Mandala, pemuda tampan berusia 24 tahun dari kampung di seberang kota, bekerja sebagai sopir pribadi di sebuah perumahan elit. Tanpa diketahui siapa pun, pekerjaannya bukan sekadar mencari nafkah melainkan jalan untuk menemukan jati dirinya.
Mandala menyimpan kebencian mendalam pada ayah kandung yang tak pernah ia kenal, pria yang ia yakini telah menghancurkan hidup ibunya hingga mengalami gangguan jiwa. Ketika ia ditugaskan mengantar Keyla, putri cantik seorang konglomerat, Mandala yakin takdir sedang memihak dendamnya. Keyla adalah anak dari pria yang ia sebut Ayah.
Cinta pun ia jadikan senjata. Mandala berniat membalas luka masa lalu dengan membuat Keyla jatuh cinta padanya. Namun seiring waktu, perasaan yang tumbuh tak lagi bisa dikendalikan, dan rencana balas dendam perlahan runtuh.
Saat Mandala hampir menuntut pertanggungjawaban, Kenyataan mengejutkan terungkap.
Bagaimana kebenaran tentang Mandala dan bagaimana kisah cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perasaan Mandala
Sore turun pelan, membawa cahaya jingga yang menyelinap di antara gedung kampus. Jam-jam pulang selalu ramai, tapi entah kenapa terasa lebih sunyi di sudut parkiran tempat Mandala berdiri menyandar di mobil.
Ia sudah keluar lebih dulu.
Bukan karena terburu-buru, tapi karena butuh udara.
Di situlah ia melihatnya.
Erga.
Berdiri dekat mobil hitamnya, tertawa kecil bukan tawa yang tadi pagi penuh amarah, tapi tawa ringan. Di sampingnya, seorang perempuan lain. Rambut panjang, pakaian rapi, gesturnya terlalu akrab untuk sekadar teman.
Mandala menyipitkan mata.
Ia tidak mendekat. Tidak juga memotret. Ia hanya menonton, diam, saat Erga membukakan pintu mobil untuk perempuan itu. Tangan Erga sempat menyentuh punggungnya terlalu biasa. Terlalu lancar.
“Hemh…” Mandala menghembuskan napas pelan, lebih mirip ejekan untuk dirinya sendiri.
“Manusia munafik,” gumamnya lirih. “Ini yang kamu sebut cinta ke Keyla? Sementara kamu selalu main di belakangnya.”
Mesin mobil Erga menyala. Dalam hitungan detik, mobil itu melaju keluar area kampus, membawa serta perempuan itu dan seluruh kepalsuan yang tadi pagi masih dibungkus kata ‘pacar’.
Mandala menegakkan tubuhnya, bersandar lagi di mobil. Dadanya terasa penuh bukan puas, bukan marah. Lebih seperti potongan puzzle yang akhirnya menemukan tempatnya, meski gambarnya belum utuh.
Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar.
Keyla keluar dari gedung kampus. Tasnya disampirkan ke bahu, rambutnya sedikit berantakan oleh angin sore. Wajahnya terlihat lelah, tapi matanya langsung menemukan Mandala.
“Ayok,” katanya singkat, bahkan sebelum jarak mereka cukup dekat.
Mandala menoleh, memperhatikannya sepersekian detik lebih lama dari yang perlu. “Diskusi sama teman kamu sudah?” tanyanya, nada suaranya netral.
Keyla mengangguk. “Sudah. Nggak lama, kok.”
Ia berhenti tepat di depan Mandala. Jarak mereka kini hanya satu langkah. Keyla menatapnya, lalu berkata pelan, “Kamu nunggu lama?”
Mandala menggeleng. “Baru aja.”
Setengah bohong.
Keyla membuka pintu mobil, lalu berhenti. “Man,” katanya tiba-tiba.
“Hmm?”
“Makasih ya… hari ini.”
Mandala menatapnya. Kali ini lebih lama. Ia ingin mengatakan banyak hal tentang Erga, tentang apa yang ia lihat, tentang kebohongan yang berdiri jelas di sore ini.
Tapi ia menahan diri.
“Untuk apa?” tanyanya balik.
Keyla mengangkat bahu kecil. “Untuk tetap ada.”
Mandala tersenyum tipis. “Sama-sama.”
Keyla masuk ke mobil. Mandala mengelilingi mobil, duduk di kursi pengemudi. Mesin dinyalakan.
