DIA YANG HADIR DI PINTU TERAKHIR
Sejak kapan sebuah rumah terasa paling asing, dan luka menjadi satu-satunya yang jujur?
Aira Maheswari dibesarkan di bawah atap yang megah, namun penuh kebisuan dan rahasia. Ia terbiasa menyembunyikan diri di balik topeng, sebab di rumahnya, kejujuran hanyalah pemicu keretakan. Pelarian Aira datang dari Raka, Naya, dan Bima, tiga sahabat yang menjadi pelabuhan sementaranya. Namun, kehangatan itu tak luput dari kehancuran—ketika cinta terlarang dan pengorbanan sepihak meledak, ikatan persahabatan mereka runtuh, meninggalkan Aira semakin sendirian.
Saat badai emosi merenggut segalanya, hadir Langit Pradana. Lelaki pendiam ini, dengan tatapan yang memahami setiap luka Aira, menawarkan satu hal yang tak pernah ia dapatkan. Cinta mereka adalah tempat perlindungan, sebuah keyakinan bahwa Langit adalah tempat pulangnya.
Namun, hidup Aira tak pernah sesederhana itu. Akankah Aira menemukan tempat pulang yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuliza sisi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
RUANG TANPA JAM
Ruang pemeriksaan tidak memiliki jam.
Entah disengaja atau tidak, ayah Aira tidak tahu sudah berapa lama ia duduk di sana. Lampu putih menggantung rendah. Meja logam dingin. Kursi keras tanpa sandaran yang layak.
Dua penyidik duduk berhadapan dengannya, satu berbicara, satu lagi lebih banyak diam, jenis diam yang mencatat lebih dari yang terlihat.
“Bapak paham status Bapak saat ini?” tanya penyidik pertama.
Ayah Aira Salman Maheswari mengangguk.
“Tersangka.”
Nada suaranya tetap datar. Tidak defensif. Tidak juga memohon. Seolah ia sedang menjawab pertanyaan administratif, bukan tuduhan yang bisa menghapus seluruh hidupnya.
“Kami akan mulai dari yang sederhana,” lanjut penyidik itu. “Artikel Proyek Sungai Selatan. Siapa yang memberi data awal?”
“Tim internal,” jawab ayah Aira. “Semua tercatat.”
“Termasuk data kompensasi warga?”
“Ya.”
Penyidik kedua mengangkat kepala. “Tapi ada selisih.”
Ayah Aira menoleh. “Di laporan akhir. Bukan di data awal.”
“Dan Bapak tidak curiga?”
Ayah Aira terdiam sesaat. Bukan karena tidak punya jawaban, tapi karena tahu jawaban jujur tidak selalu aman.
“Saya percaya sistem,” katanya akhirnya. “Dan itu kesalahan pertama saya.”
Penyidik pertama bersandar. “Bapak tahu, saksi mengatakan mereka tidak menerima uang sepeser pun.”
“Saya tahu,” jawab ayah Aira pelan. “Dan saya tahu sebagian dari mereka memang tidak...”
Ruangan terasa lebih sempit.
“Bapak mau menyebutkan siapa yang seharusnya bertanggung jawab?” tanya penyidik kedua.
Ayah Aira menggeleng. “Bukan hari ini.”
Itu bukan penolakan. Itu penundaan.
Dan penyidik itu tahu.
Di luar ruang pemeriksaan, Aira duduk di bangku panjang lorong kantor polisi.
Tangannya menggenggam ponsel, tapi tidak benar-benar membukanya. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi di dalam sana, dan justru itu yang paling menyakitkan.
Ia tidak bisa melindungi. Ia tidak bisa masuk. Ia hanya bisa menunggu.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Langit.
Langit:
Kamu di mana?
Aira membaca tanpa tergesa. Lalu membalas.
Aira:
Lagi nunggu Ayah.
Tidak ada penjelasan tambahan. Tidak ada keluhan. Tidak ada drama.
Langit membaca balasan itu dengan alis berkerut. Ia mengharapkan retakan. Tangisan. Kebutuhan. Tapi Aira terdengar… utuh.
Mereka bertemu malamnya.
Di tempat yang tidak terlalu ramai, tapi juga tidak terlalu sepi. Kedai kopi kecil yang lampunya temaram, dengan musik yang sengaja diputar pelan agar percakapan tidak mudah ditangkap meja lain.
“Kamu kelihatan capek,” kata Langit.
“Aku memang selalu capek,” jawab Aira.
Langit mencondongkan badan. “Gimana pemeriksaan ayahmu?”
Aira mengaduk kopinya perlahan. “Panjang.”
“Dia bilang apa?”
“Banyak dengar. Sedikit bicara.”
Langit tersenyum tipis. “Itu ciri khas dia, ya.”
Aira mengangkat mata. “ ciri Khas orang yang merasa masih pegang kendali.”
