Jaysen Avshallom seorang pria tampan dan kaya raya yang menjadi buta akibat kecelakaan yang menimpanya. Tragedi itu terjadi di malam saat dia memergoki kekasihnya sedang berselingkuh. Dia berniat membalas dendam pada wanita yg membuat dunianya kini menjadi gelap.
Emily Vionetta yang baru tiba di bandara, di culik dan ditawan oleh orang tak dikenal. Ternyata mereka telah salah menangkap orang. Mereka mengira Emily adalah Eleanor saudari kembarnya. Dia terpaksa menjalani hari-hari menyakitkan dan ketakutan.
Ternyata Jaysen adalah dalang penculikannya. Tanpa dia sadari, perasaan cintanya tumbuh. Dia tahu kalau gadis itu bukan Eleanor. Dia tak ingin melepaskannya. Tapi demi balas dendamnya, dia menjebak Emily dalam pernikahan.
Hingga suatu hari Eleanor kembali dan menyesal. Dia ingin kembali pada Jaysen sehingga mengancam Emily. Akankah Eleanor berhasil merebut kembali Jaysen? Benarkah Jaysen buta atau hanya pura-pura buta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meta Janush, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25. ARGYA TERTUSUK PISAU
Andai Argya tidak menghalangi maka pisau itu akan menghunjam tepat didada Jaysen dan sudah bisa dipastikan akibatnya separah apa. Jayden yang tersadar bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi pun langsung berteriak memanggil para pengawal yang berada diluar kamar. Betapa terkejutnya mereka saat masuk dan melihat Argya yang terkapar dilantai dengan bergelimang darah.
Gian memarkirkan mobilnya begitu saja dan langsung bergegas keluar. Tidak ada langkah kaki yang bergema kala dokter muda itu berlari menyusuri koridor panjang.
Lapisan tebal karpet persia kualitas terbaik yang mengampar selain nyaman untuk diinjak juga efektif sebagai peredam suara.
“Sebelah sini dokter!” seru pelayan yang memandunya karena Gian terus berlari lurus saat dia seharusnya berbelok. Sambil memaki didalamhatinya, dokter muda itu mengegrutu dengan banyaknya koridir dan ruangan dirumah besar itu yang lebih mirip hotel ini.
Kediaman utama Keluarga Wisesa memang tidak main-main soal kemewahan. Tetapi sekarang Gian sangat berharap kalau jarak yang harus ditempuhnya tidak perlu sejauh ini.
“Jay!” serunya menyerbu masuk kesebuah kamar.”Mana yang terluka? Cepat perlihatkan biar kuperisa.” ujarnya panik.
Saat melihat Gian yang terengah-engah setelah berlari dan setengah mati khawatir, Jaysen mengangkat tangannya lalu mengarahkan telunjuknya kearah belakang dokter muda itu. “Bukan aku yang terluka tapi Argya!” ujarnya dengan wajah datar.
Lalu dengan nada dingin dia menambahkan, “Apa kamu sangat menginginkan aku celaka ya? Sampai mengira kalau aku yang terluka? Hmm?”
Gian terpana mendengar tuduhan Jaysen yang tanpa alasan itu. Tadi dia tebruru-buru kesini dan nyaris seperti orang kesetanan untuk datang kesini setelah mendapat panggilan bahwa ada yang terluka cukup parah. Tetapi sekarang tanggapan Jaysen itu malah seperti itu?
Gian menarik napas dalam-dalam, dokter muda itu segera tersadar dari lamunannya dan bergegas menghampiri Agya. Saat ini bukan waktunya untuk membalas setiap kata-kata yang diucapkan oleh Jaysen.
“Kenapa bisa separah ini?” tanyanya sewaktu memeriksa luka pada telapak tangan Argya. “Luka tusukan dan irisannya lumayan dalam. Apa sebenarnya yang sudah terjadi?”
“Ehm itu….” Argya berdehem sambil melirik kearah Jaysen yang duduk dengan santainya sambil melipat kedua tangannya didada. Gian berdecak, memahami keengganan Argya untuk memberitahunya. Dia pun tidak mendesaknya lagi untuk menceritakan.
“Lukanya perlu dijahit.” uajrnya lalu menoleh kepada salah seorang pelayan wanita, “Tolong ambilkan tasku yang lain didalam mobil.”
Pelayan wanita itu menjawab dengan menganggukkan kepalaya lalu bergegas pergi.
“Saya bersihkan dulu lukanya. Ini akan sedikit sakit jadi tolong tahan sebentar saja.” ujar Gian
Argya mengangguk, bagaimanapuan dia harus menuruti perintah dokter untuk mengobatinya. Meskipun tangannya berdarah-darah sekalipun tetapi sikapnya tetap tenang.
“Silahkan,’ jawabnya.
Setelah pelayan wanita itu datang kembali dan memberikan tas miliknya, dengan seksama sang dokter yang juga memiliki klinik itu mulai menjahit lalu membalutnya dengan perban dengan rapi. Hampir satu jam dibutuhkan Gian untuk menyelesaikan penanganan luka tusuk Argya.
