Saat Larisa ketahuan hamil, pihak keluarga syok dan juga tak menyangka.
Larisa dituntut untuk jujur siapa pria yang sudah menghamilinya sampai mencuat satu nama pria yang tak lain saudara sepupunya sendiri.
Setelah menikah hubungan Bassta dan Larisa semakin ricuh, jauh dari rukun dan tenteram. Bassta juga sudah memilih perempuan lain yang jauh di atas Larisa yakni Jema, tetapi Jema belum tahu bahwa pria yang dia cintai sudah beristri.
Dalam niat yang begitu besar, Larisa ingin mengubah rumah tangga hambarnya menjadi rumah tangga yang harmonis. Sementara Bassta sudah mengatur dan meniatkan perpisahan setelah bayi yang dikandung Larisa lahir.
Terombang-ambing dalam rasa kecewa dan juga bimbang atas perasaannya, Larisa dihadapkan pada sosok pria yang berusaha dia lupakan tetapi malah mendadak muncul dan mengaku ingin bertanggung jawab.
Lantas, apakah Larisa akan kembali ke pelukan pria berinisial J atau bertahan dengan Bassta yang mulai menyadari ketulusannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melaheyko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidur Sekamar
Larisa meletakkan fotonya dalam bingkai berwarna coklat di atas meja, tepat di sebelah fotonya Bassta. Ia juga memasukkan pakaiannya ke dalam lemari pria itu, tidak semua tapi ia rasa itu cukup untuk menutupi bahwa dia dan suaminya tidak tidur sekamar jika sewaktu-waktu Novia memeriksa. Entah kenapa Larisa bisa berpikir ke sana, tetapi dari penasaran yang ditunjukkan ibu mertuanya, bisa saja itu kejadian dan untuk masalah Bassta mau atau tidak tidur sekamar dengannya. Akan dia pikirkan nanti.
Larisa sekarang duduk dengan gugup, menatap pintu, menunggu Bassta masuk. Ia tahu bahwa suaminya sedang menghadap pada Novia, dan yakin pula bahwa Bassta bukan diajak bicara tentang hal-hal sepele. Pasti Bassta mendapatkan cercaan berbagai pertanyaan dari ibunya itu. Larisa bisa membayangkan betapa bingungnya lelaki itu memikirkan satu jawaban untuk pertanyaan yang memojokkannya.
Kembali ke sudut rumah di mana Bassta dan Novia masih bersitegang. Bassta mulai penat mendengarkan ocehan yang dilontarkan Novia sampai-sampai sekarang Arif juga ikut-ikutan nimbrung karena heran, mengapa keduanya belum juga usai mengobrol. Padahal jelas Bassta baru pulang, pasti anaknya itu kelelahan dan ingin lekas beristirahat.
“Vivian yang ngasih tahu Mama,” ketus Novia.
Geraman kecil terdengar dari dada Bassta. Ia menunduk, tatapannya menajam.
“Aneh, kan? Kenapa bisa suami-istri nggak tidur sekamar? Bisa kamu jelasin tentang hal ini?” tegas Novia kembali.
Bassta mengangkat wajahnya.
“Apa pun yang terjadi di dalam rumah tangga seorang anak. Bukannya orang tua nggak berhak ikut campur, ya, Ma? Sultan sama Fiona saja selalu ribut berkepanjangan kalau Mama turun tangan. Bukan masalah jadi selesai, malah jadi melebar ke mana-mana,” tutur Bassta dengan intonasi suara yang begitu tenang tetapi jelas sekali ekspresinya begitu tegang.
“Kita sedang membahas kamu dengan Larisa. Bukan tentang Sultan sama Fiona!” sentak Novita mulai tersulut emosi.
Bassta mendengus, memalingkan wajahnya pula.
Arif menggerakkan tangan, melerai keduanya.
“Sudah, sudah. Ini juga sudah malam, apa yang barusan dibilang Bassta juga bener, Nov. Kita datang untuk melihat keduanya baik-baik saja, sekaligus menginap, bukan mengajukan banyak pertanyaan yang mengundang pertengkaran.” Arif menatap keduanya bergantian dengan tegas.
Bassta bungkam dan Novia membuka mulutnya. Wanita ini ingin mendebat tetapi suaminya mengarahkan tangannya, menolak untuknya kembali bicara.
Sekarang, Arif mengusap bahu anaknya.
“Pergi, temui Larisa. Dia pasti nungguin kamu,” titahnya.
Bassta mengangguk, ia melirik ibunya yang marah sekarang.
Bassta berdiri kemudian lekas pergi, meninggalkan ruangan yang terasa begitu sesak juga panas karena situasi antara dirinya dan ibunya.