Mobil melaju pelan meninggalkan area kampus. Cahaya sore menembus kaca depan, memantul lembut di dashboard. Untuk beberapa saat, hanya suara mesin dan lalu lintas yang menemani.
Keyla duduk di sebelah Mandala.
Bukan di belakang.
Perubahan kecil itu terasa besar.
Mandala memegang setir dengan satu tangan, yang lain bertumpu santai. Ia sengaja membuka percakapan, meski kalimatnya terputus-putus, seolah ia sendiri sedang menimbang kata.
“Key…” ucapnya pelan.
“Kamu… selalu sibuk ya. Bahkan pulang kuliah pun kamu nggak langsung keluar. Lebih milih diskusi, ngerjain ini-itu.”
Ia melirik sekilas, lalu kembali ke jalan.
“Kamu… nggak takut… kalau Erga pergi?”
Keyla terdiam beberapa detik. Ia menatap ke depan, matanya mengikuti garis jalan yang memanjang.
“Aku sibuk karena aku anak tunggal, Man,” katanya akhirnya. Suaranya tenang, tapi ada beban di sana.
“Aku harus serius sama kuliahku. Nggak ada yang bisa aku andelin selain diri aku sendiri.”
Mandala mengangguk pelan, memberi ruang.
Keyla menarik napas. “Sebenernya… aku takut kehilangan Erga.”
Ia tersenyum kecil, pahit.
“Dia baik. Dia perhatian. Dia juga anak sahabat ayahku. Dari dulu semua orang bilang kami cocok.”
Mandala tetap diam.
“Tapi,” lanjut Keyla, nadanya turun, “lihat dia kemarin… bareng sahabatku sendiri…”
Ia menghela napas. “Entah kenapa, aku malah capek. Rasanya pengen masa bodoh.”
Ia menoleh ke Mandala. “Kalau aku terlalu mikirin itu, kuliahku bisa kacau. Dan aku nggak mau masa depanku runtuh cuma karena perasaan.”
Mandala mengangguk lagi. Kali ini lebih dalam.
“Kamu kuat,” katanya singkat.
Keyla tersenyum tipis. “Bukan kuat. Terpaksa.”
Lampu merah menyala. Mobil berhenti. Untuk sesaat, mereka berada dalam ruang yang hening, terlalu dekat untuk sekadar sopir dan majikan, terlalu jauh untuk disebut apa-apa.
Mandala meliriknya. “Kadang… pergi itu bukan karena ditinggal,” ucapnya pelan.
“Tapi karena kita sadar, yang kita pegang dari awal ternyata nggak seutuh yang kita kira.”
Keyla menatapnya. Lama.
“Man,” katanya perlahan, “kamu ngomong kayak orang yang sudah kehilangan sesuatu.”
Mandala tersenyum kecil, nyaris tak terlihat. “Atau orang yang belum tahu… apa yang sebenarnya dia cari.”
Lampu hijau menyala. Mobil kembali bergerak, meninggalkan persimpangan dan hening yang barusan tercipta.
Keyla masih menatap Mandala beberapa detik lebih lama, seolah kalimatnya tadi belum benar-benar selesai di kepalanya. Lalu ia menghela napas, bersandar ke jok, memeluk tasnya di pangkuan.
“Kadang aku ngerasa aneh,” katanya pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri.
“Punya orang di samping, tapi tetap ngerasa sendirian.”
Mandala tidak langsung menjawab. Jalanan mulai lebih lengang. Cahaya jingga berganti biru keabu-abuan.
“Kesepian itu nggak selalu soal sendirian,” ujarnya akhirnya. “Kadang… soal nggak didengar.”
Keyla menoleh cepat. “Kamu sering ngerasa gitu?”
Mandala tersenyum tipis. “Sering.”
Jawaban itu jujur. Terlalu jujur untuk seseorang yang sedang memainkan peran.
Mobil berhenti sebentar di lampu merah berikutnya. Di kaca samping, pantulan wajah mereka terlihat samar dua orang dengan jarak yang makin sulit didefinisikan.
Keyla menggigit bibirnya ragu, lalu berkata, “Man… kamu tahu nggak kenapa aku nyaman cerita ke kamu?”
Mandala menegang sepersekian detik. “Kenapa?”