Langit terdiam sesaat. Lalu tertawa kecil. “Kamu mirip dia.”
Aira ikut tersenyum. Tapi kali ini, senyumnya tidak jatuh ke mata.
“Mungkin,” katanya. “Atau mungkin aku belajar dari orang yang terlalu sering menyembunyikan sesuatu.”
Langit menegang Sedikit. Hampir tak terlihat.
Aira melanjutkan, seolah tidak menyadari perubahan itu.
“Aku mau tanya sesuatu,” katanya ringan. “Hipotetis.”
Langit mengangguk. “Tanya...?”
“kamu kan sempat berada di posisi korban,” ujar Aira, “dan kalau kamu punya kesempatan untuk bicara langsung ke orang yang kamu anggap bertanggung jawab… kamu akan cari keadilan atau kehancuran?”
Langit menjawab terlalu cepat. “Keadilan.”
Aira mengangguk. “Tanpa ingin lihat dia hancur?”
Sunyi sebentar. “Iya” jawab Langit, kali ini lebih pelan.
Aira menatapnya lama. Tidak menuduh. Tidak menekan.
“Hm,” gumamnya. “Jawaban yang rapi.”
Langit tertawa kaku. “Kamu kedengaran kayak lagi interogasi”
Aira tersenyum. “Aku cuma lagi belajar membedakan niat.”
Dan Langit sadar, ini bukan percakapan biasa. Ini pengujian.
...####...
Di sebuah ruangan lain, jauh dari kedai kopi itu, seseorang membuka map tipis.
Isinya bukan dokumen hukum. Bukan laporan media. Hanya potongan-potongan kecil, jadwal relokasi, nama-nama lama, dan satu foto buram rumah kontrakan sempit.
Ia membaca tanpa ekspresi. Lalu menutup map itu kembali.
“Belum,” katanya pada dirinya sendiri. “Belum waktunya.”
Teleponnya bergetar. Satu pesan masuk.
Dia sudah mulai diperiksa.
Ia membalas singkat. Jangan bergerak dulu.
Orang itu berdiri di dekat jendela. Menatap kota dari ketinggian. Lampu-lampu tampak seperti titik-titik kecil yang bisa dipadamkan satu per satu, jika tahu saklarnya.
“Aira,” gumamnya pelan. “Kamu selalu ada di pusat badai, bahkan tanpa mencarinya.”
...####...
Malam semakin larut.
Aira kembali ke kamar. Duduk di tepi tempat tidur. Membuka buku cokelatnya.
Ia menulis,
Ayah memilih diam.
Langit memilih jawaban yang terlalu bersih.
Dan ibu masih terbaring di rumah sakit
Ia menutup buku.
Hari ini, ia tidak mendapatkan jawaban. Tapi ia mendapatkan sesuatu yang lebih penting, irama.
Dan ia tahu, siapa pun yang berbohong, akan tergelincir oleh ritmenya sendiri.
Di luar, hukum terus bergerak. Pelan. Sunyi. Tapi tidak bisa ditarik ulang.
...####...
Keputusan itu datang tanpa seremoni.
Tidak ada kamera. Tidak ada teriakan. Tidak ada drama seperti di televisi.
Ayah Aira hanya diminta berdiri. Dibelokkan ke lorong lain. Dan pintu besi ditutup di belakangnya dengan suara yang pendek, tapi final.
Klik.
Satu suara. Dan satu bab hidup ditutup.
Aira berdiri beberapa langkah dari garis pembatas. Ia tidak menangis. Belum. Tubuhnya seperti menolak bereaksi, seolah kalau ia bergerak sedikit saja, semuanya akan runtuh bersamaan.
“Ayah,” panggilnya.
Ayahnya menoleh.
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia tidak berdiri tegak. Bahunya turun. Matanya memerah, bukan karena takut, tapi karena menahan terlalu banyak hal yang tak sempat ia katakan selama bertahun-tahun.
“Jaga Ibu,” katanya pelan.
Aira mengangguk. Bibirnya bergetar. “Ayah jaga diri.”
Ayahnya tersenyum kecil. Senyum yang tidak pernah Aira lihat sebelumnya, bukan senyum percaya diri, bukan senyum kontrol. Ini senyum seorang ayah yang akhirnya kehabisan peran.
“Maaf,” katanya.
Satu kata. Terlambat. Tapi jujur.
Aira ingin memeluk. Ingin berkata bahwa ia mengerti. Ingin berteriak bahwa ia belum siap kehilangan ayahnya dengan cara seperti ini.
Tapi petugas sudah memberi isyarat. Waktu habis.
Dan ayahnya dibawa pergi. Tanpa menoleh lagi. Mungkin karena jika ia menoleh, ia tidak akan sanggup melangkah.
Aira berdiri sendiri di lorong itu, menyadari bahwa ada jenis perpisahan yang tidak meninggalkan ruang untuk kata terakhir.
Rumah sakit menjadi rumah kedua.
