Axel adalah cinta masa kecil Erika. Cinta, dan semua rasa yang ada dalam diri Erika tercurah untuk Axel.
Dulu mereka saling menyayangi satu sama lain. Tapi semenjak Axel masuk kuliah, dia berubah. Axel selalu menorehkan luka untuk Erika, yang Erika sendiri tidak tahu kenapa Axel bisa seperti itu.
Erika mencintai Axel melebihi dirinya sendiri, tapi dia tidak mendapatkan balasan atas rasanya yang semu. Erika hanya mendapatkan kesakitan yang terus membuatnya menangis karena perkataan dan perlakuan Axel.
Saat Erika lelah dengan semua sikap Axel padanya, akhirnya dia memilih untuk pergi, meninggalkan kepingan luka yang sangat menyakitkan untuk diingat.
Tapi, saat Erika kembali, sesuatu terjadi, membuat Erika terjatuh dalam jurang luka yang paling menyakitkan.
Lalu, mampukah Axel menyembuhkan luka itu, atau dia malah semakin membuat luka Erika menganga?
Apakah Tuhan mau berbaik hati pada Erika, dan memberi hadiah atas semua penderitaannya selama ini?
*
Follow IG penulis; @mylihu_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EgaSri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan Axel
Axel berlari menuju mobil, dengan gerakan cepat dia menyalakan mobil fortuner hitam metalik miliknya tersebut. Semua barang-barang belanjaan tadi sudah tersusun acak di bangku belakang mobil. Mengikuti kemanapun Axel melajukan mobilnya, bertingkah seperti orang kesetanan.
Hari yang saat ini sedang maghrib memudahkan Axel untuk melaju dengan sangat kencang di jalan raya. Axel menyalib semua kendaraan yang kebetulan memang sedang ada di jalanan, meninggalkan klakson yang bersahutan karena ulahnya.
“Bagaimana? Sudah dapat lokasinya?” Axel bertanya dengan suara yang terdengar benar-benar panik. Orang yang ada di seberang telepon itu menelan ludahnya dengan kasar. Ia memantapkan dirinya untuk menjawab pertanyaan Axel.
“Sudah, Tuan. Dan kemungkinan besar, sekarang Nona Erika di bawa ke kediamannya.”
Axel mengepalkan tangannya dengan sangat kuat, bahkan kalau saja dia tidak lihai membawa mobil, mungkin saja mobil yang di kendarainya itu akan terpental jauh karena cengkramannya itu.
Ini adalah hal yang Axel takutkan saat dia menunjukkan cintanya pada Erika. Sedari dulu, inilah yang menjadi penghalang dalam hubungannya bersama dengan wanita tersayang yang sudah lebih dari lima belas tahun hadir dalam hidupnya.
Dan dalam waktu satu hari saja, orang itu berhasil membawa Erika pergi, bahkan saat itu Axel berada tidak jauh dari istrinya. Axel sadar, kalau orang tersebut sudah gila, benar-benar gila. Bahkan dalam masalah ini Erika tidak bersalah sedikitpun, tapi dia tetap menjadi korban karena kegilaan pria itu.
Axel menatap lurus ke depan, dia tahu dimana alamat rumah pria tersebut, dan tentunya sekarang dia harus kesana. Selama ini Axel diam karena dia merasa bersalah, tapi setelah ini tidak akan lagi. Axel merasa bodoh karena terus berada dalam lingkaran rasa takut dan juga bersalah, padahal dalam hal ini dia tidak bersalah sedikitpun. Tapi dia harus menjadi kambing hitam atas masalah ini.
Axel membelokkan mobilnya ke sebuah gerbang masuk perumahan elit. Hampir mirip dengan komplek perumahannya, hanya saja bedanya ini sedikit lebih luas karena ini perumahan lama, sedangkan perumahan Axel masih terbilang baru.
Setelah melewati gerbang itu tanpa kendala yang berarti, mobil yang Axel bawa berhenti di depan sebuah rumah besar yang bergaya American classic. Pilar-pilar tinggi rumah itu menambah kesan mewah terhadap rumah tersebut. Cat yang dominan berwarna emas itu, semakin membuat rumah tersebut terlihat paling mewah dari rumah yang lain.
Axel membunyikan klakson mobilnya dengan tidak sabaran, hingga pintu gerbang utama rumah itu terbuka, dan Axel menyerobot masuk membuat satpam yang berdiri di sana terkejut, bahkan hingga terjungkal ke belakang.
Axel turun dari dalam mobil, saat dia hendak berjalan masuk, satpam yang terjengkang tadi langsung menghadangnya, dengan wajah kesal dan juga geram.
“Apa Anda tidak punya sopan santun? Menyerobot masuk begitu saja? Dasar tidak beretika!” Satpam berbadan agak besar itu sampai menunjuk Axel yang kini sudah semakin emosi. Axel balas melotot, bahkan kini wajah putihnya yang terkena pantulan lampu sudah memerah, dengan urat-urat leher yang menonjol keluar.
“Mana tuan rumah lo? Balikin istri gue!” Axel menatap satpam itu dengan mata yang melotot, napasnya naik turun, membuat satpam itu langsung menciut dan berjalan mundur ke belakang.