“Karena kamu nggak maksa jawabanku harus apa,” ucap Keyla. “Kamu denger. Itu aja.”
Kalimat itu jatuh lembut, tapi menghantam keras.
Mandala mengangguk, tapi di dadanya ada sesuatu yang bergeser. Dan itu berbahaya.
“Key,” ucap Mandala tiba-tiba, nadanya lebih serius dari sebelumnya.
“Hm?”
“Kalau suatu hari kamu tahu sesuatu… yang bikin kamu harus memilih antara perasaan dan kenyataan,” katanya pelan, “kamu bakal pilih yang mana?”
Keyla terdiam lama.
“Aku…” Ia tersenyum samar. “Aku pengen bilang perasaan. Tapi sejujurnya? Aku bakal pilih kenyataan. Soalnya perasaan bisa sembuh. Masa depan nggak selalu.”
Mandala mengangguk. Jawaban itu masuk akal. Dewasa.
Karena kenyataan jika suatu hari keluar akan memaksa Keyla memilih.
Dan Mandala tahu ia harus siap menjadi kenyataan yang menghancurkan,
Mobil mulai memasuki jalan menuju rumah Pratama.
Keyla melirik jam. “Kita hampir sampai.”
Mandala mengangguk, "iya."
Ada jeda. Pendek. Tapi berat. Keyla menatap ke depan, lalu berkata pelan, hampir berbisik, “Man… makasih ya. Hari ini… aku ngerasa nggak sendirian.”
Mandala tersenyum, tapi senyum itu tak lagi sepenuhnya ringan. “Sama-sama, Key.”
Mobil melambat berhenti.
penasaran... di tunggu updatenya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu 🥰🤗💪
duhh Mandala mau magang di hotel milik Arifal? pst Mandala bisa lbh sukses dari Erga 🐱
duhhh Keyla curhat dg Mandala...
Mandala blm sadar klo dia mencintai Keyla 🐱🐱
duhhh Keyla mau nya Mandala kerja di hotel Arifal 🐱🐱
penasaran lanjut nya
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quu🤗🥰💪
duhhh Bayu jadi marah sama Keyla karena Keyla lebih pilih Mandala. tapi bnr kata Keyla bahwa Erga bukan org baik...
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuuu🤗🥰💪🐱
lahhh Erga tiba-tiba minta maaf tapi Keyla gk percaya. jgn di percaya si Erga 😡😡😡 Erga sama kyak Alira... 😡😡
ciieee Keyla suruh Bi Minah antar Sop buat Mandala🐱🐱
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu💪🤗🥰 penasaran dg cerita nya🤗🤗
duhhh Keyla blg ke Ayahnya gmn Erga tapi Ayahnya gk percaya🥲🥲
duhh anak pertama Arifal dan Citra hilang di bawa Babysitter 🥲🥲
penasaran dg lanjut nya di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quu 🥰🤗💪
jgn² Erga anaknya Alira, Mandala anaknya Arifal.
greget bacanya Sayyy pengen tak palu 😄😄😄😡😡😡
jd sbnrnya mandala ini ank siapa ya 🤔 kok membagongkan. yg gila itu brrti bkn ibu mandala. asli puyeng
duhh Erga gangguin Keyla dan Mandala mulu dasar stress Erga 😡😡
duhhh jantung nya berdebar² gk tuh yaa kan dan Mandala pun gombal ma Keyla 😁😁
dahhh lah Author nya pun senyum² sambil nulis 😁😁😁
di tunggu updatenya Author kesayangan kuuuu tetap semangat Sayyy quuu🥰💪🐱🤗
kenapa tuhhh Erga paksa Keyla bersama nya dahh mulai stress Erga. jgn² Erga anak si Alira soalnya stress nya sama 😡😡
Duhh Mandala dekati Keyla buat balas dendam, kira² Mandala bakal dgr nasehat Bu Heni yaaa???
tapi apa iya Erga anaknya Arifal dan Citra? terus klo bukan Erga anak siapa??
duhhh Mandala bawa Keyla ke rumah nya... 😔😔
emng stres si Erga, dia yg selingkuh, tapi merasa tersakiti seolah-olah jadi korban.
ciieee Keyla merangkul tangan Mandala, panas tuhh Erga marah² gk jelas padahal dia yg selingkuh😡😡
di tunggu updatenya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quu🤗🥰💪🐱
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quu🥰🤗💪