Bau antiseptik menempel di pakaian Aira. Jam-jam tidak lagi dihitung dengan waktu, tapi dengan bunyi langkah perawat dan perubahan kecil di layar monitor.
Ibunya terbaring lemah. Tubuh yang dulu hangat kini terasa rapuh, seperti sesuatu yang bisa hilang hanya dengan satu napas yang terlalu panjang.
Aira duduk di sisi ranjang. Menggenggam tangan ibunya yang dingin.
“Ibu jangan tidur lama-lama,” bisik Aira. “Aira capek sendirian.”
Ibunya membuka mata perlahan. Senyum tipis muncul, tapi matanya basah.
“Kamu nggak sendirian,” katanya pelan. “Kamu cuma… terlalu kuat buat ukuran anak Ibu.”
Aira menggeleng cepat. “Aku nggak mau kuat. Aku mau Ibu sehat. Aku mau Ayah pulang.”
Ibunya menghela napas. Panjang. Seperti napas orang yang tahu, beberapa hal tidak bisa dikembalikan utuh.
“Dengar,” katanya lirih, “apa pun yang orang katakan nanti… kamu jangan benci Ayahmu.”
Aira menunduk. Air mata jatuh ke selimut rumah sakit.
“Ayahmu tidak salah,” lanjut Ibunya. “Tapi dia hanya takut. Dan orang yang takut… sering memilih cara yang keliru demi merasa aman.”
Aira menggenggam tangan ibunya lebih erat. “Kenapa Ibu diam selama ini?” tanyanya dengan suara pecah.
Ibunya menutup mata. “Karena saat itu kamu masih terlalu kecil untuk mengetahui nya, dan ayah mu, hanya ingin yang terbaik untuk mu, walau mungkin dengan cara yang keras, dan kalau Ibu bicara… rumah kita akan runtuh lebih cepat.”
Kalimat itu menghantam lebih keras dari tuduhan mana pun.
Aira menunduk. ia menangis tanpa suara. Tangis orang dewasa yang tidak lagi punya tempat bersembunyi.
Raka, Naya, dan Bima datang bergantian.
Mereka duduk. Menemani. Membawakan makanan yang tidak disentuh. Kata-kata yang tidak pernah cukup.
“Kami di sini,” kata Raka, suaranya parau. “Tapi kami nggak tahu harus ngapain.”
Aira tersenyum tipis. “Itu udah cukup.”
Bima mengepalkan tangan. “Kalau bisa ditukar… gue mau ambil setengahnya.”
Naya memeluk Aira tanpa bicara. Pelukan lama. Pelukan yang tidak bertanya. Pelukan yang hanya berkata, kami melihatmu.
Dan justru karena itu, Aira sadar, ada hal-hal yang tidak bisa dibagi, bahkan dengan orang-orang paling tulus.
Malam-malam berikutnya, Aira sering pulang sendirian dari rumah sakit.
Ia tidak tahu sejak kapan, tapi ia mulai merasa tidak benar-benar sendiri.
Lampu jalan yang biasanya mati, menyala. Pintu gerbang rumah yang rusak, tiba-tiba diperbaiki. Seseorang meninggalkan makanan hangat di depan pintu, tanpa nama.
Suatu malam, ia melihat bayangan seseorang berdiri di seberang jalan, di bawah lampu yang redup.
Tidak mendekat. Tidak melambaikan tangan. Hanya memastikan Aira masuk ke rumah dengan selamat.
Aira menoleh sekali. Bayangan itu sudah hilang.
Ia tidak tahu. Dan memang tidak seharusnya tahu, belum.
...####...
Di sel yang sempit, ayah Aira duduk sendiri.
Ia membuka telapak tangannya. Kosong.
Ia menatap dinding lama, lalu menarik napas panjang.
“saya tidak tau harus mintak tolong ke mana, dunia saya hampir hancur, tapi tolong jaga dunia putri saya” gumamnya pelan. “Sekarang… Tolong jaga mereka.”
Di tempat lain, seseorang membaca pesan singkat itu. Tidak membalas. Tidak mengangguk.
Aira berdiri di jendela kamarnya malam itu. Menatap kota yang tidak peduli, namun tetap berjalan.
Ia menyadari satu hal pahit, hidup tidak berhenti saat seseorang dipenjara. Ia hanya berubah bentuk.
Dan malam itu, tanpa ia sadari, ada yang seseorang menjaga nya dari jarak yang tak terlihat, bukan sebagai penyelamat, bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai penjaga senyap hingga badai ini selesai menghancurkan yang harus dihancurkan.
Aira menyeka air mata. Menutup jendela. Berbaring dengan kelelahan yang tidak bisa dijelaskan.
Ia tidak tahu siapa. Ia tidak tahu mengapa.
Ia hanya tahu, untuk pertama kalinya sejak semuanya runtuh, ia bisa tertidur.
Bersambung.