“Ada beberapa obat yang harus diminum agar lukanya cepat sembuh,” ucap Gian menuliskan resep dengan cepat. “Selain obat pencegah infeksi, saya juga berikan obat untuk mengurangi rasa sakit. Usahakan agar lukanya jangan terkena air dulu dan ganti perbannya secara rutin setiaphari. Kalau perlu saya akan datang kesini untuk membantu mengganti perbannya sekalian memeriksa lukanya.”
“Tidak perlu.” ujar Jaysen dingin. “Kalau hanya memeriksa luka, para pelayan juga bisa membantunya. Aku sangat yakin itu, sekedar mengganti perban saja pasti para pelayan disini bisa melakukannya.”
Gian menoleh dan menghela napas panjang. Sikap permusuhan yang ditunjukkan Jaysen padanya diperlihatkan dengan sangat jelas,
“Apa kamu baik-baik saja? Apa aku juga perlu memeriksamu juga?” tawa Gian masih berusaha bersikap baik pada Jaysen untuk menghilangkan kecanggungan diantara mereka.
“Bagaimana kalau kamu pergi saja sekarang? Tugasmu sudah selesai bukan? Tidak perlu lama-lama disini. Kalau bukan karena Argya terluka, aku tidak akan pernah memanggilmu.” balas Jaysen dingin.
“Atau Eleanor? Mungkin aku bisa memeriksa keadaannya apakah luka-lukanya sudah membaik?” tanya Gian dengan sikap tenang. Dia merasa sedikit curiga dengan luka yang dialami Argya dan juga dia tidak melihat keberadaan gadis itu disana. Sejujurnya didalam hatinya dia sangat ingin bertemu dengan gadis cantik itu walaupun hanya sebentar.
Sejak pertemuan mereka terakhir kali, tidak ada satu haripun yang berlaly tanpa bayang-bayang gadis cantik bermata abu-abu itu.
“Apa maksudmu Gian?” geram Jaysen. Sikap posesif lelaki buta itu meningkat drastis sejak dia mengalami kebutaan dan sejak Emily berada disana obsesinya juga semakin parah. “Apa hubungan Eleanor denganmu, hah?”
“Dimana dia Jaysen? Kenapa aku tidak melihatnya?” tanya Gian seolah tidak terpengaruh sedikitpun dengan sikap Jaysen yang semakin dingin padanya.
“MEMANGNYA KENAPA KALAU DIA TIDAK ADA. HAH?” teriak Jaysen penuh amarah.
“Tuan Muda!” panggil Argya berusaha menenangkannya. Dia langsung berdiri dan bergerak menghampiri Jaysen untuk menghalanginya yang sudah mengejar Gian untuk menghajarnya lagi seperti kemarin.
“Tuan Muda, saya mohon tenanglah!” pintanya dengan sedikit kesulitan untuk menahan Jaysen dengan tangan yang terluka sementara para pelayan yang berada disana merasa takut untuk ikut campur.
“Aku hanya ingin tahu bagaimana keadaannya Jaysen! Apakah dia baik-baik saja? Atau mungkin dia terluka lagi karenamu?” Gian memaksakan dirinya untuk tetap ingin bertemu Emily.
“Eleanor baik-baik saja. Dia bersamaku jadi dia pasti akan baik-baik saja. Kamu tidak perlu repot-repot memikirkannya! Memangnya kamu itu siapanya dia?” bentak Jaysen kesal.
“Benarkah begitu? Yang kuingat terakhir kali aku melihatnya,justru kamu yang membuatnya terluka parah. Masih ingat kan bekas cekikan dilehernya dan retak di pergelangan tangannya, ha? Apakah itu bukan hasil perbuatan kejammu padanya?”
Jaysen semakin marah dan mendorong Argya, tetapi lelaki paruh baya itu masih bertahan mencoba menghentikan Jaysen. Bersamaan dengan itu terdengar suara keributan dari luar ruangan.
“Tolong Nona, anda jangan masuk sekarang.”
“Aku hanya ingin melihatnya sebentar. Kumohon jangan halangi aku. Aku benar-benar merasa khawatir.” ujar suara seorang perempuan.
“Tapi nona. Tuan Muda mela----” pengawal itu belum sempat menyelesaikan ucapannya.
“Minggir!” Emily mendorong pengawal itu dan memaksa masuk dan dia terperangah saat mendapati pemandangan yang menyambutnya. Jaysen yang memasang wajah marah, sedangkan seorang lelaki berpenampilan rapi dan Argya yang berdiri ditengah-tengah kedua pria itu.
“Ap—apa yang terjadi?” tanyanya terbata-bata. Tadinya niatnya datang kesini karena merasa khawatir dengan luka yang dialami Argya tetapi situasi yang dilihatnya sekarang malah membuat gadis cantik itu kebingungan.
Bergantian Emily memandang ketiga pria itu dan saat bertukar pandangan dengan Gian, dia mengerjap sementara dokter muda itu juga terpaku menatapnya terpesona.
nyesel kan jaysen,
semoga akhrnya nanti bahagia