Kalistha, seorang gadis malang yang dibuang oleh keluarganya. Dia terpaksa menghidupi adiknya seorang diri sambil kuliah. ketika sedang bermain piano di kampus, ia bertemu dengan seorang laki-laki.
Barsh, anak dari pengusaha kaya raya. ia merasa tertarik kepada seorang gadis yang begitu lihai ketika bermain piano.
Sejak saat itu, Barsh mulai mendekati Kalistha, dengan menjadikan gadis itu sebagai guru les privat pianonya
Namun kisah cinta mereka tidak mulus. Barsh ternyata memiliki seseorang dari masa lalunya yang kini berada di Seoul. Gadis yang begitu buta dengan cintanya terhadsl Barsh. Siapa yang berani mendekati Barsh pasti akan celaka.
Dia yang mengetahui hubungan Kalistha dan Barsh, mencoba untuk memberikan ancaman kepada Kalistha, jika dia tidak meninggalkan Barsh.
Siapa yang akan dipilih oleh Barsh? Masa depan, atau masa lalu yang masih berharap kepada dirinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Kehidupan Baru (Amsterdam)
Pagi ini cukup cerah di Amsterdam. Gadis Asia ini terlihat cukup sibuk dengan karyanya. Beberapa kali tangannya mengambil tanah liat di sampingnya menempelkannya pada karyanya.
Begitu terampil tangannya pada seni. Tanah liat itu kini sudah hampir menyerupai kepala manusia. Matanya menyipit sesekali memperhatikan tiap jengkal karyanya yang dia pikir kurang.
Kembali tangannya membentuk karyanya sedemikian rupa hingga dicukupnya itu sesuai. Dia adalah Kalistha dengan kesibukannya di ruang karya.
Sudah hampir tujuh tahun lamanya dia berada di Amsterdam, kota kelahiran Arteta. Mimpinya kini terwujud Galeri seni miliknya sendiri kini berdiri di Amsterdam.
"Kakak?" teriak seorang gadis muda yang cukup cantik, seraya mencari-cari keberadaan orang yang dicarinya.
Kakinya terus melangkah masuk kedalam galeri. Tepat ketika dia menemukan orang yang di panggilnya kakak dia pun menghampirinya.
Kalistha menoleh ke arah langkah kaki yang memasuki ruang kerjanya. Dia tersenyum mendapati Syena yang datang menghampirinya. Gadis kecil itu sekarang sudah besar.
"Kakak, kau sedang apa?" tanya Syena pada Kalistha.
Kalistha tersenyum mendengar pertanyaan adik kesayangannya itu.
Gadis muda itu Syena. Kali ini kakinya tak lagi cacat. Dia mampu berjalan normal kembali berkat bantuan Arteta yang membawanya terapi di Amsterdam.
Beruntungnya kerutinannya berobat membuahkan hasil yang bagus. Langkah yang dulunya tertatih ketika berjalan, kini sudah stabil. Syena sudah sembuh total.
"Aku sedang bekerja!" jawab Kalistha padanya.
Syena memperhatikan hasil seni yang sedang dibuat kakaknya itu. Dia berpikir sejenak dan ya! Ingatannya masih baik. Patung itu, mirip sekali dengan Barsh pemuda yang dulu baik sekali padanya.
Tak ingin kembali bertanya karena Syena tau. Jika pertanyaannya terus berlanjut maka itu akan membuat Kalistha semakin sedih. Syena meraih secangkir coklat ang terletak di atas meja kecil tepat di samping Kalistha.
"Aku haus!" ucap Syena seraya meneguk coklat hangat itu. Kelancangan adiknya itu membuat Kalistha mendengus kesal melihat kelakuan adiknya itu.
"Kau bisa membuatnya sendiri, Syena!" ujar Kalistha padanya.
Syena menggeleng pelan mendengar itu.
"Tidak, aku baru saja pulang dari sekolahku! Lagi pula tuan putri tidak boleh terlalu lelah!" ujar Syena menyombongkan dirinya. Kalistha mengernyitkan keningnya mendengar itu.
"Tuan Putri? Tuan Putri apanya? Kau sedang bermimpi sambil bangun ya?" tanya Kalistha pada Syena.
Syena tertawa mendengar itu lalu dia menunjukkan secarik kertas pada Kalistha. Kalistha membaca kertas itu sejenak. Tertulis di sana Syena lolos memerankan teater sebagai Tuan Putri.
"Aku akan jadi Primadona kak! Lihat saja!" ujar Syena bangga. Kalistha tertawa mendengar itu. Dia mengambil cangkir coklat miliknya kembali.
"Primadona itu harus peduli kalori, jadi jangan berlebihan!" ucap Kalistha seraya menyeruput coklat miliknya. Syena kesal dengan tingkah kakak nya itu.
"Kau menyebalkan kak!" ujar Syena kesal. Kalistha tertawa mendengar itu.
"Aku pulang saja!" ujar Syena lalu pergi dari sana. Kalistha mengangguk mendengar itu. Baru beberapa langkah menjauh dari Kalistha, Syena berbalik.
"Nanti malam menunya apa?" tanya Syena pada kakaknya itu. Kalistha menoleh ke arah Syena.
"Kimbab saja sepertinya lezat!" ujar Kalistha padanya. Syena mengangguk mendengar itu lalu berlalu pergi.
Berlalu Syena dari sana membuat Kalistha kembali fokus pada karyanya. Dia, ingin membuat patung wajah Barsh. Sungguh dalam hatinya Kalistha sangat merindukan pemudanya.
Ini sudah cukup lama baginya menanti Barsh. Pelampiasan rindu itu hanya mampu Kalistha lampiaskan melalui ini, seni miliknya.