaaaaauuuuu...
🇮🇩 SaNTy 🇵🇸
Waduuuuuuuh... Matimijaaaaaaa...
🇮🇩 SaNTy 🇵🇸
Lama2 Ira yg jadian sama Gama ini kalo Dinda berisik teroooosss... 😅😅😅
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Si Gama lebay deh. Kan hantu dah gak punya nyawa. Hadeeeuuuuh... Gama... Gamaaaaa...
🇮🇩 F A i 🇵🇸
Ba lenggang pata2, ngana PE goyang pica2... 🎤🎤🎤🎤
🇮🇩 F A i 🇵🇸
Ok banget sih ini. STLH sekian lama berjibaku di dunia halu nama2 besar, tiba2 kepentok kesini.
Semangat ya Thor. Tuyulku ngikut nih. 🤣
🇮🇩 M i K u R 🇵🇸
Keren... Asli keren. Berasa di dunia halu. Semoga gak kebawa mimpi. 🤣🤣🤣
🇮🇩 M i K u R 🇵🇸
Kesian jg si Ira. Biasanya cm JD penonton, skrg jd target.
🇮🇩 M i K u R 🇵🇸
Sbnrnya, kalo ditarik garisnya, smua gegara si Pangeran yaaaaaa... Bnr2 membw kegelapan iiiisssshhh...
🇮🇩 SaNTyHaSan 🇵🇸
Hadeeeuuuuh... Si Dinda bener2 deh. 😄😅
🇮🇩 SaNTyHaSan 🇵🇸
Bnr2 si Dinda. Minta disemen itu moncongnya. Hadeeeuuuuh...
🇮🇩 SaNTyHaSan 🇵🇸
Belom halal oooeeee... Main buka2 ajaaaaa... 🤣🤣🤣
🇮🇩 SaNTyHaSan 🇵🇸
Alam gaib pun ada politiknya. Yasalaaaaam...
Jing_Jing22: Hahaha, bener banget Kak! Di sana juga ada tim sukses sama oposisinya kayaknya. 😂
total 1 replies
🇮🇩 SaNTyHaSan 🇵🇸
S7 ma Ira. Punya pacar yg nyata bisa dipeluk 24/7 LBH nikmat drpd yg kelonannya malem doank yaaaaaa... 🤣🤣🤣
Jing_Jing22: Hahaha, setuju garis keras! 😂 Emang nggak enak ya Kak kalau pacarannya sistem shift malam doang, berasa jaga ronda. Yang nyata emang lebih nampol buat dipeluk kapan pun! 🫂
total 1 replies
🇮🇩 SaNTyHaSan 🇵🇸
Ngeriiiiiiii... 😅
Jing_Jing22: Ngeri-ngeri sedep Kak😂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!