"Jika aku bisa memiliki keduanya kenapa aku harus memilih salah satu saja." Alkama Basri Widjaya.
"Cinta bukanlah yang kamu butuhkan, pilih saja ambisimu yang kamu perjuangkan mati-matian." Nirmala Janeeta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dyawrite99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Acara pertunangan akan dilaksanakan di Amerika terlebih dahulu. Kama memberitahu Nirmala bahwa dia harus pergi ke Amerika untuk urusan pekerjaan selama sepekan. Nirmala tidak curiga dan menerima penjelasan Kama dengan baik.
"Aku akan merindukanmu," kata Nirmala dengan suara yang manis.
Kama merasa sedikit bersalah karena harus berbohong kepada Nirmala, tapi dia tidak ingin memberitahu dia tentang acara pertunangan yang sebenarnya. "Aku juga akan merindukanmu, sayang. Aku akan segera kembali dan kita bisa bertemu lagi," kata Kama dengan nada yang lembut.
Sehari sebelum keberangkatan, Kama mengirim pesan kepada Nirmala sebelum keberangkatannya ke Amerika. "Halo sayang, aku tidak sabar untuk segera pergi dan menyelesaikan urusan pekerjaan ini. Aku akan merindukanmu dan berharap bisa segera kembali kepadamu. Tolong jaga dirimu baik-baik, aku akan selalu memikirkanmu."
Nirmala menerima pesan itu dan merasa bahagia karena Kama masih menunjukkan perasaannya. "Aku juga merindukanmu, sayang. Tolong jaga dirimu baik-baik di Amerika dan jangan lupa untuk menghubungi aku setiap hari," balas Nirmala dengan pesan yang manis.
Situasi yang sangat kontras memang. Di satu sisi, Kama sedang mempersiapkan rencana pertunangan dengan Juwita, sementara di sisi lain, Nirmala masih berharap kehadiran Kama di sisinya. Nirmala tidak menyadari bahwa Kama telah memiliki rencana lain yang akan mengubah hidupnya secara drastis.
Kama terus menjaga rahasia pertunangannya, sementara Nirmala terus menunjukkan perasaannya yang tulus kepada Kama. Situasi ini membuat Kama merasa semakin tidak nyaman dan bersalah, karena dia tahu bahwa dia akan menyakiti Nirmala suatu hari nanti.
***
Acara pertunangan Kama dan Juwita di Amerika berlangsung dengan sangat meriah dan indah. Keluarga besar Kama dan Juwita hadir untuk menyaksikan momen bersejarah ini.
Kama dan Juwita saling menatap dengan senyum bahagia saat mereka bertukar cincin pertunangan. Keluarga dan tamu undangan lainnya memberikan ucapan selamat dan doa-doa baik untuk pasangan yang baru saja bertunangan.
Baskara, ayah Kama, terlihat sangat bahagia dan bangga dengan putranya yang telah dewasa dan siap untuk memulai hidup baru dengan Juwita.
Kama berusaha menampilkan sisi romantisnya untuk Juwita, terutama saat mereka bersama di depan keluarga dan tamu undangan. Dia selalu bersikap manis dan romantis, memegang tangan Juwita, memberikan senyum manis, dan menunjukkan kasih sayang yang tulus.
Keluarga Kama dan Juwita sangat senang melihat hubungan yang harmonis antara keduanya. Mereka berharap bahwa pernikahan Kama dan Juwita akan menjadi awal yang baik untuk kehidupan mereka bersama.
Kama dan Juwita bersenda gurau berdua, tertawa dan bermain-main dengan kata-kata yang manis. Mereka menikmati momen keakraban dan kebersamaan setelah acara pertunangan yang meriah.
"Apa yang kamu inginkan sebagai hadiah?" tanya Kama, sambil memandang Juwita dengan mata yang berkilau.
"Hmm, aku ingin kamu menjadi suami yang baik dan selalu membuatku bahagia," jawab Juwita dengan senyum genit.
Kama tertawa dan memeluk Juwita. "Aku janji akan melakukan itu, dan bahkan lebih dari itu," kata Kama dengan nada yang romantis.
Mereka berdua terus bersenda gurau dan menikmati kebersamaan, tanpa menyadari bahwa Kama masih memiliki rahasia yang belum terungkap.
Setelah acara pertunangan, Kama dan Juwita menghabiskan waktu bersama di Amerika. Mereka melakukan berbagai aktivitas bersama, seperti berbelanja, makan di restoran favorit, dan mengunjungi tempat-tempat wisata.
Kama berusaha untuk menikmati waktu bersama Juwita dan memperkuat hubungan mereka sebelum pernikahan. Juwita juga sangat bahagia karena bisa menghabiskan waktu bersama Kama dan merasakan kebersamaan yang lebih dekat.
Juwita semakin menunjukkan perhatiannya pada Kama. Dia tidak ragu untuk memeluk, mencium, atau menggandeng tangan Kama di depan umum. Kama juga membalas perhatian Juwita dengan sikap yang sama, seolah-olah dia sangat menyambut perasaan Juwita.
Malam itu, setelah pulang dari jalan-jalan berdua, Juwita memandang Kama dengan mata yang berkilau dan mendekatkan wajahnya untuk mencium Kama. Kama tidak bisa menghindar lagi dan membalas ciuman Juwita dengan lembut.
