Mencintai ayah sahabat sendiri adalah bencana yang Sintia nikmati setiap harinya. Bersama Arga, ia menemukan kedewasaan yang tidak ia dapatkan dari laki-laki lain. Tapi, menyembunyikan status "kekasih" dari Ara, sahabat terbaiknya, adalah beban yang semakin berat.
Keadaan semakin rumit saat pihak ketiga muncul dengan niat busuk untuk merusak hubungan mereka. Satu rahasia terbongkar, maka semua akan binasa. Sanggupkah Arga melindungi Sintia saat badai mulai datang menghantam komitmen rahasia mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Arga memberhentikan mobilnya di sebuah toko perbelanjaan. Sintia tentu saja turun. Namun, sebelum itu ia mengenakan topi takut nanti ketemu orang yang ia kenal, kan repot.
Arga berjalan dulu tanpa menunggu Sintia. Membuat gadis itu berdecak lalu reflek memegang jas Arga.
"Tungguin dong!"
Arga menoleh, ia baru sadar ternyata Sintia ada dibelakang. Setelah langkah mereka sejajar, Arga melirik ke arah belakang gadis itu. Ia berusaha menormalkan ekspresi dan dengan segera mencopot jas untuk ditalikan ke pinggang Sintia.
"Eh—" Sintia kaget.
"Kamu datang bulan," ucapnya setengah berbisik. Mendengar itu tentu saja Sintia malu setengah mati. Ia kemudian dengan segera menghampiri rak dimana beraneka ragam 'roti jepang' dijejer. Kemudian mampir sebentar ke toilet untuk ganti.
"Makasih, ya." Ia mengembalikan jas Arga yang tadi sempat ia pinjam. Arga hanya mengangguk. Pria itu sibuk memilih bahan makanan yang ingin dibeli. Sintia hanya melihat saja.
Setelah selesai Arga mendorong troli dan membayar belanjaan. Pria itu setiap Minggunya paling tidak 2 kali harus ke supermarket untuk membeli bahan makanan.
Sintia memegangi perutnya yang mulai kram. Wajahnya pucat dan lemas. Arga langsung mengajak ke dalam mobil.
"Kamu minum ini," ucapnya. Pil warna pink kecil yang ia tawarkan.
Sintia menerima dan langsung meminum. Haid hari pertama memang menguras tenaga dan juga emosi. Pantas saja tadi ia sangat jengkel dengan Arga.
"Sakit banget," keluhnya.
Arga menghentikan mobil, pria itu mengelus-elus punggung Sintia. Memang sudah 2 tahun ini selama berpacaran Arga selalu tahu kalo haid Sintia dihari pertama pasti seperti ini.
"Dibuat tidur bisa nggak?"
Sintia menggeleng. Bibir gadis itu sudah pucat. Arga mendesah pelan.
"Kita pulang. Nanti aku kompres perut kamu."
****
Arga membopong tubuh Sintia masuk ke dalam rumah. Mama yang melihat itu khawatir.
"Kenapa Ga? Sintia PMS?"
Arga mengangguk kemudian membawa Sintia masuk ke kamar. Merebahkannya di kasur.
Pria itu lalu izin memanaskan air untuk mengompres perut Sintia.
Arga dengan hati-hati mengompres perut Sintia, gadis itu mengeryit sebentar dengan mata tertutup. Rasa hangat di perut membuat sakit itu perlahan mulai berkurang. Sintia membuka mata dan mendapati Arga sedang bermain ponsel.
Arga tampak tersenyum memandangi ponsel itu membuat Sintia merebutnya. Arga terkejut.
"Balikin hapenya, Sin," katanya. Gadis itu menggeleng keras-keras.
Memandangi layar Arga. Ada chat masuk dari 'Melinda'. Ohh, jadi Arga chat dengan perempuan?
"Selingkuh ya kamu!" tuduhnya.
"Ngaco kamu."
"Terus ngapain kamu senyum-senyum kayak orang lagi kasmaran. Sama aku aja nggak pernah tuh kamu senyum selebar itu."
"Udah ngomongnya?"
Sintia mencebikan bibir. Ia sesekali mengeryit karena rasa sakit itu muncul kembali.
"Mau makan?" tanya Arga kemudian.
Sintia menggeleng. Badannya terlalu lemas untuk sekedar makan.
"Es krim?" tanyanya lagi. Dan gadis itu mengangguk semangat.
****
Arga menyipitkan mata begitu sinar matahari masuk di sela-sela jendela kamar Sintia. Tadi malam sebenarnya ia hendak pulang. Namun, tiba-tiba hujan turun disertai petir jadi ia memutuskan untuk menginap dan rencana pulang pagi. Tapi ya, dia bangun kesiangan.
Sintia, gadis itu sudah tidak berada di kamar.
Gadis itu rupanya sudah rapi dengan setelan jas almamater kampus dan celana jeans berwarna abu tua. Ia melihat Arga baru keluar dari kamar.
"Nyenyak banget tidurnya om." Sintia sengaja menekan kata 'om' untuk Arga.
Arga terlihat tidak suka dengan panggilan itu. "Aku bukan om kamu," katanya.
Sintia menunjukan beberapa chat yang ia baca semalam, gadis itu tampak sangat marah. Ia memasukan ponsel milik Arga ke dalam tas.
"Sin, ak—"
"Akrab banget sama mantan, itu mantan kamu sebelum kamu punya istri kan? Pantes aja kalian akrab. Mau reunian mantan."
"Kalo suka sama dia. Balik aja ke dia sana. Aku jomblo juga gak papa. Banyak yang suka sama aku tinggal milih," katanya lagi.
"Aku nggak suka dia Sintia."
"Terus ini apa, Arga? Mana dia panggil kamu 'sayang' lagi. Kamunya juga nggak protes dipanggil begitu, kamu nyebelin, ih!"
Sintia menyambar tas miliknya kemudian berjalan ke luar pintu, ia menyetop taksi yang lewat depan rumah. Arga langsung menyusul menggunakan mobil.
Sintia keluar dari taksi begitu ia sampai depan kampus. Arga menepikan mobil bermaksud untuk menemui Sintia dan menjelaskan semuanya sebelum gadis itu makin sebal.
"Ngapain sih ngikutin aku!"
"Dengerin aku dulu!"
Arga menarik tangan Sintia. Ia membawa gadis itu ke dalam mobil untuk berbicara. Jaga-jaga nanti kalo ada Ara.
"Dia cuman mantan aku, Sin."
"Terus?"
"Ya, cuman mantan."
"Bukan itu yang mau aku denger Arga. Kalo cuman mantan ngapain sampe chatan everyday."
"Dia klien aku."
"Batalin kontrak kamu sama dia deh!"
"Nggak bisa Sintia aku udah terlanjur tanda tangan dan kalo aku batalin aku yang kena denda."
"Bodoamat."
"Kamu mana tahu aku berjuang untuk anak aku segimananya? Kamu masih muda nggak akan mikir kesana."
Jawaban Arga sukses membuat Sintia menatap tak suka padanya.
"Kalo kamu nggak tahu apa-apa mending diem," ujarnya lagi.
Sintia langsung keluar dari mobil tanpa pamitan dengan Arga.
***