“Pe-pergi! Jangan merusuh disini!” Satpam tersebut berusaha untuk memupuk keberaniannya yang sudah terlebih dahulu mencair. Axel berdecih sinis, hingga dia melihat beberapa orang laki-laki berpakaian hitam mendekat ke arahnya dengan wajah garang. Hari yang sudah gelap tidak membuat Axel takut sedikitpun.
Laki-laki berusia tiga puluh tahun, yang sudah cocok menjadi seorang ayah itu balas menatap para bodyguard laki-laki yang selalu membuat masalah dengan Axel. Tiga orang itu tidak menciut, keberanian mereka sama besar dengan Axel.
“Pergi dari sini!” Salah seorang dari para bodyguard yang memiliki wajah seram dengan sebuah garis luka di wajahnya, mungkin karena terkena benda tajam.
“Kalau gue gak mau, lo mau apa? Balikin istri gue, bangs*t!” teriak Axel dengan wajah yang semakin memerah.
Mereka tertawa, “Kalau mau istri lo balik, lawan kita dulu!” Salah seorang dari keempat laki-laki berbadan besar tersebut menjawab. Axel tanpa berpikir panjang langsung bergerak maju, dia akan melakukan apapun untuk istrinya, dan nyawa pun akan Axel berikan untuk Erika.
Pertarungan yang sangat tidak imbang itu berlangsung sengit. Axel melawan lima orang sekaligus, dan tentu itu tidak akan mudah. Untungnya selama ini Axel sudah berlajar bela diri, jadi dia tidak kesulitan, ya walaupun memang dia kewalahan.
Laki-laki yang memiliki bekas luka di wajahnya itu menyerang Axel dari belakang, saat dia melihat Axel lengah karena melawan temannya yang lain. Punggung Axel berdentum karena terkena pukulan itu, dia tersungkur ke depan, wajahnya yang sudah babak belur, menjadi bukti kalau perlawanan itu menjadi sengit.
Saat Axel berusaha untuk bangkit, cahaya yang berasal dari lampu mobil masuk dari gerbang yang tidak tertutup itu membuat mereka semua diam. Axel tersenyum kecil saat melihat para anak buahnya keluar dari dalam mobil itu. Ya walaupun mereka sedikit terlambat, tapi mereka datang di waktu yang tepat.
Axel bangkit, dia langsung melayangkan beberapa pukulan pada salah seorang dari bodyguard tadi dan berlari menuju pintu utama. Saat pria-pria tadi hendak mengejar Axel, tapi anak buah laki-laki dewasa yang memiliki tubuh yang sangat tegap itu sudah terlebih dahulu menghadang mereka.
Axel mendobrak paksa pintu besar rumah megah tersebut hingga menimbulkan bunyi dentuman yang keras. Karena kayu yang beradu dengan tembok.
Suami Erika itu mendelik marah ke arah laki-laki yang kini sedang duduk dengan santai di sofa ruang tamu dengan segelas teh di tangannya. Kemudian dengan tampang tanpa dosa laki-laki itu melirik Axel yang sudah mengepalkan tangannya.
“Bangs*t! Dimana istri gue, sialan!!” teriak Axel dengan suara yang menggelegar.
Laki-laki itu memasang wajah polos tanpa dosa, “ada di kamar, lagi kecapek’an!”
Axel terdiam mendengar perkataan laki-laki yang sangat di bencinya itu. Urat-urat tangannya menonjol keluar karena kepalan tangannya.
“Sialan!! Bangs*t!! Dasar gak punya otak, lo, sialan! Dasar gila!!” Axel tidak dapat menahan emosinya, darahnya terasa seperti mendidih saat ini, sungguh dia sangat benci dengan pria yang duduk dengan tenang di depannya ini.
Axel bergerak maju, gerakannya begitu cepat. Dia menarik baju laki-laki itu hingga pria itu tersentak dan gelas teh yang masih ada di tangannya terjatuh dan pecah berserakan di atas lantai marmer nan dingin itu.
Beberapa orang pelayan hanya bisa bersembunyi di balik lemari keca yang ada di sana sembari memegang sebuah telepon dengan kamera yang menyala di tangan mereka.
Axel memukul wajah laki-laki itu dengan sangat brutal. Saat mengingat perkataan laki-laki tadi, Axel semakin kalap dan emosinya meledak-ledak. Hingga hidung laki-laki itu berdarah dan wajahnya terlihat babak belur.
Melihat tidak ada sedikitpun perlawanan dari laki-laki itu, membuat Axel berdecih sinis.
“Apa lagi rencana lo, sialan!! Dasar gila!” tanpa memikirkan apa yang sedang pria itu rencanakan, Axel berlari ke lantai atas rumah megah tersebut. Semua orang diam, melihat apa yang Axel lakukan.
Axel membuka semua pintu yang ada di lantai dua tersebut, hingga dia melihat Erika yang tertidur di salah satu kamar yang ada di sana, dengan kondisi selimut yang menutupi tubuhnya.
“Sa-sayang?” Axel mendekat, matanya berkaca-kaca menatap Erika yang tampak nyenyak. “Sa-sayang ... kamu ....” kalimat Axel tertahan saat dia membuka selimut yang membungkus tubuh Erika.
***
Selamat membaca!!