Mereka berdua menikmati momen keintiman ini, dan Juwita terlihat sangat bahagia. Kama juga berusaha untuk menikmati momen ini, meskipun di dalam hatinya masih ada perasaan yang tidak bisa dihilangkan terkait hubungannya dengan Nirmala.
Juwita tersenyum senang dan bahagia setelah mereka selesai berciuman. Dia memandang Kama dengan mata yang berkilau, menunjukkan perasaannya yang tulus dan cinta. Kama juga tersenyum dan membalas pandangan Juwita.
Kama berusaha untuk membatasi kedekatan mereka, meskipun Juwita terlihat sangat berani dan terbuka dalam menunjukkan perasaannya. Kama tidak ingin terlalu dekat secara fisik maupun emosional, karena dia masih memiliki perasaan yang tidak bisa dihilangkan terkait hubungannya dengan Nirmala.
Namun, Juwita tidak menyadari batasan yang Kama coba buat, dan terus menunjukkan perasaannya dengan cara yang terbuka dan berani.
Setelah beberapa waktu bersama, Kama kembali ke tanah air, sementara Juwita masih harus tinggal beberapa saat lagi di tempat mereka berdua sebelumnya. Mereka berdua saling berjanji untuk tetap berhubungan dan tidak sabar untuk bertemu kembali.
Kama merasa sedikit lega karena memiliki waktu untuk memikirkan tentang hubungannya dengan Juwita dan Nirmala, sementara Juwita masih menikmati waktu liburan dan perjalanan yang tersisa sebelum kembali ke Indonesia dan mempersiapkan pernikahan mereka.
Kama memanfaatkan kesempatan itu untuk bertemu Nirmala, dan dia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Dia datang menemui Nirmala dengan sikap biasanya, seperti tidak ada perubahan dalam hubungan mereka. Nirmala juga tidak menyadari bahwa Kama telah bertunangan dengan Juwita, dan dia menyambut Kama dengan hangat dan biasa seperti sebelumnya.
Nirmala terkejut dengan kehadiran Kama yang datang menjemputnya di tempat kerja. "Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Nirmala dengan senyum, sementara dia menyelesaikan pekerjaannya.
"Aku ingin menjemputmu dan makan siang bersama," jawab Kama dengan senyum hangat. Nirmala tersenyum dan menyelesaikan pekerjaannya, lalu mereka berdua pergi makan siang bersama.
Saat jarak keduanya dekat, Kama langsung menarik Nirmala dalam pelukannya. Ia menghirup wangi kekasihnya dipotongan leher Nirmala. Semua perlakukan Kama disambut Nirmala dengan balasan yang sama. Keduanya saling menyalurkan rindu.
Kama bercerita kepada Nirmala tentang kegiatannya di Amerika, bahwa dia sibuk dengan urusan pekerjaan dan sangat rindu pada kekasihnya. Nirmala tersenyum dan mendengarkan dengan penuh perhatian, merasa bahagia karena Kama masih memikirkan dirinya.
"Aku juga sangat rindu padamu," kata Nirmala dengan lembut, sambil memegang tangan Kama. Kama tersenyum dan membalas pegangan tangan Nirmala, merasa nyaman dengan kehadiran kekasihnya.
Setelah makan siang usai Kama harus kembali ke kantor, namun malamnya ia kembali menemui Nirmala di apartemennya.
Kama dan kerinduannya akan Nirmala belum usai. Ia terus menempel pada Nirmala. Mencium dan menyentuh Nirmala disetiap kegiatan.
"Al.. Kamu semakin hari makin mesum banget sih," Nirmala mencoba melepas pelukan Kama yang membelit pinggangnya dari belakang. Kegiatan mencuci piring Nirmala terganggu oleh tangan nakal Kama.
"Kita lama tidak bertemu sayang. Wajar dong aku menempeli kamu seperti ini," bukannya lepas kini Kama makin berani menciumi leher Nirmala.
Tahu jika penolakannya tidak akan menghentikan kegiatan Kama, maka Nirmala hanya bisa pasrah dengan semua tingkah dan perbuatan Kama. Ia tahu akhir dari setiap sentuhan Kama pada dirinya.
Semakin hari Nirmala sudah terbiasa dengan semua kegiatan intim mereka. Hubungan yang terjalin sejak dulu membuat keduanya sudah terbiasa melakukan hal hal di luar pernikahan. Ikatan mereka hanyalah cinta antara satu sama lain. Kepercayaan adalah pondasi mereka bertahan selama ini.
Beberapa bulan lalu keinginan untuk dipersunting oleh Kama menjadi hal yang begitu Nirmala inginkan namun sampai sekarang kata-kata ajakan menikah dari Kama tidak pernah terucap. Entah apa yang membuat Kama tidak pernah menyinggung hal tersebut.
Nirmala sadar diri status mereka cukup jauh dan itu menjadikan hubungan mereka sedikit berjarak. Nirmala ingin menekan Kama dengan keinginannya namun ia tidak kuasa meminta itu dari Kama. Ingin Nirmala adalah inisiatif Kama. Ia ingin Kama yang memintanya lebih dulu bukan karena Nirmala yang memaksa atau menekan Kama dengan permintaan kejelasan status mereka selama ini.
Nirmala akan menunggu. Menunggu Kama mempersunting dirinya. Ia percaya jika Kama akan selalu mencintai dirinya seperti ia juga mencintai Kama.