Novia diam, terpaku menatap kepergian anaknya padahal dia belum selesai berbicara. Novia menyesal mengajak Arif, seharusnya dia sendirian saja, membawa suaminya malah membuat segalanya ribet.
Di kamar, Larisa tersentak saat pintu terbuka disusul sosok suaminya yang masuk. Sama dengan Larisa, Bassta juga sangat terkejut dengan kehadiran Larisa di kamarnya.
“Ngapain kamu di sini?” ketus Bassta dengan suara keras.
Larisa langsung menekan bibirnya sendiri sembari mengeluarkan bunyi ‘Shuuut’
Bassta menoleh, menatap pintu yang belum rapat. Lekas dia tutup dengan benar, takut mendadak ayah dan ibunya mendengar obrolannya dengan Larisa.
“Ngapain kamu?” tanya Bassta lagi, matanya melotot emosi.
Larisa mundur menjauh, ketakutan.
Perhatian Bassta beralih pada pigura foto milik Larisa di atas mejanya. Dia menggeram kesal kemudian melangkah, tangannya sigap menyingkirkan foto Larisa dari sebelah fotonya. Larisa gelagapan menangkap pigura yang dilemparkan Bassta.
“Jangan aneh-aneh kamu, Larisa. Aku nggak pernah ngizinin kamu masuk apalagi meletakkan barang kamu di sini,” gerutu Bassta dan Larisa mendelik.
“Jadi, aku perlu keluar?” kata Larisa dan Bassta menatap tajam. Pria itu maju dan Larisa terus menatap kedalaman matanya. “Sudah bilang dengan jujur sama orang tua kamu kalau kita nggak tidur sekamar? Oke kalau begitu.”
Larisa hendak membuka pintu tapi Bassta menahannya.
“Apaan, sih?” ketus pria itu. “Gila kali kalau aku jujur kayak begitu.”
Larisa tersenyum lebar.
“Jadi, terpaksa aku di kamar kamu buat malam ini. Itu juga kalau kamu nggak keberatan, aku sengaja pindahin beberapa barang-barang aku, takutnya Tante Novia tiba-tiba masuk dan meriksa kamar kamu ini buat mastiin aduan dari Vivian,” ujar Larisa menjelaskan kemudian dia duduk di tepi kasur.
Bassta mendesah, bingung. Dia sandarkan pinggangnya pada sudut meja.
“Kamu nggak ngomong aneh-aneh, kan, Ris?” tanya Bassta dan Larisa menggeleng. “Kenapa juga Papa sama Mama datang mendadak. Pakek nginep segala,” gerutunya melanjutkan.
Larisa diam, melihat Bassta yang mondar-mandir di hadapannya.
Bassta bingung untuk berhadapan esok pagi dengan orang tuanya.
“Kamu udah makan, Bass?” tanya Larisa karena dia juga belum melakukannya, menunggu Bassta pulang dan tak nyaman jika menikmati makan malam dengan mertua tanpa kehadiran suaminya.
Bassta menggeleng kecil.
“Aku juga belum. Nungguin kamu,” ucap Larisa.
Bassta menggeleng kepala. “Ngapain juga nungguin aku? Makan, ya, makan aja. Jangan sok ribet, deh!”
Larisa mengembuskan napas kasar.
“Mana aku tahan berhadapan sama Mama kamu. Aku takut keceplosan menjawab pertanyaan Mama kamu. Kan itu bahaya dan kalau kejadian, nanti aku juga yang kamu salahkan.”
Larisa menunduk dengan wajah ditekuk, sedih juga lapar menjadi satu dirasakannya.
Bassta berdecak dan dia juga tak bisa membohongi dirinya bahwa perutnya menggeliat meminta diisi.
“Kita pesan aja,” kata Bassta sembari mengeluarkan ponselnya.
Larisa menggeleng, ia berdiri.
“Kalau boleh, biar aku yang masak.” Larisa begitu semangat, senyumannya mengembang begitu menawan.
“Terserah, deh! Pergi sana, aku mau mandi.” Pria itu menarik tangan Larisa agar lekas enyah dari hadapannya.
Larisa tersenyum kemudian ia keluar. Setelah kepergian Larisa. Bassta meremas rambutnya kuat-kuat, dia duduk di lantai dengan punggung bersandar pada ranjang tempat tidurnya. Situasi semakin sulit, ditambah lagi dia harus bisa mengawasi Jema agar tidak mendengar kabar tentang pernikahannya dengan sepupunya sendiri.
semoga sehat2 ya
masih setia menunggu kabarmu